
Malam itu Yoan sedang mendengarkan radio sambil membaca komik favoritnya.
*kring.. kring.. * telepon rumahnya berbunyi.
Mama nya masih ke rumah bude untuk bantu bikin kue disana. Besok adalah peringatan seratus hari meninggalnya kakek, ayah dari Mama nya. Yoan yang masih libur pun memilih untuk bermalas - malasan di rumah saja.
Karena sendirian di rumah, Yoan langsung bergegas keluar kamar dan mengangkat teleponnya.
"Halo.." sapa Yoan.
"Halo. Bisa bicara dengan Yoan?" ucap suara di seberang telepon.
"Iya saya sendiri. Ini dengan siapa ya?" tanya Yoan yang merasa mengenal suara itu.
"Masa lupa sama aku. Gue Didi." jawabnya.
"Maaf. Gak nyangka kamu bakal telepon kesini." ujar Yoan.
"Iya. Gue sibuk banget sama kuliah nih. Kan emang lagi nyusun skripsi juga." kata Didi.
"Iya." jawab Yoan singkat.
"Kamu udah daftar UMPTN ?" tanya Didi.
"Gak ikut UMPTN. Mau langsung daftar di universitas swasta yang bagus disini." kata Yoan.
"Ooh.. Mau ambil jurusan apa Yo?" tanya Didi lagi.
"Ambil ilmu komunikasi." Yoan memainkan kabel telepon.
"Mau jadi wartawan?" ledek Didi.
"Ya gak juga. Cita - cita sih jadi PR atau Broadcaster." Yoan mantap dengan pilihannya.
"Wah keren tuh. Semoga sukses deh." Didi menyemangati Yoan.
"Makasih ya Kak." Yoan mulai menguap.
"Udah ngantuk ya? Ya sudah aku tutup teleponnya. Kamu istirahat ya." kata Didi.
"Iya Kak. Kakak juga istirahat ya." balas Yoan.
Setelah menutup teleponnya, Yoan berjalan menuju kamarnya. Dia pun merebahkan tubuhnya di ranjang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah tertidur selama 2 jam akhirnya Yoan bangun dan langsung menuju meja makan. Perutnya terasa lapar. Dibukanya tudung saji di atas meja makan tapi hanya ada nasi putih.
"Sepertinya Mama belum pulang dari rumah Bude." gumam Yoan.
Akhirnya Yoan menuju dapur dan memasak mie instan. Yoan menikmati mie instannya sambil menonton tv. Setelah kenyang Yoan mengeluarkan sepeda nya dan menuju ke rumah Zizi. Kebetulam Zizi sendiri uang membuka pintunya.
"Tumben kamu kesini Yo?" sambut Zizi sambil mengajak Yoan ke kamarnya yang terletak di bagian belakang rumah.
"Yaelah Cil. Masa kesini aja pake tumben." protes Yoan.
"Udah lama loh kita gak ketemu." kata Zizi lagi.
"Belum seminggu juga Cil." kata Yoan sambil duduk di ranjang Zizi.
"Iya sih." Zizi keluar kamar untuk mengambil minuman.
"Di rumah gak ada orang. Aku bosen nih" kata Yoan.
__ADS_1
"Bosen banget ya diem di rumah aja. Gak sabar pengen cepet kuliah." gerutu Zizi sambil meletakkan es jeruk di meja.
"Kamu jadi ikut UMPTN ?" tanya Yoan.
"Jadi lah. Emang kamu gak ikutan?" Zizi balik bertanya.
"Gak. Aku langsung kuliah di Universitas Persada aja." jawab Yoan smabil merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Enak kamu ya. Datang ke kamar orang langsung tiduran aja." Zizi memukul Yoan dengan bantal.
"Hehehe. Pewe banget Cil." Yoan tak memperdulikan Zizi dan menikmati ranjang empuk sahabatnya.
"Trus ada kabar apa nih?" tanya Zizi mencari tahu maksud kedatangan sahabatnya itu.
"Tau aja kamu. Tadi Kak Didi telpon aku Cil." kata Yoan.
"Terus gimana?" Zizi mulai penasaran.
"Gak tau ya. Aku kayak males aja nanggepin dia. Lagian kan gak mungkin kita LDR an." kata Yoan.
"Kenapa gak. Kalo emang jodoh kan bisa jaa Yo." Zizi menyemangati sahabatnya.
"Iya sih. Ya lihat aja nanti." Yoan bangkit dan menikmati es jeruk.
"Kamu udah bilang ke Sissy ?" tanya Zizi.
"Belum. Kayaknya dia lagi sibuk juga disana." kata Yoan.
"Ya kapan - kapan kamu telepon. Sissy Kan sodaranya Didi, pasti dia tau Didi kayak gimana." usul Zizi.
"Benar juga kamu Cil. Tumben pinter." Yoan mengacak rambut Zizi.
"Sialan. Emang pinter kali." Zizi langsung merapikan lagi rambutnya.
Mereka berdua pun tertawa sambil menghabiskan waktu bersama.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini Sissy di rumah hanya ditemani Bi Kokom karena Aki sedang kontrol ke dokter diantar oleh Tante Eti. Sedangkan Om Odie sudah berangkat kerja tadi pagi sembari mengantar Lala dan Fea ke sekolah.
"Assalamualaikum." terdengar suara orang memasuki rumah sambil memberi salam.
"Waalaikumsalam." jawab Bi Kokom.
"Teh Sissy dimana Bi ?" tanya Didi menghampiri Bi Kokom yang sednag masak di dapur.
"Ada di kamarnya diatas Cep." jawab Bi Kokom.
"Aku ke atas dulu ya Bi." Didi pun langsung menuju ke kamar Sissy.
*tok.. tok.. * terdengar pintu kamar Sissy diketuk.
"Masuk aja." jawab Sissy dari dalam kamar.
"Lagi ngapain Teh ?" tanya Didi yang langsung duduk di karpet sebelah Sissy.
"Lagi nyantei aja, baca novel." Sissy melihat sekilas ke arah Didi lalu kembali fokus pada novelnya.
"Enak bener sih. Kapan UMPTN nya ?" tanya Didi.
"Masih 2 minggu lagi. Aa gak kuliah ?" Sissy menyimpan novelnya.
"Kan lagi nyusun skripsi. Belum beres nih, banyak revisi." kata Didi.
__ADS_1
"Lagi banyak pikiran nih sepertinya ?" Sissy menatap wajah Didi.
"Emang kelihatan ya ?" Didi cengar - cengir sambil menggaruk kepalanya.
"Mukanya kelihatan kusut banget. Ada masalah apa sih ?" tanya Sissy.
"Hehehe. Soal Yoan Teh." jawab Didi.
"Oh iya. Gimana hubungan kalian ?" tanya Sissy lagi.
"Itu dia Teh. Kemarin gue telpon dia. Tapi kok responnya datar banget." cerita Didi.
"Lah Aa baru telpon kemarin? Kan udah lama mereka pulang dari sini." kata Sissy.
"Salah ya Teh ?" Didi balik bertanya.
"Bukan salah tapi ya telat aja. Kalo emang Aa serius ya harusnya Aa langsung telpon Yoan besok atau lusanya." Sissy merutuki sikap Didi.
"Abisnya gue juga lagi sibuk bimbingan. Jadi sempat ketunda sih." Didi mencoba memberikan alasan.
"Ya sekarang Aa harus lebih menunjukkan keseriusan." saran Sissy.
"Gimana caranya ?" tanya Didi.
"Ya telpon Yoan hampir tiap hari. Masa gitu aja harus diajarin." Sissy mulai kesal dengan kebodohan sepupu nya itu.
"Hehehe. Iya juga ya. Jangan marah sama gue dong." Didi mulai merayu Sissy yang terlihay kesal.
"Sebenarnya Aa serius suka sama Yoan apa gak sih? Aku gak mau ya sahabat aku di permainkan sama Aa." Sissy mulai mengomel.
"Ya maunya sih serius. Dia anaknya gimana ?" tanya Didi mencoba mencari tahu.
"Yoan anaknya asik kok. Dia juga agak tomboy dan sedikit cuek." kata Sissy.
"Kalo langsung aku tembak gimana ?" tanya Didi lagi.
"Ya jangan dulu lah. Pendekatan dulu. Pastiin dia mau sama Aa. Makanya harus sering telpon dia. Paling gak 2 hari sekali lah. Tanya soal hobi, kesibukan dan sebagainya. Basa - basi tapi gak garing." Sissy menatap Didi yang hanya mengangguk saja dari tadi.
"Hhmm." jawab Didi singkat.
"Paham gak A ? Dari tadi cuma angguk - angguk aja." Sissy mencubit lengan Didi.
"Paham Teh. Makasih ya sarannya." kata Didi.
"Awas ya kalo sampai sahabat aku dibikin kecewa apalagi sakit hati." ancam Sissy.
"Iya Teh. Tenang aja, aku serius kok. Malah pengennya main ke Malang nemuin dia." kata Didi sambil tertawa.
"Beneran ? Kapan ?" tanya Sissy.
"Ya nunggu skripsi gue kelar. Tinggal dikit lagi. Sekarang udah Bab 4 kok. Masih revisi." jawab Didi.
"Oke deh. Pokoknya inget aja pesan aku ya. Jangan pernah bikin Yoan kecewa atau sakit hati." Kata Sissy serius.
"Iya Teh. Aku pulang dulu deh. Ngantuk." Didi udah bangun dari duduknya.
"A, besok temenin ke NHI ya ? Aku mau beli formulir pendaftaran kuliah." kata Sissy.
"Oke siap. Besok aku jemput jam 9 ya." Didi keluar dari kamar meninggalkan Sissy sendirian.
"Semoga hubungan mereka bisa berjalan dengan baik." batin Sissy.
Gimana kelanjutan hubungan Yoan dan Didi ? Apakah doa Sissy bisa terkabul ?
__ADS_1
Mohon Likeπ, komen dan Vote ya..
Makasih πππ