
Kesibukan Amira setiap harinya adalah kuliah. Amira memilih naik angkutan umum untuk berkuliah. Meski jarak dari rumah ke kampus cukup jauh dan harus 2 kali ganti angkot, Amira menjalani nya dengan santai.
Pagi itu Amira berjalan ke terminal yang kebetulan jaraknya tak jauh dari komplek rumahnya.
*Tin..Tin..* terdengar klakson mobil.
Amira menoleh ke sumber suara. Dilihatnya ada Alif di dalam mobil.
"Ra, mau kuliah ?" tanya Alif.
"Iya Kak. Ini mau ke terminal." jawab Amira.
"Ayo aku anter." Alif menghentikan mobilnya di sebelah Amira.
"Gak udah Kak. Ngerepotin aja." Amira menolak halus.
"Kebetulan aku mau ke Batu. Kan ngelewatin." kata Alif.
"Tapi Kak.." Amira hendak protes.
"Udah gak usah gak enak. Mumpung kelewatan." potong Alif sambil membukakan pintu buat Amira.
"Iya deh." Amira pun langsung masuk ke kursi penumpang disamping Alif.
"Gimana kuliah kamu Ra ?" tanya Alif basa - basi.
"Alhamdulilah lancar Kak. Kan baru semester awal juga." jawab Amira tanpa menoleh pada Alif.
"Kamu ambil jurusan apa ?" tanya Alif lagi.
"Komunikasi." jawab Amira singkat.
"Sahabat kamu kuliah di tempat yang sama ?" tanya Alif.
"Gak. Yoan sih yang satu kampus tapi beda fakultas. Sissy kuliah di Bandung. Trus Zizi di Unibraw." Amira menjelaskan.
"Jarang ketemu dong ?" Alif melirik sekilas pada Amira.
"Iya. Sekarang baru awal masuk jadi pada sibuk semua." kata Amira.
"Oh iya Ra. Nanti kamu pulang kuliah jam berapa ?" tanya Alif.
"Jam 2 sudah selesai Kak. Kenapa gitu ?" Amira balik bertanya.
"Mau gak temenin aku cari sarung buat dibagikan ke anak yatim." jawab Alif.
"Ooh buat acara santunan nanti ya ?" Amira ingin memastikan.
"Iya. Mumpung aku ada waktu, soalnya besok sampai hari H sudah sibuk banget." kata Alif.
"Boleh Kak." kata Amira.
"Alhamdulilah. Nanti aku jemput kesini ya." Alif menatap Amira.
"Iya. Kak Alif tunggu di parkiran aja." kata Amira.
Tak terasa saking asyiknya ngobrol, mereka sudah sampai di kampus Amira.
"Aku turun sini aja Kak." kata Amira.
"Nanggung lah. Sekalian aku antar sampai depan fakultas kamu." kata Alif.
"Iya deh." Amira menjawab lirih.
"Sebelah mana Ra ?" tanya Alif saat melewati gerbang kampus.
Amira pun menunjukkan arah menuju fakultasnya.
__ADS_1
"Makasih ya Kak. Hati - hati di jalan." Amira pamit dan turun dari mobil Alif.
"Sama - Sama. Assalamualaikum." Alif memberi salam.
"Waalaikumsalam." Amira lalu masuk menuju kelasnya.
Jam setengah 2 Alif sudah sampai di kampus Amira. Dia pun memilih untuk turun dari mobil dan nunggu di depan fakultas tempat tadi Amira turun.
"Kak Alif.." panggil seseorang tapi bukan Amira.
"Hei.. Kamu kan..." Alif mencoba mengingat - ingat nama sahabat Amira.
"Aku Yoan." potong sang gadis.
"Oh iya. Pulang kuliah ?" tanya Alif.
"Belum. Masih ada kelas abis ini. Cuma mau mampir ke kantin Fikom." kata Yoan.
"Ooh. Iya deh." kata Alif singkat. Alif tidak begitu suka melihat penampilan Yoan yang sedikit urakan, maklum lah roker.
"Kak Alif ngapain disini ?" tanya Yoan.
"Nungguin Amira. Kita janjian mau beli sarung sama barang lain buat acara santunan besok." jawab Alif.
"Ooh.. Sekalian kencan ya ?" goda Yoan.
"Gak kok. Kami kan gak pacaran." Alif mennjawab dengan serius.
"Becanda kali Kak." Yoan tertawa melihat kegugupan Alif.
"Iya." kata Alif singkat.
"Ya udah Kak. Aku duluan ya. Salam aja buat Amira." Yoan langsung pamit meninggalkan Alif yang masih menunggu Amira.
Akhirnya Alif memilih untuk menunggu Amira di dalam mobil. Dia gak mau bertemu dan basa - basi lagi dengan Yoan.
Tepat jam 2 Amira keluar dari ruang kuliah menuju parkiran. Tak sulit untuk menemukan mobil Alif karena warna nya yang cukup eye catching yaitu Kuning.
"Waalaikumsalam." Alif yang sedang melamun kaget dengan kedatangan Amira.
"Kakak kenapa ? Kok ngelamun sih ?" tanya Amira.
"Ah enggak. Tadi aku ketemu sama sahabat kamu yang agak nyentrik." jawab Alif.
"Ooh.. Yoan. Maklum lah Kak, dia itu roker dan punya Band." kata Amira.
"Aku kurang suka dengan gayanya." Alif berkata jujur.
"Aku juga gak begitu akrab sama dia." kata Amira.
"Kok bisa ? Kan kalian sahabatan." Alif bingung dengan jawaban Amira.
"Ya kan kita sahabatan berempat. Jadi gak bisa akrab semua gitu." Amira memberikan alasannya.
"Trus kamu deketnya sama siapa ?" tanya Alif.
"Kak, kita ngobrol sambil jalan aja. Aku juga udah lapar nih. Nanti mampir makan dulu ya." Kata Amira.
"Oke siap." Alif pun menjalankan mobilnya.
Alif melirik Amira yang hanya terdiam sambilegang erat tasnya.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku." Alif memecah keheningan.
"Aku tuh paling deket ya sama Sissy. Taoi sekarang dia kuliah di Bandung." kata Amira.
"Jauh amat." komentar Alif.
__ADS_1
"Kan sebenarnya orangtuanya asli sana. Jadi disana pun ada kakek dan saudara besarnya." Amira menatap sekilas pada Alif.
"Trus kalo sama Zizi kamu deket ?" tanya Alif.
"Luamyan lah. Lebih deket daripada Yoan tapi tidak sedekat Sissy." jawab Amira.
"Lucu juga ya persahabatan kalian." Alif tertawa kecil.
"Tapi kita niat bersahabat. Dan kita punya cita - cita buka sebuah usaha bareng - bareng." kata Amira.
"Usaha apa ?" tanya Alif lagi.
"Belum tau. Nanti kalo udah lulus kuliah dan punya modal." jawab Amira.
"Semoga cita - cita kalian tercapai ya." doa Alif.
"Aamiin. Makasih ya Kak." balas Amira.
"Kira - kira beli berapa lusin ya Ra ?" tanya Alif saat mereka sampai di toko yang menjual sarung.
"Anak yatin yang diundang berapa Kak ?" Amira balik bertanya.
"Sekitar 200 sih." jawab Alif.
"Mending dilebihin dikit Kak. Takutnya kurang. Kalo sisa pun kan bisa disimpan untuk acara lain." usul Amira.
"Iya deh." Alif untuk meminta sejumlah sarung kepada pemilik toko. Setelah membayar Alif menghampiri Amira dengan membawa sebuah kresek.
"Udah selesai Kak ?" tanya Amira.
"Udah.Nanti barangnya dikirim. Yuk kita cari makan." ajak Alif.
Mereka pun makan di restoran kecil yang letaknya tak jauh dari toko tadi.
"Kamu mau pesan apa ?" tanya Alif.
"Terserah Kakak aja. Aku bebas kok." jawab Amira. Alif pun segera memesan makanan untuk mereka.
"Ra, kamu sudah punya pacar ?" tanya Alif.
"Belum. Aku gak mau pacaran lagi Kak." jawab Amira sambil menundukkan kepalanya. Dia punya firasat kalau Alif akan menembaknya.
"Kenapa ?" tanya Alif lagi.
"Aku inginnya langsung menikah aja." Muka Amira sudah berubah merah.
"Kalau aku lamar mau gak ?" Pertanyaan Alif membuat Amira mengangkat kepalanya dan menatap lelaki di hadapannya itu.
"Aku masih mau nyelesaiin kuliah dulu terus kerja." Amira menjawab dengan gugup.
"Tapi kamu mau kan aku lamar ?" Alif bertanya sekali lagi.
"Setelah aku lulus Kakak bisa tanyakan lagi hal ini ya." kata Amira.
"Berarti aku harus nunggu 3 tahun lagi dong." kata Alif.
"Terserah Kakak. Kalo mau nunggu silahkan. Kalo gak ya silahkan cari perempuan lain saja." kata Amira.
"Oke Ra. Aku akan tanyakan hal ini setelah kamu wisuda. Tunggu aku ya." Janji Alif pada Amira.
"Insha Allah Kak." Amira tersenyum sekilas.
Perasaannya saat ini tak karuan. Antara senang karena mau dilamar dan sedih karena meminta Alif untuk menunggunya 3 tahun lagi.
Hanya bisa pasrah dengan takdir Allah. Kalo jidih oasti akan bersatu di pelaminan. 😊😊
Jangan lupa Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
__ADS_1
ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏