GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
GERAM


__ADS_3

Setelah Ila tenang dan tertidur pulas, Galuh mengambil ponselnya dan segera menghubungi Kania perilah informasi yang telah ia dapatkan melalui Didi yang terjun langsung mencari informasi tersebut mengenai narapidana itu. Sebagai polisi yang sudah begitu banyak melakukan kasus kriminal, Kania tau apa yang akan ia lakukan terhadap narapidana tersebut.


Galuh juga tak tinggal diam. Ia membuat surat pernyataan untuk di tanda tangani oleh Imran selaku korban tabrak yang tak sengaja Ila lakukan. Tentu saja hal itu telag Galuh selidiki lebih lanjut untuk mengetahui apakah Ila benar-benar bersalah dalam menabrak Imran waktu itu.


Di dalam ruang rawatnya, Imran begitu gelisah menanti kedatangan Galuh dan teman-temannya, karena sempat berjanji untuk datang lagi dan segera membebaskan dirinya. Namun hampir seminggu lamanya setelah malam itu, Galuh dan teman-temannya tidak kunjung datang padanya.


"Sialan! Anak-anak muda itu telah membohongi aku!" Umpat Imran kesal kepada mereka.


"Mereka bilang jika aku mau menjawab semua yang mereka tanyakan mereka akan membantuku bebas dari penjara! Tapi sampai sekarang mereka tak pernah menampakkan batang hidung mereka lagi disini. Lihat saja nanti, aku akan buat tuntutan pada wanita yang telah menabrakku saat itu. Biar dia juga ikut masuk penjara bersamaku. Hehehe." Kata Imran terkekeh jahat dengan niat ingin memenjarakan Ila.


Imran yang dinyatakan oleh dokter telah kembali pulih, beberapa hari lagi akan segera di bawa kembali ke dalam rumah tahanan. Namun hal itu tak membuat residivis perampok itu takut, ia malah berniat untuk segera melakukan aksi melarikan diri lagi nanti.


Dua hari kemudian, Ila tampak termenung duduk di sebuah bangku taman yang ada di halaman belakang. Ia duduk bersandar dan menatap kosong ke depan. Setelah mengetahui dengan pasti akan ayah kandungnya, Ila tampak tertekan. Hal itu membuat Hana dan Antoni begitu kasihan padanya.


"Apa yang harus kita lakukan padanya? Ila tampak tertekan setelah tau bahwa narapidana itu adalah ayah kandungnya." Kata Hana.


"Aku takut hal yang terjadi pada Yurika juga akan menimpa dirinya." Sambung Hana lagi.


"Ila adalah kesayangan kita! Kita tidak boleh hanya diam dan melihatnya seperti ini. Kita harus membuat Ila menerima semuanya dan berusaha tegar seperti apa yang kita katakan pada Yurika." Sahut Antoni yang begitu menyayangi Ila.


"Aku akan pergi bicara padanya." Kata Antoni lagi dan melangkah menghampiri menantunya itu.


Antoni pun duduk di samping Ila yang membuat menantunya itu tersadar akan lamunannya.


"Kau sedang apa, sayang?" Tanya Antoni pada Ila.


"Aku hanya duduk untuk menenangkan pikiranku, pa!" Sahut Ila.


"Ila! Papa tau hal ini begitu berat untukmu. Namun kau tak bisa terus begini saja! Kau masih punya Yurika, kami dan juga Gilang. Kami semua menyayangimu." Kata Antoni.


"Iya, pa! Ila tau begitu banya orang yang menyayangiku." Sahut Ila.


"Nak, ikhlas kan semuanya! Semakin kau menolak takdir, maka kau akan semakin tersakiti. Berdirilah dengan tegar agar Yurika juga bisa melewati ini semua. Galuh telah mengusahakan semuanya mati-matian, Gilang membutuhkanmu. Jangan pernah buat kedua orang itu kecewa padamu. Jangan sakiti dirimu dengan cara yang begini." Kata Antoni menasehati Ila yang seakan patah arang.


"Yurika, Galuh dan Gilang membutuhkanmu, nak!" Kata Antoni lagi.


Ila mencerna semua perkataan ayah mertuanya dengan seksama. Ia menangis dan menyesali dirinya karena tanpa sadar ia telah menyakiti dirinya sendiri dengan memikirkan hal yang tak bisa ia temukan jalan keluarnya.


"Papa, benar! Tidak seharusnya aku seperti ini hanya karena narapidana itu." Ucap Ila dalam isak tangisnya.


"Dia memang benar ayahmu! Takdir telah menentukan dirinya menjadi ayahmu." Sahut Antoni.

__ADS_1


"Papa, terima kasih telah menjadikan aku menantu di keluarga ini, padahal aku bukanlah keturunan dari orang baik." Ucap Ila.


"Tidak, nak! Kau orang baik! Aku sangat menyayangimu karena hatimu yang bersih. Kau lebih dari sekedar menantu di rumah ini." Kata Antoni memeluk menantunya itu.


Galuh yang baru saja kembali ke rumah, tersenyum melihat ayah dan istrinya itu saling menyayangi. Sangking terharunya Hana yang juga ikut menyaksikan tanpa sadar meneteskan air mata kebahagiaannya karena memiliki Ila sebagai menantunya.


Setelah mendapatkan nasehat yang begitu berharga dari ayah mertuanya, Ila kembali menampakkan garis senyumannya. Ia terlihat lebih santai dan juga sedikit ceria saat bermain dengan putra kecilnya. Setelah makan malam bersama, Ila menghampiri Galuh yang sedang duduk di ruang kerjanya. Ila datang sambil membawakan secangkir teh untuk sang suami.


"Kak, apa aku boleh masuk?" Tanya Ila pada Galuh.


"Masuklah, sayang!" Sahut Galuh.


Ila pun masuk dan meletakkan secangkir teh di ats meja kerja Galuh.


"Aku membuatkan teh hangat untukmu." Kata Ila pada Galuh.


"Kemarilah!" Kata Galuh menarik tubuh Ila dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Apa sekarang kau sudah merasa baikan?" Tanya Galuh pada Ila.


"Aku merasa jauh lebih baik!" Sahut Ila.


Ila melirik pada beberapa berkas yang ada di meja kerja Galuh.


"Ini berkas apa, kak?" Tanya Ila.


"Ini surat penyataan untuk Imran!" Sahut Galuh.


"Maksudnya?" Tanya Ila.


"Aku ingin dia menandatangani surat pernyataan ini bahwa ia setuju mau berdamai denganmu dalam kasus tabrakan waktu itu agar kau tidak menjadi tahanan lagi, sayang." Jawab Galuh.


"Tapi apa itu mungkin? Apa dia mau berdamai denganku?" Tanya Ila ragu-ragu.


"Aku akan memaksanya! Bagaimanapun caranya, aku akan membebaskanmu dari apa yang tidak sengaja kau perbuat." Kata Galuh.


"Aku sudah menyelidiki dan menemukan beberapa saksi mata yang melihat kejadian kecelakaan itu, bahkan aku memiliki video rekaman cctv yang ada di salah satu toko di jalan itu." Kata Galuh lagi.


"Video rekaman cctv?" Tanya Ila lagi.


"Iya! Di dalam rekaman itu jelas terlihat bahwa bukan kau yang menabraknya, namun dialah yang berlari dan menabrakkan dirinya pada mobilmu. Lalu karena kau begitu gugup kau tanpa sengaja menginjak pedal gas yang membuat tubuh Imran terseret beberapa meter hingga akhirnya menabrak pohon." Kata Galuh menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"Kapan kau akan menemui dia lagi?" Tanya Ila.


"Besok siang! Dalam beberapa hari lagi ia akan di bawa kembali ke rumah tahanan." Sahut Galuh.


"Eeemm, kak! Apa aku boleh ikut?" Tanya Ila.


"Untuk apa, sayang? Semuanya biar aku dan yang lainnya saja yang urus! Kau tidak perlu memikirkan hal ini." Kata Galuh.


"Kak, tapi aku ingin melihatnya! Biarkan aku ikut kesana, besok. Aku janji aku tidak akan bicara apapun padanya nanti." Kata Ila.


"Hah! Baiklah jika itu yang kau inginkan." Sahut Galuh.


Keesokan harinya, Galuh dan Ila pun pergi ke rumah sakit itu dengan membawa surat penyataan yang akan di tanda tangani oleh Imran sebagai bentuk persetujuan damai dalam kasus kecelakaan itu. Tiba disana, Syakir dan Kania telah menanti mereka berdua tepat di depan pintu ruang rawat Imran. Mereka pun lantas masuk ke dalam dan menemui Imran yang sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit itu.


"Akhirnya kau datang, tuan!" Kata Imran pada Galuh.


"Aku datang untuk memberikanmu surat pernyataan ini." Kata Galuh melemparkan berkas tersebut.


Imran mengambil berkas itu dan segera membacanya dengan seksama. Tak lama garis senyuman di bibir Imran pun tersungging dengan jelasnya.


"Hahaha, apa kalian ingin membodohiku, hah? Lucu sekali! Kau pikir aku mau menandatangani sampah ini?" Kata Imran yang terus dalam tatapan Ila saat itu. Mata Ila seakan berkaca-kaca saat melihat Imran tertawa jahat.


"Aku sudah tau siapa kau, pak tua!" Kata Galuh geram padanya.


"Aku tau kau memang bukan Amran, tapi kau Imran! Selama ini kau menggunakan identitas saudara kembarmu untuk terhindar dari jeratan hukum." Kata Galuh lagi sambil menarik kerah bajunya dengan geram.


"Apa?" Ucap Imran kaget karena kedoknya telah berhasil di bongkar oleh Galuh.


Melihat betapa kuatnya Galuh mencengkram kerah baju Imran, Kania pun mencoba untuk memberi peringatan pada Galuh.


"Galuh, tenanglah! Bagaimanapun juga dia adalah seorang pasien di rumah sakit ini. Kau tidak bisa berbuat kasar padanya." Kata Kania pada Galuh. Suami Ila itu pun langsung melepaskan kerah baju Imran dari genggaman tangannya.


Imran dan Galuh saling bersitatap dengan tajam.


"Aku tak menyangka ternyat pria muda ini begitu pintar dan berhasil membongkar kedok ku selama ini." Guma Imran dalam hatinya sambil menatap Galuh yang begitu geram padanya.


"Tanda tangani surat pernyataan itu!" Kata Galuh pada Imran.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mau berdamai dengan orang yang telah menabrakku saat itu! Aku ingin dia juga masuk ke dalam penjara bersama denganku! Hahaha." Sahut Imran.


Air mata Ila tak dapat terbendung lagi. Dalam diam ia pun meneteskan air matanya menyaksikan betapa buruknya sikap yang dimiliki oleh ayah kandungnya tersebut. Galu melirik Ila yang berkali-kali mengusap air matanya yang jatuh begitu saja. Galuh seakan semakin geram dan kembali menyerang Imran yang masih terduduk di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2