
Malam harinya Galuh mengajak Ila untuk makan malam di luar. Galuh telah memesan sebuah tempat yang sangat romantis. Dengan sinar lilin yang menyala di meja, menambah suasana romantis di antara keduanya. Galuh sedari tadi menatap Ila yang tampak cantik dengan gaun indah pemberian Hana padanya. Karena Galuh terus saja menatapnya, Ila merasa sedikit gugup.
"Jangan menatapku seperti itu! Aku malu." Kata Ila pada Galuh.
Mata Galuh semakin berbinar-binar saat melihat wajah Ila merah merona karena tersipu malu.
"Wah, dia semakin imut saja setiap harinya!" Seru Galuh dalam hatinya.
Hidangan yang di pesan sebagai santapan malam mereka pun tiba. Ila ternganga melihat makanan yang terhidang di meja mereka.
"Apa ini?" Tanya Ila bingung.
"Ini adalah makanan yang paling mewah dan mahal di restoran ini. Aku yakin kau pasti akan menyukainya." Jawab Galuh percaya diri.
Ila mengayunkan sendok segera mencicipi makanan yang terhidang di depannya. Ila mencicipi sedikit makanan itu dengan penuh penghayatan. Galuh menatap Ila dengan tatapan mata yang penuh keraguan.
"Bagaimana rasanya? Apa kau suka?" Tanya Galuh harap-harap cemas.
"Wah, ini enak!" Seru Ila.
"Hehehe, pilihanku sudah tepat!" Sahut Galuh senang.
Malam yang romantis itu tidak disia-siakan oleh Galuh dan Ila. Pemain musik yang di sewa oleh Galuh mengalunkan alat musiknya dengan sangat merdu.
"Ayo, kita dansa!" Ajak Galuh sembari mengulurkan tangannya pada Ila.
"Tapi aku tidak bisa dansa." Sahut Ila.
"Ikuti saja langkahku!" Kata Galuh
"Baiklah!" Ucap Ila ragu-ragu menyambut uluran tangan Galuh.
Galuh dan Ila berdiri berhadapan dan melakukan gerak tari sesuai dengan irama musik yang dimainkan. Jantung Ila berdetak sangat kencang karena ia merasa sangat gugup. Ini kali pertama buatnya untuk berdansa dengan seorang pria.
"Aarrgghh!" Pekik Galuh karena kakinya terinjak Ila.
"Maaf! Aku tidak sengaja." Ucap Ila dengan tatapan mata yang sedih.
Lagi-lagi Galuh terpesona dengan wajah imut yang dimiliki Ila. Galuh hanya tersenyum dan semakin mendekatkan dirinya pada Ila. Sangking dekatnya Ila sampai mendengar detak jantung Galuh di telinganya.
"Nyaman sekali!" Ucap Ila merebahkan kepalanya di dada Galuh.
"Ila." Panggil Galuh dengan nada yang lembut.
"Heeemm?" Sahutnya.
"Berjanjilah padaku, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku." Kata Galuh.
"Iya, aku janji!" Sahut Ila semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Galuh.
Galuh melonggarkan pelukannya sedikit dan menaikkan dagu Ila mendekat padanya. Galuh mendekatkan ciumannya ke bibir Ila yang mungil. Ila yang sudah terbiasa dicium Galuh membalas ciuman tersebut dengan sangat hangat.
"Aku mencintaimu, Ila." Ucap Galuh.
"Aku juga mencintaimu." Ucap Ila.
*****
Sari memutar otaknya untuk menghasut Kia agar rencananya mengobrak abrik kediaman Yurika tercapai dan mengumpulkan pundi-pundi uang dari Kia.
Sari menyiram tanaman di halaman depan sambil memikirkan cara untuk mendekati Kia untuk menghasutnya. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah mobil mewah masuk ke dalam perkarangan rumah. Ia melihat wanita paruh baya yang cantik dan elegan keluar dari mobil tersebut.
"Siapa lagi itu?" Gumam Sari tak mengenal Hana.
Hana membuka pintuk mobil dan menggandeng tangan Yurika. Hana dan Yurika jalan berdampingan masuk ke dalam rumah.
"Nyonya Yurika, sudah kembali dari rumah sakit." Kata Sari sembari berlari menghampiri Yurika dan Hana
Dengan tampang lugu dan baik hati, Sari menyapa Hana dan Yurika.
"Nyonya, syukurlah kau sudah sembuh." Ucap Sari berpura-pura menjadi pelayan yang baik.
Hana dan Yurika enggan membalas sapaan dari Sari, mereka berlalu begitu saja melewati Sari. Sari sangat dongkol dan mengumpat dalam hatinya karena diacuhkan oleh Hana dan Yurika. Saat akan masuk ke dalam kamar, Kia melihat Yurika sudah kembali dari rumah sakit. Ia pun langsung menghampiri Yurika.
"Mama, kapan mama keluar dari rumah sakit? Kenapa mama tidak mengabari aku?" Tanya Kia sembari bergelayut di lengan Yurika.
Yurika menepis tangan Kia yang seakan bermakna padanya. Kia merasa sedih saat Yurika menepis tangannya begitu saja. Hana hanya diam dan tidak mau melirik sedikit pun kepada Kia yang selalu saja membuatnya jengkel dengan sikap angkuhnya.
"Hana, tolong bawa aku ke kamarku. Aku ingin istirahat." Pinta Yurika pada Hana.
"Ya, baiklah." Sahut Hana.
Yurika dan Hana melangkah maju dan menaiki anak tangga menuju ke kamar. Kia menatap sedih pada wanita yang sudah memberikan kasih sayang yang begitu banyak kepadanya selama ini. Kia menyadari bahwa Hana dan Antoni pasti sudah mengadukan perbuatannya kepada Yurika.
Di sudut ruangan, Sari sangat senang menonton pertunjukan seru di dalam keluarga itu. Sari mulai mendekati Kia lagi untuk segera menghasutnya. Ia tau bahwa saat ini adalah waktu yang sangat pas untuk mendekati Kia.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Tanya Sari sok perhatian pada Kia.
__ADS_1
Kia menatapnya dengan tatapan sinis.
"Pergi kau! Jangan ganggu aku." Ujar Kia pada Sari.
"Nona, aku hanya ingin membantumu saja! Aku tau jika saat ini kau sedang mengalami kesulitan." Kata Sari berpura-pura perduli pada Kia.
"Tau apa kau tentang diriku?" Teriak Kia marah.
"Dengarkan aku! Kau hanya pembantu disini jadi jangan sok baik padaku." Ujar Kia pada Sari.
Setelah puas meneriaki Sari, Kia berlalu begitu saja dan masuk ke dalam kamarnya. Sari mengumpat sejadi-jadinya di dalam hati kepada Kia yang tidak mudah untuk menerima dirinya.
"Kau lihat saja nanti! Aku akan membuatmu menyesal karena berani meremehkan aku." Ucap Sari di dalam hatinya sangat dongkol kepada Kia.
*****
Yurika duduk di tepi ranjang dengan bekas luka yang belum mengering di pergelangan tangannya. Hana memberikannya secangkir air hangat untuknya minum obat. Setelah meminum obatnya Yurika menggenggam tangan Hana dengan erat sambil menitikkan air matanya.
"Hana, terima kasih telah menjadi teman dan besan yang baik untukku." Ucap Yurika pada Hana.
"Iya, aku senang membantumu, ka!" Sahut Hana.
"Apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan apa yang di lakukan almarhum Raldi kepada keluargaku dulu. Ayahku bangkrut dan ibuku bunuh diri, setelah itu aku di bawa ke panti asuhan dan di besarkan bersam Raldi disana. Dia selalu menjagaku dengan sangat baik. Aku dan dia bagaikan kakak dan adik. Dia juga mengenalkan aku pada Antoni yang sangat cinta kepadaku. Raldi adalah sosok pria yang berhati malaikat. Aku pernah berjanji padanya, aku akan melakukan apa saja untuk membantu orang-orang yang ia sayangi." Kata Hana mengingat kenangan dirinya bersama almarhum Raldi.
"Kau benar! Raldi adalah sosok pria berhati malaikat. Aku masih ingat betapa kuat keinginannya untuk memiliki Ila saat itu. Bahkan nama Ila juga dia yang memberikannya. Dia sangat menyayangi Ila." Sambung Yurika menangis mengenang suaminya.
"Kau juga sangat menyayangi Ila, kan?" Tanya Hana
"Sangat! Aku sangat menyayanginya." Sahut Yurika.
Yurika bangkit dan melangkah menuju ke sebuah lemari besar yang ada di kamarnya. Yurika membuka pintu lemari itu dan memperlihatkan semua isi di dalam lemari tersebut.
"Ini adalah semua hadiah ulang tahun untuk Ila. Setiap tahunnya aku selalu membeli hadiah untuknya dan diam-diam aku sering bicara sendiri di kamar ini hanya untuk mengucapkan ulang tahun untuknya." Kata Yurika.
"Kenapa kau tidak memberikan hadiah dan mengucapkan langsung padanya?" Tanya Hana.
"Aku tidak berani! Saat aku menatapnya, kejadian kelam itu selalu terbayang di pikiranku dan aku seakan menjadi sangat kesal serta ingin bertindak kasar pada Ila. Aku tidak ingin melukai Ila karena rasa trauma yang aku miliki." Sahut Yurika.
"Kedua tanganku ini tidak pernah membesarkannya! Aku sangat tersiksa, Hana." Sambung Yurika.
"Sudahlah, Yurika! Lebih baik kau istirahat saja dan jangan pikirkan hal-hal buruk lainnya." Kata Hana.
"Aku ingin tau kabar Ila. Aku ingin sekali mendengar suaranya." Kata Yurika.
Hana mengambil ponsel dan segera menghubungi Ila serta memperbesar volume suara pada speaker ponselnya.
"Halo, ma!" Ucap Ila.
"Sayang, kau dimana?" Tanya Hana.
"Di apartemen bersama kak Galuh." Sahut Ila.
"Kalian sedang apa?" Tanya Hana lagi.
"Kami sedang berbaring di tempat tidur." Sahut Ila polos.
"Hei, kenapa kau jawab begitu? Malu, tau!" Teriak Galuh pada Ila terdengar oleh Hana dan Yurika.
"Kenapa? Apa yang salah? Kita memang sedang berbaring di tempat tidur kan? Kau juga sedari tadi menciumiku terus." Sahut Ila membalas ucapan Galuh.
"Hei, kenapa kau juga mengatakan hal itu? Nanti mama mendengarnya." Ujar Galuh.
Yurika dan Hana tertawa mendengar percakapan antara Galuh dan Ila.
"Sepertinya, kita akan segera punya cucu. Hihihi." Bisik Hana pada Yurika.
"Iya." Sahut Yurika ikut bahagia.
Ila ingin sekali ngobrol lama dengan Hana di telepon, namun sikap Galuh yang terus saja bergelayut di tubuh Ila, membuat Ila kesal karena ia tidak bisa fokus pada obrolannya bersama Hana. Galuh terus saja mengganggu Ila dengan sentuhan-sentuhan manjanya terhadap Ila. Akhirnya Ila dan Hana hanya bisa ngobrol sebentar saja di telepon.
"Kak, lepaskan tubuhku! Aku sesak." Kata Ila pada Galuh
"Tidak mau!" Sahut Galuh.
"Tapi aku sudah bernafas." Kata Ila.
"Huh, menyebalkan!" Ujar Galuh seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Ila.
Galuh mengubah posisi tidurnya menjadi telentang bersama Ila.
"Sayang, bagaimana dengan sekolahmu? Apa kau sungguhan ingin berhenti sekolah? Kau tidak ingin ikut olympiade lagi?" Tanya Galuh.
"Tidak!" Sahut Ila singkat.
"Serius?" Tanya Galuh lagi.
__ADS_1
"Iya." Sahut Ila.
Galuh menoleh ke samping dan melihat raut wajah Ila kembali sedih. Ia tau kalau jawaban yang keluar dari mulutnya tidak seperti apa yang hatinya inginkan. Galuh menggenggam ruas-ruas jari Ila dan meremasnya.
"Sayang, aku tadi sempat bertemu dengan Hamka dan mengatakan hal ini padanya. Lalu dia memberikan solusi yang menurutku bagus. Bagaimana jika kau mengikuti home schooling saja. Kau bisa mengikuti ujian negara dan mendapatkan ijazah setelah lulus." Kata Galuh.
"Iya, aku mau!" Sahut Ila kembali tersenyum.
"Imutku, akhirnya kau tersenyum lagi!" Seru Galuh seraya mencubit pipi Ila dengan gemas.
*****
Malam harinya, Kia berupaya untuk mengambil hati Yurika lagi sekaligus ingin minta maaf atas perbuatannya. Kia membawa makan malam untuk Yurika yang sedang beristirahat di dalam kamar. Kia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia masuk menemui Yurika.
"Ma, aku bawakan makan malam untuk mama." Kata Kia membawa semangkuk bubur untuk Yurika.
"Letakkan saja disitu, aku akan memakannya nanti." Sahut Yurika tanpa mau melirik pada Kia.
Kia mendekati Yurika yang tengah duduk di atas ranjang sambil membaca buku.
"Ma, maaf!" Ucap Kia menangis.
"Untuk hal apa kau minta maaf padaku?" Tanya Yurika masih enggan menatap Kia.
"Aku mengakui perbuatanku waktu itu. Aku yang menyuruh pada temanku untuk menyebarkan mengenai Ila di internet." Jawab Kia.
"Untuk apa kau melakukan itu? Apa kau tidak perduli padaku yang telah membesarkanmu? Kau bahkan membuat berita yang memfitnah almarhum suamiku!" Ujar Yurika kesal.
Kia terkejut saat Yurika mengatakan kalau berita mengenai perselingkuhan almarhum Raldi dengan wanita lain adalah fitnah.
"Jadi Ila bukan anak haramnya papa dengan wanita lain?" Tanya Kia.
"Cukup, Kia!" Bentak Yurika semakin kesal.
"Sebaiknya kau keluar dari kamarku!" Ujar Yurika mengusir Kia keluar dari kamarnya.
Kia sangat kesal karena Yurika membentak dirinya. Ia merasa Yurika tak lagi perduli terhadapnya. Kia masuk ke dalam kamarnya sembari membanting pintu dengan keras. Sari yang sedari tadi menguping pembicaraan antara Kia dan Yurika, tersenyum licik melihat kondisi Kia yang sering menangis.
"Hehehe, ini adalah waktu yang sangat tepat untukku!" Gumam Sari dengan segudang rencana busuknya.
Sari berjalan mendekati pintu kamar Kia. Ia mengetuk pintu secara perlahan dengan membawakan jus dingin kesukaan Kia. Sari masuk begitu saja dan berpura-pura perhatian pada Kia.
"Nona, ada apa denganmu? Kenapa kau menangis, nona?" Tanya Sari pada Kia.
Kia diam saja dan terus menangis.
"Nona, ceritakan padaku! Aku sangat khawatir padamu, nona! Aku ingin sekali membantumu." Ucap Sari.
Kia duduk dan mengusap air matanya.
"Mau apa kau kesini? Kau selalu saja menggangguku!" Ujar Kia dingin pada Sari.
"Nona, aku ingin sekali membantumu! Kau selalu saja menangis belakangan ini. Aku sangat khawatir padamu." Kata Sari.
"Nona, aku bawakan jus dingin kesukaanmu. Minumlah!" Sambung Sari.
Kia mengambil gelas itu dan segera meminum jus dingin buatan Sari. Sari menatap Kia yang sedang sangat frustasi.
"Nona, aku masih ingat dengan perintahku padaku waktu itu. Kau menyuruhku untuk menjadi mata dan telingamu dirumah ini, kan?" Kata Sari.
"Informasi apa yang kau dapatkan?". Tanya Sari.
"Nona, aku dengar dari para pelayan, kalau orang yang bernama Ila itu akan segera menguasai rumah ini. Dia akan segera mengusir nona dan nyonya Yurika setelah ia berhasil merebut seluruh harta milik ayahnya." Kata Sari kembali membuat fitnah keji di rumah itu.
"Ini rumahku! Rumah keluargaku! Rumah yang papaku berikan untuk mamaku!" Teriak Kia marah. Kia masih mengira kalau dia adalah keturunan dari Raldi dan Yurika.
"Tapi, bukannya si Ila itu anak dari papanya nona Kia? Dia merasa akan menjadi pewaris dan merebut semuanya dari nona dan nyonya." Kata Sari lagi.
"Tidak akan aku biarkan!" Ujar Kia.
Sari menatap Kia dengan perasaan hati yang sangat puas. Ia sangat gembira melihat Kia diliputi oleh kemarahan.
"Ini yang aku inginkan! Aku ingin kau terus di telan oleh amarahmu, Kia! Hehehe." Ucap Sari dalam hatinya.
Kia meraih dompet dan mengambil beberapa lembar uang untuk Sari.
"Ambil uang ini! Tugasmu sekarang menjadi mata dan telingaku dirumah ini! Cari tau apa saja yang terjadi di rumah ini dan semua yang kau dapatkan kau harus mengatakannya padaku." Kata Kia pada Sari.
"Baik, nona! Sesuai dengan keinginanmu." Sahut Sari.
Sari keluar dari kamar Kia seraya mengibaskan lembaran uang pada wajahnya. Ia sangat senang berhasil menguras uang Kia dengan begitu mudahnya.
__ADS_1
"Hahaha, jika ini terus berlaku maka aku akan segera menjadi kaya raya." Gumam Sari dalam hatinya sambil tertawa puas.