Geng Pelangi

Geng Pelangi
(Amira) Hamil


__ADS_3

#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan segera Othor tamatkan. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.


Jangan lupa bagi bunga 🌹atau kopi β˜• nya biar semakin semangat buat nulis.. #


...***...


Sejak pagi Amira merasakan mual - mual. Bahkan beberapa kali muntah di kamar mandi, meskipun yang keluar hanya air saja.


"Kamu kenapa Ra ?" tanya Alin, Ibu mertuanya.


"Gak enak badan Ma. Masuk angin sepertinya." jawab Amira sambil membasuh mukanya.


"Mama bikinin teh hangat ya." kata Alin.


"Gak usah Ma. Nanti biar Ara bikin sendiri." Amira tak mau merepotkan Alin.


"Kamu gak hubungin suamimu biar diantar ke dokter ?" tanya Alin.


"Cuma masuk angin Ma. Nanti juga sembuh kok." jawab Alin.


"Iya deh. Mama mau ke kamar dulu ya." kata Alin.


"Mama gak mau dibuatin teh jahe sekalian ?" Amira menawarkan.


"Boleh. Gulanya dikit aja ya." kata Alin sebelum. masuk ke kamar.


Entah kenapa Amira merasa pusing mencium bau beras dan bumbu masakan.


Untungnya hari itu pembantu mereka datang, jadi sekalian minta tolong dibuatkan masakan.


"Kamu tiduran aja Ra." titah Alin.


"Dibawa tidur malah pusing Ma. Aku ngerjain yang lain ajalah." Amira hendak mengambil setrikaan.


"Udah kamu duduk aja nonton tv sama Mama." Alin menarik tangan Amira.


Amira pun duduk di samping Alin yang sedang melihat sinetron favoritnya.


"Kata Mama kamu tadi muntah - muntah Sayang ?" tanya Alif yang baru pulang kerja sore harinya.


"Masuk angin aja Mas." jawab Amira.


"Yakin kamu ?" tanya Alif.


"Kayaknya sih. Emang kenapa ?" Amira balik bertanya.


"Coba kamu cek jadwal tamu bulanan kamu. Kayaknya bulan ini kamu bersih terus." kata Alif sebelum masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Amira segera membuka kalender haid nya. Dilihatnya sudah hampir 2 bulan dia belum mendapatkan haid. Merasa kurang yakin, takut lupa mencatat, Amira membuka lemari kecil di bawah meja riasnya. Dilihatnya sebungkus pembalut yang masih utuh.


"Berarti benar, Bulan kemarin aku gak haid." gumam Amira lirih.


Tak lama Alif keluar dari kamar mandi.


"Gimana Sayang ?" tanya Alif ketika melihat Amira tampak melamun.


"Mas, Ternyata benar, bulan kemarin aku gak haid." jawab Amira.


"Berarti benar kamu hamil ?" Alif tampak antusias.


"Kita tunggu bulan ini Mas. Ini udah mulai telat sih." kata Amira.


"Aku beliin tespek buat kamu ya." Alif berinisiatif.


"Boleh Mas. Tapi jangan heboh dulu sampai kita tahu hasilnya." Amira mengingatkan.

__ADS_1


"Iya Sayang. Aku keluar ke apotek dulu." Alif mengambil kunci motor lalu keluar kamar. Amira mengikuti suaminya.


"Kamu mau kemana Lif ?" tanya Alin.


"Mau ke apotek dulu Ma. Vitaminku habis." Alif beralasan.


"Mama titip obat batuk ya. Tenggorokan Mama udah gak enak nih." kata Alin.


"Iya Ma." jawab Alif.


"Beliin obat herbal untuk masuk angin juga buat istrimu." kata Alin lagi.


"Siap Ma. Ada lagi ?" tanya Alif sebelum pergi.


"Gak ada." jawab Alin.


"Mas, beliin gorengan dong yang di ujung gang." pinta Amira.


"Oke sayang. Lucu banget ngidamnya gorengan." Alif mengusap perut datar Amira.


"Sstt.. Jangan kenceng - kenceng ngomongnya. Nanti Mama denger." Amira mengingatkan.


"Kamu masih gak enak badan ?" tanya Alin.


"Udah mendingan sih Ma. Tapi masih kembung." jawab Amira.


"Mau Mama kerokin biar anginnya keluar ?" Alin menawarkan.


"Gak usah Ma. Ara mau bikin teh hangat aja. Mama mau Ara bikinin sekalian ?" tanya Amira.


"Boleh Teh aja, gulanya dikit. Buat Papa juga ya." kata Alin.


Amira menuju dapur untuk membuat teh hangat untuk mertua dan dirinya serta kopi untuk Alif.


"Wah.. Nikmat banget ini, Ada gorengan dan teh hangat." kata Azis, Papanya Alif.


"Iya dong Pa. Sore - sore gini kan enaknya makan gorengan." Alif langsung menyomot gorengan yang masih hangat.


"Yang, mana obatnya. Aku simpan ke kamar." tanya Amira.


Alif lalu memberikan kantong berisi obat yang dibelinya di apotek tadi.


"Obat Mama jangan dibawa juga dong." kata Alin.


"Oh iya Ma. Ini obat Mama." Amira mengeluarkan obat batuk untuk ibu mertuanya.


"Amira sakit ?" tanya Azis.


"Masuk angin Pa." jawab Alif.


"Kamu apain dia. Bahkan wajahnya sampai pucat gitu. Hehehe." sindir Azis.


"Iya Pa. Kasihan tadi pagi dia muntah - muntah." Alin menceritakan kejadian tadi pagi.


"Dikasih enak malahan Pa. Hahaha." canda Alif.


"Kamu nih. Kasihan dong, jangan diforsir. Mentang - mentang istri kamu udah gak kerja, jadi seenaknya aja." Alin mencubit lengan anak bungsunya itu.


"Becanda Ma. Emang kecapekan aja. Hawanya kan emang lagi gak jelas gini." kata Alif.


"Iya juga ya." kata Alin.


"Amira mana ya ? Kok gak keluar kamar lagi ?" gumam Alif.


"Kamu lihat ke kamar. Takutnya dia pingsan." titah Alin.

__ADS_1


Alif bergegas menuju kamar. Dilihatnya Amira tertidur di ranjang.


"Sayang, kamu kenapa ? Kok malah tidur ?" Alif khawatir dengan kondisi istrinya.


"Pusing Mas. Barusan abis muntah lagi." jawab Amira lemas.


"Ya ampun. Kamu udah periksa belum ?" tanya Alif.


"Belum. Aku gak kuat berdiri lama. Pusing." jawab Amira.


"Ya udah kamu istirahat aja. Mau aku bawain gorengan kesini ?" tanya Alif.


"Gak usah. Aku udah makan tadi." tolak Amira.


"Katanya minta gorengan tapi cuma dimakan sedikit ?" cecar Alif.


"Tadi pengen. Tapi makan satu langsung eneg." jawab Amira.


"Ya udah. Aku bawain teh hangat kamu ya." kata Alif.


"Bawain air putih hangat aja Mas." kata Amira.


"Oke." Alif bergegas keluar kamar untuk mengambil air putih hangat.


"Istri kamu kenapa ?" tanya Alin.


"Pusing Ma. Sekarang lagi istirahat." jawab Alif.


"Kalo besok belum membaik, kamu bawa ke dokter aja." usul Azis.


"Iya Pa." jawab Alif singkat.


Saat Alif masuk ke kamat, tak dilihatnya sang istri di ranjang. Dari arah kamar mandi terdengar suara air mengalir.


"Sayang, kamu baik - baik aja kan ?" Alif coba membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci.


"Mas, tolong kamu celupin tespeknya ya. Aku udah pipis tadi." kata Amira sambil menunjuk cawan berisi air seni dan alat tespek.


Alif lalu mengambil alat tespek itu. Ditunggunya beberapa saat sesuai petunjuk lalu dilihatnya ada dua garis merah yang tampak jelas. Dibacanya kembali petunjuk di kemasan.


"Yang, kamu hamil..." Alif berseru bahagia.


"Yakin Mas ? Kamu udah baca petunjuk dengan benar ?" tanya Amira.


"Iya sayang. Disini tertulis kalo muncul dua garis merah artinya positif hamil." Alif memperlihatkan pada Amira.


"Alhamdulilah. Akhirnya aku hamil juga Mas." Amira memeluk Alif dengan erat.


"Iya sayamg. Akhirnya kita diberi amanah juga." bisik Alif sambil menciumi kepala Amira.


Mereka berdua masih berpelukan meluapkan kebahagiaan dan rasa syukurnya.


...***...


Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopiβ˜• 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.


Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. Ada juga cerita baru "Tiga Dara". Kalian juga bisa buka di bio saya ya..


Like πŸ‘ Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2