
"Akhhhhhhh...ini!" Raga binggung bukan kepalang.
Dia segera menutup Labtopnya dengan tergesa-gesa, dia tak mau Aura sampai tau bahwa dia punya database milik Kementrian Pertahanan.
Karena jika Aura tau, maka habislah Raga. Aura pasti bisa langsung menebak jati diri suaminya yang baru dia nikahi beberapa jam yang lalu. Dan Raga ingin menyembunyikan jati dirinya sebagai Bulan Biru selama-lamanya.
"Gue lagi lihat-lihat karya seni buatan seniman Italia di internet," jawab Raga.
Dengan cepat Raga mencabut flasedisk yang menancap di Labtop dan meletakkannya di dalam kotak yang berisi puluhan flasedisk lainnya.
"Kenapa elu bangun, apa istriku mimpi buruk lagi?" ujar Raga, dia segera mengelus kepala istrinya itu dan memutar kursinya ke arah Aura.
"Jangan panggil gue istri elu terus, Gaaa!" pekik Aura marah.
"Lhaaa kenapa elu emang istri gue?!" ujar Raga, sambil mencubit kedua pipi Aura yang amat sangat mengemaskan bagi Raga.
Aura yang matanya masih terpejam itu naik ke pangkuan Raga dengan manjanya.
"Aku lapar!" gumam Aura.
"Kau lapar, bagaimana kalau kumasakkan mie instan!" kata Raga.
Gadis tomboy itu segera mengangguk manja.
"Turunlah!" perintah Raga.
"Gendong ke ruang tamu!" Aura Masih mengelayut mesra pada tubuh Raga.
"Manja banget sih istriku!" keluh Raga.
"Akhhhhh jangan panggil gitu!" ujar Aura, dia memukut pelan bahu Raga dengan tangannya.
"Ok, mau gue panggil apa?" tanya Raga, pada Aura yang cemberut tapi matanya tak mau terbuka.
"Sayang aja, gue suka saat elu panggil gue sayang!" kata Aura.
"Sayang...Aura Sayang!" panggil Raga.
Aura pun tersenyum manis mendengar ocehan Raga.
"Cepet gendong ke ruang tamu!" kata Aura manja.
"Udah laper banget ya sayang?" tanya Raga.
"Iyaaaa...ahhh!" ujar Aura manja.
Pria yang kalau di luar jadi pembunuh itu tetap mengendong Aura ke ruang tamu. Dia mendudukkan istrinya di sofa paling panjang. Lalu berjalan menuju dapurnya, Raga tampaknya sangat menikmati perannya menjadi suami Aura.
Dia tampak telaten memasakkan Mie untuk istrinya itu. Cintanya pada Aura ternyata makin bertumbuh besar setiap harinya.
.
.
Di Sofa Aura duduk terdiam, wajahnya yang tadinya tersenyum sangat manis tiba-tiba mengeras penuh emosi. Dia mengepalkan tangannya dan memukul sofa yang dia duduki.
"Kenapa elu ngebunuh bapak gue, apa salah bapak gue sama elu, Ga???" kata Aura lirih.
__ADS_1
.
.
.
.
Detektif Senki dan Detektif Morgan sedang berjaga bersama di ruang kerja mereka. Mereka tampak menyusun bukti-bukti pembunuhan Bulan Biru di kediaman Daniel Harsono.
"Kenapa ayah ingin menutup khasus pembunuhan anaknya Kak Daniel?!" ujar Detektif Morgan penuh dengan tanda tanya.
"Mungkin ayahmu bagian dari Tim Alpa!" kata Detektif Senki.
Meski dia ingin marah dan menerjang kepala Tuan Harsono, dia tak bisa melakukannya. Pertama karena kedudukan dan kedua karena Tuan Harsono adalah ayah Detektif Morgan.
"Nggak tau-lahhhh, kuharap pembunuh Bulan Biru segera tertangkap!" kata Detektif Morgan dengan nada yang amat sangat lemas.
Kedua Detektif itu tampak lemas tak berdaya di kursi kerja masing-masing. Sementara Leo yang baru saja datang ke kantor pagi itu juga terlihat lemas dan suram
"Kau kenapa?" tanya Detektif Senki pada Leo.
"Tidak papa, hanya kurang tidur!" jawab Leo.
"Kayaknya kita harus makan bersama nanti siang, kita harus merayakan perpisahan kerjasama kita!" ujar Detektif Morgan .
Akhirnya pria itu tersenyum, karena dia membayangkan bisa tidur dimalam hari lagi. Meski masih merasa cemas dengan pembunuh Bulan Biru, tapi Detektif Morgan yakin Kementrian Pertahanan lebih mampu untuk menangkap pembunuh biadap itu.
"Maksut kalian apa?" tanya Leo bingung.
"Tim kita akan dibubarkan, pembunuhan Bulan Biru akan di tangani langsung oleh Kementrian Pertahanan Negara!" kata Detektif Senki.
Dia merasa akan kehilangan teman lagi. Leo adalah agen lapangan BIN dan dia selalu mendapat tugas keluar Negri untuk misi-misi berbahaya. Bergonta-ganti rekan, peran dan identitas. Dia seakan lupa siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi perkataan Utari semalam membuatnya sadar.
Dia adalah Leo, dia adalah putra dua orang ilmuwan yang dibunuh oleh Dokter Abraham. Dan dia sedang memendam kebencian pada Tuan Harsono. Satu-satunya petinggi Tim Alpa yang masih tersisa.
Leo merasa harus membongkar tentang kebusukan Tuan Harsono yang memperbudak Tim Alpa untuk tujuan pribadinya.
**KABAR TERKINI
Saya Nadia Selia mengabarkan sebuah berita duka dari London Inggris.
Yosia Agraini Widowati Putri, putri presiden kita telah meinggal dunia.
Diduga beliau meninggal karena overdosis obat-obatan terlarang, di salah satu hotel di kota London sekitar dua jam yang lalu**.
Pihak keuarga atau pun pemerintahan inggris belum memberikan pernyataan tentang berita duka ini.
.
"Apa lagi ini!!!" teriak Detektif Senki.
"Kenapa banyak anak petinggi yang terjerat khasus Narkotika?" tanya Detektif Morgan.
"Negara kita sedang sangat kacau!" ujar Leo.
"Apa kau tau sesuatu?" tanya Detektif Senki pada Leo.
__ADS_1
"Aku sendiri bingung mau bicara dari mana, tapi keadaan yang terjadi pada saat ini adalah akibat dari adu kekuatan para partai politik!" ujar Leo.
"Tapi membunuh anak persiden itu bukannya sudah sangat keterlaluan?" tanya Detektif Senki dia tak mau kalah.
"Di dunia politik, apa saja halal, asal tidak ada bukti yang tersisa!" kata Detektif Morgan.
.
.
.
.
Kementrian Pertahanan membentuk Tim Khusus untuk menangkap pembunuh berantai Bulan Biru. Mereka terdiri dari banyak orang dari berbagai macam divisi di agensi keamanan milik Negara.
Mulai dari pasukan di lapangan dan para pekerja di balik layar adalah orang-orang yang dipilih langsung oleh Tuan Harsono.
Alasan Tuan Harsono hanya satu, mendapatkan lagi kedua ponakannya. Dia ingin memanfaatkan kekuatan kedua keponakannya untuk urusan politiknya.
Dan dengan bantuan keponakannya itu Tuan Harsono juga bisa menyempurnakan Zack. Pasukan mesin pembunuh buatannya.
.
"Tuan kami mendapatkan beberapa gambar pelaku peretasan itu!" kata Asisten Tuan Harsono.
"Apa kau bisa mendeteksi siapa dia?" tanya Tuan Harsono.
Lelaki itu sedang duduk santai di dalam ruangan kerjanya.
"Belum Tuan, tapi kelihatannya orang itu adalah orang dari BIN. Karena hanya orang-orang yang bekerja di tempat itu yang tak bisa di lacak oleh sistem kita," jelas asisten Tuan Harsono.
"Kita baru saja meminta akses pada pihak BIN untuk melacak data orang itu.
"Tapi mereka menolak permintaan kami Tuan!" kata asistennya itu.
Tuan Harsono bangun dari kursi kekuasaannya, dia berjalan ke arah dinding kaca yang berjajar rapi di salah satu sisi ruangannya itu. Dia memandang ke arah luar, dan melihat langit yang agak mendung bari ini.
"Mereka suka sekali membuatku repot," ujar Tuan Harsono kesal.
Lelaki tua itu mengambil ponselnya di dalam saku jasnya. Dia mencari nomor di dalam kontak, dan dia segera menghubungi nomor yang dia pilih.
"Bagaimana kabarmu?!" tanya Tuan Harsono.
"Saya baik-baik saja Tuan, ada yang bisa saya bantu Jendral?" pria yang dihubungi oleh Tuan Harsono adalah pemimpin tertinggi di BIN.
"Biarkan Timku, mengunakan database BIN sebentar. Kami hanya mencari seseorang!" kata Tuan Harsono.
"Apa orang yang meretas gedung Aeroks tempo hari. Aku sudah menduga kalau orang itu adalah salah satu orang kami.
"Tapi sebelumnya saya meminta pada anda Jendral.
"Agensi kami tidak tau apa-apa, orang itu bekerja sendiri tanpa komando dari siapa pun!" jelas pemimpin BIN itu.
"Aku tau, aku akan menjaga nama Agensimu!" kata Tuan Harsono.
__________BERSAMBUNG_________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤