GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
ANAK HARAM


__ADS_3

Hana melihat Roni keluar dari kamar Galuh. Hana mengetuk kamar Galuh untuk memanggil Ila dan bicara padanya. Galuh membuka pintu kamar dengan sikap sangat gugup saat melihat Hana yang berdiri di hadapannya.


"Ma..mama! Ada apa ma?" Tanya Galuh gugup.


"Hei, kenapa kau sangat gugup? Ada apa?" Hana balik bertanya pada Galuh.


"Hahaha, tidak ada apa-apa." Sahut Galuh.


"Jika mama tau aku dan Ila menunda untuk memiliki anak, pasti dia akan ngamuk! Lebih baik aku harus membuat mama tidak curiga." Gumam Galuh dalam hatinya.


Pikiran Galuh buyar saat Hana akan masuk ke dalam kamarnya. Galuh mencoba untuk menahan Hana agar tidak masuk ke dalam kamarnya karena ia takut kalau Ila akan bicara setelah di suntik oleh Roni.


"Mama, mau ngapain?" Tanya Galuh menghalangi Hana yang akan masuk ke dalam kamarnya.


"Aku mau menemui menantuku! Minggir sana!" Teria Hana kesal karena di halangi Galuh.


Galuh menarik Hana menjauh dari pintu kamarnya.


"Ma, mama ingin aku segera punya anak kan? Jadi berikan aku waktu yang banyak bersama Ila." Kata Galuh.


"Eh, kau benar juga! Semakin banyak waktu yang kau berikan pada Ila, maka semakin cepat aku akan menimang cucu. Hehehe, kau memang putraku yang cerdas!" Kata Hana yang telah di kelabui oleh Galuh.


"Baiklah, aku akan pergi!" Seru Hana berlalu menuruni anak tangga dan pergi dari kamar Galuh.


Galuh menghela nafas lega setelah ia bisa menjauhkan Hana dari Ila yang berada di dalam kamar mandi. Galuh kembali masuk ke dalam kamarnya dan melihat Ila duduk di tepi ranjang. Galuh segera menghampiri istrinya itu untuk menjelaskan apa yang Roni suntikkan padanya.


"Ila, apa kau tau yang di suntikkan Roni padamu tadi?" Tanya Galuh.


Ila menggelengkan kepalanya.


"Itu adalah cairan kontrasepsi untuk menunda kehamilan. Kau bilang kau tidak ingin hamil saat masih sekolah kan? Jadi aku minta tolong pada Roni untuk memberikanmu suntikan itu tadi." Kata Galuh menjelaskan.


"Oh, begitu." Sahut Ila polos.


"Sebulan sekali kau harus di suntik lagi. Oke!" Kata Galuh.


"Iya." Sahut Ila.


"Oh iya, aku ingin kau rahasiakan hal ini pada papa dan mama ya." Kata Galuh lagi.


"Kenapa?" Tanya Ila tidak mengerti.


"Papa dan mama sangat ingin punya cucu, kalau mereka tau kita menundanya, mereka pasti akan marah. Kau tidak ingin kan suamimu yang tampan dan mempesona ini di amuk oleh kedua mertuamu? Hehehe." Kata Galuh dengan penuh percaya dirinya.


"Dia terlalu percaya diri!" Gumam Ila dalam hatinya seraya menatap wajah Galuh.


"Iya, baiklah!" Sahut Ila.


"Setelah ini kau tidak perlu khawatir jika aku mengeluarkannya di dalam! Hehehe." Seru Galuh cengengesan.


"Hah, otaknya mesum lagi! Pria dewasa sangat menakutkan." Gumam Ila dalam hatinya yang mengerti maksud dari suaminya itu.


 


Keesokan paginya, Ila dan Galuh bersiap-siap untuk menjalani rutinitas seperti biasanya. Ila bersiap untuk pergi ke sekolah dan Galuh pergi bekerja setelah cuti panjang. Ila melihat koper yang berisi pakainnya dan juga Galuh.


"Kak, bagaimana dengan pakaian kita? Apa kita akan tinggal di rumah mama dan papa?" Tanya Ila.


"Kita akan kembali ke apartemen. Nanti aku akan menyuruh Didi untuk membawa koper kita ke apartemen." Sahut Galuh.


"Baiklah." Sahut Ila.


"Oh iya, nanti setelah pulang dari sekolah jika kau tidak ada keperluan lain langsung pulang saja ke apartemen, nanti Didi akan menjemputmu. Aku tidak bisa menjemputmu karena ada meeting bersama Hamka dan juga Syakir." Kata Galuh lagi.


"Iya." sahut Ila.


Galuh mendekati Ila yang sibuk mengancing baju seragamnya di depan cermin. Galuh memeluk Ila dari belakang dan berbisik padanya.


"Jangan nakal dan kau tidak boleh genit-genit ataupun dekat-dekat dengan siswa laki-laki di sekolahmu! Jika aku mengetahuinya, maka aku akan mengikatmu sehingga kau tidak bisa untuk pergi ke sekolah lagi. Apa kau mengerti, imutku yang cantik?' Ancam si bucin pada Ila.


"Iya!" Sahut Ila kesal dengan ancaman Galuh.


"Hehehe, sekarang cium aku di sini!" Perintah Galuh menyuruh Ila menciumnya di pipi kanan dan kiri.


Ila melakukan apa yang di perintahkan oleh Galuh. Ia berjinjit dan mencium kedua pipi Galuh secara bergantian. Setelah selesai sarapan bersama Hana dan Antoni, Galuh dan Ila pergi menaiki mobil yang di kemudikan oleh Didi. Didi mengantarkan Ila terlebih dahulu ke sekolahnya setelah itu ia mengantarkan Galuh ke kantornya.


Ila melangkah masuk ke halaman sekolahnya dengan tatapan mata yang mengarah padanya. Ila melihat semua orang berbisik-bisik sambil melirik dirinya. Perasaan aneh langsung menyeruak di hatinya. Ia sangat bingung mendapatkan tatapan mata yang memandangnya sinis.


"Ada apa dengan mereka? Apa ada yang aneh denganku hari ini? Atau jangan-jangan mereka tau kalau aku sudah menikah dengan Galuh?" Banyak pertanyaan yang ada di pikiran Ila saat itu.


Ila masuk ke dalam kelasanya dan langsung di hampiri oleh kedua sahabatnya itu.


"Ila, apa kau sudah membaca berita di mading (Majalah Dinding)?" Tanya Eri dengan wajah yang sangat khawatir pada Ila.


"Belum? Memangnya ada apa?" Tanya Ila bingung.


"Ila, ada berita yang mengatakan bahwa kau adalah anak yang di hasilkan dari hubungan gelap ayahmu dengan wanita selingkuhannya." Sahut Fiqri dengan berat hati mengatakan hal yang dapat menghancurkan hati Ila.


"Apa?" Ucap Ila terkejut.


Lalu terdengar olehnya, teriakan teman sekelasnya yang lain saat membaca berita di ponselnya.


"Hei, lihatlah berita di internet!" Teriak teman sekelas Ila pada yang lainnya.


Mereka semua pun cepat-cepat mengambil ponselnya untuk melihat berita yang tersebar di dunia maya itu. Ila mengambil ponselnya dan melihat langsung berita yang tersebar di internet mengenai dirinya. Hati Ila terasa perih bagaikan tertusuk duri saat membaca artikel berita mengenai statusnya sebagai anak haram yang di hasilkan dari hubungan gelap ayahnya dan wanita selingkuhannya.


"Ada apa ini? Kenapa ada berita ini?" Ucapnya sambil meneteskan air matanya yang tidak dapat ia bendung.

__ADS_1


Ila teringat dengan perkataan Fiqri mengenai berita yang ada di majalah dinding sekolah. Ila berlari menuju ke sana di ikuti ileh kedua sahabatnya itu. Air mata Ila semakin deras mengalir setelah ia melihat begitu banyak selebaran berita yang menempel di majalan dinding sekolah. Ila berjongkok menangis saat semua orang mencemoohkan dirinya di sekolah.


"Ila, tenanglah!" Ucap Eri memeluk Ila yang tak kuasa untuk menerima berita buruk mengenai dirinya.


Semua orang melihat Ila yang tertunduk sembari menangis di sana.


"Aku tidak menyangka, Ila yang sangat baik dan lembut ini ternyata anak haram yang di hasilkan dari hubungan perselingkuhan!" Ujar salah seorang siswi di sekolah itu.


"Hei, kau diamlah! Jika kau bicara lagi, akan aku robek mulutmu!" Teriak Eri marah pada siswi itu.


"Hei, Eri! Kenapa kau begitu marah? Ini bukan masalahmu, tapi masalah Ila." Sahut siswi itu tak terima Eri menegurnya.


Eri sangat kesal dengan siswi itu yang telah mengejek sahabatnya. Eri mendekati siswi itu dan memberikan pukulan yang tepat mengenai hidungnya hingga berdarah. Semua orang kaget melihat Eri memukul orang hanya untuk membela Ila.


Perkelahian antara Eri dan siswi itu pun tidak bisa di hindari lagi. Mereka saling pukul dan akhirnya di pisahkan oleh guru yang membawa mereka ke ruang bimbingan. Ila juga di bawa ikut ke ruang bimbingan itu untuk menjelaskan keributan yang terjadi di sekolah pagi itu.


 


***


Di ruang kerjanya, Galuh di hampiri oleh Didi yang lebih dahulu mengetahui berita yang tersebar di internet mengenai Ila.


"Bos, ada berita buruk yang tersebuar di internet mengenai nona Ila." Kata Didi.


Galuh segera mengambil ponselnya dan melihat berita mengenai istrinya itu. Galuh sangat kesal dengan pemberitaan tersebut.


"Hapus segera berita ini! Lalu cari tau siapa yang menyebarkannya." Perintah Galuh pada Didi.


"Baik bos!" Sahut Didi segera melakukan perintah majikannya.


Hari itu Galuh memiliki meeting penting bersama dengan kedua sahabatnya itu. Namun ia lebih memilih untuk menemui Ila di sekolahnya. Galuh menghubungi kedua sahabatnya itu untuk membatalkan meeting penting mereka. Galuh pergi ke sekolah Ila untuk membawanya pulang, namun saat Galuh tiba di sana, kepala sekolah mengatakan kalau Ila sudah meminta izin untuk pulang sejak tadi pagi.


Galuh bingung mencari keberadaan Ila saat itu. Galuh menghubungi Ila melalui peonselnya, namun Ila tidak mengangkatnya.


"Kemana dia?" Gumam Galuh panik sekaligus khawatir terhadap Ila.


Galuh melacak keberadaan Ila menggunakan nomornya. Galuh mengerutkan dahinya saat melihat posisi Ila yang sedang berada di sebuah tempat di pinggiran kota.


"Sedang apa dia disana?" Tanya Galuh dalam hatinya melihat posisi Ila di ponselnya.


"Lebih baik aku mengikutinya!" Kata Galuh bergegas masuk ke dalam mobilnya.


 


***


Ila menaiki taksi dan pergi menuju ke rumah Bibi Asih untuk menanyakan kebenaran berita yang tersebar luas di internet dan juga di sekolahnya. Ila duduk di dalam taksi sambil mengusap air matanya yang tidak mau berhenti mengalir. Tidak sampai satu jam perjalanan, tibalah Ila di depan rumah pelayan yang mengasuhnya sejak kecil. Ila melihat bibi Asih duduk di serambi rumahnya yang sederhana.


Bibi Asih bingung melihat Ila memeluknya sambil menangis.


"Kenapa kau menangis, nak? Ada apa?" Tanya bibi Asih pada Ila.


"Bi, apa bibi tau apa statusku yang sebenarnya di keluargaku?" Tanya Ila pada bibi Asih.


"Kau itu anak kandung nyonya Yurika." Jawab bibi Asih tanpa ragu mengatakannya.


"Bi, aku mohon jangan bohongi aku lagi! Aku tau kalau aku adalah anak haram." Ucap Ila yang membuat bibi Asih terkejut.


"Ya tuhan, dia sudah tau tentang peristiwa kelam itu?" Gumam bibi Asih salah mengira dengan ucapan Ila.


Bibi Asih menatap Ila dengan tatapan mata yang nanar. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengan dari perkataan Ila barusan.


"Bi, kenapa bibi diam saja? Ayo katakan padaku apa benar aku anak haram dari hasil hubungan perselingkuhan ayah dengan wanita lain?" Tanya Ila.


Bibi Asih seketika bingung dengan ucap Ila mengenai Almarhum Raldi yang pernah menjadi majikannya itu.


"Apa maksudmu, nona? Tuan Raldi tidak pernah memiliki wanita lain selain nyonya Yurika. Dia adalah pria yang sangat mencintai nyonya Yurika." Kata bibi Asih pada Ila.


Ila menceritakan semua berita yang mengatakan fitnah itu kepada bibi Asih. Semua berita itu di tepis oleh bibi Asih yang mengetahui kisah yang sebenarnya.


Bibi Asih menceritakan semua kebaikan dari almarhum Raldi kepada Ila dengan tangisan yang sangat mengharukan. Ia bahkan sangat merindukan sosok majikan seperti Raldi yang sangat baik kepada para pelayan.


"Bila yang semua bibi katakan itu benar, lalu mengapa selama ini mama membenciku, bi?" Tanya Ila dalam isak tangisnya.


Galuh yang baru saja tiba dan berdiri di balik tembok rumah bibi Asih, terkejut saat mendengar Ila di benci oleh Yurika selama ini. Rasa penasaran semakin kuat di pikiran Galuh saat itu. Ia ingin sekali segera memecahkan rahasia yang sudah puluhan tahun tertutup rapat.


"Nyonya Yurika tidak membencimu, nona! Itu sama sekali tidak benar." Kata bibi Asih masih mencoba untuk menyimpan rahasia itu rapat-rapat karena ia sudah berjanji pada almarhum Raldi.


"Bibi bohong! Bibi tidak sayang padaku. Aku benci kalian semua. Aku benci!" Teriak Ila sangat kesal. Ia merasa telah di permainkan oleh orang-orang yang menyimpan rahasia kelam itu.


Ila berlari keluar rumah dan pergi meninggalkan kediaman bibi Asih begitu saja. Bibi Asih berusaha untuk mengejarnya, namun saat itu Galuh menghentikannya.


"Siapa kau?" Tanya bibi Asih yang tidak pernah mengenali Galuh.


"Saya adalah suaminya Ila, bi!" Jawab Galuh.


"Bagaimana mungkin nona Ila memiliki suami, dia masih sekolah." Kata bibi Asih tidak percaya.


"Ceritanya panjang, bi! Nanti aku akan menjelaskannya. Sekarang aku akan mengejar Ila dulu." Kata Galuh bergegas pergi untuk mengejar Ila yang baru saja pergi dari rumah bibi Asih.


Galuh menemui Ila yang berjongkok sambil menangis di pinggir jalan. Galuh menghentikan mobilnya dan mendekati Ila. Galuh langsung memeluk Ila dengan erat. Ila kaget dan melihat orang yang memeluknya. Tangisan Ila semakin pecah saat ia melihat Galuh yang memeluknya.


"Aku anak haram!" Ucap Ila menangis sejadi-jadinya di pelukan Galuh.


"Tidak! Jangan katakan hal itu lagi. Aku tidak suka mendengarnya." Kata Galuh.


Saat Ila sudah tenang, Galuh membawanya kembali pulang ke apartemen mereka. Galuh memanggil Roni untuk memeriksa kondisi Ila yang terlihat lemah. Ila terus menangis sepanjang hari itu yang membuat kondisinya semakin melemah.

__ADS_1


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Galuh pada Roni.


"sangat lemah! Aku sudah menyuntikkan obat tidur untuknya agar dia bisa beristirahat." Sahut Roni.


Galuh dan Roni keluar dari kamar dan berbincang di ruang tengah. Mereka duduk di sofa membahas berita yang tersebar di internet.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya Roni pada Galuh.


"Aku juga tidak tau! Yang pasti ada rahasia yang tersimpan sejak lama." Sahut Galuh.


"Apa kau sudah tau siapa yang menyebarkan berita itu di internet?" Tanya Roni lagi.


"Belum! Tapi aku sudah memerintahkan Didi untuk menghapus berita itu dan juga mencari pelakunya." Sahut Galuh.


"Sebaikanya kau jaga Ila, aku akan kembali kerumah sakit. Jika terjadi apa-apa pada Ila, segera hubungi aku." Kata Roni.


"Iya baiklah! Terima kasih Roni." Ucap Galuh.


Roni pergi dari apartemen dan kembali melakukan tugasnya di rumah sakit. Tidak lama kemudian, Didi menekan bel pintu apartemen Galuh. Ia membawa hasil dari apa yang di perintahkan oleh Galuh kepadanya.


"Bos, orang yang menyebarkan berita di internet adalah siswa dari sekolah elit yang bernama Genta! Dia adalah orang yang melecehkan nona Ila saat di toilet bar waktu itu." Kata Didi pada Galuh.


"Kurang ajar! Apa yang di inginkan oleh bocah itu sehingga ia terus saja mencari masalah dengan Ila?" Ujar Galuh penuh luapan emosinya.


"Bos, setelah aku menyelidiknya, ternyata nona Kia ada kaitannya dengan hal ini." Kata Didi lagi.


"Lagi-lagi wanita sialan itu!" Kata sangat membenci Kia.


"Dimana bocah sialan yang bernama Genta itu?" Tanya Galuh pada Didi.


"Aku sudah menyerahkan dirinya pada pihak kepolisian." Jawab Didi.


Galuh tampak berpikir sejenak mencerna perkataan Didi mengenai Genta.


"Dia masih di bawah umur dan berstatus pelajar, dengan mudah ia akan terlepas dari jeratan hukum." Kata Galuh.


"Bos, aku sudah menyelidiki latar belakang keluarganya, dan ternyata Genta adalah putra kedua dari tuan Adrian yang selama ini membujukmu untuk berinvestasi di perusahaannya." Kata Didi.


"Hehehe, baiklah! Aku sudah tau apa yang harus aku lakukan untuk membalas perbuatan si bocah nakal itu." Kata Galuh berencana untuk membuat perusahaan ayah Genta bangkrut seketika.


 


 


Setelah Didi mengatakan hasil penyelidikannya pada Galuh, ia pergi untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh Galuh lagi kepadanya. Galuh memerintahkan kepada Didi untuk membalaskan perbuatan Genta terhadap Ila.


Galuh menemui Ila yang masih tertidur lelap di dalam kamar. Galuh mendekapnya dan berkali-kali mencium kening istrinya itu. Galuh sangat mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Ila saat itu.


Sepintas ia teringat dengan kedua orang tuanya yang di benaknya pasti mengetahui apa yang sedang terjadi. Galuh bergegas pergi kerumah kedua orang tuanya dan meninggalkan Ila di apartemen sendirian.


Galuh menemui Hana dan Antoni yang saat itu akan pergi keluar. Galuh menahan kedua orang tuanya untuk tidak pergi dan menjawab semua pertanyaan yang mengganggu pikiranya mengenai Ila.


"Ma, cepat katakan sejujurnya padaku? Apa yang sudah mama dan papa ketahui tentang Ila?" Tanya Galuh pada Hana.


"Mama dan papa sudah tau kan tentang kabar berita yang tersebar di internet pagi ini?" Tanya Galuh lagi.


"Galuh, sebenarnya ini adalah janjiku kepada Yurika. Aku sudah berjanji untuk tidak membongkar rahasia yang sudah puluhan tahun tertutup rapat." Sahut Hana.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Istriku sangat terpukul dengan berita di internet itu, ma." Kata Galuh kesal.


"Galuh, tenangkah dirimu!" Bentak Antoni pada putra tunggalnya itu.


"Bagaimana aku bisa tenang melihat kondisi Ila yang sangat lemah dan terus menangis karena berita itu?" Teriak Galuh semakin kesal.


"Berita yang tersebar di internet itu tidak benar! Tidak ada wanita lain dalam pernikahan Yurika." Kata Hana.


"Lantas, kenapa Ila di cap sebagai anak haram?" Tanya Galuh.


"Aku bahkan masih ingat saat akad nikahku saat itu, Ila di nasabkan kepada nama mamanya." Sambung Galuh lagi.


"Ila memang lahir di luar pernikahan." Kata Hana terpaksa membongkar rahasia kelam Yurika.


Galuh menatap Hana seakan tidak percaya pada apa yang di dengarnya barusan.


"Tapi Ila bukan anak dari wanita lain, melainkan anak kandung Yurika sendiri." Sambung Hana lagi.


"Maksud mama, mama Yurika yang selingkuh dan melahirkan Ila hasil dari selingkuhannya itu?" Tanya Galuh memiliki persepsi lain.


"Tidak! Tidak ada yang selingkuh di pernikahan Yurika dan Raldi. Yurika di perkosa saat rumahnya di masuki oleh beberapa perampok!" Jawab Hana yang membuat Galuh semakin terkejut.


Hana menceritakan semua rahasia kelam yang ia pun baru tau sejak ia menginginkan Ila menjadi menantunya. Saat itu Yurika terpaksa mengatakan status Ila yang sebenarnya agar Hana dapat menerima Ila apa adanya dan menyayanginya sepenuh hati. Yurika tidak ingin masa lalu yang kelam itu terus menghantui dan berimbas untuk Ila di masa depannya.


"Aku sangat menyayangi Ila seperti putriku sendiri." Ucap Hana mengingat semua ketulusan Ila selama ini.


"Jadi karena itu mama Yurika membenci Ila?" Tanya Galuh.


"Yurika tidak pernah membenci Ila! Ia sangat menyayangi Ila sepenuh hatinya. Namun saat ia menatap dan ingin dekat dengan Ila, ia teringat dengan peristiwa kelam itu. Kerna hal itu lah, Yurika memutuskan untuk menjauhkan dirinya dari Ila dan berusaha untuk membuat Ila membenci dirinya. Yurika bahkan rela menyakiti dirinya sendiri saat melihat Ila tumbuh besar di tangan pelayan dirumahnya." Kata Hana.


"Semua yang membuatku penasaran telah terpecahkan! Aku tau sekarang, mengapa Ila sangat dekat dengan para pelayan dirumahnya." Gumam Galuh dalam hatinya.


Hana menceritakan semuanya tentang kehidupan Ila yang begitu menyedihkan dirumah itu. Dari kecil Ila tidak pernah makan makanan mewah dan juga tidak pernah merasakan kemewahan yang dimiliki oleh Yurika. Galuh seakan tidak bisa menerima dengan kehidupan Ila yang menyedihkan sejak ia kecil.


Saat sedang membicarakan masalah yang sedang mereka hadapi, pelayan datang dan menghampiri Hana.


"Nyonya, ada telepon dari kediaman nyonya Yurika." Kata pelayan pada Hana.


Hana cepat-cepat menerima panggilan telepon dari kediama Yurika.

__ADS_1


"Apa? Yurika bunuh diri?" Teriak Hana sangat terkejut.


Galuh dan Antoni ikut terkejut mendengar teriakan Hana saat menerima telepon. Hana terduduk lemas di lantai setelah menerima telepon itu. Galuh dan Antoni menghampiri Hana yang hampir pingsan mendengar kabar buruk yang menimpa Yurika di rumahnya.


__ADS_2