
Pagi itu Ferry sudah menghampiri Zizi di kelasnya.
"Ada apa Kak?" tanya Zizi dingin.
"Gimana Zi. Kapan kamu mau kasih uangnya?" kata Ferry to the point.
"Belum Kak. Buku tabungannya masih belum ketemu." Zizi beralasan.
"Kapan dong Zi. Aku kan butuh banget." Ferry berkata lembut.
"Enak aja kamu bilang gitu. Maaf aku gak akan tergoda oleh rayuanmu lagi." batin Zizi dalam hati.
"Nanti aku cari lagi ya Kak." Zizi berusaha bersikap normal. Tak lama bel masuk pun berbunyi.
"Cepetan ya Zi. Aku butuh banget. Nanti sore aku ke rumahmu." kata Ferry sebelum kembali ke kelasnya.
"Ya. Nanti Kakak jemput aku di Masjid ya. Aku ada rapat panitia." Zizi sedikit berteriak.
"Iya." jawab Ferry ikut berteriak juga.
"Tunggu dulu. Kalo rapat panitia di Masjid berarti ada Nina juga. Gawat. Mampus deh." geruti Ferry dalam hati.
"Nanti ajalah pas istirahat aku ngomong lagi sama Zizi." batin Ferry sambil masuk ke kelasnya.
Sementara Zizi dikelasnya udah punya rencana untuk menjebak Ferry.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam istirahat itu Ferry langsung menuju kelas Zizi. Dicarinya Zizi ke dalam kelas tapi sosoknya tak terlihat.
"Hei, kamu lihat Zizi gak?" tanya Ferry pada teman sekelas Zizi.
"Kayaknya lagi ke kantin sama geng nya." jawab teman sekelas Zizi.
Ferry langsung pergi tanpa mengucapkan apapun. Dia langsung menuju ke kantin karena dia sangat yakin Zizi ada disana.
Ya benar dugaannya, Zizi sedang berkumpul dengan geng nya. Ferry berusaha memberi kode pada Zizi agar menghampirinya tapi nampaknya gadis itu sedang sibuk dengan teman - temannya.
"Zi, jangan noleh, ada Ferry, kamu pura - pura makan aja." Yoan yang duduk di sebelah Zizi memberi kode.
"Iya, aku tahu." bisik Zizi.
"Dia gak pergi dari sana tuh. Nungguin banget kayaknya." kata Yoan lagi.
"Pasti mau maksa pinjam uang lagi sama Zizi." ujar Sissy sedikit emosi.
"Iya tuh. Biarin dia sampe lumutan nunggu disana." Amira si kalem ikut emosi.
"Udah..Udah.. Ntar dia denger lagi." kata Zizi.
"Zi, kamu tuker posisi sama aku ya. Biar kamu lebih leluasa." kata Sissy.
Mereka pun bertukar duduk dengan alasan Sissy ingin mencicipi makanan milik Yoan.
"Akhirnya aku bisa lebih leluasa makannya." Kata Zizi lega.
"Tuh orang belum pergi juga. Masih betah nungguin dia." Sissy sengaja menatap tajam ke arah Ferry berdiri.
"Si, jangan dilihatin gitu. Ntar ketahuan." kata Amira.
__ADS_1
"Biarin aja. Aku gak takut. Kalo perlu aku samperin dia." kata Sissy.
"Aku temenin Si. Kita habisin si playboy." Yoan berkata sambil tertawa.
"Jangan lah. Ntar dipanggil BP lagi." Amira takut sahabatnya itu nekat.
"Ya gak lah. Kita becanda Ra." Sissy tertawa melihat sikap serius Amira.
Saat Bel masuk kembali berbunyi, Zizi dan sahabatnya bangkit dan berjalan menuju kelas mereka. Sebenarnya mereka tahu kali Ferry masih mengawasi dari sudut kantin tapi mereka memilih untuk tak mempedulikannya dan terus berjalan menuju kelas.
Pulang sekolah pun mereka memilih langsung pulang untuk menghindari Ferry.
"Hei, Zizi kemana?" tanya Ferry ketika sampai di kelas Zizi.
"Udah pulang dari tadi." jawab Luna teman sebangku Zizi.
"Yang bener kamu." Ferry merasa ada yang janggal dengan sikap Zizi.
"Iya. Katanya mau ada rapat di masjid komplek." Luna menambahkan.
"Oke deh. Makasih ya." Ferry tersenyum pada Luna. Ferry merasa teman sebangku Zizi ini bisa dimanfaatkan untuk menemui Zizi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore itu Zizi dan sahabatnya masih mengikuti rapat panitia di Masjid. Hari ini adalah rapat koordinasi terakhir. Karena besok adalah hari pelaksanaan acara Maulid Nabi di Masjid komplek Pelangi.
"Kak Nina, maaf kita mau nanya." Amira mendekati Kak Nina yang sedang duduk menikmati kue yang dihidangkan.
"Ada apa Ra." Kak Nina mengikuti Amira menuju tempat sahabatnya yang lain duduk.
"Kak, maaf sebelumnya. Kita mau nanya. Apa Kakak pacaran dengan Kak Ferry ?" Sissy bertanya dengan suara pelan.
"Iya Kak. Dia itu Kakak kelas kami di SMA Pratama." kata Amira.
"Kakak udah lama pacaran dengan dia?" Kali ini Yoan yang bertanya.
"Baru juga 4 bulan. Dia temennya adik temen aku. Mereka suka tanding basket di kampus aku." jawab Kak Nina tersipu malu.
"Kok mau Kak pacaran sama anak SMA." Yoan mulai menyelidiki.
"Ya gak tau. Anaknya ganteng sih." Kak Nina menjawab dengan malu - malu.
"Kak, dia suka minta bayarin sama Kakak gak sih?" Yoan mulai sedikit menyentuh area privasi.
"Kok kamu tahu. Tapi kan wajar, dia masih SMA, aku udah kuliah, apalagi aku kan punya kerjaan ngasih les privat." jawab Kak Nina.
"Baik banget ya Kakak." Zizi memuji dengan sinis.
"Kalian kenapa sih nanya soal Ferry terus?" Kak Nina mulai curiga dengan mereka.
"Kak Ferry juga mau pinjam uang ke Kak Nina buat operasi ibunya ?" tanya Zizi lagi.
"Kok kamu tau? Sebenarnya maksud kalian apa sih?" Kak Nina semakin curiga.
"Biayanya 10 juta kan." Zizi berkata sambil menahan tangisnya.
"Ini ada apa sih sebenarnya Zi, Ra?" Kak Nina mulai bingung dan panik.
"Maafin kita ya Kak. Tolong jangan panik dulu." Amira memegang tangan Kak Nina.
__ADS_1
"Iya kalian cerita aja ada apa dengan Ferry?" Kak Nina mencoba bersikap tenang.
"Sebenarnya Kak Ferry itu playboy Kak. Terkenal kok di sekolah juga." kata Amira.
"Aku tau memang banyak gosip soal itu. Ferry udah cerita semuanya. Tapi itu cuma gosip." Kak Nina berkata dengan santai.
"Gak Kak, itu semua bukan gosip. Zizi salah satu korbannya." ucapan Yoan langsung membuat Kak Nina kaget.
"Yang bener?" Kak Nina masih tak percaya dengan yang didengarnya.
"Iya Kak." jawab Zizi. Zizi pun menceritakan semua perlakuan Ferry padanya, termasuk masalah pinjam uang. Kak Nina ingin menyangkalnya tapi Zizi pun menunjukkan chatnya dengan Ferry. Kak Nina merasa shock dan emosi.
"Sabar Kak." Amira hanya bisa mengusap punggung Kak Nina.
"Aku udah pernah diingatkan oleh temenku
Tapi aku gak percaya." kata Kak Nina sambil menghapus airmata nya.
"Zizi juga udah ketipu sama mulut manis si playboy itu." Yoan terlihat geram.
"Masih untung Kalian belum kasih uang yang 10juta." Sissy membesarkan hati Kak Nina dan Zizi.
"Iya. Semua ada hikmahnya. Awas aja kalo nanti dia berani jemput aku kesini." Kak Nina meremas ujung hijabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore itu Ferry datang menjemput Kak Nina di Masjid.
"Ayo Nin. Kita langsung ke toko buku." Ferry menyerahkan helm pada Nina.
"Bentar ya Fer. Aku masih nunggu temen aku." kata Nina dingin.
Tak lama Zizi dan sahabatnya datang.
"Ini temen aku. Kamu udah kenal kan? Adik kelas kamu kan?" kata Nina menjauh dari Ferry.
"Maksudnya apa nih? Iya mereka adik kelas ku." Ferry mulai gelisah.
"Adik kelas atau pacar? Zizi pacar kamu kan?" Nina langsung to the point.
"Adik kelas. Udah ah aku gak suka kamu kayak gini." Ferry sudah mau menyalakan motornya. Yoan dengan sigap langsung mencabut kunci motornya.
"Aku cuma adik kelas nih Kak?" Zizi mulai angkat bicara.
"Em.. Ya kan kamu cuma adik kelas kan?" Ferry mulai gelagapan.
"Oke Kak. Makasih ya." jawab Zizi singkat.
"Makasih apa?" Ferry bingung.
"Makasih udah bohongin aku. Bye. Assalamualaikum." Zizi langsung pergi meninggalkan mereka diikuti oleh sahanatnya.
"Syukurin kamu playboy." kata Yoan sebelum mengikuti Zizi meninggalkan Ferry dengan Nina.
"Rasain tuh playboy. Berani kamu mainin aku ya." Kak Nina pun ikut pergi meninggalkan Ferry yang masih bengong.
"Maaf ya playboy. Nih kunci motor kamu aku kembaliin." Yoan melemparkan kunci itu tepat di muka Ferry.
Jangan lupa dukung Like 👍, komen dan Vote..
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏