
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan segera Othor tamatkan. Doakan ya semoga othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca πππ
...***...
Hari ini adalah hari terakhir Sissy bekerja di Resto Piring Daun. Hanya beberapa orang saja yang tau kalo Sissy juga akan berhenti mengikuti jejak Yanto, rekan sesama supervisornya.
Sissy sengaja menutupi hal ini pada beberapa rekan kerjanya, terutama 2 orang yang dianggap pengkhianat baginya. Hanya beberapa orang saja yang tau kalo dia akan berhenti dan pindah kembali ke Malang.
"Teh, seriusan mau pulang ke Malang ?" tanya Era sedikit berbisik saat mereka sedang di kasir.
"Iya Ra." jawab Sissy singkat.
"Kenapa gak cari kerja disini aja sih ?" tanya Era lagi.
"Kalo masih disini, gue gak akan bisa move on lihat 2 pengkhianat itu. Lagian aku juga udah dapat kerjaan di Malang. Tinggal menghadap aja." jawab Sissy sambil tersenyum pada bawahan sekaligus sahabatnya selama di Bali.
"Trus kapan Teteh perginya ?" Lagi - lagi Era bertanya.
"Besok aku cabut dari Mess, 3 hari lagi pulang ke Malang." Sissy menjawab dengan pelan.
"Kok cepet sih Teh. Kita belum jalan - jalan lagi di Bali." protes Era.
"Lebih cepat lebih baik. Kalo mau besok kita jalan - jalan." kata Sissy.
"Akhirnya satu persatu dari geng Pida keluar juga. Dedik udah duluan, sekarang Teteh. Entah nanti siapa lagi yang nyusul." Era merasa sedih.
"Ya elah Ra. Kan masih ada Candra, Sani, Dwi." Sissy mengusap bahu Era lembut.
"Iya sih tapi kalo gak ada teteh gak seru. Aku juga cewek sendirian." kata Era lagi.
"Udah.. Udah.. Jangan sedih. Lanjut kerja gih.. Tuh ada tamu." Sissy melirik pada beberapa orang yang memasuki restoran.
Era bergegas menuju area display untuk membantu tamu sedangkan Sissy menunggu di kasir.
Tak terasa sudah sore, Shift Sissy pun sudah selesai. Setelah melakukan briefing, Sissy pamit kepada rekan kerjanya di bagian service. Tak lupa, menyerahkan tanggung jawab operasional pada Candra dan Dwi, tentunya dnegan pengawasan dari Bayu.
"Makasih semuanya atas kerjasamanya selama ini. Saya merasa bangga bisa bekerja dengan kalian semua." Sissy menatap satu persatu rekan kerjanya.
"Kami akan sangat merindukan Teteh." kata Candra mewakili rekan yang lain.
"Saya pamit ya. Kalian harus bekerja dengan profesional dan sepenuh hati." Sissy menambahkan kembali.
Sissy memeluk satu persatu rekan kerjanya sebelum meninggalkan area restoran.
"Teh, pulang bareng aku ya." Sani menjajari langkah Sissy.
"Boleh. Sekalian bantuin pindahin barang aku ya." kata Sissy.
__ADS_1
"Mau langsung pindah Teh ?" tanya Sani.
"Iya. Aku mau tinggal di tempat kakakku dulu." jawab Sissy.
"Oke Teh. Nanti malam jadi kan kumpul - kumpulnya ?" tanya Sani lagi.
"Jadi dong, kita - kita aja. Aku juga cuma mindahin barang aja." jawab Sissy.
Malam harinya Sissy dijemput Sani di kosan Ochy.
"Teh, udah mau selesai shiftnya." kata Sani.
"Iya San. Kita otw sekarang." Sissy langsung duduk di boncengan Sani.
Mereka menuju ke sebuah pom bensin dekat resto untuk menunggu yang lain. Hari ini mereka akan menuju ke pantai kuta untuk menikmati malam perpisahan Sissy yang akan segera pindah dari Bali.
"Apa kita langsung ke kuta aja Teh ?" Sani tampak bosan menunggu.
"Kuta kan luas, nanti malah gak ketemu. Tunggu dulu bentar lagi lah.." kata Sissy sambil menepuk bahu Sani.
"Teh, seandainya kamu mau bertahan disini., aku mau jadi pelindung kamu. Jujur, aku suka sama kamu." Tiba - tiba Sani mengutarakan perasaannya. Sissy terkejut dan menatap lelaki yang berasal dari timur indonesia itu. Sani cukup good looking dan baik hati. Meski tampangnya sangat maskulin dan badan berotot, tapi Sani cukup lembut saat berbicara dengannya.
"Maaf San. Bukan aku gak mau, cuma kita juga gak mungkin memiliki hubungan lebih dari teman. Kamu tau sendiri keyakinan kita beda. Meski bersama, ujungnya tak akan bisa bersatu." kata Sissy.
"Hhmm.. Aku sadar soal itu. Makanya aku gak berani melangkah lebih dekat." Sani menatap lekat pada Sissy.
"Aku anggap ungkapan tadi kamu tak ada, kita akan terus berteman seperti biasa. Maaf ya San. Aku gak bisa menjalani hubungan yang lebih dengan kamu." Sissy memegang tangan Sani.
"Boleh San. Mungkin besok atau lusa aku butuh beli oleh - oleh." kata Sissy sambil tersenyum manis pada pemuda itu.
"Siap. Aku akan nganter kamu kemanapun." Sani terlihat bersemangat.
"Tapi aku minta kamu jangan panggil nama aja kayak tadi pas ada yang lain. Aku gak mau mereka curiga." Sissy mengajukan syarat.
"Tapi kalo pas berdua boleh ya Ris ?" Sani coba bernegosiasi.
"Iya boleh." jawab Sissy membuat Sani tersenyum lebar lalu reflek memeluk Sissy.
"Iih.. Nakal deh." Sissy memukul lengan Sani.
Tak lama Era, Candra, Dwi dan Ami datang.
"Kalian kok lama sih ?" protes Sissy.
"Maaf ya Teh. Tadi prepare buat acara besok." jawab Era.
"Kasian tuh Sani udah di nyamukin dari tadi." kata Sissy sambil tertawa kecil.
"Ayo deh kita berangkat." ajak Era.
Mereka berenam pun berangkat ke pantai kuta.
__ADS_1
Era berboncengan dengan Dwi, Candra membonceng Ami kekasihnya. Sedangkan Sissy bersama Sani.
Sampai di Pantai Kuta, Era mengajak Sissy duduk di atas pasir. Dia pun mengeluarkan perbekalan yang sengaja dibawanya dari resto.
"Ya ampun Ra. Kamu bawa apaan ?" tanya Sissy.
"Makanan Teh. Lumayan lah buat kita party malam ini." jawab Era.
"Ini beli apa ngambil ?" selidik Sissy.
"Beli dong Teh. Cuma tadi numpang goreng di resto." Dwi yang menjawab.
"Pantesan lama." gerutu Sani.
"Alah.. Pake protes segala. Bukannya malah seneng bisa berduaan sama Teteh lebih lama." ledek Candra.
"Ssstt.. Jangan bongkar - bongkar rahasia dong." Sani mengelak.
"Hayo.. Ada apa nih antara Teh Riris sama Sani ?" Era mulai penasaran.
"Gak ada apa - apa. Yuk kita makan." Sissy coba mengalihkan pembicaraan.
"Cola nya tadi mana Can ?" tanya Era.
"Nih.. Ada bir juga." Candra memberikan kantong berisi minuman.
"Siapa yang ngasih ide beli bir segala!!" Sissy terlihat marah.
"Gak ada Teh. Becanda doang. Ini cola semua kok." Candra coba meluruskan sebelum Sissy beneran marah. Semuanya tau kalo Sissy sudah marah akan sangat menyeramkan dan merepotkan. Meskipun bir dan minuman alkohol bebas di Bali tapi Sissy tak mau mereka terbiasa mabuk - mabukan.
Mereka pun menikmati ayam goreng, kentang dan cola sambil bersenda gurau.
"Gaes.. Makasih ya udah menjadi sahabat aku selama di Bali. Sedih rasanya mau pisah sama kalian." Sissy menatap satu persatu sahabatnya.
"Kita juga sedih Teh. Harus kehilangan atasan sekaligus sahabat seperti Teteh." Ami dan Era memeluk Sissy dengan erat. Suasana seketika berubah jadi haru.
"Apalagi Sani. Pasti patah hati dia." ledek Candra yang dibalas sambitan botol bekas cola oleh Sani. Suasana haru pun berubah menjadi tawa dan saling ledek. Candra langsung menarik tangan Ami menuju ke tengah pantai, menikmati ombak yang bergulung. Yang lain ikut mengejar sepasang kekasih itu.
"Selamat tinggal Bali, Selamat tinggal kisah pahit, Selamat tinggal sahabatku.. Waktunya aku memulai kehidupan yang baru.. Semoga aku bisa menjalani kehidupan yang lebih baik di Malang..." Sissy menatap ombak yang bergulung di pantai. Dia pun menghirup udara pantai kuta di malam hari untuk terakhir kalinya.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. Ada juga cerita baru "Tiga Dara". Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih πππ