
Imanuel mengantar Mbah Sodik ke sebuah ruang makan yang sangat megah. Ruangan dengan meja panjang serta banyak kursi di sekitar meja itu.
Mbah Sodik tak sengaja melihat kue tart yang sudah dimakan sebagian di atas meja panjang itu.
"Bapak habis ulang tahun ya?" tanya Mbah Sodik.
"Kemarin Mbah!" jawab Imanuel.
"Kamu harus hati-hati! Kau akan kehilangan seseorang yang menemanimu memotong kue di hari ulang tahunmu kemarin!" kata Mbah Sodik tanpa tedeng aling-aling.
Imanuel terdiam sejenak, tapi dia segera fokus ke arah Mbah Sodik lagi. Iamnuel terlihat cukup terganggu dengan perkatan Mbah Sodik, dia berada di ruangan itu untuk melihat gerak-gerik dukun itu.
Kembang setaman, daging sate mentah, buah-buahan 7 warna, degan kelapa hijau dan beberapa bahan mistis yang sudah disiapkan oleh Mbah Sodik sudah siap di atas tampah.
Mbah Sodik mulai membakar dupa, dan memercikkan beberapa minyak wangi yang berbau menyengat, tak lupa kumpulan mantra-mantra sudah dia kumandangkan dengan desisan aneh di sela-sela bacaannya.
Mbah Sodik mengambil kantung hitam lusuh dari dalam jaket kulitnya, dia membuka kantung itu dan tiga mahluk kontrak keluarga Mbah Sodik telah muncul. Dua genderuwo dan satu kuntilanak, Projo, Waseso dan Meriam sudah duduk di depan Mbah Sodik.
Projo dengan pakaian ala tarsan, rambut merah yang gimbal tubuh cungkring tapi memiliki ukuran 10 kali manusia biasa itu memicingkan mata merahnya ke seluruh area rumah itu.
"Mahluk kiriman itu tak di sini Mbah Sodik!" kata Projo.
"Cek lagi! kamu pan sering salah Jo!" kata Kunti Mariam, yang berwajah cantik dengan rambut hitam lurus tapi tubuh bagian belakangnya bolong dan berbelatung.
"Sudah Nyi,!" desah Projo sedikit kesal.
"Yakin kamu?!" bentak Kunti Mariam.
Meski Mbah Sodik tak bisa melihat ketiga mahluk astral di depannya, tapi dia bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Sebaiknya kita pagari saja rumah ini Mbah!" kata Waseso.
"Yang harus dipagari adalah pria tampan yang penuh aura hitam itu!" kata Kunti Mariam yang dari tadi sudah memperhatikan Imanuel yang berdiri di pojokan rangan luas itu.
"Kenapa manusia bisa punya aura sekelam itu?" tanya Waseso.
"Kurasa dia dikutuk seseorang!" kata Projo.
"Apa yang dia lakukan sampai dikutuk seperti itu?" lagi-lagi Kunti Mariam memandang Imanuel dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Cepat kau buatkan, Mariam! Jangan main-main dengan manusia!" tegur Waseso.
"Baik, Waseso!" kata Mariam.
Tubuh kurus yang dibalut daster putih itu segera berdiri dan mengambil beberapa helai rambut Waseso yang berwarna putih dan rambut Projo yang berwarna merah.
Nasionalis sekali kedua genderuwo ini, sampai warna rambut dicat merah putih. Pupung masih di bulan Agustus jadi temanya merah putih, bab ini di tulis pada tanggal 21 Agustus 2021.
Si kunti mengambil kain perca yang tersedia di tampah sesajen dan membungkus rambut kedua genderuwo itu dengan rapi, setelah itu dia menyerahkan buntelan kecil itu pada Mbah Sodik.
Kini Mbah Sodik yang mengambil peran, ke empat mahluk itu membaca mantra bersama.
Angin di sekitar rumah mulai berhembus aneh dan udara dingin mulai menyeruak masuk, Mbah Sodik dan ketiga mahluk astral itu masih melanjutkan rangkaian bacaan mantra mereka.
Imanuel hanya terdiam melihat fenomena aneh di depannya, tapi dia sudah tak bisa apa-apa. Gangguan bayangan hitam itu sudah cukup menyusahkannya dan mungkin bisa membunuhnya nanti.
Sesaat kemudian udara mulai netral kembali, Mbah Sodik pun segera mengambil kantung hitam kecilnya lagi. Seketika ketiga mahluk astral di depan Mbah Sodik segera terserap ke dalam kantung hitam kecil itu beserta inti sari sesaji yang telah disiapkan untuk ritual memangil mereka.
Mbah Sodik pun berdiri dengan susah payah karena tubuh tambun yang dia miliki. Mbah Sodik berjalan pelan ke arah Imanuel yang memasang ekspresi wajah penuh harapan.
"Saya telah membuat jimat pelindung untuk anda!" kata Mbah Sodik. Imanuel memandang buntelan kain putih itu dengan tatapan aneh.
"Dia sedang tak ada di sini, tapi saya akan melacaknya nanti! Untuk sementara, jimat ini bisa anda andalkan!" kata Mbah Sodik. "Anda harus membawanya kemana pun anda pergi, bahkan saat mandi atau tidur!" lanjut Mbah Sodik.
"Baik Mbah,!" kata Imanuel, dia tak bisa membantah perkataan Mbah Sodik.
Dia sudah memutuskan untuk percaya pada dukun itu, jadi dia harus melakukan apa saja yang dikatakan dukun itu.
.
.
.
.
Aura masih sibuk melahap kue tart di depannya, sementara Utari mendapat pesan teks di ponselnya.
"Akkkhhhhhhh!" desahnya pelan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aura dengan mulut penuh dengan krim beku yang manis.
"Cowok gue ngebatalin janjinya!" ujar Utari.
"Alasannya?" tanya Aura, dia meraih air putih bekas Utari dan meminumnya karena tenggorokannya sudah susah untuk menelan.
"Ada tamu di rumahnya!" kata Utari, dari nada bicaranya dia terdengar sangat kecewa.
"Lain kali pan bisa elu nunjukin cowok elu ke gue!" hibur Aura, gadis itu merasa cukup aneh dengan tekat Utari.
Tak biasanya sahabatnya itu mau memberi tahukan siapa pacarnya pada Aura, Aura hanya merasa Utari pasti sudah sangat serius dengan pria itu.
"Temenin gue nonton ya?!" ajak Utari, dengan memaksa tentunya.
"Ok, tapi gue nggak bisa pulang terlalu malem! Bokap gue di sini soalnya!"
"Mbah Sodik, kesini? Kenapa elu nggak bilang?! Gimana kalau besok kita keluar bertiga!!!" kata Utari dengan semangat yang sudah berkobar lagi.
"Iyaaa! Biar kita dikira dua mahasiswi yang lagi jalan sama sugar daddy!" ujar Aura.
"Udah kek jalan sama Bang Oman Paris, donk!"
"Bokap gue pan mirip sama tuh pengacara kondang!"
"Bisa aja lu!"
Aura dan Utari akhirnya pergi ke bioskop bedua dengan motor putih Aura, Aura masih antri membeli popcorn dan cola sementara Utari berdiri tak jauh dari antrean.
Seorang pria dengan pakaian serba hitam terlihat memperhatikan Utari dan Aura dari tempat persembunyiannya. Kebetulan Utari menoleh ke arah seseorang yang mengintainya dan pria itu segera bersembunyi.
"Ada apa, Ut?" tanya Aura.
"Nggak ada apa-apa!" jawab Utari tapi rasa ketakutan sempat tersirat di wajah ayunya saat dia menoleh ke arah pria yang mengintainya, meski Utari tak dapat menemukan sosok itu.
"Cowok kamu seleranya bagus ya? Pilihan filmnya gue suka!" kata Aura, yang sudah menerima satu tiket film yang dihadiahkan pacar Utari pada gadis feminim itu.
"Pacar gue gitu loch!" kata Utari, dia berusaha agar Aura tak menyadari ketakukannya.
Di sepanjang film Aura tampak menikmati sedangkan Utari hanya berlagak menikmati, sekali-kali dia akan menyapukan pandangannya pada setiap penonton yang ada di dalam bioskop.
__ADS_1
Ternyata lelaki bertopi hitam itu duduk di kursi paling belakang, dia tengah memperhatikan gerak-gerik Aura dan Utari. Meski ruangan di dalam bioskop itu gelap tapi senyum menyeringai orang itu masih terlihat sangat jelas, senyum yang sama dengan senyum pria psychopath yang menyiksa Nawang Ratih di hutan 3 tahun yang lalu.