
Zizi sudah resmi terdaftar sebagai mahasiswa S1 lanjutan. Hanya ada 4 semester untuk bisa meraih gelar sarjana.
"Kak, ada kuliah hari ini ?" tanya Mami Liana.
"Iya Ma. Kuliah jam 9." jawab Zizi sambil menyendok nasi goreng.
"Sampai jam berapa ?" tanya Liana lagi.
"Jam 12." jawab Zizi setelah menelan nasinya.
"Nanti pulang kuliah temanin Mami ke rumah tante Irma." kata Liana.
"Ada acara apa Mi ?" tanya Zizi.
"Mami mau nengokin cucunya tante Irma. Baru lahir." jawab Liana.
"Oke Mi." Zizi lanjut menghabiskan sarapannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Zizi berjalan santai menuju kelasnya. Ruang kelas masih terlihat lengang saat Zizi masuk.
"Hai Zi. Duduk sini." panggil Vero yang sama - sama melanjutkan kuliah dengan Zizi.
"Tumben udah dateng aja." sindir Zizi.
"Lagi males di rumah. Sepi, Ibu aku lagi keluar kota." cerita Vero.
"Kamu sendirian di rumah ? Awas loh nanti ada sosok lain yang menemani." Zizi menakut - nakuti sahabatnya itu.
"Kamu nginep di rumah aku ya ?" pinta Vero.
"Mana boleh sama Mami buat nginep. Bisa dicoret dari KK." ujar Zizi sambil tertawa kecil.
"Ya udah. Aku nginep di rumah tante aku aja." gerutu Vero.
"Di rumah kamu kan ada pembantu Ver. Ngapain harus takut." Zizi coba menenangkan.
"Iya juga ya. Kenapa aku jadi parno gini. Kamu sih pake bikin takut segala." Vero mencubit lengan Zizi.
"Ssttt.. Dosen udah datang." bisik orang di belakang mereka.
Mereka pun terdiam dan konsentrasi mengikuti perkuliahan.
Selesai kuliah pertama, mereka menuju ke ruang kuliah di gedung A.
"Ver, Zi.." panggil suara laki - laki.
"Eh.. Bagus.." Vero dan Zizi menoleh pada asal suara.
"Mau kemana ?" tanya Bagus.
"Mau kuliah di gedung A." jawab Vero.
"Ooh.. Kirain mau ke kantin." kata Bagus sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu gak kuliah Gus ?" tanya Zizi.
"Udah tadi. Cuma satu pelajaran." jawab Bagus.
"Ooh.. Ya udah aku sama Zizi ke kelas dulu ya" tanpa menunggu jawaban dari Bagus, Vero langsung menarik tangan Zizi.
Zizii hanya terdiam sepanjang kuliah berlangsung. Entah dia mendengar penjelasan dosen atau tidak. Matanya memang menatap ke depan tapi pikirannya tertuju pada Bagus.
"Hhmm.. Udah lama gak ketemu ternyata makin ganteng aja." gumam Zizi dalam hati.
"Dilihatin dosen tuh." bisik Vero sambil menyikut lengan Zizi.
__ADS_1
Zizi langsung memusatkan perhatian kembali pada pelajaran.
"Cie.. tadi lagi ngelamunin siapa nih ?" goda Vero saat sang dosen sudah keluar ruangan.
"Apaan sih Ver ? Siapa juga yang ngelamun." elak Zizi.
"Kamu mikirin Bagus ya ? Kalian jadian gak sih ?" cecar Vero.
"Boro - boro jadian. Ngobrol aja gak pernah." gerutu Zizi.
"Oh gitu. Kirain setelah kejadian itu kalian sering ngobrol." kata Vero.
"Emang dia gak cerita apa - apa ?" tanya Zizi.
"Aku jarang banget ketemu sama dia. Apalagi kakaknya baru aja melahirkan. Dia Sibuk jagain kakaknya." Kata Vero.
"Emang suami kakaknya kemana ?" tanya Zizi.
"Suami kakaknya kerja di kapal pesiar. Pulang setahun sekali. Mereka juga tinggal hanya bertiga. Papanya yang Adik Mama aku udah meninggal." Vero menceritakan sedikit tentang keluarga Bagus.
"Kasihan juga ya dia. Harus jagain Ibu dan Kakaknya." kata Zizi.
"Dia mah biasa aja. Anaknya tanggung jawab banget loh." kata Vero membanggakan sepupunya.
"Promosi kamu ?" sindir Zizi.
"Hehehe. Iya. Siapa tau tertarik." goda Vero.
"Udah ah. Aku ada janji sama Mami. Pulang duluan ya." pamit Zizi meninggalkan Vero.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam setengah satu Zizi sampai di rumah. Dia membiarkan mobilnya di depan rumah.
"Mi, aku udah datang." Zizi memasuki rumah.
"Masak apa emangnya Mi ?" tanya Zizi.
"Masak spaghetti. Tadi Adek minta itu." jawab Liana.
Zizi pun menikmati sepiring spagheti yang masih hangat.
"Adek belum pulang ?" tanya Zizi.
"Belum. Sebentar lagi kayaknya." jawab Liana yang masih berkutat di dapur.
"Mami... Aku pulang." suara Fajar terdengar memasuki rumah.
"Panjang umur. Baru aja diomongin." kata Liana.
"Emang ngomongin apa hayo ?" Selidik Fajar.
"Tadi Kakak nanya, kamu udah pulang atau belum ? Ini kan Mami masakin spagheti kesukaan kamu." Zizi menjelaskan.
"Ooh.. Kirain ngomongin apa." Fajar memarik kursi dan mulai menikmati sepiring spagheti yang disiapkan sang Mami.
"Ganti baju dulu sayang." kata Liana.
"Laper Mi. Nanti aja sekalian." jawab Fajar dengan mulut penuh.
"Mi, aku ganti baju dulu ya." Zizi berjalan menuju kamarnya.
"Emang kalian mau kemana ? Mobil Kakak juga masih di depan." tanya Fajar.
"Mau nengokin temen Mami yang baru punya cucu." jawab Liana.
"Ooh.." Fajar berkomentar singkat.
__ADS_1
"Kamu mau ikut ?" tanya Liana.
"Gak ah. Pasti isinya ibu - ibu semua." tolak Fajar. Liana hanya tertawa mendengar jawaban anak bungsunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Rumahnya yang warna Ijo itu Kak." tunjuk Liana pada Zizi yang menyetir.
"Oke Mi." Zizi pun menghentikan mobilnya di deoan rumah berpagar Hijau. Terlihat ada sebuah mobil yang juga terparkir di depan pagar rumah itu. Liana dan Zizi turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Zizi membantu membawakan hadiah untuk cucu teman Maminya.
"Kayaknya lagi ada tamu Mi." kata Zizi pada Liana.
"Iya. Kan mami janjian juga sama temen mami yang lain." kata Liana. Zizi hanya terdiam mendengar jawaban sang Mami.
"Permisi jeng Saras." Liana berdiri di depan pintu.
"Hai jeng Liana. Mari masuk." Wanita yang bernama Saras mempersilahkan masuk.
"Jeng Yuyun udah sampai duluan. Selamat ya jeng Saras." Liana mencium pipi kiri dan kanan temannya itu.
"Selamat ya tante." Zizi memberikan hadiah pada Saras.
"Ini anak kamu Jeng ?" tanya Saras sambil mencium pipi Zizi.
"Iya. Ini anak sulung saya. Namanya Zivana biasa dipanggil Zizi." Liana memperkenalkan Zizi.
"Zizi tante." Zizi pun menyalami tante Yuyun.
"Ayo duduk dulu. Sebentar saya panggilkan anak dan cucu saya." kata Saras.
Tak lama Saras keluar bersama anak dan cucunya.
"Duh.. Lucu sekali cucu kamu Ras." puji Liana sambil mencolek pipi bayi yang sedang tertidur pulas.
"Jadi pengen punya cucu juga." kata Yuyun.
"Anak kamu kan masih piyik Jeng." ledek Liana.
"Iya juga ya. Mau punya anak lagi, udah tua, mau punya cucu, anak masih kecil." gerutu Yuyun.
"Aku aja belum ijinin anak aku untuk nikah. Biar dia sekolah dulu sampai tinggi." kata Liana sambil melirik Zizi.
Zizi hanya bisa menghela nafas dalam dan terdiam dengan ucapan Maminya.
"Siang Ma. Lagi banyak tamu rupanya." sebuah suara yang familiar di telinga Zizi masuk ke dalam rumah.
"Iya sayang. Kamu baru pulang ?" tanya Saras pada lelaki itu.
"Siapa jeng ?" tanya Liana.
"Kenalin jeng. Ini anak bungsu saya. Bagus." kata Saras yang langsung membuat Zizi membalikkan badannya ke arah laki - laki itu.
"Bagus..."
"Zizi...." kata Bagus dan Zizi bersamaan.
...***...
Bagi vote atau Bunga 🌹 atau secangkir kopi☕ 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kishah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏