Ghost Of Death

Ghost Of Death
Korban ke 9


__ADS_3

Raga menelan salivanya karena gugup, dia memicingkan matanya yang sudah runcing. Ruangan gelap itu seakan memberi pandangan menakutkan bagi Raga, tapi dia merasa harus masuk kedalam sana apa pun yang terjadi.


Raga mencoba melawan rasa takut yang sudah menguasai seluruh tubuhnya, dia merasa ada hal yang menakutkan di dalam sana. Tapi rasa penasarannya ternyata lebih kuat dari pada rasa takutnya.


Tubuh atletis Raga kini telah sepenuhnya ditelan oleh kegelapan ruangan itu, dia terus melangkahkan kakinya sampai di sebuah ruangan remang-remang. Ruangan yang pernah ditemukan oleh Hantu Leo.


Raga mulai membaca dan menelisik setiap hal yang ada di ruangan remang-remang itu, mulai dari foto-foto di dinding dan di papan kaca. Keadaan semua benda itu masih sama seperti saat Hantu Leo masuk kedalam ruangan itu.


Raga mengeluarkan ponselnya dan memotret semua itu dari berbagai sudut.


"Ngapain kamu, Ga?" tanya seseorang, Raga pun terdiam sejenak dan segera menoleh.


"Akggggggg!" teriak Raga saat melihat sosok yang menegurnya, Dan orang itu adalah Mbah Sodik.


"Apa ini semua?" tanya Mbah Sodik dengan raut wajah lebih kaget dari Raga.


"Husttttttt.... Kita harus pergi sekarang Mbah!" kata Raga dengan nada rendah.


"Pak Imanuel adalah pembunuh berantai Bulan Biru?" tanya Mbah Sodik pada Raga dengan nada lirih.


"Kurasa begitu Mbah, sebaiknya kita cepat pulang!" ajak Raga, keringat dingin kini sudah mengalir di keningnya.


Rasa takut pasti menghantui kedua pria itu, bagaimana mereka tak takut. Keberadaan mereka sekarang adalah di dalam sarang pembunuh berantai yang amat kejam.


Dengan sisa-sisa keberanian dan kekuatan yang mereka kumpulkan kedua orang itu tengah menyusuri lorong panjang di koridor arah masuk ke dalam ruangan perpustakaan itu.


"Kalian dari mana saja?" tanya Pak Imanuel yang ternyata sudah berdiri di ujung koridor bersisi-sisi rak buku itu.


"Wahhhhhh, Bapak pengemar Horace?" tanya Raga, dia segera meraih sebuah buku tua di depannya dan berpura-pura sedang membacanya. Raga berusaha agar suaranya tak gemetar ketakutan saat berkata.


"Horace adalah penyair Roma yang sangat jujur dengan pemikirannya, bagaimana aku tak menyukainya!" kata Pak Imanuel, wajah bulenya yang datar membuat Raga dan Mbah Sodik jadi gemetar beneran.


Langkah sepatu pantofel mahal Pak Imanuel berdentum bergantian, langkah kaki jenjang yang kekar itu semakin mendekat ke arah Raga dan Mbah Sodik yang sedang berdiri di topang kaki mereka yang hampir roboh karena gemetar ketakutan.


Mati, disiksa, mati, disiks, mati, disiksa, setia dentuman itu seperti berbunyi seperti itu di telinga kedua manusia berbeda warna kulit dan ras itu.


"Mahluk Kiriman itu kelihatannya sudah pergi dari rumah ini, Pak! Dia tak akan pernah datang lagi!" kata Mbah Sodik.


"Sukurlah!" desah Imanuel yang sudah berdiri di depan kedua pria itu. Kini hanya jarak setengah meter yang memisahkan tokoh antagonis dan protagonis kita saat ini.


"Kami akan pulang sekarang, maaf telah tanpa ijin memeriksa koleksi buku-buku berharga anda!" kata Mbah Sodik.


"Tidak papa, Raga terlihat belajar sesuatu karena sudah melihat-lihat buku di rak ini.!" kata Pak Imanuel matanya yang cekung itu melihat ke arah Raga dengan tatapan mengejek yang tegas.


"Kami tak melihat banyak hal, kok!" kata Raga, dia tak mau Pak Imanuel curiga kalau dia dan Mbah Sodik telah masuk ke dalam ruangan rahasianya.

__ADS_1


"Mari makan siang dahulu!" kata Pak Imanuel.


"Kami ada janji! Kami akan makan siang dengan Aura!" kata Raga.


"Baiklah!"


Pak Imanuel tak mungkin memaksa dua pria itu untuk tetap tinggal di rumahnya, setelah kedua pria itu berhasil keluar dari rumahnya dia segera bergegas ke dalam ruangan rahasianya.


Dia meneliti setiap letak barang-barangnya di ruangan rahasianya, dan Imanuel sadar seseorang telah menjamah ruangan rahasianya saat dia pergi. Dia kehilangan salah satu foto di dinding. Tentu Imanuel langsung menebak siapa yang telah berani datang ke ruangan itu tanpa ijin darinya. Raga dan Mbah Sodik adalah tersangka utama yang berhasil masuk ke dalam dakwaan pikiran Imanuel.


Pria berbadan tegap itu telah berganti pakaian serba hitam, dia berencana mengintai pergerakan dari Ragata dan Mbah Sodik.


.


.


.


.


"Raga! Kira-kira Pak Imanuel tau tidak ya kalau tadi kita masuk keruangan itu?" wajah Mbah Sodik masih penuh dengan ketakutan.


"Entahlah Mbah, semoga nggak." mohon Raga pada Sang Maha Kuasa, perkataan adalah doa-kan katanya.


Mereka kini sudah sampai di bangunan kontrakan yang ditempati oleh Raga dan Aura. Mbah Sodik merogoh kantung celana jinsnya dan mengeluarkan sebuah foto yang dia ambil dari dalam ruangan rahasia milik Pak Imanuel.


"Wahhhhh, kejam sekali Pak Imanuel itu!" desah Mbah Sodik sambil memeriksa foto yang ada di tangannya.


Tapi seketika tangannya gemetar, saat dia melihat sebuah detail di dalam foto tersebut.


.


.


.


.


Aura duduk di sebuah kursi kantin, dia tengah asik menyantap mie instan di dalam cubnya. Di sebelah Aura kini duduk Hantu Leo yang juga tengah menyantap mie yang sama dengan Aura.


"Aku kelaparan sekali!" kata Hantu Leo yang dengan penuh semangat memyantap mie dalam cub itu.


"Maaf, selama ini nggak ngasih Om makanan." kata Aura.


"Bagaimana kalau nanti sore kita makan daging?!" ide Hantu Leo, dia tersenyum meringis ke arah Aura.

__ADS_1


"Belom-belom udah ngajak gue bangkrut. Om gue itu mahasiswi dan keluarga gue miskin Om!" jelas Aura.


"Bukankah, jika kita hanya makan mie doang itu nggak sehat!" Hantu Leo sepertinya memang punya hobi berdebat.


"Anak TK juga faham itu Om!" desah Aura.


"Gue cariin, di sini Lu?" Utari segera duduk di sebelah Aura.


"Ada apa?" tanya Aura.


"Bentar lagi ada kelas, elu nggak mau ke kelas?" tanya Utari.


"Nggak liat, gue lagi makan?!" tanya Aura dengan nada kesal.


"Cepet habisin!"


Ponsel Aura di atas meja tiba-tiba bergetar dan tertulis sebuah pesan teks dari Mbah Sodik, karena nama Bapak terpampang saat layar posel itu menyala.


Bapak balik ke kampung, ada urusan penting.


"Ada urusan apa?" tanya Aura.


"Ada apa?" tanya Utari.


"Bapak gue tiba-tiba balik." desah Aura.


"Kenapa?" tanya Utari ingin tahu.


"Katanya ada urusan mendesak, dia pasti dapat pengikut baru." desah Aura, dia merasa sangat tenang sekali.


"Kalau gitu cepat kita ke kelas!" kata Utari dengan nada memaksa.


Aura tak menghabiskan mie di dalam cubnya dan mengikuti tarikan tangan mungil Utari. Mereka berjalan ke arah kelas dengan bercanda penuh riang gembira.


Kelas yang harusnya di isi oleh Pak Imanuel ternyata di isi oleh Ibu Hasnah, dia berkata kalau Pak Imanuel mendadak punya urusan.


.


.


.


.


Mbah Sodik tengah berjalan tertatih, kakinya yang tanpa alas kaki sudah berlumuran darah. Rintikan hujan gerimis menerpa wajahnya, wajah tua keriput itu tampak meringis menahan sakit.

__ADS_1


Tiada tara, rasa sakit yang tengah dia rasakan kini. Luka menganga di kedua betisnya yang masih mengeluarkan darah segar sedang di terpa dengan rintikan air hujan serta terpaksa dia gerakkan.


Mbah Sodik harus kabur dari tempat itu, dia harus pergi dari cengkeraman pembunuh berantai Bulan Biru.


__ADS_2