
"Si, nanti gue mau keluar sama Cahyo." Pipit menghampiri Sissy yang sedang menikmati batagor di kantin.
"Ya terus ?" Sissy menatap Pipit sekilas lalu melanjutkan makannya.
"Kalo Arik telpon ke kost an loe bilang aja gue lagi keluar beli makan gitu." kata Pipit.
"Kamu nyuruh aku bohongin Arik ?" tanya Sissy.
"Ayolah Si. Arik cuma percaya sama loe. Cahyo mau traktir gue makan sama shopping Si." kata Pipit.
"Terserah kamu aja deh." Sissy menjawab ogah - ogahan.
"Makasih ya Sissy ku sayang." Pipit memeluk Sissy dan kemudian meninggalkannya.
"Ngapain lagi si centil ?" tanya Ika yang datang membawa semangkuk pempek.
"Biasalah. Mau jalan sama Cahyo, aku yang disuruh bohong sama Arik." jawab Sissy.
"Kebiasaan banget tuh anak. Mau enaknya aja." gerutu Wulan yang ikut gabung dengan mereka.
"Kamu harus tegas Si. Jangan mau di jadikan tameng terus." kata Ika lagi.
"Iya sih. Aku males ribut aja." kata Sissy.
"Ka, itu ada Yayan." kata Wulan.
"Pasti nyariin gue." Ika langsung membalikkan badan dan memanggil Yayan.
"Udah samperin aja sono." kata Sissy.
"Gue kesana dulu ya." Ika langsung menghampiri Yayan, kekasihnya.
"Huh.. Semuanya sibuk pacaran. Kasian banget Aku yang Ldr ini." Sissy menggerutu.
"Lagian suruh siapa nungguin pacar yang jauh dimana." ledek Wulan.
"Iya juga ya. Kalo dipikir - pikir ngapain Aku nungguin Edwin yang sudah lama gak hubungin dia." gumam Sissy dalam hati.
"Lah.. Malah ngelamun. Mikirnya Yayang yang jauh disana ?" goda Wulan.
"Hehehe. Iya. Udah lama gak hubungin aku." kata Sissy.
"Kamu harus tegasin hubungan kalian. Mau lanjut atau gak ?" kata Wulan.
"Tapi Aku gak bisa hubungin dia." jawab Sissy.
"Berarti kamu harus kasih tenggat waktu buat diri kamu sendiri. Sampai kapan kamu mau nungguin gak jelas gini." kata Wulan lagi.
"Iya Lan. Kalo 3 bulan dia gak hubungin aku. Berarti aku anggap kami putus." kata Sissy.
"Gitu dong. Semangat ya." Wulan menepuk bahu Sissy.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Si, Lu ngomong apa kemarin ke Arik ?" Pipit yang baru datang langsung marah - marah ke Sissy.
"Aku gak ngomong apa - apa. Lagian Arik gak telpon aku kok." jawab Sissy.
"Yakin lu gak ngobrol sama Arik ?" Pipit masih belum percaya dengan ucapan Sissy.
__ADS_1
"Yakinlah. Lagian ngapain juga aku comel ke pacar kamu. Kenal juga gak." Sissy mulai kesal dengan tuduhan Pipit.
"Lu kenapa sih Pit ? Baru datang langsung marah - marah." Wulan menghampiri mereka. Ika juga menyusul di belakangnya.
Pipit pun menceritakan tentang Arik yang marah padanya.
flashback on
Sore itu Pipit sedang jalan berdua sama Cahyo di Mall. Pipit yang memang dasarnya matre sengaja minta dibelikan baju dan parfum ke Cahyo. Pipit pun membiarkan Cahyo merangkul dan menggandeng tangannya.
"Yo, Gue pengen beli baju yang itu. Beliin ya ?" pinta Pipit pada Cahyo.
"Boleh aja. Lu pilih aja baju yang lu suka." Cahyo tersenyum pada Pipit.
"Yang ini aja deh Yo." Pipit mengambil sebuah baju yang memang sudah diincarmya sejak lama.
"Boleh. Gue mau beli parfum. Lu mau juga ?" tanya Cahyo sambil menarik Pipit ke counter Parfum yang cukup terkenal.
"Mau lah. Yo, Aku pilihin ya parfum yang cocok buat kamu." kata Pipit tanpa malu.
Tanpa pipit sadari sepasang mata mengawasinya selama di Mall. Sosok itu hanya diam saja tak mendekat dan hanya mengawasi dari kejauhan.
Setelah belanja, mereka pun menuju ke bioskop unyuk membeli tiket. Saat antri, Pipit merasa ada seseorang yang mengawasinya dari belakang. Saat menoleh ternyata tak ada sooak yang dikenalnya. Padahal saat itu sang penguntit bersembunyi di balik tiang yang ada di tengah lobby bioksop.
"Lu kenapa ?" tanya Cahyo yang melihat Pipit kebingungan.
"Kayak ada yang ngikutin kita deh Yo." jawan Pipit.
"Kayak artis aja lu pake diikuti segala." ledek Cahyo.
"Ya siapa tau ada fans gue. Hehehe." Pipit tertawa untuk menutupi rasa khawatirnya.
Dia khawatir kalo Arik memergoki dan mengikutinya. Ya, memang saat itu Arik sedang mengikuti Pipit. Dia menunggu sampai Pipit dan Cahyo menghilang di dalam ruang bioskop.
"Pit, abis ini kita makan ya." ajak Cahyo setelah mereka keluar dari ruang bioskop.
"Asik. Tau aja gue udah laper." jawab Pipit sambil bergelayut manja pada Cahyo.
Pipit menatap sekitarnya mencari apa masih ada orang yang mengikutinya.
Cahyo mengantar Pipit sampai di depan gang rumahnya.
"Makasih Yo. Udah ngajakin gue jalan." kata Pipit sebelum turun dari mobil Cahyo.
"Sama - sama Pit. Lain kali kita jalan lagi ya." Cahyo tersenyum pada Pipit.
"Oke. Bye Yo." Pipit langsung turun dari mobil. Tak lupa dia melambaikan tangannya hingga mobil Cahyo hilang dari pandangan. Pipit berjalan riang menyusuri gang menuju ke rumahnya. Menang banyak dia hari ini. Udah dibeliin baju, parfum, diajak nonton, makan, tadi pun dikasih uang sama Cahyo.
"Lumayan buat traktir Sissy besok." batin Pipit.
"Dari mana Lu ?" sebuah suara bariton bergema di rumahnya. Pipit langsung menoleh dan melihat sosok Arik disana.
"Dari kost an Sissy. Kan gue dah bilang tadi pagi." jawab Pipit santai berusaha menutupi groginya.
"Bohong." kata Arik sambil menatap tajam pada Pipit.
"Kalo gak percaya tanya aja sama Sissy. Gue sama dia kok tadi." Pipit mencari alasan.
"Terus yang jalan di Mall sambil gandengan tangan, beli baju, beli parfum trus nonton itu siapa ?" Arik sudah berdiri menghampiri Pipit dengan mata yang menyala menahan marah.
__ADS_1
"Lu kok tau ? Lu ngikutin gue ya ?" Pipit balik membentak Arik. Pantang baginya untuk mengakui kesalahan.
"Kalo iya memangnya kenapa ? Lu pikir gue masih percaya kalo lu bilang ke kosan Sissy ?Alasan lu udah basi." Arik menyudutkan Pipit sampai ke tembok.
"Gue cuma jalan sama temen gue." Pipit mulai takut dengan sikap Arik.
"Masih bisa ya lu bohongin gue. Kurang apa gue sama lu. Lu mau apa pasti gue beliin." Bentak Arik. Sayangnya di rumah saat itu sedang tidak ada orang hingga tak ada yang membela Pipit.
"Gue cuma manfaatin dia aja Rik. Gue cintanya cuma sama lu." Pipit coba membela diri.
"Dasar cewek sialan. Kurang ajar lu." tangan Arik sudah terangkat hendak menampar Pipit. Pipit sudah ketakutan melihat sikap Arik.
"Assalamualaikum." suara salam dari Emak menyelamatkan Pipit.
"Waalaikumsalam." Pipit langsung berlari menyambut Emak.
"Lagi ada nak Arik ? Kamu kasih minum dong." Kata Emak tersenyum pada Arik.
"Gak usah Mak. Saya sudah mau pulang kok." Arik langsung menuju pintu keluar. Pipit hanya diam saja di sebelah Emak. Bahkan tanpa disadari dia sudah memegang erat lengan Emak.
"Kamu kenapa Sayang ?" tanya Emak sambil menatap putri bungsunya itu.
"Gak apa - apa Mak. Pipit gak enak badan. Mau ke kamar." Pipit bergegas mengambil tasnya dan menuju ke kamarnya.
"Iya. Kamu istirahat dulu." kata Emak sambil memperhatikan punggung putrinya.
flashback off
"Syukurin Lu." kata Wulan.
"Ya ampun Pit. Udah tau Arik suka kasar kenapa lu malah cari perkara sih ?" tanya Ika sambil mengusap lembut punggung Pipit.
"Ya karena itu gue nyari pelampiasan ke cowok lain." jawab Pipit.
"Gak gitu juga caranya kali neng." kata Ika.
"Terus gue harus gimana ?" tanya Pipit sambil menatap ketiga sahabatnya.
"Pertama lu bicarain baik - baik ke dia tentang sikap kasarnya." kata Ika.
"Kedua, Kamu jangn lagi libatin aku dengan masalah kalian." Sissy ijut menambahkan.
"Kalo emang dia gak bisa berubah, ya lu tinggalin aja." Wulan ikut menasehati Pipit.
"Bener juga ya. Sorry ya Si gue udah marah ke elu tadi." kata Pipit.
"It's okay. Asal jangan diulangi lagi." Sissy menepuk bahu Pipit lembut.
"Makasih ya kalian masih mau nasehatin gue." Pipit menatap ketiga sahabatnya bergantian.
"Meski kayak gini juga lu tetep sahabat kita kok." kata Wulan sambil mengacak rambut Pipit.
"Maksud lu ? Gue ancur gitu ?" protes Pipit.
"Itu lu tau. Hahaha." Wulan menertawakan sahabatnya itu. Yang lain pun ikut menertawakan Pipit. Bahkan Pipit pun ikut menertawakan tingkahnya sendiri.
That's what friend are for. Apapun tingkah kita, sahabat akan menerima dan memberikan nasehatnya, bukan menjauhinya.
Jangan lupa Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
__ADS_1
ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏