Ghost Of Death

Ghost Of Death
Orang tua Leo


__ADS_3

Bayangan wanita muda berambut panjang yang lebih mirip sosok hantu sadako itu, mengejutkan pengemudi mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tak kencang. Untung saja Ayah Leo mempunyai insting refleks yang cukup bagus sehingga sosok menakutkan di depan mereka tak kelindas kendaraan besi yang mereka kendarai.


"Apaan itu tadi Pa?" tanya Ibu Leo, wanita paruh baya itu langsung terbangun dari tidur lelapnya saat menyadari bahwa suaminya menekan pedal rem secara mendadak.


"Entahlah Mah, gimana kalau kita lihat sama-sama." usul Ayah Leo.


Pasangan suami istri itu langsung keluar dari mobil mereka tanpa rasa ragu atau pun takut. Karena keilmuan mereka sangat meyakini bahwa tak ada hantu di dunia ini.


Kedua pasang mata itu langsung mengenali Nawang Ratih sebagai manusia yang sekarat karena disiksa.


"Ya Tuhan, Pah!!!" pekik Ibu Leo.


Kondisi yang sangat memprihatinkan Nawang Ratih segera membuat kedua orang dewasa itu berfikir. Mereka harus melakukan sesuatu yang bisa membuat nyawa gadis itu selamat.


Karena mereka orang pendatang yang sedang liburan, mereka tak tau di mana letak Rumah Sakit terdekat. Tapi karena mereka berdua adalah Dokter akhirnya mereka memutuskan membawa Nawang Ratih ke vila tempat mereka menginap.


Ayah Leo membopong tubuh sekarat Nawang Ratih ke dalam salah satu kamar di dalam vila itu. Sementara Ibu Leo mengambil peralatan medis dari dalam bagasi mobil mereka yang sudah penuh dengan atribut yang akan mereka bawa pulang.


Ayah dan Ibu Leo memang berencana akan pulang malam ini, mereka menghabiskan satu minggu berada di vila pegunungan itu. Mereka sedang mengulang bulan madu mereka jadi mereka meninggalkan putra mereka bersama adiknya di kota.


Tanpa mereka sadari sepasang mata milik seorang pembunuh berantai mengetahui bahwa kedua pasangan Dokter itu membawa Nawang Ratih ke vila itu.


"Pemangsa tak boleh meninggalkan jejak buruannya!" kata Dokter Abraham.


Dokter itu sekarang sedang berdiri tak jauh di dalam hutan bersama seseorang yang lebih pendek darinya.


"Ingat itu baik-baik, jika kau ingin menjadi pemangsa kau harus teliti!" seseorang yang pasti masih remaja itu hanya mengangguk pelan tanda dia mengerti.


Kedua orang itu sama-sama berpakaian serba hitam, wajah remaja itu tertutup rapat oleh masker dan tudung jaketnya.


"Sebaiknya kau pulang, aku akan mengurus ini. Karena ini adalah magsaku." perintah Dokter Abraham pada remaja itu.

__ADS_1


Tanpa berkata apa pun remaja itu segera pergi dari tempat itu. Tanpa pencahayaan remaja itu terus menyusuri jalan setapak menuju kedalaman hutan yang semakin gelap itu. Dari caranya berjalan dan memilih arah remaja itu pasti memiliki pemandu tak kasat mata.


Karena tujuan remaja itu bukanlah rumah tapi vila penginapan di lain sisi hutan. Itu artinya remaja yang telah menyiksa Nawang Ratih digudang itu hanya berlibur ke daerah ini.


.


.


Tuarrrrrr


"Apa itu Pa?" tanya Ibu Leo pada ayah Leo.


"Entahlah Mah, kayaknya suara kaca pecah!" jawab ayah Leo.


"Ada-ada saja!" desah Ibu Leo yang segera keluar dari dalam kamar.


Ayah Leo masih sibuk dengan luka-luka di tubuh Nawang Ratih.


Tapi aliran listrik vila yang ditempati kedua orang tua Leo tiba-tiba saja padam. Seketika jantung ayah Leo berpacu cepat, dia merasa pasti ada sesuatu yang tak beres.


Dia menghentikan aktifitasnya dengan luka-luka di tubuh Nawang Ratih. Lelaki paruh baya itu tak peduli lagi dengan keadaan gadis belia yang baru saja dia tolong. Bukan karena rasa kemanusian yang dia miliki rendah, tapi karena tak biasanya aliran listrik di vila ini mati di malam hari.


Rasa di hatinya sudah tak tenang, senter di meja dekat ranjang Nawang Ratih segera disahutnya cepat. Dia harus segera keluar dari kamar itu untuk mencari istri yang sangat dia cintai itu.


"Mahhhh!" panggil ayah Leo, tapi tak ada sahutan sedikit pun yang didengar oleh telinga ayah Leo.


"Mah, kamu di mana?!" ayah Leo kini sudah menyusuri ruang tengah vila itu.


Vila yang mereka tempati adalah vila sederhana yang tak begitu luas, jadi tak banyak ruangan di dalam vila tersebut.


"Mah!" ayah Leo masih terus memanggil istrinya.

__ADS_1


Kini langkah kaki kekar ayah Leo sudah menyusuri ruang tamu yang juga tampak kosong tak ada siapa pun.


Kegelapan malam ini tampak tak ada tanda-tanda akan membaik, karena semua lampu di rumah-rumah sekitar tempat kedua orang tua Leo memginap ternyata padam semua.


"Kenapa Papa tinggalin gadis itu sendirian!" Ibu Leo baru saja masuk kedalam rumah, ternyata dia pergi keluar untuk menghubungi pengelola vila.


"Mama kemana saja?" tanya Ayah Leo dengan nada yang sangat khawatir.


"Mama menghubungi pengelola vila Pah, kita harus lapor karena kembali ke sini!" jelas Ibu Leo.


"Kelihatannya kita butuh lilin!" kata Ayah Leo.


"Ada di almari dapur, biar mama yang ambil!" usul Ibu Leo. "Papa kembali ke kamar gadis itu saja!"


Ayah Leo pun menurut dengan usulan istrinya tanpa keraguan, mungkin pembunuh berantai yang menyiksa gadis yang mereka tolong mengira gadis itu kabur ke desa. Rasa takut Ayah Leo pun sirna, dia kembali ke kamar yang ditempati oleh Nawang Ratih.


Tapi pria itu tak dapat menemukan Nawang Ratih, tubuh kecil yang sekarat itu raib tanpa jejak. Sinar senter yang dibawa oleh Ayah Leo sudah berpendar ke seluruh ruangan kamar itu, tapi sepasang netra lelaki paruh baya itu tak dapat menemukan tubuh Nawang Ratih.


"Akkkkkkkkkkkkk!" suara jeritan Ibu Leo terdengar melengking sekali di malam yang sunyi itu.


Langkah tergesa Ayah Leo segera menghampiri asal jeritan suara istrinya yang ternyata hanya noda darah segar di lantai dapur yang dapat ditemukan oleh Ayah Leo.


Bruakkkkkk


Sebuah pukulan benda tumpul melayang bebas menghantam kepala ayah Leo di malam yang gelap itu. Tubuh pria paruh baya itu tampak oleng dan langsung terjatuh ke lantai.


Di akhir nafasnya dia melihat tubuh istrinya yang tergeletak di lantai dengan bersimbah darah dan sama sekali tak bergerak lagi. Mungkin Ibu Leo sudah mati saat itu.


Meski pandangannya kabur dan rasa sakit sudah menguasai seluruh titik di kepala Ayah Leo, dia belum pingsan. Dia masih bisa menangkis pukulan kedua Dokter Abraham dengan berguling ke arah lain.


"Dokter Abraham?!" kata Ayah Leo saat samar-samar netra itu memandang ke arah penyerangnya.

__ADS_1


__ADS_2