GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
SALAH PAHAM


__ADS_3

Galuh mendaftarkan Ila untuk masuk ke sebuah fakultas kedokteran ternama di kotanya. Ila begitu antusias dan juga tak sabar untuk segera belajar kembali. Sangking antusiasnya Ila hanya sibuk belajar di sela-selanya mengurus Gilang. Walaupun di bantu oleh Ratih, Ila tetap berusaha untuk menjadi ibu yang baik bagi putra pertamanya.


Suatu hari Galuh pulang sedikit larut dari kantornya. Tiba dirumah ia melihat Ila masih duduk di meja belajar yang ada di dalam kamar mereka. Ila bahkan tak menyambut kepulangan sang suami yang begitu merasa lelah pulang bekerja karena Ila tak menyadari bahwa Galuh sudah berada di dalam kamar sambil menatap kesal padanya.


Bbrrraaakkkk.......


Pintu kamar mandi di banting oleh Galuh ketika ia masuk kedalamnya. Sontak saja Ila kaget mendengar suara bantingan pintu yang keras itu. Ila melangkah ke depan pintu kamar mandi dan mengetuknya.


"Kak? Apa itu kau?" Tanya Ila pada Galuh yang berada di dalam kamar mandi. Namun panggilan itu sama sekali tak di gubris oleh Galuh karena kesal pada sikap Ila yang dalam beberapa hari terakhir selalu mengacuhkannya.


"Kak?" Panggil Ila lagi. Namun tetap tak ada jawaban.


Ila pun berniat untuk menunggu Galuh keluar dari kamar mandi sambil membereskan buku-buku pelajarannya yang berserakan di atas meja belajarnya. Tak lama berselang, Galuh pun keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya. Ila melirik Galuh yang tampak cemberut kesal.


"Kak?" Kata Ila menghampiri Galuh yang sedang memakai piyama tidurnya di dekat lemari pakaian.


Lagi-lagi Galuh tak menggubris Ila. Ia malah bergegas naik ke atas ranjang dan berbaring di sana setelah selesai memakai piyama tidurnya. Ila menghela nafas panjang dan kembali mendekati Galuh yang sudah memejamkan kedua matanya.


"Kak? Apa kau marah padaku? Aku buat salah apa?" Tanya Ila pada Galuh.


"Aku lelah! Aku mau tidur!" Sahut Galuh dingin.


Ila seakan diacuhkan oleh Galuh malam itu. Dadanya seakan sesak karena sikap dingin Galuh menghampirinya lagi. Dengan sabar Ila berusaha untuk diam dan memendam rasa kecewanya atas sikap Galuh. Ila pun berbaring di sebelah Galuh dan berniat untuk tidur. Galuh bergerak dan mengubah posisi tidurnya membelakangi Ila.


"Ada apa dengan dia? Kenapa dia bersikap dingin padaku?" Gumam Ila dalam hatinya menatap punggung Galuh.


"Ya sudahlah! Mungkin benar, dia hanya lelah seharian bekerja." Gumam Ila lagi.


Semalaman Galuh tidur terus membelakangi istrinya itu. Ila yang merasa Galuh tak ingin di ganggu juga tidur membelakanginya.


Keesokan paginya saat sedang sarapan, Ila melihat Galuh melintas di depan ruang makan saja. Hana dan Antoni melihat Galuh yang tak masuk ke dalam ruang makan itu pun memanggilnya.


"Galuh, sarapan dulu!" Kata Antoni.


"Pa, aku buru-buru! Sarapannya di kantor saja." Sahut Galuh terus melangkah pergi.


Ila yang sedang menggendong Gilang, berusaha untuk mengejar suaminya itu. Namun saat tiba di teras rumah, mobil Galuh sudah keluar dari pintu gerbang rumah. Ila hanya bisa menatap mobil suaminya itu dengan perasaan yang begitu hampa.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa dia?" Gumam Ila bingung pada sikap Galuh.


 


*****


Di ruang kantornya, Galuh duduk fokus dengan laptop di hadapannya. Tak lama masuklah seorang wanita cantik yang baru saja bergabung di dalam perusahaannya itu. Wanita itu bernama Viona yang bekerja sebagai sekretaris baru Galuh.


"Pak CEO! Mohon tanda tangani laporan ini!" Ucap Viona dengan suara lembutnya.


"Letakkan saja disitu! Nanti aku akan tanda tangani!" Kata Galuh masih fokus dengan laptopnya.


"Eeemm, pak! Apa ada yang bapak butuhkan? Saya lihat wajah bapak sedikit pucat." Kata Viona pada Galuh.


"Tidak ada! Kau boleh kembali ke ruang kerjamu." Sahut Galuh sama sekali tak menatap dirinya.


Viona pun keluar dari ruang Galuh sambil berdecak kesal. Ia kembali duduk di ruang kerjanya sebagai sekretaris di perusahaan itu.


"Huh, percuma saja aku dandan cantik dan menggunakan blazer ketat begini! CEO dingin itu tetap saja tidak menatapku!" Ujar Viona kesal.


"Lain kali aku akan berjuang lebih keras lagi, agar mendapatkan simpati dari CEO dingin itu! Jika aku menjadi wanitanya, maka kehidupanku akan terjamin dengan sempurna. Hehehe." Ujar Viona lagi sambil terkekeh licik.


Saat jam makan siang, Syakir mendatangi Galuh yang masih berada di dalam ruang kantornya. Tampak saat itu Syakir sedang memegang sebuah undangan.


"Hei, Galuh! Ini jam istirahat, kau masih saja bekerja." Sapa Syakir yang nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu.


"Kalau masuk ketuk pintu dulu! Kau mengagetkan aku saja!" Sahut Galuh sewot.


"Ini kartu undangan untukmu!" Kata Syakir meletakkan sebuah kartu undangan di atas meja kerja Navier.


"Undangan apa ini?" Tanya Galuh.


"Undangan pesta pertunangan ku bersama Kiki!" Seru Syakir.


"Aku ini termasuk keluarganya, untuk apa kau berikan kartu ini! Tanpa kartu undangan aku pasti akan datang!" Kata Galuh.


"Eh, wajahmu tampak pucat! Apa kau sakit?" Tanya Syakir pada Galuh.


"Hah, aku lapar! Dari tadi pagi aku belum ada makanan sama sekali yang masuk ke dalam perutku." Sahut Galuh.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Kenapa kau tidak sarapan dirumah sebelum kau pergi kerja?" Ujar Syakir.


"Aku ngambek!" Sahutnya.


"Hah? Ngambek? Ngambek sama siapa? Tante Hana atau Ila?" Tanya Syakir.


"Sama Ila lah!" Sahut Galuh.


"Hah, kau ini! Sudah uzur tapi masih ngambek-ngambekan!" Ujar Syakir.


"Hei, aku tidak setua yang kau katakan itu!" Teriak Galuh kesal.


"Ada masalah apa kau dengan Ila?" Tanya Syakir.


"Semenjak aku mendaftarkannya masuk ke fakultas kedokteran, dia sibuk belajar dan mengurus Gilang. Tidak pernah ada waktu untukku!" Jawab Galuh.


"Bahkan semalam saat aku sedang lelah sehabis pulang bekerja, dia tak sadar kalau aku sudah berada di dalam kamar. Dia terus saja sibuk dengan buku-buku pelajarannya itu." Sambung Galuh lagi.


"Lantas?" Tanya Syakir lagi.


"Aku sikapi saja dia! Aku mengacuhkan dirinya." Jawab Galuh.


"Bicarakan baik-baik padanya agar dia mengerti! Ila itu masih terlalu muda, jika kau terus menyikapinya seperti itu, nanti dia kabur!" Kata Syakir.


"Aku malas selalu mengalah! Sesekali aku juga ingin diperhatikan dan dimengerti!" Sahut Galuh bersikeras.


"Hah, terserah kau sajalah!" Kata Syakir.


"Eh, ngomong-ngomong kau memiliki sekretaris baru ya?" Tanya Syakir.


"Iya!" Sahut Galuh.


"Bahenol amat! Hehehe." Kata Syakir terkekeh girang.


"Sama sekali tidak menarik bagiku!" Sahut Galuh.


"Ya iyalah! Kau kan budak cintanya Ila! Hehehehe." Sambung Syakir terkekeh geli.


"Kau budak cinta Kia!" Balas Galuh pada Syakir.


"Hahahaha! Ayo kita makan siang bersama." Ajak Syakir.


Siang itu Galuh dan Syakir makan siang bersama di restoran yang tak jauh dari kantor Galuh. Tak lama mereka pergi, Ila keluar dari lift dan berlari tergesa-gesa untuk mengantarkan bekal makan siang Galuh. Hari itu Ila ingin memberikan perhatiannya kepada Galuh dengan membawakan bekal makan siang untuknya. Tiba di ruang kerja Galuh, Ila tak melihat siapapun disana.


"Hah, kemana dia?" Gumam Ila sambil ngos-ngosan.


Tiba-tiba Viona datang menghampiri Ila yang berada di dalam ruang kerja Galuh.


"Hei, siapa kau? Kenapa kau masuk ke dalam ruangan CEO?" tanya Viona dengan nada bicaranya yang tinggi pada Ila.


"Aku istrinya Galuh!" Jawab Ila.


"Ap...apa?" Ucap Viona terkejut.


"Aku istrinya Galuh! Aku membawakan makan siang untuknya." Jawab Ila lagi.


"Jadi gadis belia ini istrinya CEO dingin itu? Hah, yang benar saja! Dia tidak secantik yang aku pikirkan." Gumam Viona dalam hatinya menatap Ila dari ujung kaki hingga kepala.


"Kemana Galuh?" Tanya Ila pada Viona.


"CEO sedang keluar bersama temannya!" Sahut Viona.


"Oh begitu!" Ucap Ila sedikit kecewa.


"Oh iya, aku minta tolong padamu ya? Tolong berikan bekal makan siang ini untuk Galuh! Katakan padanya bahwa istrinya datang." Kata Ila yang begitu lugu di depan Viona.


"Baiklah, nyonya!" Sahut Viona mengambil bekal makanan yang Ila titipkan padanya.


Ila pun pergi setelah menitipkan bekal makanan yang ia masak untuk Galuh. Viona yang memiliki hati busuk, membuka kotak makan siang tersebut dan segera membuangnya ke tong sampah.


"Heh, makanan seperti ini tidak cocok untuk CEO tampan seperti Galuh! Dasar istri tidak berguna." Ujar Viona dalam hatinya.


Malam harinya, lagi-lagi Galuh pulang agak larut. Ia kembali saat jam menunjukkan pukul 11 malam. Galuh masuk ke dalam kamar dan melihat Ila sedang duduk menunggu kepulangannya.


"Kak!" Sapa Ila tersenyum pada Galuh. Namun tetap saja Galuh tak mengindahkan senyuman manis yang Ila berikan padanya.


"Aku siapkan air mandi sebentar ya." Kata Ila lagi sembari melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Galuh hanya diam saja. Namun saat itu Galuh tanpa sengaja melirik ke ruang kamar yang tampak aneh malam itu.


"Seperti ada yang berubah di ruang kamar ini?" Gumam Galuh dalam hatinya.


Tak lama kemudian, Galuh pun mandi. Ketika Galuh sedang mandi, Ila mendengar tangisan Gilang yang tidur di kamar sebelah. Ila pun keluar kamarnya dan menghampiri putra kecilnya yang baru berusia dua bulan. Saat itu tampak olehnya, Ratih sang pengasuh sedang sibuk untuk menenangkan Gilang.


"Sini, berikan padaku!" Kata Ila mengambil bayinya dari dekapan Ratih.


"Nona, aku akan buatkan susu dulu untuk Gilang ya?" Kata Ratih.


"Iya!" Sahut Ila.


"Kenapa menangis terus, sayang? Haus ya?" Ucap Ila menimang bayinya.


Tak lama kemudian Ratih pun membawa sebotol susu untuk Gilang. Ila yang masih menggendongnya memberikan susu tersebut hingga Gilang meminumnya sampai habis dan tertidur. Melihat Gilang sudah tertidur pulas, Ila berniat untuk kembali ke kamarnya. Saat masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Galuh sudah berbaring di atas ranjang dengan posisi tidur yang sama seperti kemarin malam.


"Hah, dia sudah tidur!" Gumam Ila dalam hatinya sambil menatap punggung Galuh.


"Ya sudahlah! Besok pagi saja bicaranya." Gumam Ila lagi.


Keesokan paginya, Ila yang nangis lebih dulu menunggu Galuh selesai mandi. Ila ingin membicarakan perihal sikap Galuh yang tak acuh padanya. Ila hanya penasaran akan kesalahan apa yang ia lakukan sehingga Galuh menyikapinya dengan sikap dingin. Saat Galuh keluar dari kamar mandi, Ila menghampirinya.


"Kak! Pakaianmu sudah aku siapkan." Kata Ila pada Galuh sambil memegang sebuah kemeja yang akan Galuh pakai.


Galuh mengambil kemeja itu dan mengenakannya di tubuhnya yang kekar. Ila pun mendekat dan membantu Galuh memasang kancing kemejanya itu.


"Kak! Apa kemarin kau makan bekal makan siang yang aku berikan?" Tanya Ila.


"Tidak!" Sahutnya singkat.


"Kak, dua hari ini kau....


"Aku sibuk! Aku ada meeting penting pagi ini. Aku harus segera berangkat ke kantor." Kata Galuh memotong ucapan Ila.


Galuh tampak bergegas dan menghindari Ila. Setelah rapi, Galuh pun turun ke lantai bawah dan pergi tanpa ikut sarapan bersama dengan keluarganya. Hana dan Antoni kembali melihat Galuh yang pergi tanpa pamit apa lagi sarapan bersama mereka.


"Kenapa Galuh tidak sarapan bersama kita?" Tanya Hana pada Ila.


"Katanya ada meeting penting pagi ini! Jadi dia tidak sempat sarapan takut terlambat." Sahut Ila.


"Sesibuk itukah dia?" Gumam Antoni.


"Iya! Tapi nanti siang Ila akan bawakan bekal makan siang lagi untuk kak Galuh di kantornya." Kata Ila tersenyum paksa di depan kedua mertuanya itu.


Saat di perjalanan menuju ke kantornya, Galuh berdecak kesal karena telah mengacuhkan Ila barusan.


"Mengapa aku mengacuhkannya tadi? Aku yakin Ila tadi ingin membicarakan masalah kemarin." Gumam Galuh kesal pada dirinya sendiri.


"Ah, bodohnya kau Galuh!" Galuh mengumpat dirinya sendiri pagi itu.


"Hari ini aku ingin menuntaskan masalahku dengan Ila! Sebenarnya aku juga tak sanggup lama-lama menjauh darinya!" Gumam Galuh lagi.


 


Setelah menghadiri rapat penting di kantornya, Galuh masuk kembali keruang kerjanya. Saat itu Galuh melirik jam yang ada di dinding kantor yang menunjukkan pukul 11 siang. Perut Galuh mulai keroncongan.


"Hah, aku menyesal tidak sarapan dirumah tadi!" Gumam Galuh menahan rasa lapar di perutnya.


"Pesan makanan saja lah!" Gumam Galuh lagi.


Galuh pun memesan makanan melalui aplikasi yang ada di ponselnya. Tak terlalu lama menunggu, makanan yang Galuh pesan pun datang. Galuh memanggil sekretarisnya untuk menyiapkan makanan itu ke dalam wadah untuknya. Viona melakukan apa yang di perintahkan oleh Galuh siang itu. Tak lama kemudian, Viona masuk dengan membawa menu makanan yang Galuh pesan yang sudah tertata rapi di dalam piring. Galuh langsung menyantapnya dengan lahap, sampai-sampai Galuh tersedak oleh makanan. Viona yang masih di dalam ruangan Galuh tak ingin menyia-nyiakan waktu berharganya. Ia mendekat dan memberikan segelas air putih pada Galuh.


"Ini pak, minumannya!" Kata Viona begitu perhatian kepada Galuh yang tersedak makanan.


Galuh mengambil minuman itu dari tangan Viona dengan tergesa-gesa. Viona yang berdiri di sampingnya berpura-pura tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya. Ia berpura-pura oleng dan jatuh di atas pangkuan Galuh. Di saat yang tidak tepat, Ila muncul dan melihat Viona yang terduduk di atas pangkuan Galuh. Bekal makan siang yang Ila bawa jatuh begitu saja di lantai.


"Maaf! Aku yang salah, tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk!" Kata Ila sambil berbalik dan pergi dari kantor Galuh.


Galuh sontak bangkit dan tak memperdulikan Viona yang jatuh ke lantai karenanya. Ia sibuk mengejar Ila yang bergegas pergi dari kantor itu. Galuh berusaha untuk mengejar Ila yang sudah duluan masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup sehingga Galuh tak bisa meraih Ila.


"Sial! Dia pasti salah paham melihat aku dan Viona!" Ujar Galuh panik.


Ila masuk ke dalam mobil dan menyuruh supir untuk segera pergi dari kantor suaminya itu. Di dalam perjalanan pulang, air mata tak dapat ia bendung lagi. Ila menangis sejadi-jadinya di dalam mobil itu. Supir pribadinya menatap Ila dari kaca spion.


"Nona, kenapa?" Tanya supir


"Tidak apa-apa!" Sahut Ila.

__ADS_1


"Pak, jangan katakan pada kedua mertuaku kalau aku menangis hari ini, ya?" Pinta Ila pada supir untuk merahasiakan kejadian siang itu pada Hana dan juga Antoni.


__ADS_2