
Zizi sedang bersantai dengan Mami, Papi dan adiknya.
"Pi, Aku jadi kan di belikan Sepeda Motor ?" tanya Fajar pada sang Ayah.
"Boleh. Besok kamu lihat ke showroom. Trus minta brosur yang ada harganya. Nanti Papi cek dulu." jawab Edwin.
"Asik deh yang mau punya motor baru." goda Zizi.
"Kamu yakin Dek mau bawa sepeda motor sendiri ?" tanya Liana.
"Yakin lah Mi. Aku kan pengen mandiri juga." jawab Fajar.
"Tapi Dek..." Liana hendak berkata lagi.
"Udah Mi. Fajar itu anak laki - laki harus mandiri." sela Edwin.
"Iya Mi. Lagian sekolahnya Fajar kan jauh Mi. Mami bakal repot buat antar jemput." Zizi menambahkan.
"Mami gak merasa repot kok. Buat anak mah apapun pasti Mami lakukan." kata Liana.
"Pi, Fajar tetap jadi dibelikan sepeda motor kan ?" Fajar bertanya pada Edwin.
"Jadi. Udah kamu turutin apa yang Papi bilang tadi." Edwin bangkit dan menuju ke kamarnya.
Liana menyusul suaminya ke kamar.
"Pi, aku gak mau Adek bawa sepeda motor sendiri." protes Liana pada suaminya yang sedang membaca buku di sofa kamar mereka.
"Emang kenapa Mi ?" tanya Edwin.
"Takutnya ada apa - apa di jalan. Terus kalo Adek ikut geng motor yang gak bener gitu gimana ?" Liana menyampaikan kekhawatirannya.
"Mi, Fajar itu anak laki - laki kita satu - satunya. Masa dia akan kamu manjain seperti itu terus ?" kata Edwin sambil menyimpan buku yang sedang dibacanya.
"Kalo masalah celaka itu mah udah takdir, gak bakal bisa dihindari." lanjut Edwin.
"Aku kan takut dia kenapa - kenapa." kata Liana lirih.
"Yang penting kita selalu ingatkan jangan sampe dia kebut - kebutan di jalan atau ikut geng motor yang gak jelas." Edwin mengusap lembut punggung istrinya.
"Iya deh Pi. Terserah Papi aja." kata Liana.
"Gitu dong. Papi gak akan pernah biarin anak kita terjerumus ke hal yang tidak baik. Mau Zizi atau Fajar semua sama." kata Edwin sambil menarik Liana berjalan menuju ke ranjangnya.
"Papi mau ngapain ?" tanya Liana yang ditarik Edwin ke ranjang.
"Kita bobo aja yuk Mi. Lumayan dingin nih malam ini." bisik Edwin lembut.
"Iih Papi genit deh. Anak - anak masih diluar loh." Liana menjauhkan wajah Edwin dari wajahnya.
"Biarin aja. Nanti juga mereka masuk kamar masing - masing." Edwin sudah mulai menciumi wajah istrinya.
Terjadilah pergumulan diantara keduanya.
__ADS_1
"Mami sama Papi kok gak keluar lagi ?" tanya Fajar.
"Udah tidur kayaknya Dek." jawab Zizi.
"Iya kayaknya Kak." kata Fajar.
"Ya udah aku juga mau ke kamar aja." Zizi bangkit dan menuju kamarnya.
"Iya aku juga deh." Fajar pun ikut bangkit menuju ke kamarnya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Siang itu Zizi sedang menunggu antrian untuk daftar kuliah. Dia berencana melanjutkan kuliah S1.
"Zivanna Dyan Aurora." panggil staf TU.
"Iya Bu." Zizi menghampirinya.
"Berkas nya udah diisi ? Ini rincian biaya yang harus dibayar." Petugas itu menjelaskan.
"Ini Bu. Jadi ini total yang harus saya bayar sekarang." Zizi menunjuk nominal yang tertera di kertas pendaftaran.
"Iya betul. Ini sudah termasuk biaya selama setahun." kata petugas TU.
"Oh iya Bu. Saya bayar pake debit ya Bu." Zizi menyerahkan kartu atm nya.
Petugas TU itu menerima kartu atm milik Zizi dan melakukan pembayaran. Setelahitu memberikan kuitansi pada Zizi.
"Iya. Makasih ya Bu." Pamit Zizi.
Zizi melangkah menuju mobilnya yang diparkir di depan ruang TU. Hari ini Zizi sudah janjian akan bertemu dengan ketiga sahabatnya. Kebetulan Sissy sedang liburan di Malang.
Hanya butuh waktu 10 menit, Zizi sudah sampai di kafe.
Dilihatnya sepeda motor Amira sudah terparkir disana.
"Hai Ra." sapa Zizi langsung mencium pipinya.
"Abis dari mana Zi ?" tanya Amira.
"Baru beres daftar ulang kuliah." jawab Zizi sambil duduk di sebelah Amira.
"Jadi lanjutin kuliah lagi ?" tanya Amira lagi.
"Jadi dong. Eh.. tumben Sissy belum nyampe." kata Zizi.
"Katanya mau berangkat bareng Yoan. Mungkin masih di jalan." kata Amira.
"Hai girls..." Sissy masuk dan menyapa mereka.
"Akhirnya datang juga kalian." kata Amira pada Sissy dan Yoan.
"Iya. Tadi aku minta antar ke rumah temen Mama dulu." kata Sissy.
__ADS_1
"Ooh.. Kirain Yoan yang bikin telat, kayak biasanya." ledek Zizi.
"Enak aja kalian nuduh aku." gerutu Yoan.
"Kalian udah pesen ?" tanya Sissy sambil mengambil buku menu.
"Baru pesen minum aja." jawab Amira.
"Ya udah kita sekalian pesen aja. Udah laper nih." kata Sissy.
Mereka pun memesan makanan dan minuman.
"Kamu udah lulus ya Si ?" tanya Amira.
"Alhamdulilah sudah." jawab Sissy.
"Trus lanjut kerja ?" tanya Zizi.
"Rencana sih mau kerja di hotel tempat aku magang kemarin." kaya Sissy.
"Biar deket sama pacar ya ?" ledek Yoan.
"Tau aja." kata Sissy malu - malu.
"Aku juga nerusin S1." kata Zizi.
"Ambil jurusan apa cil ?" tanya Yoan.
"Nerusin bisnis manajemen aja." jawab Zizi.
"Baguslah biar tambah pinter." ledek Yoan.
"Emang selama ini aku kurang pinter ?" Zizi menatap tajam pada Yoan.
"Ya enggaklah. Kamu pinter kok." kata Amira.
"Emang iya." kaat Zizi dengan percaya diri.
Tak lama makanan pesanan mereka pun datang. Mereka menikmati makanan sambil sesekali mengobrol dan bersenda gurau. Hingga tak terasa hari sudah sore. Mereka pun berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi esok harinya.
...***...
Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopi☕ 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kishah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1