
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah cerita ini akan segera Othor tamatkan. Doakan ya semoga othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca πππ
...***...
Hari ke hari Sissy semakin dekat dengan Teddy. Meskipun mereka masih menutupi hal ini dari yang lain, karena mereka juga belum resmi pacaran. Sissy biasa menceritakan kedekatannya dengan Teddy pada Penny. Begitupun Penny, dia kerap bercerita kisahnya dengan Chef Putra. Bahkan Penny pernah menghabiskan malam bersama dengan Putra. Sissy tak mau ambil pusing dengan gaya pacaran temannya itu. Dia hanya murni berteman.
"Ka, tumben kamu di mess ?" tanya Sissy pada Eka, anak buahnya.
"Iya teh. Kan aku libur hari ini." jawab Eka.
"Biasanya kalo libur kamu pulang ke Singaraja." kata Sissy.
"Lagi males aja." kata Eka singkat.
"Ooh.. Beli makan yuk Ka." ajak Sissy. Eka pun mengiyakan.
Hari ini di mess hanya ada mereka berdua.
Keduanya berjalan menuju warung nasi terdekat.
"Teh, masih deket sama Teddy ?" tanya Eka.
"Masih. Emang kenapa ?" Sissy balik bertanya.
"Hati - hati aja ya Teh. Jangan sampai Teteh tersakiti." Eka mengingatkan Sissy.
"Maksud kamu apa ?" Sissy bingung dengan ucapan Eka.
"Nanti Teteh juga tahu sendiri." kata Eka.
Sissy hanya terdiam sambil berusaha mencerna ucapan Eka.
"Ah.. Entahlah. Aku jalanin aja apa yang ada di depan mata." gumam Sissy dalam hati.
Sore hari Sissy berjalan kaki menuju ke resto. Jarak antara resto dan Mess memang hanya sekitar 300 meter. Sissy melewati gang sempit untuk sampai ke resto. Sebenarnya ada jalan yang lebih lebar yang bisa dilewati kendaraan, tapi harus sedikit memutar.
"Selamat sore." sapa Sissy saat memasuki restoran.
"Sore bu bos." balas Hera.
"Iish.. Lebay kamu. Aku simpan tas dulu ke atas." kata Sissy. Hera hanya tersenyum menanggapi. Sissy menuju ke lantai 3 tempat loker karyawan. Dia juga melewati kantor, dimana ada Yanto dan Teddy yang sedang ngobrol santai.
"Woii... Kerja.. Jangan ngerumpi mulu." sindir Sissy.
"Siapa yang ngerumpi ceu. Kita lagi bahas soal event minggu depan." Yanto membela diri.
"Oooh.. Ada event apa emangnya ?" tanya Sissy lalu duduk di sebelah Teddy.
"Ada yang booking buat makan siang, 50 pax." Yanto menjelaskan.
__ADS_1
"Wah.. keren. Asik tuh." kata Sissy.
"Kita lagi diskusiin soal layoutnya nih. Nanti juga bakal meeting soal pilih menunya." kata Teddy.
"Ya udah. Kita harus diskusiin secara maksimal. Kapan ?" tanya Sissy.
"Sore ini gimana ?" usul Teddy.
"Gue sih oke - oke aja. Penny masuk apa ?" tanya Yanto.
"Masuk pagi. Kan kamu bareng dari tadi Mas." jawab Sissy sambil mengomel pada Yanto.
"Iya juga ya. Kenapa gue lupa." Yanto menepuk dahinya sendiri. Sissy dan Teddy hanya tertawa melihat tingkah Yanto, si cowok bertulang lunak.
"Oke. Aku turun deh. Sekalian kabarin Teh Penny." Sissy hendak bangkit menuju area restoran.
"Entar dulu. Sini bantuin bikin layout dulu. Mas Yanto mah gak beres - beres dari tadi." Teddy menarik tangan Sissy untuk duduk kembali.
Mereka bertiga pun mendiskusikan layout ruangan untuk acara makan siang itu. Sebelah tangan Teddy terus menggenggam tangan Sissy sambil sesekali mengusapnya lembut.
"Kita lanjutin nanti ya. Udah waktunya briefing Mas." Sissy mengingatkan.
"Iya sampai lupa waktu." Yanto melihat jam tangannya yang menunjukkan waktunya pergantian shift. Setiap awal hari atau pergantian shift akan dilakukan briefing. Begitupun saat akhir shift sebelum menutup resto.
Selesai briefing, shift pagi bersiap untuk pulang. Menyisakan Sissy, Ami, Sani yang bertugas di shift sore. Anak kitchen shift pagi juga sudah pada pulang termasuk Penny.
"Belum pulang Ted ?" tanya Sissy saat hendak menuju mushola.
"Bentar lagi Ris. Kamu mau ngapain ?" Teddy balik bertanya.
Sissy segera mengambil wudhu dan menjalankan kewajibannya. Hidup di kota oramg membuat Sissy lebih mendekatkan diri pada yang maha kuasa.
"Ris.. Sini dulu bentar. Aku kangen." panggil Teddy saat Sissy melewati kantor.
"Apaan sih Ted. Kasian Ami sendirian di bawah." tolak Sissy.
"Kan ada Sani." kata Teddy yang langsung memeluk Sissy dari belakang.
"Lepasin Ted. Nanti ada yang lihat." Sissy berusaha melepaskan diri dari pelukan Teddy. Hati kecil Sissy mulai meragukan niat Teddy mendekatinya.
"Ted.. Pulang yuk, gue nebeng." tiba - tiba terdengar suara Penny mendekat.
"Eh.. Iya Teh. Bentar." jawab Teddy yang langsung melepaskan pelukannya pada Sissy.
"Ris.. Kamu disini ?" tanya Penny sambil menatap tajam pada Sissy.
"Iya. Abis sholat." jawab Sissy sambil meninggalkan ruang kantor.
Dilihatnya ruang resto sudah ramai oleh pengunjung.
"Kok lama Teh ?" protes Ami.
"Iya. Tadi ngobrol bentar soal acara minggu depan." Sissy beralasan.
__ADS_1
"Ngobrol apa ngobrol ?" sindir Sani sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sissy.
"Udah.. Udah.. Lagi rame nih. Aku di kasir ya Mi." kata Sissy.
"Iya Teh." kata Ami.
Malam harinya Sissy pulang bersama Sani. Mereka jalan kaki menuju Mess.
"Teh,, Kita ke toko dulu yuk." Sani tiba - tiba menarik tubuh Sissy berbalik menuju jalan lain.
"Apaan sih San ?" protes Sissy.
"Aku mau beli minuman sama camilan. Tadi lupa." Sani berusaha menarik tangan Sissy untuk menjauh dari Mess.
"Ada apa emangnya ?" Sissy curiga dengan gelagat Sani yang seolah menyembunyikan sesuatau di depan Mess. Sissy segera menoleh ke arah Mess. Benar saja dilihatnya Teddy dn Penny sedang dudul berduaan di depan Mess. Meski di tempat yang agak gelap, tapi Sissy masih bisa melihatnya dengan jelas. Bahkan terlihat Penny sedang memeluk dan mencium pipi Teddy.
"Teh.. Are you okay ?" tanya Sani khawatir.
"No. Aku gak baik San." jawab Sissy lemas.
"Kita duduk dulu Teh." Sani membantu Sissy duduk di bangku depan warung nasi yang sudah tutup.
"Temani aku disini dulu ya San. Aku masih shock." kata Sissy.
"Iya Teh. Aku bakal temani Teteh." kata Sani.
Mereka berdua terdiam dan larut dalam pikiran masing - masing.
"Kamu lihat ? Sejak kapan mereka seperti itu ?" tanya Sissy setelah sekian lama mereka saling diam.
"Aku gak tau Teh. Cuma tadi terlihat jelas." jawab Sani.
"Kenapa mereka tega sama aku ?" gerutu Sissy.
"Teteh udah pacaran sama Teddy ?" tanya Sani.
"Alhamdulilahnya belum. Allah masih sayang sama aku. Tapi tetep aja sakit San. Apalagi orang yang aku anggap sahabat menusuk aku dari belakang. Padahal aku selalu cerita semuanya sama dia." curhat Sissy.
"Yang sabar ya Teh. Aku gak tau harus bantuin apa." Sani mengusap punggung Sissy untuk menguatkan.
"Kamu temenin aku aja dan toling rahasiakan soal semuanya." kata Sissy sambil menghapus sisa airmatanya.
"Pasti aku jaga rahasia ini Teh." kata Sani.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. Ada juga cerita baru "Tiga Dara". Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Like π Komen dan Vote ββ
__ADS_1
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih πππ