GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
GALAK


__ADS_3

Roni mengintip sedikit ke dalam kamar dan melihat Galuh sedang menangis mencari perhatian Ila. Ia pun tidak berhenti tertawa saat melihat Galuh yang terus berusaha untuk mendekati Ila yang lupa padanya. Tiba-tiba Antoni menepuk pundaknya yang membuat Roni melompat kaget.


"Kau sedang menertawakan apa, hah?" Tanya Antoni pada Roni.


"Om, aku hanya lucu melihat Ila menolak Galuh mentah-mentah disaat Galuh lagi cinta-cintanya! Hehehe." Sahut Roni.


"Hah, kau ini malah menertawakannya!" Kata Antoni menjitak kepala Roni.


"Huh, aku kan hanya bercanda saja, om!" Kata Roni sewot.


"Om, tidak masuk ke dalam bertemu Ila?" Tanya Roni.


"Sudah tadi." Sahut Antoni.


"Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu ya." Kata Roni pada Antoni.


Roni pun membuka pintu kamar dimana Ila sedang dirawat. Ila melirik Roni yang berjalan dengan mengenakan pakaian dokternya. Mata Ila berbinar-binar kagum atas ketampanan Roni saat itu. Galuh menatap Roni dengan kesal.


"Hai, Ila! Apa kau sudah merasa baikan?" Sapa Roni tersenyum lebar.


"Dokter tampan, apa kau yang sedang merawatku?" Tanya Ila antusias.


"Bukan! Dia ini dokter spesialis kandungan." Sahut Galuh.


"Aku tidak bertanya padamu!" Tukas Ila sewot pada Galuh.


"Aku hanya membantu Roni saja untuk menjawab pertanyaanmu itu!" Sahut Galuh lagi.


Ila melirik Galuh seakan tak senang dengannya.


"Ma, kalian pulang saja! Aku akan menjaga Ila disini." Kata Galuh pada Hana dan juga Yurika.


"Iya, baiklah!" Seru keduanya.


Merasa Ila sudah sedikit membaik, Hana dan Yurika pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Tak lama berselang, Ririn datang mengunjungi Ila. Ia membawa parsel buah untuk Ila.


"Hai, sayang!" Sapa Roni pada Ririn.


"Hai!" Sahut Ririn tak lupa mencium pipi Roni.


Ila kesal melihat Ririn mencium Roni. Ila memalingkan wajahnya saat Ririn hendak menyapanya.


"Eh, kenapa dia kesal?" Tanya Ririn bingung melihat Ila.


"Dia cemburu padamu! Hehehe." Bisik Roni.


"Tapi kenapa?" Tanya Ririn.


"Karena kau mencium pipiku tadi." Sahut Roni.


"Apakah dia menyukaimu?" Terbaik Ririn kaget.


"Sepertinya begitu! Hehehe." Sahut Roni cengengesan.


Ririn melirik Galuh yang semakin frustasi karena sikap dingin Ila padanya.


"Galuh, kenapa kau diam saja?" Tanya Ririn.


"Huh, dia tak acuh padaku, Rin!" Sahut Galuh.


"Hah, dasar anak bodoh!" Ujar Ririn bergeleng kepala melihat sahabatnya itu frustasi.


Ririn berjalan mendekati Ila dan duduk di sampingnya. Ririn meraih kedua tangan Ila mencoba untuk membuat Ila mengerti keadaan yang sebenarnya.


"Ila, aku adalah Ririn! Aku dan kau sudah seperti kakak adik!" Kata Ririn.


"Be.. benarkah?" Tanya Ila.


"Iya, terakhir kali kita makan bersama di apartemen Galuh. Masakanmu enak sekali!" Sahut Ririn.


"Jadi aku pintar memasak?" Tanya Ila.


"Iya, dan orang yang paling suka masakanmu itu ya, Galuh! Dia selalu menghabiskan semua makanan yang kau masak untuknya." Kata Ririn lagi.


Ila melirik Galuh yang menatapnya sedari tadi.


"Apa benar aku sudah menikah dengan pria jelek ini?" Bisik Ila pada Ririn.


"Hah? Galuh jelek?" Kata Ririn terkejut.


"Iya! Apa aku salah?" Tanya Ila bingung.


"Ila, Galuh dan kau saling mencintai! Dia sangat lembut dan perhatian padamu. Dia bahkan sangat panik dan ketakutan saat kau terluka dan pingsan." Kata Ririn.


"Oh, begitu!" Sahut Ila.


"Tapi aku rasa dia sedikit lebay!" Bisik Ila lagi.


"Dia bukan hanya lebay, tapi juga konyol! Sama seperti dokter yang sedang terkekeh itu." Sahut Ririn.


"Kau tadi menciumnya, apa dia kekasihmu?" Tanya Ila.


"Iya! Aku baru jadian dengannya." Jawab Ririn malu-malu.


"Oh." Sahut Ila.


Tak lama mereka berbincang, seorang perawat datang dengan membawa makan siang untuk Ila. Galuh mengambil makanan itu dan meletakkannya di atas meja.


"Apa kau sudah lapar? Kau ingin makan sekarang?" Tanya Galuh sangat perhatian pada Ila.


"I..iya!" Sahut Ila.

__ADS_1


Roni dan Ririn mundur perlahan meninggalkan Galuh dan Ila berdua saja di ruangan itu. Galuh mengambil makanan itu dan mulai menyuapi Ila yang duduk di atas ranjang.


"Ayo buka mulutmu!" Kata Galuh pada Ila hendak menyuapinya.


Ila pun membuka mulutnya lebar-lebar dan menyantap makanan yang di suapi oleh Galuh. Saat sedang makan, sesekali Ila melirik Galuh yang sangat perhatian padanya. Galuh juga sangat telaten menyuapi Ila sampai makanan itu habis.


"Setelah makan, kau minum obat ya." Kata Galuh memberikan beberapa butir obat pada Ila.


Ila menurut saja pada apa yang dikatakan oleh Galuh padanya. Saat Galuh akan meletakkan gelas bekas Ila minum, Ila menarik tangannya.


"Galuh, kenapa kau mau menikah denganku? Apa sebelumnya kita berpacaran?" Tanya Ila.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau benar-benar tidak ingat tentang kita?" Galuh balik bertanya dengan raut wajah yang sedih.


Ila merasa iba melihat raut wajah Galuh yang tampak begitu sedih saat menatapnya.


"Maaf, aku tidak ingat apapun tentangmu!" Ucap Ila auto mewek.


Galuh panik saat melihat Ila hendak menangis.


"Sayang, jangan nangis! Tidak apa-apa jika kau tidak mengingatku." Kata Galuh.


"Jadi kenapa kau mau menikah denganku?" Tanya Ila lagi.


"Karena kau imut!" Jawab Galuh membuat Ila tak senang.


"Hanya itu saja kah?" Tanya Ila lagi.


"Kau imut dan lemah lembut! Kau juga cantik. Aku suka melihatmu saat kau sedang telanjang. Hehehe." Jawab Galuh.


"Dasar pria mesum, kau!" Teriak Ila sembari mendorong wajah Galuh menjauh darinya.


"Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang memalukan seperti itu." Gumam Ila kesal.


"Tapi itu kenyataannya, sayang! Aku memang suka melihatmu telanjang." Kata Galuh lagi yang memancing emosi Ila.


Ila kesal dan hendak meraih barang-barang yang ada di dekatnya untuk melempar Galuh. Galuh panik dan bersiap-siap untuk menghindar.


"Pergi sana!" Teriak Ila kesal pada Galuh sembari melemparinya.


Galuh berlari keluar ruangan itu dengan nafas yang terengah-engah. Ririn dan Roni terdiam melihat Galuh yang berlari keluar ruangan.


"Kau kenapa?" Tanya Roni pada Galuh.


"Dia berubah menjadi wanita yang galak! Aku takut padanya." Sahut Galuh.


"Ppffttt, hahahaha." Ririn dan Roni menertawai Galuh sampai terbahak-bahak.


 


 


*****


"Sudah siap! Ayo kita pulang, sayang." Ajak Galuh pada Ila.


"Aku tidak mau!" Sahut Ila ketus.


"Ila, kau harus pulang bersama dengan suamimu, nak!" Kata Yurika.


"Mama, aku pulang sama mama saja! Atau aku pulang kerumah mama Hana saja, ya." Rengek Ila.


"Tapi kita tinggal di apartemen." Kata Galuh.


"Aku bilang aku tidak mau pulang bersamamu!" Ujar Ila kembali ketus pada Galuh.


Antoni melihat mata Ila berkaca-kaca akan menangis. Antoni mendekati Galuh dan berbisik padanya.


"Galuh, bersabarlah! Biarkan Ila tinggal bersama Yurika!" Kata Antoni.


"Tapi, pa...


"Kau juga bisa tinggal bersama Ila disana." Kata Antoni membujuk Galuh.


Yurika memberikan kode pada Galuh agar menuruti keinginan Ila dahulu. Akhirnya Galuh mengalah dan membawa Ila pulang ke rumah Yurika. Ila sangat senang karena ia berpikir tidak tinggal bersama Galuh saat itu.


Tiba dirumah Yurika, semua pelayan menyambut kedatangannya dengan ramah dan senang. Ila bingung melihat mereka yang datang mengerumuni dirinya.


"Kalian siapa?" Tanya Ila pada semua pelayan.


"Mereka adalah pelayan yang bekerja disini! Mereka sangat dekat denganmu." Sahut Yurika.


"Oh, begitu! Halo semuanya!" Sapa Ila tersenyum ramah pada mereka.


Para pelayan pun membalas sapaan Ila dengan ramah. Mereka tau kalau Ila sedang mengalami amnesia. Galuh membawa koper Ila ke sebuah kamar tamu yang cukup luas. Ila menatap kamar itu dan merasa tidak puas. Kak keluar dari kamar tamu itu sambil berlari menuruni anak tangga. Yurika sesak nafas saat melihat Ila berlarian dirumah itu.


"Galuh, aku sangat takut dia akan terjatuh lagi dari tangga!" Kata Yurika khawatir terhadap Ila.


"Aku akan mengejarnya." Sahut Galuh mengikuti Ila yang berlarian di dalam rumah.


Ila mendatangi para pelayan dan menanyakan mengenai kehidupannya sebelum ia amnesia. Semua pelayan menceritakan kehidupannya. Tentu saja mereka menceritakan yang indah-indah saja, mereka tak ingin membuat Ila sedih dengan kehidupan masa kecilnya.


"Dimana kamarku?" Tanya Ila pada pelayan.


Pelayan pun menunjukkan kamar Ila yang sebenarnya. Ila menatap kamar yang berukuran kecil itu dengan lama.


"Apakah ini kamarku?" Tanya Ila lagi.


"Iya, nona!" Sahut pelayan itu.


"Hei, dirumah ini siapa statusku?" Tanya Ila.

__ADS_1


"Nona adalah majikan kami. Nona anak dari majikan kami." Jawabnya.


Lalu tiba-tiba Ila melirik Kia yang baru saja pulang dari sekolahnya. Ila merasa tak kenal dengan sosok Kia yang akan menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya.


"Lantas siapa dia?" Tanya Ila sambil menunjuk Kia.


"Dia sepupumu!" Sahut Yurika.


"Oh, begitu!" Kata Ila terus menatap Kia yang masuk ke dalam kamarnya.


Ila berpikir sejenak dan terus menatap pintu kamar Kia.


"Sepertinya kamar itu lebih bagus dari kamarku! Aku kan anak yang memiliki rumah ini, tapi kenapa kamarku jelek?" Gumamnya dalam hati.


Tanpa aba-aba Ila langsung berlari lagi menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar Kia. Kebetulan kamar Kia tidak dikunci. Ila menerobos masuk dan melihat sekeliling kamar Kia yang terlihat sangat bagus di matanya. Kia terkejut serta kesal melihat Ila masuk ke dalam kamarnya. Yurika yang masih berada di lantai bawah bersama Galuh, lagi-lagi sesak nafas di buat Ila. Ia takut Ila dan Kia akan bertengkar.


"Galuh, bantu aku menangani ini! Semenjak dia amnesia, dia menjadi seperti monyet kecil yang berlarian kesana kemari." Kata Yurika pada menantunya itu.


"I..iya, ma!" Sahut Galuh.


Di dalam kamar, Kia berteriak kesal saat Ila melompat-lompat di atas ranjang miliknya.


"Wah, empuk sekali!" Seru Ila melompat-lompat.


"Ila, turun! Pergi keluar dari kamarku!" Teriak Kia kesal.


"Aku tidak mau!" Sahut Ila ketus.


"Pergi!" Teriak Kia hendak menarik Ila.


Ila berhenti melompat, dan menepis tangan Kia terhadapnya. Ila menarik tangan Kia dan mendorongnya dengan kuat. Kia pun jatuh tersungkur dari atas ranjang. Yurika dan Galuh terkejut saat Kia jatuh dari atas ranjang.


"Ila, kenapa kau melompat di atas ranjang, nak?" Tanya Yurika.


"Mama, aku ingin kamar yang ini! Aku akan tidur di kamar ini selamanya." Kata Ila.


"Ini kamarku! Kau tidak boleh mengambilkannya." Teriak Kia kesal.


"Aku adalah majikan dirumah ini dan kau hanya menumpang disini, jadi terserah aku mau tidur di kamar mana yang aku mau!" Kata Ila membalas teriakan Kia.


Kia kaget melihat Ila sikap Ila yang berubah drastis setelah mengalami amnesia. Kia berusaha meraih Ila lagi dan ingin melemparkan Ila keluar dari kamarnya itu. Namun ia kalah cepat dari Ila. Ila turun dan lebih dulu menarik tangan Kia lalu menyeretnya keluar dari kamar itu. Ila menendang Kia dengan mudahnya.


"Hahaha, ini adalah kamarku sekarang!" Seru Ila tertawa senang.


Yurika dan Galuh auto tepok jidat melihat sikap Ila yang berubah drastis. Di luar kamar Kia berdecak kesal karena ia kalah dari Ila, bahkan Yurika tak membelanya sedikit pun. Saat Kia berdiri di depan pintu, Ila membuka pintunya dan tak memperdulikan Kia yang menatapnya kesal.


"Ini, ambil semua pakaianmu dan mulai sekarang kau tidur di kamar lain!" Kata Ila memberikan semua pakaian Kia kepadanya.


"Kau keterlaluan, Ila!" Teriak Kia marah.


"Aku tidak perduli!" Sahut Ila tersenyum licik kepada Kia.


"Kau......" Kia tak bisa berkata-kata lagi menghadapi Ila yang sedang menindas dirinya.


Ila membanting pintu kamar itu dengan keras membuat Kia terkejut. Bahkan gantungan yang ada di depan pintu kamar bertuliskan nama Zaskia jatuh ke lantai. Kia menatap bingung dan lesu melihat gantungan nama itu jatuh di hadapannya.


Ila masuk ke dalam kamar dan bergelayut manja pada Yurika. Galuh melihat tangan Yurika yang sedikit gemetar saat Ila mendekatinya. Galuh tau kalau Yurika masih mengalami trauma bila melakukan kontak fisik dengan Ila. Galuh meraih tangan Ila untuk mendekat padanya. Sontak saja Ila ngamuk saat Galuh mendekapnya.


"Kenapa kau mendekap ku, Galuh!" Teriak Ila.


"Panggil aku kakak!" Banyak Galuh.


"Tidak mau!" Balas Ila.


"Aku lebih tua darimu!" Tukas Galuh lagi.


"Aku tidak mau! Galuh..Galuh..Galuh...!" Teriak Ila.


Yurika bingung melihat putri dan menantunya itu sedang bersitegang dihadapannya.


"Kalian lanjutkan saja ya!" Kata Yurika beranjak keluar dari kamar itu.


"Ma, mama mau kemana?" Tanya Ila.


"Istirahat! Aku sesak nafas melihatmu berlarian sedari tadi dirumah ini." Sahut Yurika.


Yurika pun keluar dari kamar yang sekarang menjadi kamar Ila bersama Galuh. Lalu Ila dan Galuh saling tatap sejenak.


"Hheemmpp!" Seru mereka saling memalingkan wajah mereka masing-masing.


 


*****


Kia masih kesal dan menemui Yurika yang hendak beristirahat. Sejak beberapa hari ini Yurika sedikit lelah karena harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjaga Ila. Kia masuk ke dalam kamar Yurika tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ma, aku tidak terima jika Ila merebut kamar milikku!" Teriak Kia pada Yurika yang baru saja akan memejamkan matanya.


"Apa kau bisa tidak berteriak, Kia?" Bentak Yurika kesal.


"Ma, mama lihat kan bagaimana sikap Ila tadi padaku? Dia semakin tidak tau diri!" Teriak Kia lagi.


Ppplllaaakkkk......


Yurika menampar Kia untuk yang kesekian kalinya karena ia kesal Kia selalu berteriak padanya.


Kia terdiam saat Yurika menamparnya. Kia menatap Yurika dengan tatapan yang sedih, berbanding terbalik Yurika menatapnya dengan tatapan tajam.


"Mama terus saja membela Ila? Apakah Ila lebih berarti untuk mama daripada aku? Ila itu hanya benalu dirumah ini, ma!" Kata Kia semakin kesal.


"Kau lah yang menjadi benalu di rumah ini! Ila anak kandungku dan kau hanyalah keponakanku, Kia!" Teriak Yurika yang sudah tidak tahan lagi menghadapi sikap Kia.

__ADS_1


"Apa?" Kata Kia terkejut seakan tak percaya kalau Yurika mengatakan hal tersebut.


__ADS_2