GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MENGUNGKIT MASA LALU


__ADS_3

Galuh yang tak senang melihat Ila menjatuhkan air matanya, kembali menyerang Imran dan bahkan hampir memukulnya. Namun saat itu Syakir berhasil menahan Galuh untuk tidak membuat kesalahan lainnya yang akan memberatkan Ila.


"Aku memiliki semua bukti bahwa istriku tidak bersalah!" Kata Galuh pada Imran.


"Oh, jadi istrimu yang menabrakku?" Sahut Imran melirik Ila yang berdiri di samping Galuh.


"Apakah istrimu wanita muda yang sedang menangis itu, hah?" Tanya Imran yang saling beradu pandang dengannya.


"Jangan menatap pada istriku, pria tua!" Teriak Galuh kesal.


"Aku tidak akan membiarkannya bebas setelah dia menabrakku!" Kata Imran bersikeras ingin memenjarakan Ila.


"Aku tekankan sekali lagi padamu, istriku tidak menabrakmu!" Teriak Galuh begitu emosi terhadap Imran.


Kania tak tahan melihat Imran yang begitu licik dalam hal ini. Ia pun turun tangan dan menunjukkan semua bukti yang dapat membuat Ila berada dalam posisi yang aman di mata hukum.


"Ini adalah hasil rekaman yang telah berhasil membuktikan bahwa dia tidak menabrakmu, tapi kau lah yang berlari dan menabrak mobilnya!" Kata Kania menunjukkan rekaman itu pada Imran.


"Bagaimanapun juga, posisi Ila tidak sepenuhnya bersalah di mata hukum!" Kata Kania lagi.


"Kalian para polisi bekerja hanya kepada orang-orang kaya saja! Kalian tidak dapat menegakkan keadilan untuk orang sepertiku ini." Kata Imran marah pada Kania selaku polisi yang dimatanya telah membela Ila.


"Kalian bahkan tidak becus menangkap orang! Kalian telah menangkapku yang tidak pernah melakukan tindak kejahatan." Kata Imran lagi yang terus saja berdalih dari apa yang telah ia lakukan selama ini.


"Dasar orang rendahan kau! Setelah semua kejahatan yang kau lakukan selama ini, kau masih saja merasa dirimu tidak bersalah, hah!" Ujar Galuh kembali berang.


"Heh, apa yang kau tau tentangku, anak muda?" Tanya Imran seakan menantang Galuh.


"Aku akan mengingatkanmu atas perbuatan kejimu dan teman sekomplotanmu 20 tahun yang lalu!" Kata Galuh.


"20 tahun yang lalu kau dan komplotanmu itu merampok sebuah rumah dan menggasak semua benda berharga! Bahkan kalian juga telah memperkosa seorang wanita, bukan?" Kata Galuh yang membuat Imran begitu terkejut.


"Apa kau terkejut, Imran?" Tanya Galuh menatapnya nanar.


"Kau pasti bingung kenapa aku bisa tau aksi bejatmu itu, dulu! Karena selama ini korban yang kau dan komplotanmu perkosa itu tidak pernah melaporkan aksi bejat kalian kepada pihak polisi." Sambung Galuh lagi.


"Bagaimana mungkin." Ucap Imran begitu terkejutnya.


"Apa kau tau, hasil yang telah kau lakukan 20 tahun yang lalu, hah?" Kata Galuh.


"Karena perbuatan bejat kalian, ada seorang anak terlahir menderita hingga sekarang!" Kata Galuh lagi.

__ADS_1


"Apa....apa maksudmu?" Tanya Imran.


"Kau lihat, wanita muda yang ingin kau penjarakan itu, hah?" Kata Galuh menunjuk pada Ila.


"Dia hasil dari perbuatanmu yang bejat itu 20 tahun yang lalu." Sambung Galuh lagi.


Imran begitu terkejut hingga ia seakan susah untuk bernafas. Ia tak pernah menyangka aksi bejatnya di masa lalu akan terungkit di masa mendatang.


"Tidak mungkin! Aku tidak percaya ini." Kata Imran terus bersitatap dengan Ila yang masih menjatuhkan air matanya dalam diam.


Galuh melemparkan hasil tes DNA kepada Imran sebagai bukti bahwa dirinya dan Ila memang memiliki hubungan darah. Imran semakin melerbarkan kedua matanya saat melihat hasil tes DNA itu. Ia sungguh tak bisa percaya bahwa Ila adalah putri kandungnya atas hasil yang telah ia lakukan dulu.


"Sekarang apa kau masih ingin memenjarakan putri kandungmu, hah?" Tanya Galuh pada Imran yang terperanjat dan menatap Ila.


"Anakku!" Kata-kata itu terus terngiang di telinga dan pikiran Imran saat ia menatap Ila.


Entah bagaimana Imran harus menyikapi perihal itu. Begitu lama ia menikah dengan istrinya dan sangat menginginkan kehadiran seorang anak, namun hal itu tak pernah ia dapatkan. Tapi kejadian di masa lalu itu telah menjadikan dirinya seorang ayah walaupun tanpa ia sadari sama sekali.


"Anakku!" Ucap Imran menata Ila.


"Aku tak ingin kau menjadi ayahku!" Teriak Ila sambil berjongkok dan menutupi kedua telinganya.


"Kau pria bejat! Aku tidak sudi kau menjadi ayahku!" Teriak Ila lagi.


"Maafkan aku!" Ucap Imran menyesali semua perbuatannya di masa lalu.


Ila terus menangis sambil menutup telinganya dan berjongkok di lantai rumah sakit itu. Kania yang tak tega melihat kondisi Ila, menyuruh Galuh untuk membawa Ila pulang. Kania dan Syakir pun menuntaskan semua permasalahan itu kepada Imran yang telah mengakui semua tindak kejahatannya di masa lalu.


"Tanda tangani surat pernyataan damai ini, agar Ila terbebas dari jeratan hukum." Kata Syakir pada Imran.


"Baiklah! Apapun akan aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku." Sahut Imran.


Imran pun menandatangani surat pernyataan damai tersebut di hadapan Kania dan polisi lainnya yang bertugas saat itu. Setelah selesai menandatanganinya, Imran menahan Syakir untuk tinggal sejenak bersama.


"Tuan! Kau teman dari mereka kan?" Tanya Imran pada Syakir.


'Iya!" Sahutnya.


"Ceritakanlah padaku mengenai Ila! Aku mohon, tuan. Aku ingin tau apa yang telah putriku lalui karena kesalahanku dulu." Pinta Imran memohon pada Syakir.


Syakir pun menceritakan semua yang berkaitan dengan kisah Ila dari kecil yang ia ketahui dari Galuh kepada Imran. Syakir menceritakan perihal betapa menderitanya Ila sejak kecil karena perlakuan Yurika yang trauma pada malapetaka tersebut.

__ADS_1


Mata Imran tampak berkaca-kaca saat mendengar semua menganai Ila yang menderita akibat aksi bejatnya dulu. Imran begitu menyesal dengan apa yang ia lakukan dan berimbas pada orang lain. Pada pihak kepolisian Imran mengakui semua tindak tanduk kejahatan yang telah ia lakukan selama ini. Imran pun kembali diadili di pengadilan dan mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.


 


*****


Hari berlalu begitu cepat. Setelah terbebas dari tahanan kota, Ila memulai aktifitasnya seperti biasa. Bangun di pagi hari, Ila langsung masuk ke kamar putranya yang kini sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih-tatih. Ila memeluk Gilang yang seakan menjadi anak yang begitu aktif.


"Anak mami!" Seru Ila pada Gilang yang tertawa riang di pagi itu.


"Kau wangi sekali!" Seru Ila lagi menciumi putranya yang baru saja selesai mandi.


"Ayo kita turun dan sarapan bersama papi juga kakek nenek." Kata Ila menggendong Gilang dan melangkah menuju ke ruang makan.


Disana tampak Hana dan Antoni serta Galuh yang sedang menyantap sarapan mereka.


"Cucuku!" Seru Antoni mengambil Gilang dari gendongan Ila.


Ila mengambil semangkuk bubur bayi yang telah Ratih siapkan untuk Gilang. Ila pun menyuapi Gilang dengan bubur bayi tersebut. Setelah selesai sarapan, Ila mengantar Galuh ke depan pintu yang hendak pergi bekerja.


"Aku pergi dulu!" Kata Galuh seraya mencium kening Ila dengan lembut.


"Iya! Hati-hati di jalan ya, sayang." Sahut Ila.


Galuh pun melangkah menuju pada mobil mewahnya, namun saat itu Ila melihat Didi tampak membicarakan hal yang serius pada Galuh. Merasa penasaran, Ila pun mendekati mereka agar bisa mendengar pembicaraan antara Galuh dan Didi.


"Apa kau yakin dengan informasi ini?" Tanya Galuh pada Didi.


"Iya, bos! Istri Imran telah meninggal karena penyakit yang ia derita selama ini." Sahut Didi.


"Istrinya?" Gumam Ila mengerti akan maksud perkataan Didi barusan.


"Bos, apa aku perlu mengatakan pada Imran kalau istrinya sudah tiada?" Tanya Didi.


"Pergilah katakan padanya, agar dia tau apa yang telah ia perbuat kepada istrinya semasa hidup." Sahut Galuh yang begitu tak menyukai Imran.


"Baik, bos!" Sahut Didi.


Didi pun pergi ke rumah tahanan dimana Imran sedang terkurung disana setelah ia mengantarkan Galuh terlebih dahulu ke kantornya. Tiba disana Didi pun menyampaikan berita duka tersebut kepada Imran. Mengetahui istrinya telah meninggal dunia, Imran begitu terpukul. Ia semakin merasa bersalah telah menjadikan istrinya salah satu korban dari sikap arogannya.


"Aku bersalah padamu, Eti! Aku minta maaf karena telah menyia-nyiakan hidupmu." Ucap Imran dalam tangis kesal akan sikapnya yang dulu selalu berbuat kasar pada istrinya tersebut karena tak bisa memberikan keturunan untuknya.

__ADS_1


Ila yang belum mengetahui apapun mengenai keluarga dari ayah biologisnya itu terus bertanya-tanya dalam hatinya. Ia begitu penasaran ingin mengetahui seluk beluk orang-orang yang berhubungan dengan Imran.


"Setelah kak Galuh kembali nanti, aku akan menanyakan hal itu padanya." Gumam Ila.


__ADS_2