
Hari ini Zizi sedang bersiap untuk berangkat kuliah. Tak lupa Zizi menyempatkan diri untuk sarapan bersama kedua orangtuanya dan adiknya.
"Kamu kuliah pagi Kak ?" tanya Mami Liana.
"Iya Mi. Hari ini ada dosen tamu." jawab Zizi.
"Tumben banget Kak ?" Papi ikut bertanya.
"Iya Pi. Ini dosen tamunya seorang pengusaha muda yang mau berbagi pengalaman." kawab Zizi.
"Kak, Mami minta tolong sekalian antar Fajar ya." pinta Liana.
"Kenapa harus aku yang antar sih Mi ?" tanya Zizi.
"Sopir jemputannya lagi sakit. Mami gak bisa antar dia, kan mobilnya masih di servis." Liana menjelaskan.
"Kenapa Kakak gak mau nganter aku sih ?" Fajar sedikit kesal dengan sikap kakaknya.
"Males aja harus muter dikit." Zizi memberi alasan. Padahal sebenarnya dia malas harus mengantar adiknya yang sangat manja itu. Zizi heran, Fajar sudah SMP tapi masih aja dimanja sama Maminya.
"Kak, Mami minta tolong ya kamu antar Fajar sampai depan sekolahnya." Liana menegaskan lagi.
"Iya Mi. Ayok Dek cepetan. Biar aku gak telat." Zizi bangkit dan mengambil tasnya.
Zizi menciun tangan Papi dan Mami nya. Lalu menuju ke mobil diikuti oleh adiknya.
"Kakak gak ikhlas ya nganter aku ?" tanya Fajar saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Biasa aja. Emang kenapa ?" Zizi balik bertanya.
"Kalo gak ikhlas biar aku turun disini aja. Aku bisa kok naik angkot." kata Fajar.
"Gak lah. Aku antar kamu sampai depan sekolah." kata Zizi.
"Aku tuh sebenarnya udah mulai risih diantar jemput terus. Padahal aku bisa kok berangkat sendiri." curhat Fajar.
"Sabar ya dek. Mami emang gitu, manjain kamu berlebihan." Zizi coba menenangkan adiknya.
"Kalo udah punya sim aku juga mau bawa motor sendiri." kata Fajar lagi.
"Sabar, 2 tahun lagi kamu bisa punya Sim." kaat Zizi sambil tersenyum.
"Iya Kak." jawab Fajar singkat.
Tak lama mereka sampai di depan sekolah Fajar.
"Fajar sekolah dulu ya Kak. Makasih udah nganterin." Fajar pamit pada kakaknya.
__ADS_1
"Dek, Maafin Kakak ya karena udah judes sama kamu. Ternyata memang Mami yang erlalu manjain kamu." kata Zizi sebelum Fajar turun.
"Iya Kak. Gak apa - apa. Yang penting sekarang Kakak tau aku maunya kayak gimana." kata Fajar lalu masuk ke gerbang sekolahnya.
Zizi menatap punggung sang adik sejenak. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju kampus.
Parkiran kampus sudah terlihat penuh, ketika Zizi sampai.
"Kayaknya udah penuh nih aulanya." gumam Zizi.
Ternyata benar dugaan Zizi, ruang aula yang digunakan untuk kuliah umum sudah mulai penuh. Hanya tersisa beberapa baris di bagian tengah.
"Hai Zi, baru nyampe juga ?" sapa Vero, teman sekelasnya, yang menepuk bahunya dari belakang.
"Syukurlah ada kamu. Jadi ada temennya deg. Kita duduk disana yuk." Zizi menarik tangan Vero ke bangku yang kosong.
"Gila nih cewek - cewek. Pada heboh mau dapet kuliah dari pengusaha muda yang ganteng." kata Vero sambil geleng - geleng kepala.
"Iya. Sampai berebut kursi di depan." kata Zizi.
"Belum tau aja mereka kalo selera pengusaha bukan anak kuliahan." kata Vero lagi.
"Emang seleranya kayak gimana ?" tanya Zizi.
"Ya biasanya sih model atau pramugari. Yang tinggi langsing lah pokoknya." jawab Vero ngasal.
"Apalagi aku yang bantet gini. Dilirik pun enggak deh." canda Vero.
"Ehem.. Kalian mah masuk kok sama kriteria aku." celetuk sebuah suara di belakang mereka.
Sontak keduanya pun menolehkan kepalanya ke belakang.
"Bagus..." seru Vero melihatnya sepupunya itu.
"Hai Ver.." sapa Bagus.
"Kamu ikut kuliah ini juga ?" tanya Vero.
"Iya. Lumayan bisa nambah nilai lah." jawab Bagus.
"Iya aku juga. Kamu pindah sini dong." Vero menunjuk bangku di sebelah Zizi yang masih kosong.
"Punya temen cakep kok gak bilang - bilang sih ! Kenalin dong Ver ?" kata Bagus sambil menatap Zizi.
"Oh iya. Kenalin ini Zizi, teman sekelas aku. Zi, ini Bagus, sepupu aku, anak ekonomi." kata Vero.
Zizi pun berkenalan dengan sepupu Vero yang cukup ganteng di matanya. Sambil menunggu dosen tamu datang, Bagus pun mengajak Zizi dan Vero ngobrol. Sesekali dia mengeluarkan rayuan buat Zizi. Vero hanya tersenyum melihat interaksi keduanya. Mereka akhirnya terdiam saat kuliah tamu dimulai.
__ADS_1
"Emang beneran ganteng Zi." bisik Vero.
"Iya Ver. Pantesan pada pengen duduk di depan semua." balas Zizi dengan berbisik pada Vero.
"Zi, boleh minta nomer ponsel kamu kan ?" kata Bagus saat mereka sedang menikmati makan siang di kantin seusai kuliah tamu tadi.
"Boleh." Zizi pun menyebutkan nomer ponselnya.
"Nanti aku hubungi ya." kata Bagus.
"Iya." jawab Zizi singkat.
"Ya udah aku pamit duluan ya. Masih ada kuliah. Makanannya udah aku bayarin juga." kata Bagus.
"Makasih ya traktirannya." kata Vero dan Zizi serempak.
"Kamu suka sama sepupu aku ?" tanya Vero setelah Bagus menjauh.
"Baru juga ketemu, masa udah langsung suka Ver." jawab Zizi.
"Ya kan bisa aja suka pada pandangan pertama." goda Vero.
"Belum lah. Tapi orangnya menarik juga." kata Zizi.
"Dia anaknya baik kok Zi. Gak rugi dekat sama dia." kata Vero.
"Ah masa ?" ledek Zizi.
"Aku jamin gak bakal nyesel deket sama dia." Vero malah memuji sepupunya.
"Iya. Liat aja nanti." kata Zizi sambil tersenyum kecil.
"Sepertinya aku sudah jatuh cinta sama Bagus." gumam Zizi dalam hati.
...***...
Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopi☕ 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1