GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
HELAIAN RAMBUT


__ADS_3

Tanpa membuang waktunya lagi, Galuh dan Hamka pun menemui Roni yang sedang melayani para ibu-ibu hamil di tempat prakteknya. Galuh dan Hamka menunggu si dokter kandungan itu di luar ruangan. Mereka berdua duduk di antara ibu-ibu hamil yang sedang menunggu antrian.


"Hah! Seharusnya aku tidak menemuinya disini." Ucap Galuh menghela nafas panjang karena ia tak betah duduk berlama-lama di antara ibu-ibu hamil yang terus menatapnya sambil berbisik-bisik.


Lalu Galuh melirik Hamka yang duduk berbincang dengan ibu-ibu hamil lainnya.


"Sudah berapa bulan usia kandungannya, mas?" Tanya salah seorang ibu hamil kepada Hamka yang kebetulan memiliki perut sedikit buncit.


"Eeemm, mungkin sekitar 5 bulan! Hehehe." Sahut Hamka asal bicara.


"Apakah pria yang disampingmu itu adalah suamimu?" Tanya Salah seorang ibu hamil lainnya kepada Hamka sambil melirik Galuh.


"Iya! Kami baru saja menikah setahun yang lalu! Hehehe." Sahut Hamka lagi hanya untuk bergurau saja dengan ibu-ibu hamil itu.


Pppllleeetttaaakkkk...........


Semua ibu-ibu hamil yang berada disitu menarik nafas mereka karena kaget melihat Galuh menghajar Hamka dengan kesal.


"Jangan asal bicara, dodol!" Ujar Galuh pada Hamka.


"Aku bosan menunggu dokter cabul itu! Agar tidak merasa bosan, aku bercanda pada ibu-ibu hamil ini." Sahut Hamka sewot pada Galuh yang membuat kepalanya benjol.


"Ih, suaminya kejam banget!" Bisik ibu-ibu hamil itu lagi sambil melirik pada Galuh.


"Iya! Masa istrinya sedang hamil malah di ketok." Sahut ibu hamil lainnya.


"Mas, setelah lahiran nanti minta cerai saja pada suaminya!" Kata ibu lainnya lagi pada Hamka.


"Iya! Saya juga tidak tahan lagi dengan dia. Suami saya itu selalu saja melakukan KDRT pada saya." Sahut Hamka masih saja dengan candaannya.


"Wah, laporin saja suaminya itu!" Seru ibu lainnya kesal pada Galuh.


Kemudian, ibu-ibu hamil itu berbisik-bisik dan akhirnya ribut untuk menyudutkan Galuh.


"Hei, kami ini bukan pasangan suami istri!" Teriak Galuh kesal.


"Bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang laki-laki? Aku ini pria normal!" Teriak Galuh lagi hingga suaranya terdengar oleh Roni yang sedang berada di dalam ruangannya.


"Ih, kejam banget sih! Sudah menghamili anak orang malah tidak mengaku." Bisik-bisik ibu hamil itu lagi terus menyudutkan Galuh yang tampak kesal, sementara Hamka hanya cengengesan saja menikmati pertunjukkan emak-emak vs Galuh.


"Hei, emak-emak, dengar ya! Hamka ini seorang pria tulen, dia ini sangat rakus pada makanan maka dari itu perutnya buncit seperti orang hamil!" Kata Galuh auto emosi.


"Hamil apaan? Pria kok hamil!" Sambung Galuh lagi sambil menggerutu.


"Sayang, kenapa kau tak mengakui anak kita?" Ucap Hamka pada Galuh sambil mengelus perutnya yang buncit itu.


"Anak kita apaan, hah? Anak gajah? Noh, belalainya di dalam celana dalam mu itu!" Teriak Galuh pada Hamka yang terkekeh geli.


Galuh sangat kesal mendengar bisik-bisik dari ibu-ibu hamil itu mengenai dirinya. Ia tak tahan lagi duduk diantara ibu-ibu hamil itu. Dengan kesal Galuh pun menerobos masuk menemui Roni sambil menyeret Hamka untuk ikut dengannya.


Bbbrraaaakkkkk................


Roni kaget melihat Galuh membanting pintu saat menerobos masuk ke dalam ruanganya sambil menyeret Hamka. Roni menatap Galuh yang tampak frustasi.


"Aku sudah tidak tahan lagi duduk menunggumu di antara emak-emak yang sedang hamil itu! Mereka membuatku pusing." Kata Galuh pada Roni.


"Hah, kau ini! Baru begitu saja, kau sudah pusing. Gimana lagi bila kau jadi aku yang 5 hari dalam seminggu selalu bertatap muka dengan mereka semua?" Sahut Roni.


"Aku akan mati berdiri!" Kata Galuh.


"Ada apa mencariku? Kenapa tidak menghubungiku dulu sebelum kemari?" Tanya Roni.

__ADS_1


"Ron, kau ini dokter! Kau pasti memiliki banyak teman dokter kan?" Tanya Galuh.


"Tentu saja, dodol!" Sahut Roni.


"Apa kau punya teman yang bisa melakukan test DNA secara rahasia?" Tanya Galuh dengan wajah serius pada sepupunya itu.


"Ada apa ini? Untuk apa harus rahasia segala, sih?" Roni balik bertanya.


Galuh pun menceritakan semuanya kepada Roni.


"Eh, yang benar saja?" Tanya Roni kaget setelah mendengar cerita dari Galuh mengenai Ila dan narapidana itu.


"Aku juga belum tau kebenarannya! Makanya aku ingin meminta bantuanmu untuk mencarikan dokter yang bisa melakukan test DNA secara rahasia." Sahut Galuh.


"Baiklah! Itu perkara mudah bagiku, Hahahaha." Kata Roni tertawa jahat.


"Biasa saja kaleee ketawanya!" Ujar Hamka pada Roni.


"Hei, aku sedang berupaya untuk memerankan peranku menjadi pemain dalam cerita rahasia ini." Sahut Roni sewot.


"Hah! Dasar gila." Gumam Galuh tepok jidat melihat kekonyolan sahabat dan sepupunya itu.


Tok...tok...tok.


Suara pintu di gedor dari luar ruangan yang membuat ketiga pria itu kaget.


"Woi, dokter! Giliran kita kapan diperiksa nih? Lama amat yang di dalam!" Teriak ibu-ibu hamil itu protes.


"Sebentar! Yang diperiksa anak gajah ini, woi!" Sahut Hamka membalas ibu-ibu hamil yang rempong itu.


 


*****


"Kapan tante Yurika dan tante Hana akan pergi dari sini?" Gumam Roni seakan tak sabar untuk melakukannya.


"Duh, mana waktunya mepet begini lagi! Aku harus bekerja." Gumam Roni lagi.


Melihat Roni gelisah, Galuh pun mengajaknya bicara di luar ruangan rawat Ila.


"Galuh! Aku tak bisa menunggu lebih lama. Aku harus melihat pasien-pasienku dirumah sakit." Kata Roni.


"Tapi di dalam ada mamaku dan juga mama Yurika! Nanti mereka curiga." Sahut Galuh.


"Begini saja! Ambil helaian rambut Ila saja dan nanti berikan padaku, biar aku dan temanku yang akan melakukan test DNA-nya." Kata Roni.


"Baiklah!" Sahut Galuh.


"Bagaimana dengan narapidana itu?" Tanya Roni.


"Untuk narapidana itu, Kania yang urus!" Sahut Galuh.


"Baiklah! Jika sudah dapat sampel dari narapidana itu, langsung berikan padaku." Kata Roni.


"Oke." Sahut Galuh.


Roni pun bergegas pergi dari rumah sakit itu, sementara Galuh kembali masuk ke dalam ruang rawat Ila. Tampak disana Ila sedang berbincang bersama Yurika dan juga Hana.


"Eh, dimana Roni?" Tanya Hana pada Galuh.


'Sudah pergi! Dia ada urusan penting tadi." Sahut Galuh.

__ADS_1


"Galuh! Bagaimana dengan kondisi korban yang di tabrak Ila?" Tanya Yurika.


"Kata dokter, kondisinya stabil walaupun hingga saat ini dia belum sadarkan diri." Sahut Galuh.


"Semoga dia tidak apa-apa." Ucap Yurika yang membuat Galuh menatapnya dengan tatapan kaget.


"Kenapa kau menatap ibu mertuamu seperti itu, nak? Ada apa?" Tanya Hana pada putranya.


"Oh, tidak ada apa-apa! Aku hanya memiliki harapan yang sama seperti mama Yurika." Sahut Galuh.


"Oya, semoga saja! Jika dia tidak meninggal, maka masalah ini tidak akan begitu berat untuk Ila." Sambung Hana.


Setelah lama berbincang di rumah sakit itu, Yurika dan Hana pun pergi. Kini tinggal lah Galuh dan Ila hanya berdua saja di ruang rawat itu. Ila yang kondisinya sudah membaik, tengah duduk di atas ranjang rawatnya sambil memainkan ponsel miliknya.


"Bagaimana caranya aku mendapatkan helaian rambut Ila? Aku tidak mungkin menjambaknya kan?" Gumam Galuh dalam hatinya.


"Hah! Aku tidak akan sanggup untuk menjambak cintaku yang imut itu!" Gumam Galuh lagi yang benar-benar bucin pada Ila.


Lalu Galuh melirik pada sebuah sisir yang ada di atas lemari kecil di samping ranjang Ila. Galuh pun memiliki ide untuk mengambil helaian rambut Ila tersebut.


"Sayang, rambutmu sedikit acak-acakan! Sini, aku sisirkan biar rapi." Kata Galuh pada Ila.


"Masa sih acak-acakan? Aku kan tadi baru saja sisiran." Gumam Ila mengelus rambutnya yang panjang itu.


"Sudah, biar aku sisir saja." Kata Galuh mengambil sisir itu dan duduk di tepi ranjang rumah sakit itu.


Galuh pun mulai menyisir rambut yang begitu halus dan hitam itu. Ia menyisirnya secara perlahan agar Ila merasa nyaman saat sedang disisir olehnya. Galuh melirik pada beberapa helai rambut Ila yang berjatuhan di seprai ranjang. Dengan cepat Galuh menyelipkannya ke dalam saku kemeja yang ia pakai saat itu.


"Sudah rapi!" Seru Galuh pada Ila yang saat itu tampak sedih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Eh, ada apa sayang? Apa rambutmu sakit saat aku sisir tadi?" Tanya Galuh.


"Aku rindu Gilang!" Sahut Ila auto mewek.


"Oh, sayang! Bersabarlah beberapa hari lagi. Setelah kau keluar dari rumah sakit, kau pasti akan memeluk putra kita lagi." Kata Galuh memeluk Ila penuh kasih sayangnya.


"Kak, apa aku boleh bertanya padamu?" Tanya Ila pada Galuh.


"Iya, tanyakan saja, sayang!" Sahut Galuh.


"Kak, apa yang sedang kau rencanakan bersama kak Hamka, kak Kania dan juga kak Roni?" Tanya Ila yang membuat Galuh kaget.


"Ti..ti...tidak ada!" Sahut Galuh gugup.


"Kalau memang tidak ada, kenapa kau begitu gugup?" Tanya Ila.


"Sayang! Aku tidak merencanakan apapun." Sahut Galuh berbohong.


"Lantas untuk apa helaian rambutku yang kau simpan di saku kemejamu? Apa kau ingin melakukan test DNA untuk mengetahui apakah aku anak dari narapidana itu?" Tanya Ila yang membuat Galuh tak bisa berbohong lagi.


"Kau tau?" Tanya Galuh.


"Aku tau semuanya! Aku diam-diam menguping saat kau bicara pada kak Hamka malam itu." Sahut Ila.


"Ila, dengarkan aku! Kami hanya menduganya saja. Tapi apa yang kami duga belum tentu benar. Kami melihat wajahmu sekilas mirip dengan narapidana yang kau tabrak itu, sayang." Kata Galuh.


Ila hanya diam dan menundukkan wajahnya dengan raut wajah yang sedih.


"Sayang, jangan terlalu dipikirkan ya? Itu semua belum tentu benar." Kata Galuh lagi.


"Jika itu benar nanti, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa! Kenyataannya ayahku adalah salah satu dari perampok yang memperkosa mama." Kata Ila.

__ADS_1


"Tetap rahasiakan hal ini pada mama Yurika! Jika mama Yurika tau, akan berakibat buruk pada traumanya yang kini sudah membaik." Kata Galuh.


"Iya." Sahut Ila.


__ADS_2