GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MERASA TERSAKITI


__ADS_3

Malam itu Hamka berikeras untuk mengantar Kania pulang kerumahnya. Walaupun mati-matian Kania terus saja menolaknya. Karena sudah terlalu lelah bertengkar dan beradu mulut dengan Hamka, Kania pun akhirnya masuk ke dalam mobil mewah milik tunangnnya itu dan di antarkan pulang olehnya. Saat di pertengahan jalan, Kania melirik ke arah kaca mobil menatap ruas-ruas jalan yang sudah terlihat sepi.


"Kenapa kau sedari tadi melihat keluar saja? Kenapa tidak mau menatapku?" Tanya Hamka pada Kania.


"Aku mencari abang bakso yang berjualan disini!" Sahutnya.


Cccceekkkiiittttt...............


Hamka mendadak menghentikan mobilnya dan membuat Kania kaget.


"Kenapa kau menghentikan mobilnya mendadak seperti ini!" Pekik Kania kesal pada Hamka.


"Kau tadi bilang kau mencari abang bakso yang ada di pinggir jalan kan?" Tanya Hamka.


"Iya!" Sahut Kania.


"Apa selama ini kau selingkuh dengan abang bakso itu di belakangku, hah?" Teriak Hamka.


"Astaga! Si dodol ini! Kebodohannya itu hampir membuatku mati berdiri." Ujar Kania saat mengetahui kesalahpahaman Hamka vs abang bakso.


"Tak ku sangka kau selingkuh dengan abang-abang bakso! Apa baksonya sangat lezat sehingga kau berniat untuk selingkuh dengannya agar diberi bakso gratis setiap hari? Katakan padaku, berapa harga baksonya! Biar aku beli sekalian sama gerobaknya!" Teriak Hamka lagi.


"Hei, siapa yang selingkuh dengan abang bakso?" Teriak Kania membalas.


"Kau!" Sahut Hamka sewot.


"Cih, si konyol ini membuatku kehabisan kata-kata!" Gerutu Kania geram.


Kania begitu geram karena sikap Hamka yang cemburu buta. Ia membuka pintu mobil dan segera keluar. Kania berjalan kaki sambil menggerutu kesal.


"Sial! Kenapa malah dia yang kesal, sih?" Ujar Hamka juga keluar dari mobilnya untuk mengejar Kania.


Hamka pun berlari dan mengejar Kania yang terus menggerutu sambil berjalan di pinggir jalan.


"Kania!" Panggil Hamka.


"Pergi sana!" Pekik Kania kesal.


"Kenapa malah kau yang kesal sih? Bukannya kau yang selingkuh!" Kata Hamka.


"Dasar idiot!" Gerutu Kania enggan membalas perkataan Hamka padanya. Ia terus berjalan di depan Hamka.


"Kania, tunggu aku!" Panggil Hamka lagi.


"Ada apa?" Teriak Kania menoleh padanya.


"Aku capek mengejarmu!" Sahut Hamka ngos-ngosan.


"Kalau begitu tidak usah mengejarku! Aku tak ingin kau mengejarku! Pergi sana! Jauhi aku!" Teriak Kania kesal.


"Ada apa? Kenapa kau sekesal itu padaku?" Tanya Hamka.


"Kau itu pria bodoh! Aku tidak ingin menikahi pria bodoh sepertimu!" Teriak Kania yang membuat Hamka sakit hati.


"Apa?" Ucap Hamka kaget.


"Aku tidak mau menikah denganmu!" Teriak Kania lagi kemudian berlalu meninggalkan Hamka.


Hamka terdiam dan terperanjat sambil menatap kepergian Kania yang tampak begitu kesal padanya.


"Maafkan aku, Hamka! Mungkin dengan seperti ini kau bisa menjauh dariku dan melupakan aku selamanya!" Gumam Kania dalam hatinya sambil terus berjalan. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja.


Hamka masih menatap Kania yang tampak dari kejauhan telah menaiki taksi untuk pulang kerumahnya. Dipikirannya saat itu hanyalah perkataan kasar Kania yang tak dapat dipungkiri telah menyakiti hatinya.

__ADS_1


"Aku yang terlalu menginginkannya, sedangkan dia tidak!" Gumam Hamka dengan raut wajah sedih.


Hamka pun melangkah masuk ke dalam mobilnya dan bergegas kembali ke apartemennya. Tiba di apartemenya, Hamka terduduk sambil mengusap kepadanya dengan berat. Ia begitu lelah malam itu.


"Dia benar! Aku memang terlalu bodoh, karena terus saja mengejarnya walaupun aku tau dia menolakku!" Gumam Hamka seakan menyerah kepada Kania.


Hamka benar-benar merasa frustasi di dalam kamarnya yang tanpa lampu penerangan sama sekali. Begitu pula halnya perasaan yang dirasakan oleh Kania setibanya dirumah. Dadanya begitu sesak saat ia merasa bersalah telah menyakiti hati Hamka dengan ucapannya.


"Kau tidak bodoh, Hamka! Aku tau kau pri yang cerdas. Aku bahkan kagum akan kecerdasanmu saat kau begitu tepat menebak teka-teki semua masalah! Aku lah yang bodoh, karena tak dapat mengatakan tentang perasaanku padamu yang sebenarnya." Ucap Kania dalam isak tangisnya dan terduduk di lantai sambil bersandar pada dinding ranjang tidurnya.


Semalaman Kania terus menangis di dalam kamarnya. Ia meringkuk di atas ranjang tidurnya sambil menutupi tubuhnya dan menangis disana. Begitu pula dengan Hamka yang sama sekali tidak bisa tidur memikirkan sikap Kania yang mengucapkan kata-kata kasar untuknya.


 


*****


Galuh menemui Roni yang sudah menunggunya di kantin rumah sakit tempat Roni bekerja sebagai dokter kandungan. Tak lama menunggu akhirnya Galuh pun menghampirinya.


"Ada apa?" Tanya Roni pada sepupunya itu.


"Aku ingin bertanya masalah tes DNA itu! Aku dengar dari Hamka, kalau tes DNA itu tidak untuk mengetahui status anak terhadap orang tuanya saja namun bisa juga mengetahui silsilah keturunan." Kata Galuh.


"Iya, memang benar!" Sahut Roni.


"Untuk apa kau tanyakan hal itu? Apa ada masalah dengan hasil tes DNA kemarin?" Tanya Roni.


Galuh pun menceritakan semua yang terjadi semalam saat mereka berbicara pada narapidana itu. Roni pun mendengarkannya dengan seksama sambil berpikir.


"Menurutku hasil tes DNA kemarin tidak perlu diragukan lagi! Narapidana itu memang memiliki hubungan darah dengan Ila. Besar kemungkinan untuk kita mengetahui kebenaran apakah narapidana itu berbohong atau tidak dengan cara mencari tau informasi dari pihak keluarga narapidana itu di kampung." Sahut Roni.


"Kau benar! Aku akan menyuruh Didi untuk mencari informasi tentang narapidana itu!" Kata Galuh.


"Setelah kau dapatkan informasi itu, jangan lupa kabari aku!" Kata Roni.


Galuh pun pergi dari kantin rumah sakit itu setelah bicra panjang lebar dengan Roni. Galuh kembali mendatangi kantor polisi tempat Kania bertugas. Saat bertemu Galuh menatap wajah Kania yang tampak murung dan matanya yang sedikit bengkak.


"Kenapa wajah Kania sedikit berbeda hari ini? Apa dia habis menangis semalaman? Matanya tampak bengkak." Gumam Galuh dalam hatinya.


"Duduklah, Galuh!" Kata polwan dingin itu.


Galuh pun duduk tepat dihadapan Kania.


"Eeemm, Kania! Ada apa? Wajahmu terlihat sembab." Tanya Galuh.


"Tidak ada apa-apa! Aku hanya lelah saja." Sahut Kania dusta.


"Jaga kesehatanmu, apalagi sebentar lagi kau akan sibuk mengurusi persiapan pernikahanmu dengan Hamka." Kata Galuh. Kania hanya tersenyum tipis dan enggan menanggapi apa yang Galuh ucapkan padanya.


"Ada apa Galuh?" Tanya Kania.


"Kania! Aku ingin bertemu dengan narapidana itu lagi. Aku ingin menanyakan alamat keluarganya di kampung agar aku mudah mencari informasi apa dia sungguh berkata jujur semalam." Sahut Galuh.


"Baiklah! Aku akan membantumu lagi nanti." Sahut Kania.


"Terima kasih! Kau memang calon istri yang baik untuk sahabatku. Hehehe." Ucap Galuh pada Kania yang terus tak ingin membicarakan masalah dirinya dan Hamka.


 


Hari itu Galuh merasa sangat lelah seharian mondar-mandir untuk mengurusi masalah yang sedang istrinya hadapi. Ia berusaha untuk melakukannya sendiri agar tidak banyak orang yang tau tentang permasalahan yang menyangkut masa kelam Yurika dan juga akan berimbas pada jabatan Kania di kepolisian.


Galuh kembali kerumahnya dan melihat Ila sedang menunggu kepulangannya sore itu. Ila yang masih dalam tahanan kota oleh polisi atas masalah tabrakan itu, harap-harap cemas mendengar bagaimana Galuh dan sahabat-sahabatnya sedang menyelidiki narapidana tersebut.


"Kak, bagaimana lanjutannya?" Tanya Ila pada suaminya itu.

__ADS_1


"Nanti malam aku akan menemui narapidana itu lagi untuk mengetahui alamat keluarganya di kampung." Sahut Galuh.


"Kak, aku lihat kau begitu lelah dalam hal ini! Sudahlah, tidak perlu diselidiki lagi. Jika dia memang benar ayahku atau bukan, aku tetap tidak perduli." Kata Ila.


"Ila, dengarkan aku! Disini masalahnya bukan hanya menyangkut siapa ayahmu, namun hal ini juga menyangkut orang yang tidak bersalah! Jika narapidana itu berkata benar, maka selama ini polisi memang menangkap orang yang tidak bersalah." Sahut Galuh yang memiliki sikap kemanusiaan yang tinggi.


"Aku hanya khawatir pada kesehatanmu, kak! Aku tak mau kau begitu lelah dengan hal ini." Kata Ila memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Tenanglah! Aku tidak apa-apa." Sahut Galuh seraya memberikan kecupan pada bibir Ila.


"Nanti malam aku ingin menemuinya lagi, aku harus membawa Syakir dan juga Hamka kesana." Kata Galuh.


Galuh pun menghubungi Syakir dan mengajaknya untuk pergi kerumah sakit dan menemui narapidana itu lagi. Lantas Galuh pun menghubungi Hamka yang saat itu sedang duduk di balkon apartemen miliknya.


"Hamka, kau dimana?" Tanya Galuh.


"Di apartemen!" Sahutnya.


"Nanti malam apa kau sibuk?" Tanya Galuh.


"Tidak!" Sahut Hamka datar.


"Aku ingin menemui narapidana itu lagi nanti malam! Apa kau mau bergabung?" Tanya Galuh.


"Tidak, kalian saja!" Sahut Hamka menolak.


"Apa kau serius? Kania ikut juga! Jika ada Kania kau kan bisa mengganggunya nanti, hehehe." Kata Galuh.


"Aku tidak tertarik!" Sahutnya dingin yang membuat Galuh kebingungan.


"Eh, kenapa dia?" Gumam Galuh kebingungan.


Setelah menutup teleponnya Galuh tampak berpikir sejenak. Ia mengingat raut wajah Kania yang tampak sedih dan mata yang sembab. Lalu Galuh terpikir akan sikap Hamka yang tak perduli pada Kania.


"Apa mereka sedang bertengkar?" Gumam Galuh dalam hatinya.


"Ada apa kak? Kenapa kau tampak bingung seperti itu?" Tanya Ila pada Galuh.


"Aku merasa Hamka dan Kania sedang ada masalah! Apa jangan-jangan mereka bertengkar?" Sahut Galuh.


"Kak Hamka dan kak Kania kan memang selalu bertengkar bila bertemu!" Ucap Ila.


"Eh, tapi ini beda! Aku yakin, mereka sedang mengalami masalah yang berat." Kata Galuh.


Galuh dan Ila pun saling tatap dan berpikir mengenai Hamka dan Kania.


"Hah! Kenapa mereka harus memiliki masalah disaat aku sedang membutuhkan mereka berdua!" Teriak Galuh frustasi.


"Sabar! Pasangan yang akan segera menikah pasti akan memiliki masalah! Seperti kita dulu, kan? Hehehe." Sahut Ila menepuk pundak Galuh untuk menenangkannya.


"Kau benar!" Sahut Galuh.


"Kak, pergilah mandi dulu! Aku sudah menyiapkan air mandinya." Kata Ila.


Galuh menatap Ila dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Ada apa?" Tanya Ila bingung.


"Ayo, kita mandi bersama!" Ajak Galuh seraya menarik tangan Ila untuk masuk bersamanya ke dalam kamar mandi.


 


 

__ADS_1


__ADS_2