
Seminggu setelah kejadian yang mengerikan itu, Kia pun diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit oleh dokter. Syakir dengan setianya menemani Kia dan mengantarkan Kia untuk kembali pulang ke rumah. Melihat Syakir yang begitu tulus dan setia mendampingi Kia, membuat Yurika yakin untuk segera menikahkan Kia dengan Syakir.
Tiba di rumah, Syakir menuntun Kia untuk beristirahat di dalam kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang bersama Kia yang duduk bersandar di atas ranjang tersebut.
"Istirahatlah, Kiki!" Kata Syakir pada Kia.
"Aku bosan harus istirahat terus!" Sahut Kia cemberut.
"Tapi Kiki, kau kan baru saja keluar dari rumah sakit." Kata Syakir mengelus pipi Kia dengan lembut.
"Tapi aku sudah sembuh! Lagipula kepalaku juga sudah tidak sakit lagi." Sahut Kia seraya menyentuh kepalanya yang tanpa perban lagi.
"Kak, ayo kita pergi jalan-jalan!" Rengek Kia yang sudah begitu bosan duduk diam di rumah sakit selama seminggu lamanya.
"Jangan sekarang ya? Kau harus istirahat dulu untuk saat ini. Aku janji setelah kau benar-benar pulih, aku akan mengajakmu jalan-jalan seharian penuh." Kata Syakir pada Kia.
"Seharian penuh?" Ucap Kia antusias.
"Iya, Kiki sayang!" Sahut Syakir.
"Kemanapun yang aku mau?" Tanya Kia.
"Iya! Kemanapun yang kau mau." Sahut Syakir.
"Janji?" Tanya Kia lagi.
"Iya, aku janji!" Sahut Syakir.
"Hore!" Seru Kia gembira layaknya gadis kecil ketika Syakir mengusap-usap rambutnya.
"Sekarang kau harus istirahat, ya! Besok aku akan datang lagi menjengukmu." Kata Syakir.
"Iya!" Sahut Kia.
"Aku kembali ke kantor dulu, ya." Kata Syakir.
"Bye, ayank bebeb!" Ucap Kia pada Syakir.
"Bye, Kiki sayang!" Balas Syakir setelah ia mencium kening Kia dengan lembut.
Di luar pintu kamar Kia, Yurika menyaksikan keromantisan antara dua anak manusia yang sedang di mabuk cinta itu. Yurika senang melihat Kia dan Syakir saling mencintai satu sama lainnya. Saat Syakir hendak pamit pulang, Yurika menyinggung masalah rencana Syakir yang akan segera melamar Kia.
"Eeemm Syakir!" Panggil Yurika.
"Iya, tante!" Sahut Syakir.
"Aku lihat kau begitu menyayangi Kia! Apa kau benar-benar serius dengan ucapanmu beberapa hari lalu?" Tanya Yurika.
"Iya, tante! Aku serius ingin melamar Kia untuk menjadi istriku." Sahut Syakir.
"Kalau begitu aku mengundang kedua orang tuamu untuk makan malam dirumahku minggu depan!" Kata Yurika.
"Jadi, tante setuju nih?" Tanya Syakir seakan tak percaya karena sangking gembiranya.
"Iya! Asalkan kau bisa menerima Kia apa adanya." Sahut Yurika.
"Terima kasih, tante! Aku janji akan membahagiakan Kia." Ucap Syakir begitu senang atas keputusan Yurika.
Syakir pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke kantornya. Ia pergi kerumah orang tuanya yang tingga terpisah dengannya semenjak ia merasa cukup mapan. Syakir memberikan kabar gembira pada kedua orang tuanya yang telah lama menginginkan dirinya untuk segera menikah dan memiliki anak.
__ADS_1
*****
Di kantor polisi, Galuh dan Hamka masih mengurusi perkembangan kasus yang terjadi di toilet wanita itu. Disana mereka bertemu dengan Kania, seorang polwan yang menangani kasus tersebut. Galuh dan Hamka duduk di ruang kerja Kania yang menjabat sebagai Kepala unit di kesatuan kepolisian kota tersebut.
"Bagaimana lanjutan kasus ini, inspektur?" Tanya Galuh pada Kania.
"Kami sedang menyelidiki tersangka utama dengan teliti, karena kami memiliki kecurigaan bahwa tersangka utama memiliki gangguan kejiwaan." Sahut Kania.
"Lantas bila Ana terbukti memiliki gangguan kejiwaan, maka dia akan terhindar dari jeratan hukum, melainkan akan di tempatkan di rumah sakit jiwa." Sambung Kania lagi.
"Apa surat dari keterangan dokter sudah keluar?" Tanya Galuh.
"Sampai saat ini belum! Tapi anda jangan khawatir, kami dari pihak kepolisian akan mempercepat hasilnya." Sahut Kania.
"Eeemm, ibu polwan! Aku masih curiga mengenai pintu toilet itu! Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Hamka begitu penasaran.
"Tersangka Ana menyuap dua orang tukang bersih-bersih toilet itu untuk memberikan kunci pintu toilet tersebut." Jawab Kania dengan nada datar.
"Dugaanku benar!" Gumam Hamka.
"Apa ada lagi yang membuatmu penasaran, tuan Hamka?" Tanya Kania.
"Ada!" Sahut Hamka yang membuat Galuh bingung.
"Apa itu?" Tanya Kania.
"Aku penasaran, apakah wanita dingin sepertimu memiliki kekasih?" Tanya Hamka yang membuat Galuh dan Kania kaget. Kania menatap Hamka dengan tatapan yang begitu tajam, sedangkan Hamka masih menunggu jawaban dari Kania dengan tampang lugunya.
"Hei, apa yang katakan? Dasar bodoh!" Bisik Galuh pada sahabatnya itu.
"Hahaha, maaf inspektur! Aku rasa lebih baik aku menyerahkan semua kasus ini padamu. Kami permisi dulu!" Kata Galuh segera menyeret Hamka keluar dari ruang kerja Kania.
Galuh pun segera menyeret Hamka untuk ikut keluar dari kantor polisi itu karena tau bahwa Kania sedang kesal dengan apa yang Hamka tanyakan padanya. Di dalam ruang kerjanya, Kania hanya bisa berdengus kesal menatap Hamka.
"Dasar pria yang tidak sopan!" Ujar Kania kesal terhadap Hamka.
Malam harinya, Galuh kembali pulang kerumah. Ila yang sedang membaca buku parenting di ruang tengah bersama dengan Hana dan Antoni menyambutnya dengan senyum ceria. Ila bangkit dengan perlahan untuk menyambut kepulangan suaminya itu.
"Kak, hari ini kau pulang sedikit terlambat!" Kata Ila pada Galuh.
"Iya! Tadi banyak pekerjaan di kantor dan aku juga harus mencari tau kabar perkembangan kasus yang Ana lakukan padamu waktu itu." Sahut Galuh.
"Bagaimana dengan kasusnya?" Tanya Antoni pada Galuh.
"Pihak kepolisian sedang melakukan pemeriksaan terhadap Ana! Mereka curiga Ana memiliki gangguan jiwa." Sahut Galuh.
"Jika itu benar, maka Ana akan terlepas dari jeratan hukum, dong." Sambung Hana.
"Iya, mama benar! Tapi dia tidak dibiarkan bebas begitu saja, melainkan akan di tempatkan dirumah sakit jiwa." Jawab Galuh.
"Mudah-mudahan semua cepat berlalu!" Ucap Hana.
"Iya, semoga saja!" Sahut Galuh.
"Kak, aku akan siapkan air mandi untukmu!" Kata Ila mengajak Galuh untuk masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
"Pergilah, Galuh! Setelah makan malam, sebaiknya kau istirahat! Papa lihat kau begitu lelah hari ini." Kata Antoni menimpali.
"Iya!" Sahut Galuh.
Ila dan Galuh pun melangkah bersama masuk ke dalam kamar mereka. Sedangkan Hana menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk Galuh dan di antarkan ke kamarnya.
Masuk ke dalam kamar, Galuh melihat Ila melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuknya. Selang beberapa menit, Ila keluar dan menyuruh Galuh untuk segera membersihkan dirinya. Setelah mandi, Ila masih menemani Galuh untuk menyantap makan malamnya yang di antarkan oleh pelayan tadi. Saat sedang menyantap makan malamnya, Galuh melihat Ila yang sedang fokus membaca buku parenting di sebelahnya.
"Apa kau sudah banyak mengerti menjadi seorang ibu nantinya?" Tanya Galuh pada Ila.
"Iya! Aku banyak belajar dari buku ini." Sahut Ila.
"Kau tidak takut untuk melahirkan? Katanya melahirkan itu sakit loh!" Kata Galuh berniat untuk menakut-nakuti Ila.
"Tidak! Aku malah ingin segera melihat bayiku." Sahut Ila sambil mengelus perutnya.
"Sebentar lagi kita akan melihat putra kita, sayang!" Kata Galuh ikut mengelus perut istrinya itu.
"Kak, Ana kan sudah berada di dalam penjara, apa aku sudah boleh keluar rumah sendirian?" Tanya Ila ragu-ragu.
"Tidak! Kau harus tetap berada di rumah." Sahut Galuh tegas.
"Kenapa sih?" Tanya Ila sewot.
"Imut, usia kandunganmu sudah 9 bulan! Kau harus berada di rumah." Sahut Galuh bersikeras tak mengizinka Ila keluar rumah tanpa dirinya.
"Iya, baiklah!" Sahut Ila.
"Tapi jika bayi kita sudah lahir, aku boleh bebas keluar rumah kan?" Tanya Ila.
"Iya." Sahut Galuh membuat Ila senang.
"Tidak janji sih!" Gumam Galuh dalam hatinya. Galuh seakan tak rela membiarkan Ila pergi keluar tanpa ada dirinya yang mendampingi istrinya tersebut.
*****
Beberapa hari kemudian, Kania menghubungi Galuh mengenai kasus yang sedang ia selidiki dan berhubungan dengan Ana. Galuh dengan segera datang ke kantor polisi untuk membicarakan perihal tersebut.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Galuh.
"Sesuai dengan dugaan kami, tersangka Ana dalam keadaan depresi yang begitu berat! Kuat dugaan, depresinya itu sudah lama ia alami." Sahut Kania seraya memberikan surat keterangan dari dokter rumah sakit yang menangani Ana.
"Aku juga memikirkan hal yang serupa sejak dulu." Ucap Galuh yang telah lama curiga pada sikap Ana.
"Apa dengan ini Ana akan terbebas dari jeratan hukum?" Tanya Galuh pada Kania.
"Tersangka kriminal tetap akan di jatuhi hukuman pidana, namun di dalam tahap hukumannya, harus di sediakan fasilitas khusus, misalnya pengobatan kejiwaan di rumah sakit jiwa yang akan di tentukan untuknya." Jawab Kania.
"Hah, semoga saja ini cepat berakhir!" Gumam Galuh menghela nafas panjang.
"Terima kasih, inspektur atas kerja samanya." Ucap Galuh pada Kania sambil berjabat tangan.
"Ini sudah kewajiban kami, tuan." Sahut Kania.
Galuh kembali ke kantornya setelah ia mendapatkan keputusan hukum mengenai apa yang di lakukan Ana yang berniat untuk mengancam jiwa istri dan juga bayi yang dalam kandungan istrinya itu. Galuh merasa bisa sedikit bernafas lega karena Ana tetap akan menjalani hukuman atas perbuatannya tersebut.
__ADS_1