Ghost Of Death

Ghost Of Death
Leo


__ADS_3

"Elu tau, siapa yang mukul kepala elu!!!" kata Aura, dia sudah tak sabar mendengar kronologi kejadian yang telah menimpa Raga.


Rasa bahagia yang sempat mencuat di hati Raga, seketika terlebur karena pertanyaan Aura. Gadis ini sama sekali tak tau bagaimana mengekspresikan perasaannya, dan hal itu tak diketahui oleh Raga.


"Gue pikir elu khawatir!" desah bibir tipis Raga, tapi bibir itu segera mendesis kesal ketika pandangan mata elengnya telah mendapati seseorang membuka pintu memasuki ruangan rawatnya.


"Kenapa pake lapor polisi?" tanya Raga kesal.


"Elu diserang, Ga!!!" seketika Aura menjawab pertanyaan cowok berparas oriental yang cenderung tampan dengan aura yang dingin itu.


"Apa kau masih butuh istirahat?" tanya Pak Senki, benar seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat Raga dan membuat Raga kesal adalah Pak Senki.


Pria muda berwajah dingin yang imut itu mencoba mengangkat pungungnya agar dia bisa duduk dan berbincang dengan kedua orang yang sangat tak peduli dengan keadaannya dan hanya peduli pada pelaku penyerangan.


"Gue baik-baik aja kok!" kata Raga. "Akhhhhhhh!" pekiknya lirih.


Aura segera membantu Raga dengan ikut membantu menopang berat tubuh Raga dengan kedua tangannya.


"Kenapa?" tanya Aura lirih.


"Kalau nggak kuat bangun, tidur saja!" Pak Senki ikut mendekat kearah Raga dan dengan kekuatannya pria gagah itu berhasil membantu Raga duduk dengan tegak.


Pak Senki juga sedikit mengangkat tubuh Raga agar tubuh lemahnya bisa bersandar di sandaran ranjang rawatnya.


"Apa kamu masih ingat apa yang menimpamu di apartemen?" tanya Pak Senki.


"Gue hanya ingat seseorang buka pintu apartemen, gue pikir orang itu Aura! Setelah itu gue hanya noleh sebentar kearah orang yang baru saja masuk ke kamar utama. Tiba-tiba orang itu langsung menyerang gue dan gue nggak ingat apa pun lagi!" kata Raga.


"Elu bisa melihat sosoknya?!" tanya Aura dengan wajah yang sangat antusias.


"Dia memakai jaket kulit hitam dan masker hitam serta topi, gue nggak bisa melihat wajah pria itu!" jelas Raga, kerutan di dahinya tampak bertambah. Dia masih mencoba mengumpulkan semua ingatan yang mungkin dia tinggalkan.


"Pria?" tanya Pak Senki.


"Gue rasa nggak ada cewek yang sanggup mukul gue sampai pingsan! Apa lagi cumak sekali pukul!" kata Raga.


"Kamu nggak sempat bertarung dulu dengan orang itu?" tanya Pak Senki.


"Seinggat gue nggak!" kata Raga yakin.

__ADS_1


Pak Senki tampak menunduk frustasi, dia tampaknya memikirkan tentang barang-barang di apartemen yang terlihat amburadul. Di otaknya sekarang hanya ada pertanyaan kenapa TKP terlihat hancur, padahal kesaksian korban yang adalah Raga mengatakan fakta yang berbeda dari bukti.


"Gue tau siapa yang bertarung dengan orang itu!" kata Aura.


"Siapa?!" Pak Senki kini langsung menunjukkan raut harapan di wajahnya.


"Hantu yang gue kenal!" kata Aura.


Kedua pria di depan Aura segera saling menautkan pandangan bingung dan pasrah mereka, dua orang yang tau akan kelebihan Aura itu tak mungkin bisa berdebat dengan gadis tomboy itu jika berurusan dengan kata Hantu.


"Gue pikir, hantu itu pasti bisa menuntun kita pada pelaku!" kata Aura. "Gue harus pulang!"


Gadis tomboy itu segera bangkit dari kursinya dan hendak berjalan menuju pintu keluar.


"Sebaiknya kamu menginap di sini, ini sudah jam 2 dini hari!" kata Pak Senki.


Aura pun mengarahkan manik matanya lagi ke arah Pak Senki, dan Raga yang masih duduk di atas ranjang rawatnya.


"Gue juga butuh berbaring!" kata Aura.


"Elu bisa tidur di sini! Gue akan tidur di kursi!" kata Raga.


"Elu mau naik apa?" tanya Raga lagi.


"Gue bisa pesen pake aplikasi!" kata Aura.


"Aura kamu nggak usah bandel! Buaya yang cedera tak akan menyerangmu, dia terlalu lemah untuk sekedar menggelengkan kepalanya malam ini!" kata Pak Senki.


"Tapi gue harus nyari hantu itu!" kata Aura.


"Besok-kan bisa!" Pak Senki menarik lengan Aura dan mendudukkan tubuh mungilnya ke sofa panjang di pojok ruangan rawat Raga.


"Tapi Pak Senki!" Aura menurut, tapi dia masih ingin bernegosiasi dengan detektif tampan itu.


"Kamu harus tidur setidaknya 3 jam agar tubuhmu kembali segar!" kata Pak Senki.


Lelaki bertubuh kekar dan tinggi serta atletis itu segera berdiri tegak kembali dan dia segera keluar dari kamar rawat Raga.


"Elu bisa tidur di sini!" kata Raga.

__ADS_1


"Enggak perlu!" kata Aura.


Gadis itu segera berbaring di kursi panjang itu dan matanya pun kini terpejam, selain dia sangat lelah dia tak mau berkomunikasi dengan Raga. Karena hal itu sama sekali tak nyaman bagi Aura.


"Elu udah bobok?" tanya Raga.


"Gue lelah, ga!!! tolong jangan berisik!" bentak Aura.


"Ok! Bener elu nggak mau tidur di ranjang gue aja!" Raga masih saja menawarkan kebaikannya yang telah ditolak oleh Aura berkali-kali.


"Enggak!" jawab Aura.


.


.


.


.


Senki melangkahkan kakinya di lorong rumah sakit tempat Raga di rawat, kamar rawat Raga yang dijaga dua orang petugas dari kepolisian. Setatus Raga sebagai saksi dan juga korban penyerangan membuatnya mempunyai hak istimewa itu.


Kaki berbalut sepatu buts hitam berwarna usang milik Senki berhenti di depan sebuah kamar rawat yang terletak tak jauh dari kamar rawat Raga. Kamar yang terletak di lorong yang sama itu dihuni oleh pria yang terlihat tergeletak tak berdaya dengan beberapa selang berbagai ukuran ditancapkan di bawah kulit mulus pria itu.


Alat bantu pernafasan masih terpasang di wajah rupawan yang tak asing, wajah si hantu tampan.


Senki membuka pintu kamar rawat itu, dia mendekat ke arah ranjang rawat pria itu.


"Harusnya kamu menghubungiku dulu, kenapa kamu malah mengejar pembunuh itu sendiri?" tanya Senki pada angin AC.


Ruangan rawat yang hanya dihuni seorang pasien koma dan beberapa alat bantu kehidupan yang bunyinya terdengar seperti detik-detik ajal.


"Kenapa kau ceroboh sekali!" Senki mulai mengatakan perkataannya dengan nada yang sedikit ditekan karena emosi.


"Kamu harus sadar Leo! Kita harus menangkap pembunuh itu!" kini nada emosi Senki berubah menjadi nada yang penuh semangat.


"Kamu sendiri yang bertekat menangkap pembunuh itu! Kau bahkan sampai datang kesatuan kejahatan kriminal meski kau tak cocok di sana!" nada bicara Senki kini melemah, isakan kecil terdengar menggema di sela perkataannya.


"Kau pasti sudah melihat wajahnya-kan! Bangunlah, kita tangkap bajingan itu sama-sama!" kalimat ajakan Senki berujung pada tarikan nafas dalam.

__ADS_1


Detektif tampan ini mencoba untuk meredakan sedikit emosi yang telah menguasai dirinya, dia merasa sama sekali tak pecus mengurus kelompoknya. Dia selalu menyalahkan dirinya ketika anak buahnya melakukan kesalahan, itulah sifat Senki Kimoka. Detektif yang bertempramen meledak-ledak, tapi baik hati dan hanya peduli pada khasus yang dia tangani.


__ADS_2