
#Hai reader kesayangan othor.. Insha Allah Othor akan segera menyelesaikan cerita ini. Smoga aja othor bisa terus menulis dengan lancar.
Jangan lupa bagi bunga πΉatau kopi β nya biar semakin semangat buat nulis.. #
Selamat Membaca ππ
...***...
Hujan turun dengan deras sejak siang tadi. Zizi sejak tadi gelisah karena belum ada kabar dari Bagus. Seharusnya dia menemani Bagus ke Batu untuk survey tempat untuk acara gathering di kantornya. Tapi Zizi tidak bisa ikut karena harus menyelesaikan tesisnya.
"Kak, kamu kenapa dari tadi mondar - mandir aja." tanya Liana.
"Aku nunggu kabar dari Bagus. Kok perasaanku gak enak ya Mi." jawab Zizi.
"Emang kenapa dengan Bagus ?" tanya Liana lagi.
"Bagus harus survey tempat buat acara kantornya. Aku gak bisa nemenin soalnya tadi harus revisi tesisku. Tapi sekarang hujan deras kayak gini." kata Zizi.
"Udah kamu tenang dulu. Berdoa semoga Bagus baik - baik saja." Liana coba menenangkan anak sulungnya.
Hingga menjelang magrib, belum ada kabar juga dari Bagus. Zizi semakin resah. Dua terlihat mondar mandir di kamarnya sambil terus berusaha menghubungi ponsel Bagus.
"Zi, ada telpon dari tante Saras." Liana memberikan ponselnya pada Zizi.
"Halo tante..." Zizi menyapa tante Saras, Mamanya Bagus.
"........ "
"Ya Allah. Kondisi Bagus gimana Tante ?" Zizi terlihat khawatir.
"......... "
"Iya Tante. Saya kesana sekarang." kata Zizi sebelum menutup panggilan teleponnya.
Zizi bergegas membuka lemari pakaiannya dan mengambil celana panjang dan kaos.
"Bagus kenapa Kak ?" tanya Liana.
"Bagus kecelakaan Mi. Mobilnya masuk jurang. Aku mau ke rumah sakit sekarang." jawab Zizi.
"Mama temenin ya." Liana bergegas mengambil jaketnya.
Mereka berdua bergegas menuju rumah sakit.
Liana menggandeng tangan Zizi dan menghampiri Liana yang berdiri di depan ruang IGD dalam pelukan seorang lelaki.
"Saras..." Liana memanggil sahabatnya itu.
"Tante.. Bagus dimana ?" tanya Zizi.
"Liana.. Zizi.. Maafin Bagus ya. Kondisinya sangat parah. Dia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit." jawab Saras sambil menahan tangis.
Tubuh Zizi langsung merosot ke lantai. Zizi sangat terkejut hingga hanya terdiam saja.
__ADS_1
"Kenapa kamu pergi secepat ini Gus. Harusnya aku bisa nemenin kamu. Maafin aku." gumam Zizi hingga tanpa sadar airmatanya mengalir.
"Kak, Kamu yang sabar ya." Liana membantu Zizi untuk berdiri.
"Tante.. Maafin Zi. Harusnya Zi bisa nemenin Bagus." Zizi memeluk Saras dengan erat.
"Kamu Ikhlasin Bagus ya Zi." Saras membalas pelukan Zizi.
"Kalo aku bisa nemenin Bagus, Semua ini gak ada terjadi Tante." Zizi masih menyalahkan dirinya sendiri.
"Ini bukan salah siapa - siapa. Ini semua sudah takdir dari Allah." Saras menangkup wajah Zizi dan menghapus airmatanya.
"Kita doakan Bagus aja yuk biar lebih lapang jalannya. Maafin ya kalo Bagus ada salah sama kamu." kata Sandi, paman Bagus.
"Iya Om. Maafin juga kalo saya ada salah." kata Zizi.
Malam itu juga jenazah Bagus dibawa pulang dan dimandikan. Jenazah akan dikuburkan keesokan harinya.
Liana menyetir mobil menuju ke rumah Bagus.
Liana dan Zizi menunggu hingga jenazah Bagus selesai dimandikan.
"Zi, Kamu disini ?" sapa Vero. Vero datang bersama Mamanya yang juga kakak ipar Saras.
"Iya Ver. Aku dikabarin Tante Saras." Zizi memeluk Vero.
"Kamu yang sabar ya Zi. Semoga Bagus diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan." kata Vero.
"Aku juga ikut belasungkawa Ver. Bagus kan masih saudara kamu." balas Zizi.
"Sepertinya Mama kamu baikan sama Tante Saras." Zizi menunjuk ke arah Mama Vero dan Tante Saras berada. Disana juga ada Mami Liana dan teman - teman arisan lainnya.
"Iya. Mama jadi melunak setelah kepergian Bagus. Maklumlah Bagus kan keponakan kesayangan Mama." kata Vero.
Tak lama jenazah yang sudah selesai dimandikan dan dikafani diletakkan di tengah ruangan.
Kemudian dilakukan shalat jenazah yang dipimpin oleh seorang ustad setempat.
Setelah itu para tamu pelayat mulai bubar.
Terlihat Mbak Ayu keluar dari kamar sambil dipegangi oleh saudara yang lain.
Saras, Ayu dan saudara yang lain mengelilingi jenazah Bagus sambil mengaji di dekatnya.
Zizi mendekati Saras dan Mbak Ayu.
"Mbak, saya ikut belasungkawa ya. Semoga almarhum diberi temoat terbaik di sisi Allah." kata Zizi sambil memeluk Ayu.
"Aamiin. Makasih ya Zi. Kamu juga yang sabar. Mbak cuma mau bilang, kalo Bagus sangat menyayangi kamu. Bahkan dia berniat serius dengan kamu. Tapi nasib berkata lain. Allah memanggil Bagus lebih dulu." kata Ayu.
"Iya Mbak. Aku ikhlas." Zizi semakin mengeratkan pelukannya.
Karena hari sudah mulai larut, Liana mengajak Zizi untuk pulang.
__ADS_1
"Zi, Ayo kita pulang dulu." ajak Liana.
"Aku mau disini Mi" tolak Zizi.
"Zi, kamu pulang aja. Besok pagi - pagi, kamu ikut mengantarkan Bagus ke pemakaman." kata Saras.
"Iya Zi. Pulang dulu ya. Biar kamu juga istirahat. Bagus pasti gak suka lihat kamu kecapekan kayak gini." bujuk Ayu.
"Iya deh. Besok saya kesini lagi." kata Zizi.
Akhirnya Liana dan Zizi pun pulang untuk beristirahat.
Sehabis subuh, Zizi berangkat lagi menuju rumah Bagus dijemput oleh Vero.
"Ver, Mami titip jagain Zizi ya. Maaf Mami gak bisa ikut ke makam." kata Liana.
"Iya Mi. Biar Zizi sama Vero. Nanti pulangnya juga Vero antar lagi." kata Vero.
Zizi dan Vero mengikuti acara pemakaman hingga selesai.
"Zi, makasih ya udah mengantarkan Bagus hingga di peristirahatan terakhirnya." Saras memeluk erat Zizi.
"Iya Tante. Tante yang tenang ya. Bagus pasti udah bahagia berkumpul dengan Papanya." kata Zizi.
"Iya. Nanti malam kamu ke rumah lagi ya. Ikutan tahlil ya." kata Saras.
"Insha Allah Tante." jawab Zizi.
Saras lalu pamit untuk pulang terlebih dahulu.
Setelah agak sepi, Zizi mendekat ke gundukan tanah yang masih basah itu.
"Sayang, Akhirnya Kamu bisa ketemu lagi sama Papa kamu. Kamu sudah tenang, Bahagia disana ya. Jangan pikirin aku, aku akan baik - baik disini." Zizi mengusap nisan yang bertuliskan nama kekasihnya itu.
"Iya Gus. Aku akan jagain Zizi buat kamu." Vero ikut menambahkan.
"Makasih sayang. Kamu sudah datang di hidupku. Membuat semua lebih indah. Meski akhirnya kamu juga pergi meninggalkanku." Zizi menatap nisan milik Bagus.
"Kita pulang yuk." ajak Vero melihat disana sudah mulai sepi. Zizi pun mengangguk dan bangkit mengikuti langkah Vero menuju mobil.
"Love you Sayang." gumam Zizi sambil menoleh kembali ke makam Bagus.
...***...
Bagi vote atau Bunga πΉ atau secangkir kopiβ ππ
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Kisah Cinta Sang Perawan Tua" yang menceritakan kisah cinta Sissy dan Rio.
Baca juga "Mengejar Cinta Shavira" yang menceritakan kisah cinta Ical, anak dari Sissy dan Rio. Ada juga cerita baru "Tiga Dara". Kalian juga bisa buka di bio saya ya..
Like π Komen dan Vote ββ
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih πππ