
Hari itu mereka sedang rapat persiapan untuk acara Maulid Nabi. Hari minggu akan diadakan tausyiah yang dihadiri oleh ustad ternama. Sissy sedang menunggu Amira yang masih ngobrol dengan Mas Alif dan Kak Nina. Yoan dan Zizi sudah pulamg duluan.
Tiba - tiba Sissy melihat seseorang yang dikenalnya.
"Kak Ferry.." Panggil Sissy.
"Eh.. Kamu Sissy kan? Lagi apa disini?" tanya Kak Ferry kaget.
"Abis rapat panitia Maulid Kak. Kakak sendiei ngapain?" Sissy balik bertanya.
"Lagi mau ke rumah temen. Mampir dulu bentar." Ferry terlihat salah tingkah. Sepertinya ada yang disembunyikan. Sissy terus mengawasi gerak gerik Kak Ferry.
"Aku pergi duluan deh. Pamit ya." Ferry bergegas menuju parkiran tapi langkahnya terhenti ketika ada yang memanggilnya.
"Ferry.. Udah datang? Tungguin bentar." teriak Kak Nina yang buru - buru keluar dari Masjid.
"Eh.. iya Nin. Aku mau ambil dompet dulu ketinggalan di motor." kata Ferry.
"Siapa Kak? Pacarnya ya ?" Sissy iseng bertanay pada Kak Nina. Amira yang berada di belakang Kak Nina hanya melotot pada Sissy.
"Iya.. Itu pacar aku. Udah ya semuanya aku pulang dulu. Assalamualaikum." pamit Kak Nina.
"Waalaikumsalam." jawab mereka.
"Itu beneran Kak Ferry?" tanya Amira sepeninggal Kak Nina.
"Itu kamu denger juga kan jawaban Kak Nina. Dasar playboy. Sampe anak kuliahan juga diembat." gerutu Sissy.
"Kita harus ceritain sama Zizi nih. Biar dia gak sampe masuk jebakan playboy itu." usul Amira.
Mereka pun pulang menuju rumah masing - masing.
Malam hari itu Zizi sudah janjian dengan Ferry untuk bertemu di warung bakso dekat rumah Zizi.
"Hai Kak. Udah lama?" Sapa Zizi ketika sampai di warung bakso.
"Baru aja Zi. Kamu pesen aja baksonya. Aku udah pesen bakso nih. Skalian pesenin es jeruk ya." kata Ferry sambil menyuap baksonya. Zizi pun memesan semangkuk bakso dan 2 gelas es jeruk.
"Ada perlu apa Kak. Kok malam - malam ngajak ketemuan?" tanya Zizi tak sabar.
"Makan dulu aja. Nanti baru kita ngobrol." kata Ferry. Mereka pun menikmati baksonya dalam diam. Tak lama mangkok mereka pun sudah kosong.
"Gimana Kak?" Zizi bertanya sambil mengaduk es jeruknya.
"Gini Zi. Aku mau minta tolong bisa gak?" Ferry menatap mata Zizi.
"Apa Kak?" tanya Zizi lagi.
"Tapi jangan Marah ya?" Ferry terlihat ragu untuk bicara.
"Kalo memang bisa aku bantu ya pasti aku bantu." Zizi mulai kepo.
"Aku mau pinjam uang Zi. Mamaku mau operasi tapi uangnya kurang." Ferry menunduk seolah bersedih.
"Operasi apa Kak?" Zizi mulai cemas.
__ADS_1
"Angkat rahim Zi. Ada tumor di rahimnya. Kalo gak diangkat bisa jadi kanker." kata Ferry dengan mata berkaca - kaca.
"Subhanallah. Yang sabar ya Kak." Zizi mengelus lembut tangan Ferry.
"Iya Zi. Kamu bisa bantu gak?" tanya Ferry.
"Butuh berapa Kak? Kalo tabungan aku sih gak banyak." jawab Zizi.
"Biaya nya sekitar 10 juta. Kamu harus bantuin aku Zi. Bisa kan?" suara Ferry sedikit meninggi.
Zizi merasa aneh dengan sikap Ferry. Kenapa kesannya maksa seperti itu sih!
"Aku tanya Mama dulu." Zizi mulai ragu dengan ucapan Ferry.
"Pake tabungan kamu aja lah Zi. Aku butuh segera nih." bujuk Ferry.
"Tabungan aku gak sampe segitu Kak." Zizi mulai curiga dengan Ferry yang maksa.
"Ya seadanya tabungan kamu deh. Sisanya biar aku pinjam ke yang lain." Ferry tetap memaksa.
"Iya nanti aku cek lagi tabunganku." jawab Zizi.
"Makasih ya. Kamu emang pacar yang baik." Ferry memegang tangan Zizi.
"Yuk kita pulang Kak." Zizi bangkit dari kursinya.
"Kamu bayarin dulu ya? Besok aku ganti." kata Ferry sambil keluar duluan dari warung bakso.
"Selalu seperti ini. Setiap makan pasti aku yang bayar." gerutu Zizi dalam hati.
Sepulang sekolah geng pelangi sedang berkumpul di rumah Sissy. Seperti hari biasanya, kalo siang hari rumah Sissy memang selalu kosong. Papa bekerja di Surabaya, Mama akhir - akhir ini sedang sibuk bekerja di perusahaan asuransi, A Arya di tempat kost nya sedangkan Teh Ochy kuliah di kota Bogor.
"Zi, kamu tau gak kemarin ada kejadian heboh di Masjid." Amira membyka obrolan mereka.
"Ada apa emang?" tanya Zizi.
"Kemarin kita lihat Kak Ferry jemput Kak Nina. Ternyata mereka pacaran." Amira menceritakan kejadian kemarin.
"Kok aku gak tau sih?" protes Yoan.
"Kamu sama Zizi kan udah pulang duluan." celetuk Sissy.
"Beneran tuh Kak Ferry pacaran sama Kak Nina? Berarti Kak Nina dapat brondong." kata Yoan.
"Bener. Kan kita tanya langsung ke Kak Nina." jawba Amira.
"Dia salah tingkah pas ketemu aku di depan Masjid. Tadinya mau kabur tapi Kak Nina dan Amira keburu keluar dari Masjid." cerita Sissy panjang lebar.
"Gila.. Emang playboy tuh orang." Yoan terlihat jengkel.
"Zi, kamu kok diem aja sih?" Sissy baru sadar kalo dari tadi Zizi hanya diam sambil menahan tangis.
"Cemburu kali." ledek Yoan.
"Hush, diem dulu Yo. Dia beneran sedih loh." Amira memeluk Zizi yang mulai menangis.
__ADS_1
"Cup.. cup.. Jangan nangis gara - gara cowok dong. Untung aja kamu belum pacaran sama dia." Sissy ikut menenangkan Zizi. Mereka semua belum ada yang tahu kalo Zizi sudah berpacaran dengan Ferry diam - diam.
"Rek, Maafin aku ya." Kata Zizi di sela tangisnya.
"Memang kenapa Zi? Ada apa?" tanya Amira.
"Sebenarnya aku udah pacaran sama Kak Ferry." Jawab Zizi.
"Ya Allah Zi. Kamu udah diapain aja?" celetuk Yoan.
"Ngaco. Emang mau ngapain?" Sissy menyikut Yoan.
"Ya siapa tau dia udah dipelet." Lanjut Yoan.
"Gak kok. Aku gak diapa - apain." jawab Zizi lirih.
"Trus gimana?" Tanya Amira.
"Tapi dia sering banget pinjam uang ke aku. Apalagi tiap jalan pasti aku yang keluar uang. Ada aja alasannya." Zizi bercerita sambil sesegukan.
"Subhanallah." Kata Sissy sambil mengusap punggung Zizi.
"Bahkan kemarin nih dia mau pinjam uang lagi 10juta" kata Zizi lagi.
"Buat apa Zi?" tanya Yoan.
"Katanya buat operasi rahim ibunya." Jawab Zizi.
"Trus kamu kasih?" selidik Amira.
"Ya gak lah. Aku mulai curiga soalnya dia minjemnya maksa. Suruh pake tabungan aku." Zizi mulai lega karena sudah menceritakan semuanya pada sahabatnya.
"Syukurlah. Kapan kejadiannya Zi?" Sissy masih bertanya.
"Baru tadi malam. Dia ngajak aku ketemuan di waring bakso Cak Di." Zizi menghabiskna minuman di gelasnya.
"Baj****n tuh orang. Aku jadi kasian sama Kak Nina. Pasti dia dimanfaatin juga." maki Yoan.
"Udah biarin aja. Kita gak usah ikut campur urusan mereka. Yang penting Zizi udah gak dibohongin lagi." Amira coba menenangkan sahabatnya itu.
"Iya. Tapi kalo ketemu bakal aku maki - maki tuh orang." Yoan masih emosi.
"Aku dukung Yo. Kita abisin dia." Sissy ikut emosi.
"Ya ampun Sissy. Kamu kok ikutan emosi sih?" Amira mencubit lengan Sissy.
"Ya kan sahabat kita disakiti. aku juga ikut sakit." elak Sissy.
"Iya juga ya." Amira mulai ikut terbawa emosi.
"Hahaha. Kalian emang sahabatku yang terbaik." Zizi memeluk sahabatnya bersamaan.
Mereka pun mulai menertawakan rencana balas dendam mereka pada Ferry. Yang entah akan terjadi atau tidak.
Jangan lupa dukung Like 👍, komen dan Vote..
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏