GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MENYELIDIKI


__ADS_3

Saat sedang makan bersama, Syakir dan Galuh tiada hentinya meledek Hamka dan juga Kania. Mereka sempat melihat Hamka dan Kania saling berciuman di dalam mobil tadi.


"Hei, Hamka! Bagaimana rasanya mencium wanita dingin seperti Kania, tadi?" Bisik Syakir pada Hamka.


"Diamlah!" Ucap Hamka malu-malu kucing.


"Hei, ekspresi apa itu? Sejak kapan pria playboy sepertimu malu-malu kucing begini?" Kata Syakir.


"Kalau kau tidak bisa diam, maka aku akan menyumpal mulutmu dengan garpu ini!" Ancam Hamka sewot.


"Huh, dasar sadis!" Balas Syakir.


Galuh dan Kania makan dengan tenang di meja yang sama dengan mereka. Wajah Kania tampak memerah karena habis di cium oleh Hamka di dalam mobil barusan.


Setelah selesai makan bersama, mereka pulang dengan mengendarai mobil masing-masing, kecuali Hamka dan Kania. Saat itu Hamka berniat untuk mengantar Kania pulang kerumahnya.


"Hamka! Antarkan aku kerumah sakit." Kata Kania.


"Untuk apa kau kembali kesana?" Tanya Hamka.


"Mobilku kan masih disana." Sahutnya.


"Biarkan saja! Besok aku akan menyuruh asistenku untuk mengurus mobilmu." Kata Hamka.


Kania kembali duduk bersandar di samping Hamka yang fokus menyetir. Ia melipat kedua tangannya di atas perut sambil menggerutu kesal. Setibanya di halaman depan rumah Kania, Hamka menarik tangan Kania yang hendak turun dari mobil.


"Kania, tunggu!" Kata Hamka.


Kania pun duduk tenang dan menghadap pada Hamka.


"Kania! Tadi kita sempat berbicara di area parkir mobil resto itu. Apa yang kau ingin katakan padaku?" Tanya Hamka.


"Tidak ada! Lupakan saja." Sahut Kania.


"Kania! Kenapa kau terus saja bersikap dingin padaku seperti ini? Apa kau tidak tau seberapa besar aku menginginkan dirimu?" Ucap Hamka sambil menggenggam kedua tangan Kania.


"Aku tau itu, Hamka! Tapi aku tak bisa." Sahut Kania.


"Ada apa? Kita sudah bertunangan dan sebentar lagi kita akan segera menikah? Apa yang menghalangimu untuk menerimaku?" Tanya Hamka.


"Aku....aku mencintai orang lain!" Ucap Kania yang membuat Hamka terdiam. Wajah Hamka seketika berubah.


"Jadi karena ada pria lain?" Tanya Hamka.


"Iya!" Sahut Kania.


"Siapa dia?" Tanya Hamka.


"Kau tak perlu tau!" Jawab Kania yang hendak turun dari mobil Hamka.


"Aku tau siapa dia! Pria itu mendiang kekasihmu, kan?" Kata Hamka yang membuat Kania terperanjat sejenak.


"Apa aku benar?" Tanya Hamka lagi.


"Hamka! Terima kasih karena telah mengantarku pulang. Aku masuk dulu." Kata Kania berlalu turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya.


Hamka hanya berdecak kesal seraya memukul batang setir mobilnya dengan keras.


"Sial!" Teriak Hamka dengan kesal.


"Apa yang telah aku katakan barusan? Jika seperti ini, dia pasti akan kembali sedih mengingat mendiang kekasihnya itu." Gumam Hamka.


 

__ADS_1


*****


Beberapa hari kemudian, Kania menghubungi Galuh dan mengajaknya untuk bertemu di luar. Saat itu Kania memberikan beberapa benda yang disita oleh polisi saat terjadinya penangkapan narapidana tersebut beberapa tahun lalu. Kania memberikan dompet milik narapidana itu yang di dalamnya tidak ada stupun identitas dirinya.


"Hah! Semua ini tidak akan memberikan satu petunjuk apapun." Ucap Galuh menghela nafas.


"Galuh! Aku juga menemukan ini yang tak lain adalah milik narapidana itu." Kata Kania memberikan sebuah mata kalung yang terbuat dari tulang ikan paus.


"Eh, apakah ini.......


"Aku sudah melihatnya di internet kemarin dan mata kalung ini hanya bisa di dapatkan di sebuah pulang terpencil." Kata Kania.


"Lantas apa kau pikir ini bisa menjadi petunjuk untuk mencari alamat keluarganya?" Tanya Galuh.


"Aku yakin, dia pasti dari pulau terpencil itu!" Sahut Kania.


"Kenapa polisi tidak bisa mencarinya sejak dulu?" Tanya Galuh.


"Saat dia tertangkap, aku belum menjadi atasan disana dan kasus ini bukan aku yang tangani saat itu." Sahut Kania.


"Menurutku mata kalung ini bisa menjadi petunjuk! Jadi aku atau kau yang bertindak mencari tau semuanya?" Tanya Kania.


"Aku saja! Aku tau siapa orang yang paling tepat untuk menangani hal ini.' Sahut Galuh.


Galuh pun bergegas kembali ke kantornya setelah bertemu dengan Kania. Ia duduk di ruang kerjanya dan memanggil Didi untuk menemuinya disana. Tak lama menunggu Didi pun menghampiri Galuh.


"Ada tugas apa bos?" Tanya Didi.


"Aku ingin kau mencari tau mengenai seseorang dari pulau terpencil yang memiliki cindera mata mata kalung ini!" Kata Galuh.


"Siapa dia, bos?" Tanya Didi.


"Imran atau Amran!" Sahut Galuh.


"Cari tau kebenaran tentang mereka berdua! Aku beri waktu kau seminggu untuk menangani hal ini." Kata Galuh lagi.


Didi pun pergi mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Galuh padanya. Ia pergi menuju ke sebuah pulau terpencil yang penduduk disana semuanya hanya berprofesi sebagai nelayan dan pedagang kecil. Walaupun pulau itu tergolong pulau terpencil, namun karena keindahannya pulau tersebut selalu ramai pengunjung yang ingin berwisata kesana.


Didi tiba di pulau itu saat sore hari. Ia menyurusi sebuah jalan yang disana banyak pedaganga yang menjajakan pernak-pernik yang terbuat dari hasil laut yang mereka dapatkan. Didi membawa mata kalung itu besertanya. Ia ingin membuktikan terlebih dahulu apa memang benar mata kalung yang terbuat dari tulang ikan paus itu berasal dari sana.


"Heh! Ini mata kalung yang sama seperti yang bos Galuh berikan padaku." Gumam Didi.


"Sekarang waktunya aku mencari tau siapa targetku itu!" Gumamnya lagi.


Kkkkrrriiuuukkk...........


Perut Didi keroncongan.


"Hah! Ini perut memang selalu berkata jujur." Gumam Didi sambil melangkah mencari kedai makan untuk mengisi perutnya.


Didi pun tiba di sebuah kedai makan yang begitu sederhana. Dindingnya terbuat dari tepas dan atapnya terbuat dari daun rumbia. Didi  masuk dan duduk menunggu seorang pekerja di kedai makan itu. Tak lama seorang laki-laki remaja mendatanginya.


"Tuan! Kau mau pesan apa?" Tanya remaja itu.


"Apa saja, yang penting aku bisa kenyang." Sahut Didi yang memang tidak pernah pilih-pilih makanan.


"Baiklah!" Sahutnya.


Tak lama menunggu akhirnya makanan yang dipesan Didi pun datang. Namun saat itu buka laki-laki remaja itu yang menghidangkannya, tapi seorang wanita paruh baya yang membawanya.


"Silahkan makan, tuan!" Ucap wanita itu.


Tanpa menyahut Didi langsung menyantap makanannya dengan lahap.

__ADS_1


"Sepertinya kau pendatang!" Kata wanita itu lagi.


"Iya!" Sahutnya.


"Dari mana asalmu?" Tanya wanita itu.


"Pokoknya aku berasal dari kandungan ibuku!" Sahut Didi yang acuh tak acuh pada wanita itu.


Merasa Didi mengacuhkannya, wanita tersebut pun hendak pergi, namun Didi mencegahnya.


"Tunggu!" Kata Didi pada wanita itu.


"Ada apa, tuan?" Tanya wanita itu.


"Apa kau asli orang sini?" Tanya Didi.


"Iya!" Sahutnya.


"Kalau kau asli orang pulau ini, berarti kau banyak mengetahui seluk beluk di pulau ini." Kata Didi.


Wanita itu terdiam dan menatap pada Didi yang menghentikan aktifitas makannya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Kata Didi.


"Apa itu, tuan?" Tanya wanita itu.


"Apa kau pernah mendengar nama Imran atau mungkin Amran?" Tanya Didi yang membuat wanita itu seakan kaget.


"Bagaimana bisa kau mengenal mereka? Apa kau teman mereka?" Tanya wanita itu langsung duduk mendekati Didi.


Didi kebingungan melihat ekspresi wanita tersebut.


"Hei, tenanglah! Aku bertanya padamu, kenapa kau malah balik bertanya?" Tanya Didi.


"Aku tanya kau sekali lagi, apa kau kenal dengan nama orang yang aku sebutkan tadi?" Tanya Didi.


"Iya, aku kenal!" Sahutnya.


"Amran adalah mendiang suamiku, dan Imran adalah kembaran dari suamiku." Sambungnya.


Didi menaikkan sebelah alis matanya dan menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan agak mencurigakan.


"Tuan! Apa aku mengenal suamiku dan juga kakaknya?" Tanya wanita itu.


"Iya!" Sahut Didi sengaja berbohong untuk mencari informasi lebih dalam.


"Dimana mereka?" Tanya Didi.


"Suamiku sudah meninggal 7 tahun yang lalu, sedangkan Imran aku tidak tau dimana dia setelah pemakaman suamiku saat itu." Sahutnya.


"Apakah suamimu Amran?" Tanya Didi.


"Iya, tuan!" Sahutnya.


"Apa tuan tidak pernah bertemu dengan Imran?" Tanya wanita itu.


"Tidak! Karena aku ingin menemuinya, maka dari itu aku kesini." Sahut Didi dusta.


"Kelihatannya kau sangat khawatir pada Imran?" Sambung Didi terus mencari informasi.


"Imran pergi meninggalkan istrinya yang terus sakit-sakitan dirumahnya, maka dari itu aku ingin sekali bertemu dengannya dan mengatakan perihal istrinya itu." Kata wanita itu lagi.


"Oh, begitu! Bisakah kau mengantarkan aku bertemu dengan istrinya?" Pinta Didi.

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan mengantarmu." Sahut wanita paruh baya itu.


Setelah kenyang, Didi pun pergi bersama dengan wanita paruh baya yang akan mengantarkannya ke rumah Imran untuk menemui istrinya yang sedang sakit keras. Tiba disana, Didi melihat sebuah gubuk tua yang begitu jelek.


__ADS_2