
Hari ini pembagian rapor sekaligus penempatan kelas jurusan. Para Ibu dari geng pelangi datang untuk mengambil rapor anaknya.
"Selamat ya Si. Kamu rangking 5." kata Mama sambil menyerahkan rapornya pada Sissy.
"Alhamdulilah." Sissy bersyukur sekali nilainya naik.
"Kamu juga keterima di kelas Bahasa De." kata Mama lagi.
"Makasih ya Ma." Sissy memeluk Mamanya.
"Kamu pulang bareng Mama?" tanya Mama.
"Aku kumpul dulu sama anak - anak ya Ma. Nanti pulang sama mereka aja." kata Sissy sambil mengantar Mamanya ke tempat parkir.
"Ya udah Mama pulang duluan ya." Mama naik ke mobil dan pulang.
Sissy masuk lagi dan sempat berpapasan dengan Ibunya Amira dan Mamanya Yoan.
"Mama kamu udah pulang Si?" tanya Mama Yoan.
"Udah baru aja Te." jawab Sissy.
"Oalah. Yawda kita naik angkot aja Jeng." kata Mama Yoan.
"Iya. Gak nunggu Maminya Zizi?" tanya Ibu Amira.
"Belum keliatan dari tadi juga. Nanti kelamaan Jeng." kata Mama Yoan.
Ternyata mereka berpapasan di gerbang depan dengan Mami Zizi yang baru datang.
"Loh jeng. Udah selesai?" tanya Mami Zizi.
"Iya Jeng. Kita duluan ya." pamit Mama Yoan disambut dengan anggukan oleh Mami Zizi.
Mami Zizi menuju ke kelas Zizi dan langsung masuk ke kelas yang sudah mulai sepi itu.
Zizi menunggu sampai Mami nya keluar dan memberikan rapornya pada Zizi.
"Kamu keterima di IPA. Selamat ya sayang" kata Mami sambil memeluk Zizi.
"Makasih ya Mi." Zizi balas memeluk Mami.
"Mami pulang dulu ya sayang. Kamu pulangnya jangan terlalu sore. Nanti malam kita makan bersama di resto ya." kata Mami meninggalkan Zizi.
Zizi pun bergegas menuju sahabatnya yang sudah berkumpul di kantin.
"Maaf gaes. Mami datangnya telat." Zizi langsung duduk di samping Yoan.
"Gimana nih nilai kalian?" tanya Sissy.
"Nilaiku turun Si. Gak masuk rangking. Mama sampe ngomel tadi. Nanti malam pasti Ayah sidang aku." Gerutu Yoan.
"Sabar say. Kamu sih pacaran mulu." kata Zizi sambil mencubit pipi Yoan.
"Iya tuh. Pacaran mulu." Sissy ikut meledek.
__ADS_1
"Kamu masuk apa Zi?" tanya Amira.
"Aku masuk IPA dong. Tapi nilaiku emang pas - pas an sih." kata Zizi.
"Bakal disidang juga nanti malam sepertinya." Yoan balas meledek.
"Gak dong. Nanti malam malah mau diajak dinner di resto." Zizi meleletkan lidahnya membuat Yoan manyun.
"Emang beda ya kalo anak emas sama anak pungut." canda Amira.
"Enak aja. Aku juga anak kandung ya." Bela Yoan.
"Becanda kali Yo." kata Amira.
"Udah udah. Kok berantem terus sih." Sissy menengahi.
"Aku juga gak tau nih nilai ku pas - pas an juga." keluh Amira.
"Bakal diomelin gak?" tanya Yoan.
"Mungkin. Yang pasti dibanding - bandingin sama adikku yang memang pintar." Kata Amira lesu.
"Wah lebih parah tuh kalo dibandingin sama sodara kita sendiri." celetuk Yoan yang langsung dipelototin smaa Sissy.
"Aku berhasil masuk kelas Bahasa. Akhirnya lepas dari hitung menghitung dan hapalan." kata Sissy lega.
"Kok mau masuk kelas buangan gitu sih?" ledek Yoan.
"Kata siapa kelas Bahasa kelas buangan? Udah banyak ya prestasinya." Sissy berkata dengan pede.
"Iya. Malah tahun kemaren peraih Nem tertinggi dari kelas Bahasa. Tahun ini juga banyak anak pintar yang masuk Bahasa." Sissy menjelaskan pada ketiga sahabatnya.
"Ooh. Selamat kalo gitu." Yoan mencubit hidung Sissy.
"Kalian masuk apa?" tanya Sissy pada Amira dan Yoan.
"Aku masuk IPA. Moga - moga aja dapet IPA favorit." kata Yoan.
"Aamiin. Kamu masuk mana Ra?" tanya Sissy.
"Aku masuk kelas IPS. Kita pisah deh Si." Amira memeluk Sissy yang duduk di sampingnya.
"Sepertinya semua bakal pisah kelas deh. IPA kan banyak kelasnya." kata Yoan.
"Iya. Yang penting kita tetap sahabatan." Zizi memeluk Yoan.
"Harus dong. Kita pasti akan selalu kumpul pas jam istirahat gini." kata Amira.
"Tapi kita kan belum tau kesibukan kita di kelas 3 nanti. Belum lagi kalo harus les." gerutu Yoan.
"Ya kita usahain aja. Paling gak seminggu 2 kali kita harus kumpul." usul Sissy.
"Setuju." teriak Zizi mengagetkan yang lainnya.
"Sahabat selamanya." Mereka pun berpelukan dan meninggalkan kantin yang sudah kosong.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam itu Ayah ditemani Mama sedang menyidang Yoan.
"Yoan, kenapa nilai kamu bisa turun gini? " tanya Ayah sambil menunjukkan rapor Yoan.
"Kamu belajar atau gak sih?" kata Ayah lagi
"Yoan gak tau Yah. Yoan juga sudah belajar." jawab Yoan sambil menunduk.
"Ini pasti gara - gara kamu sering keluar kalo pas malam minggu." Ayah terus mendesak Yoan.
"Kan cuma beberapa kali Yah. Gak sering." bela Yoan.
"Gak sering gimana. Hampir 2 bulan ini kamu selalu keluar tiap malam minggu. Yang katanya nonton konser lah, rapat remas lah, ke rumah Zizi, Sissy atau siapalah temen kamu itu." omel Ayah.
"Yah, jangan terlalu emosi. Nanti jantungnya kumat. Yoan kan juga butuh refreshing." Mama membela Yoan.
"Tapi dia udah hampir ujian Ma. Ayah juga gak pernah melarang kamu malam mingguan. Tapi ya jangan pas mau ujian." Ayah masih mengomel.
"Maafin Yoan. Yoan janji akan belajar lebih giat lagi di kelas 3." Yoan memohon pada Ayahnya.
"Ayah pegang omongan kamu. Ayah mau kamu rangking 10 besar lagi di kelas 3 nanti." kata Ayah sambil meninggalkan Yoan bersama Mamanya.
"Kamu harus maklumi Ayah kamu ya. Ayah hanya ingin kamu bisa berprestasi." kata Mama sambil mengelus lembut kepala Yoan.
"Iya Ma." Yoan memeluk Mamanya dengan erat.
Sedangkan ditempat lain Zizi dan keluarganya sedang makan malam di resto favorit keluarga mereka.
"Selamat ya Kak. Kamu masuk kelas IPA." kata Papi sambil menyendok Gurami asam manis kesukaannya.
"Makasih Pi. Tapi maafin Zizi kalo nilai Zizi kurang bagus." kata Zizi.
"Gak papa. Yang penting di kelas 3 nanti nilai kamu juga harus bagus." kata Papi lagi.
"Iya Pi. Zizi usahain." jawab Zizi sambil menyendok makanannya.
"Papi dan Mami ingin kamu masuk kedokteran. Iya kan Mi?" kata Papi sambil tersenyum ke arah istrinya. Mami hanya mengangguk.
"Atau kalo gak jamu harus pelajari Bisnis." kara Papi lagi.
"Kamu juga Dek. Harus pintar ya." kata Papi pada Fajar, anak bungsunya.
Mami pun memegang lembut tangan Zizi. Mami sangat tau kalo suaminya selalu memaksakan keinginannya agar Zizi menjadi dokter. Padahal dia tau betul kalo Zizi tak sepintar itu. Mami takut kalo Zizi tak sanggup untuk memenuhi keinginan Papi. Tapi Zizi adalah anak yang penurut dan sangat ingin membahagiakan Mami dan Papinya.
"Zizi akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan keinginan Papi." batin Zizi.
Tapi sayangnya keinginan Papi itu tak terwujud di kemudian hari.
(Kok author bisa tau? ya tau lah coba aja baca di "Kisah Cinta Sang Perawan Tua". Disitu ada jawabannya. Hehehe. Sekalian promo ya.)
Jangan lupa Like 👍, Komen dan Vote.
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1