Geng Pelangi

Geng Pelangi
(Sissy) Putus


__ADS_3

Hari ini Sissy menunggu kedatangan kakaknya, Teh Ochy, yang sedang berkuliah di Bogor, Untuk menghabiskan libur kuliahnya di Malang.


Sissy masih berdiam di kamarnya sambil memikirkan apa yang akan terjadi saat dia ke rumah Edwin besok.


"Assalamualaikum." terdengar suara yang sangat dirindukan Sissy.


"Waalaikumsalam. Teteh... aku kangen.." Sissy langsung berlari menghampiri kakak tercintanya.


"Ade.. Kelakuan masih aja kayak gini. Mama mana ?" Ochy mengacak rambut adik kesayangannya.


"Ada di dapur Teh." jawab Sissy singkat. Sissy mengikuti Ochy yang berjalan ke dapur.


"Mama.. Assalamualaikum." Ochy langsung memeluk Yani yang sedang memasak.


"Waalaikumsalam. Teteh.. Mama kok gak denger kamu masuk ?" Yani mengusap wjaah Ochy dan mengecup pipinya.


"Mama sih lagi asik di dapur sampe gak denger aku kasih salam tadi." kata Ochy.


"Kamu sehat Teh ? Gimana kuliahnya ?" tanya Yani.


"Alhamdulilah baik Ma. Aa kemana Ma ?" tanya Ochy.


"Aa kan lagi interview kerja di Surabaya." jawab Yani.


"Ooh.. Ma, ini aku bawain oleh - oleh dari Bogor." Ochy membuka tasnya dan mengeluarkan keripik talas dan asinan buah.




"Asik.. Aku mau asinan nya Teh." Sissy langsung mengambil sebungkus asinan buah favoritnya.


"Ish kamu nih De. Biar Mama masukin kulkas dulu." Yani langsung mengambil asinan yang sudah dipegang anak bungsunya itu.


"Iya Ma." Sissy hanya manyun karena gagal makan asinan sekarang.


"Hahaha.. Sabar ya De. Nanti kamu main aja ke Bogor. Teteh ajak makan asinan sepuasnya." kata Ochy sambil membelai Sissy.


"Bener ya Teh. Nanti aku ke Bogor deh." kata Sissy.


"Iya. Pas libur kamu nanti nginep di kosan aku." kata Ochy.


"Siap." Sissy mencium sekilas pipi kakaknya.


"Teh, kamu gak pulang sama Genta ?" tanya Yani yang duduk di samping Ochy.


"Bareng kok Ma. Cuma Genta tadi langsung ke rumah Om nya. Nanti malam mampir kesini katanya." jawab Ochy.


"Iya. Ayo kita makan dulu." ajak Yani.


Mereka bertiga pun makan siang dengan ayam kecap yang dimasak Mama Yani khusus untuk anak keduanya itu. Ochy makan dengan lahap seakan belum makan seminggu.


"Masakan Mama enak banget seperyi biasanya." puji Ochy.


"Kamu nya aja yang rakus. Laper apa doyan itu ?" ledek Yani.


"Maklum lah anak kost jarang makan enak kayak gini. Apalagi harus ngirit Ma." keluh Ochy.


"Iya. Mumpung disini kamu bilang aja mau makan apa nanti Mama masakin." Yani tersenyum menatap putrinya.

__ADS_1


"Oke Ma." jawab Ochy sambil membalas senyum Mama nya.


"Aku kok gak ditawari makanan yang aku mau sih Ma ?" protes Sissy.


"Kamu mah meski kost juga makan enak terus." ledek Ochy.


"Eh.. Enak aja. Gak gitu juga kali Teh. Kan aku juga dijatah uang bulanannya." Sissy coba membela diri.


"Iya dikasih jatah bulanan. Tapi kalo habis kamu minta ke mamih kan ?" kata Ochy.


"Iya juga ya. Ah.. enggak gitu juga kok." kata Sissy.


"Udah.. udah.. jangan berantem. Kamu tuh De, gak sama Aa , gak sama Teteh berantem mulu." Yani coba melerai.


"Kok aku yang disalahin ? Kan Teteh dulu yang ledekin aku." kata Sissy.


"Iya deh." kata Yani mengalah.


"Ma, Ochy mau mandi terus rebahan dulu deh. Badan rasanya lengket dan pegel." kata Ochy.


"Iya. De, kamu jangan gangguin Teteh dulu. Biarin Teteh mau istirahat." Yani melarang Sissy yang hendak mengikuti Ochy ke kamar.


"Iya deh Ma. Aku nanti sore mau keluar ya Ma." kata Sissy sebelum masuk ke kamarnya.


"Mau kemana ?" tanya Yani.


"Keluar sama Amira. Main aja." jawab Sissy.


"Iya. Tapi pulangnya jangan malam - malam." pesan Yani.


"Iya Ma." jawab Sissy singkat.


"Ma, Ade pergi dulu ya, sekalian nyamperin Amira di rumahnya." pamit Sissy pada mamanya yang sedang berkebun.


"Iya. Hati - hati ya. Pulangnya jangan malam - malam." pesan Yani.


"Iya. Assalamualaikum." Sissy tidak mencium tangan Mamanya yang belepotan tanah.


"Waalaikumsalam." Jawab Yani sambil memandang punggung Sissy yang sudah menghilang dari pandangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sissy dan Amira sudah sampai di rumah Edwin.


Dilihatnya Edwin sedang duduk di teras bersama seorang perempuan.


"Assalamualaikum." Sissy memberi salam.


"Waalaikumsalam. Si.. Amira ?" Edwin kaget melihat kekasihnya itu tiba -tiba datang.


"Kapan pulang Win ? Kok gak ngabarin aku ?" Sissy langsung bertanya pada Edwin.


"Baru datang kemarin. Kamu udah disini ?" Edwin balik bertanya.


"Udah seminggu. Pantesan gak pernah ada kabar, ternyata udah bercabang ya ?" sindir Sissy.


"Bukan gitu Si. Aku gak pacaran sama dia. Dia itu.." Edwin berusaha menjelaskan.


"Udahlah Win. Capek aku kamu gantungin terus kayak gini." Sissy menyela ucapan Edwin.

__ADS_1


"Kok kamu gitu Si ?" Edwin mencoba meraih tangan Sissy tapi ditepis oleh pemiliknya.


"Kamu gak pernah ngabarin aku sama seklai beberapa bulan ini. Segitu sibuknya kamu ?" Sissy mengeluarkan segala amarahnya.


"Aku bener - bener sibuk Si. Tapi aku masih sayang sama kamu." Edwin kembali memegang tangan Sissy dan kali ini tidak ditepis oleh Sissy.


"Tapi gak gitu juga caranya Win. Kamu ngikat aku tapi juga gantungin aku. Kamu juga gak ada niat untuk nemuin aku di rumah." Sissy sekuat tenaga menahan agar airmatanya tidak turun.


"Aku tahu aku jahat tapi aku harus gimana lagi. Aku bener - bener padat jadwalnya." Edwin memberikan alasannya.


"Aku capek Win kalo kayak gini terus." kata Sissy.


"Terus kamu maunya gimana ?" Edwin menatap lekat pada Sissy.


"Kita putus aja Win." Sissy membalas tatapan Edwin.


"Kok gitu ? Kamu udah gak sayang sama aku ?" tanya Edwin.


"Bukan gitu. Aku cuma ingin memberikan waktu buat kamu biar konsen dengan pendidikan kamu. Aku rasa kamu gak bisa jaga komitmen kita." jawab Sissy.


"Oke kalo memang mau kamu begitu. Aku akan datang pada kamu setelah pendidikanku selesai." kata Edwin.


"Datanglah saat kamu sudah siap berkomitmen penuh." kata Sissy.


"Maafin aku ya Si. Tunggu aku." kata Edwin lagi.


"Aku gak janji akan tunggu kamu sampai kapan.


Kalo memang kita jodoh gak akan kemana Win." Sissy bangkit untuk berdiri.


"Kamu jangan pulang dulu Si. Aku masih kangen." Edwin memegang tangan Sissy melarangnya untuk pergi.


"Aku pulang Win. Jaga diri kamu baik - baik." kata Sissy.


"Si.." panggil Edwin lirih.


"Kita pulang Ra. Assalamualaikum." pamit Sissy langsung berbalik meninggalkan rumah Edwin.


"Waalaikumsalam." jawab Edwin dengan lesu.


Karena kebodohannya yang tak bisa bagi waktu dan menjaga komunikasi akhirnya hubungannya harus kandas.


"Tunggu aku Si. Aku akan memperjuangkan kamu." Batin Edwin sambil menatap Sissy yang sudah menjauh.


"Are you okay Si ?" tanya Amira yang menghentikan sepeda motornya saat sudah jauh dari rumah Edwin.


"Iya Ra." jawab Sissy singkat sambil menghapus airmatanya.


"Kita mau kemana sekarang ?" tanya Amira lagi.


"Kita cari tempat yang sepi dulu. Aku gak mau pulang dengan mata bengkak." kata Sissy.


"Oke." Amira pun melajukan sepeda motornya menuju taman kota.


Jangan lupa Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..


Makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2