
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan segera Othor tamatkan. Doakan ya semoga othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca πππ
...***...
Hari berganti hari, Bulan berganti bulan. Kehamilan Amira semakin besar. Amira sedang sibuk di dapur. Kebetulan Mama dan Papa mertuanya sedang berada di rumah kakak iparnya.
"Mas, boleh minta tolong." teriak Amira dari dapur.
"Apa sayang ?" tanya Alif.
"Tolong ambilkan panci yang diatas itu." Amira menunjuk lemari diatas meja dapur.
"Kamu mau bikin apa sih ?" tanya Alif sesudah menurunkan panci yang dimaksud Amira.
"Mau bikin sop buntut. Tapi mau sekalian kirim buat Ibu juga. Ini pancinya kurang gede." jawab Amira.
"Iya. Jangan ngangkat berat - berat ya. Terus jangan kecapekan juga." kata Alif sebelum meninggalkan dapur.
Amira meneruskan masaknya, mengolah buntut sapi menjadi makanan yang nikmat.
"Yang, udah selesai belum masaknya ?" Alif masuk ke dapur dan langsung memeluk pinggang Amira dari belakang.
"Bentar lagi Mas. Udah lapar ya ?" Amira hanya melirik sekilas pada suaminya.
"Harumnya sampai ke depan Yang. Bikin laper." kata Alif sambil mengusap perut buncit Amira.
"Bentar lagi Papa." kata Amira.
"Ini anak Papa lagi ngapain ? Kok nendang - nendang ? Udah lapar juga ya ?" Alif mengelus perut Amira.
"Udah matang. Tapi Mas anterin ke rumah Ibu dulu ya." kata Amira.
"Siap sayang. Aku ganti baju dulu ya." kata Alif.
"Iya. Aku siapin di rantang." kata Amira.
Tak lama Alif masuk kembali ke dapur dan mengambil rantang untuk mertuanya.
"Mas anter ini dulu ya. Assalamualaikum." pamit Alif.
"Waalaikumsalam." jawab Amira.
Setelah suaminya pergi, Amira juga menyiapkan sop buntut buatannya di meja makan.
"Ayo makan. Udah laper nih." kata Alif yang baru masuk rumah.
"Cuci tangan dulu Mas." kata Amira mengingatkan.
"Iya Sayang." Alif beranjak menuju wastafel.
"Ibu ada ?" tanya Amira.
"Ada. Lagi nyelesaiin jahitan. Bapak juga sudah pulang kok." jawab Alif.
"Tumben pulang cepat." kata Amira sambil mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Abis kunjungan dinas katanya. Besok juga kan libur." kata Alif.
"Ooh.. Besok aku mau ke ruamh Ibu ya." kata Amira.
"Tapi aku besok harus keluar kota sayang." kata Alif.
__ADS_1
"Ya kebetulan. Biar aku nginap di rumah Ibu Bapak." kata amira.
"Iya." Alif mulai menyuapkan nasi dan sop buntutnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besok paginya Amira diantar terlebih dahulu ke rumah Sumantri dan Rahayu sebelum Alif peegi keluar kota.
"Assalamualaikum Ibu..." Amira langsung mencium tangan dan memeluk Ibunya.
"Waalaikumsalam. Kok bawa tas besar ?" Rahayu heran melihat tas yang dibawa Amira.
"Aku mau nginep sini Bu." kata Amira.
"Iya Bu. Saya mau kerja ke luar kota 2 hari. Kebetulan Papa sama Mama juga lagi di rumah Mbak Alin. Jadi saya mau nitip Amira disini dulu." kata Alif.
"Ooh.. Kirain kalian kenapa - kenapa." Rahayu terlihat lega.
Amira mengantar kepergian Alif ke depan pintu.
"Kamu sehat - sehat ya. Jangan lupa makannya dijaga. Anak papa juga yang pinter ya disana jagain Mama." Alif mengusap dan mencium perut Amira.
"Iya Pa. Mas hati - hati di jalan ya." Amira mencium tangan suaminya yang dibalas dengan kecupan di keningnya.
"Ra, ini ada siomay. Kamu mau ya ?" Rahayu menawari anaknya.
"Mau Ma. Tapi aku mau sekalian bikin susu hangat." Amira hendak berdiri tapi ditahan oleh Ibunya.
"Biar Ibu bikinin sekalian." kata Rahayu.
"Makasih ya Bu." Amira kembali duduk.
"Nih.. Susu hangat dan siomaynya." Rahayu membawa sepiring siomay dan susu hangat. Mereka berdua menikmati siomay sambil mengobrol ringan.
Keesokan harinya Amira sedang berjalan menuju dapur hendak mengambil minum. Dia tak melihat lantai yang masih basah karena Rahayu baru selesai ngepel.
Rahayu yang sedang di sumur membersihkan air bekas pel pun segera berlari masuk.
"Ya Allah Nak. Kamu kenapa ?" Rahayu segera menghampiri Amira yang terduduk di lantai.
"Sakit Bu.. Perut Ara sakit.." kata Amira.
"Ya Allah Nak. Kamu pendarahan." Rahayu membantu Amira berjalan ke kursi.
"Bu, tolong telpon taksi, untuk antar aku ke rumah sakit." kata Amira. Belum sempat Rahayu menuju meja telepon, tampak Alif datang.
"Assalamualaikum." Alif memberi salam.
"Waalaikumsalam. Kebetulan kamu datang Lif. Tolongin Amira, dia jatuh di dapur, pendarahan." Rahayu terlihat panik.
"Ya Allah. Kok bisa sih ?" Alif lalu berlari menghampiri Amira dan langsung mengangkatnya ke mobil.
"Mas, perut aku sakit.." keluh Amira sebelum akhirnya pingsan.
"Bu, kita ke rumah sakit ya. Ibu ikut aja." kata Alif.
Rahayu segera mengambil jaket dan hijab instan lalu mengunci rumah dan masuk ke mobil.
Untungnya di depan komplek ada rumah sakit, jadi Amira dapat segera ditangani.
Alif tampak mondar mandir di depan ruang IGD. Dia gelisah menunggu kabar mengenai kondisi Amira dan janin dalam kandungannya.
"Kamu duduk dulu Lif. Ibu makin pusing lihat kamu mondar - mandir gitu." tegur Rahayu.
"Maaf Bu." Alif lalu duduk di samping Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Dok, gimana kondisi istri dan anak saya." Alif langsung bertanya begitu melihat dokter keluar dari ruangan.
"Alhamdulilah kondisi bu Amira dan bayi dalam kandungannya bisa diselamatkan. Untungnya tadi cepat dibawa kemari." jawab dokter.
"Syukurlah dok. Anak dan cucu saya baik - baik saja." kata Rahayu.
"Untuk sementara Bu Amira harus bedrest ya Pak, Bu. Sampai kondisi kandungannya pulih." dokter kembali menjelaskan.
"Apa boleh bedrest di rumah dok ?" tanya Alif.
"Boleh saja Pak. Tapi harus benar - benar bedrest. Hanya boleh turun saat ke kamar mandi saja. Itupun harus ditemani." kata dokter.
"Baik. Terima kasih dok." kata Alif.
Alif dan Rahayu masuk ke bilik perawatan Amira di IGD. Dilihatnya Amira sedang tertidur.
"Sus, Apa istri saya sudah boleh pulang ?" tanya Alif pada perawat.
"Bu Amira boleh pulang setelah bangun nanti. Sekarang masih tertidur setelah diberi obat." jawab perawat.
"Makasih ya Sus." kata Alif.
"Silahkan Bapak urus administrasinya biar nanti begitu Bu Amira bangun bisa langsung pulang." kata Perawat. Alif mengangguk dan menghampiri Ibu mertuanya.
"Bu, urus administrasinya dulu ya." pamit Alif.
"Iya Nak." jawab Rahayu.
Tak lama Amira terbangun.
"Aku dimana Bu ?" tanya Amira.
"Kamu pingsan tadi Nak. Ini di IGD." Rahayu mengusap kepala Amira.
"Iya Bu. Tapi anak aku baik - baik saja kan ?" tanya Amira.
"Alhamdulilah. Tapi kamu harus bedrest." kata Rahayu.
"Mas Alif mana Bu ? Tadi aku kayak lihat Mas Alif." tanya Amira.
"Alif masih urus administrasi. Bentar lagi juga kesini kok." jawab Rahayu.
Benar saja, tak lama kemudian Alif sudah datang.
"Hai sayang. Kamu sudah sadar ?" tanya Alif sambil membelai kepala sang istri.
"Alhamdulilah Mas. Maafin aku bikin kalian khawatir." kata Amira.
"Gak apa. Untung aku datang di waktu yang tepat Jadi kamu dan anak kita bisa tertolong." kata Alif.
"Aku mau pulang Mas." kata Amira.
"Iya. Kita pulang sekarang ya Bentar aku panggil suster dulu." kata Alif.
Setelah diperiksa oleh perawat, Amira pun diperbolehkan pulang. Mereka pun pulang dan sepakat untuk tinggal di rumah Rahayu sampai Amira melahirkan.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. Ada juga cerita baru "Tiga Dara". Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Like π Komen dan Vote ββ
__ADS_1
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ