
"Bener sih, tapi pakaian tante ini dari mana?" tanya Aura pada hantu Ibu Mawar yang hari ini terlihat bagai sosialita ibukota yang manjalita.
Semua pakaian yang dia kenakan hari ini mewah dan elegan, dia juga sangat cantik dengan make up. Tak ada hantu yang bisa berdandan meski mereka ingin.
"Kenapa kalian ingin tau tentang itu?" tanya hantu Ibu Mawar dengan raut tak suka.
"Penasaran aja," desah Aura.
"Lebih bagusan cantik natural!" ujar hantu Monika.
Hantu wanita muda itu langsung berlagak sok kecakepan dengan rambut hitam panjangnya yang indah dia kibas-kibaskan kesana kemari.
"Nggak manusia, nggak hantu kalau masalah cantik pasti jadi sensitif," gumam Aura.
Si gadis manis itu tampak segera berlalu dari hadapan kedua hantu wanita yang beda umur itu, meski kedua hantu itu tampak masih meributkan masalah siapa yang paling cantik.
Aura sepertinya tak mau pusing dengan urusan absrut para hantu itu, dia kembali menyusuri lorong lainnya untuk mencari buku yang dia butuhkan.
"Ra, makan yuk!" suara lelaki manis terdengar memanggil Aura dari celah-celah buku di rak depannya.
Karena mengenal suara itu Aura langsung mengedarkan pandangannya dan menelisik ke arah di depannya melalui celah-celah buku yang berjajar rapi di rak.
"Raga!" Aura tampak terkejut, karena baru kali ini melihat Raga di perpustakaan.
"Makan yuk! Laper gue!" ucap Raga.
"Ok bentar, gue mau ngerapihin ini dulu," kata Aura yang yang sudah mulai beranjak dari lorong itu.
Aura tampak menoleh untuk mengamati perdebatan antara Monika dan hantu Ibu Mawar, apakah sudah selesai atau sudah mulai jambak-jambakan.
Ternyata kedua hantu perempuan itu sudah raib entah kemana.
Aura sih agak heran tapi dia tak mau memikirkan masalah sepele itu, karena Raga sudah mendekatinya dan membantu Aura membawa buku yang akan dia pinjam.
.
Gubrakkkkkkkk
Monika terlihat jatuh di taman dekat perpustakaan dengan kepala yang mendarat ke tanah duluan. Bahkan gaun putihnya tersibak dan memperlihatkan asetnya yang di belakang.
Sementara hantu Ibu Mawar mendarat dengan berjongkok tanpa cedera.
"Apaan tadi?! Semprul! Kan rokku jadi tersibak!" kata Monika kesal.
Hantu gadis cantik itu segera bangun dan menutup asetnya dengan roknya kembali, serta membenarkan posisi kepalanya yang memang gampang patah.
"Ihhhh jorok!" ujar hantu Ibu Mawar dengan ekspresi jijik.
__ADS_1
"Siapa, aku yang jorok?" tanya Monika dengan wajah nyolot, tapi masih cantik.
"Kamu nggak pake cangcut, Kemana cangcutmu?" tanya hantu Ibu Mawar.
"Aku tidak punya!" kata Monika lemas. Hantu gadis cantik itu juga punya rasa malu juga.
"Ternyata kau mati tanpa memakai cangcut, kasian sekali," gumam hantu Ibu Mawar.
Ibu Mawar segera berdiri dan melihat ke arah Monika yang masih terduduk di atas hamparan rumput jepang taman kampus.
"Nggak geli, itumu ke sodok-sodok rumput?" tanya hantu Ibu Mawar.
"Geli-geli enak tante!" kata Monika.
"Dasar hantu somplak, berdiri! Dan ikut aku!" perintah hantu Ibu Mawar.
"Kemana kita?" tanya Monika yang sudah melayang di udara.
"Mau cangcut enggak?" tanya hantu Ibu Monika.
"Mauuuuuu!" kata Monika manja.
.
.
Tubuhnya yang sempurna saat ini di bungkus elegan dengan setelan jas hitam yang membuat aura kegagahannya meningkat berkali-kali lipat. Saat ini petugas BIN itu sedang berada di rumah sakit dimana mayat Karis Paseha diautopsi.
Seorang lelaki lain mendekat ke arah pria gagah itu Detektif Morgan menyapa Leo dengan melayangkan pukulan pelan di bahu kekar Leo.
"Tak ada yang berjalan sesuai rencana!" kata Detektif Morgan.
"Tapi ada sedikit titik cerah!" kata Leo.
Saat mengatakannya Leo tak melihat ke arah Detektif Morgan, pria itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Titik cerah?" tanya Detektif Morgan, lelaki muda itu segera menatap wajah Leo yang lagi serius.
"Kecelakaan pesawat angkatan udara yang menuju Afghanistan. Aku merasa itu adalah rencana!" kata Leo.
"Pesawat yang meledak 5 hari yang lalu? Bukankah itu pesawat kargo dengan muatan bahan makanan untuk di bawa ke medan perang?!" ujar Detektif Morgan.
"Isunya di dalam pesawat itu, berisi 39 orang yang menghuni empat Tim Elite Negara yang diberi nama Tim Alpa," kata Morgan.
"Tim Alpa, Tim sapu bersih yang di bentuk 20 tahun lalu di Kemiliteran Negara?! Apa Tim itu benar-benar nyata?" tanya Detektif Morgan.
"Kabar ini juga belum bisa kupastikan dengan benar, tapi jika kabar itu benar!
__ADS_1
"Kemungkinan besar, Bulan Biru adalah salah satu angota Tim Alpa. Entah dia masih aktif atau sudah keluar." kata Leo.
"Dilihat dari caranya mempermainkan kita, memang iya.
"Tak ada warga sipil yang membunuh tanpa jejak semacam ini. Bahkan Dokter Abraham yang seorang Dokter pun selalu meninggalkan kesalahan di setiap khasusnya!" kata Detektif Morgan.
"Jika benar Bulan Biru salah satu angota Tim Alpa, dia pasti dilindungi oleh Negara," gumam Leo.
"Kau benar, tapi siapa yang melindungi penjahat itu. Meski bagiku tak jahat!" kata Detektif Morgan.
Leo yang merasa aneh pun menatap ke arah mata Detektif Morgan dan kini kedua manik yang sama-sama berwarna hitam itu saling berpandangan.
"Kenapa, dia hanya membunuh orang-orang yang pantas dibunuh saja. Kupikir Bulan Biru malah meringankan sedikit tugas kita!" kata Morgan.
Plakkkkkkkkk
Kepala Detektif Morgan terkena jitakan dari seseorang.
"Akkkkkkkk!" pekik Detektif Morgan.
"Meringankan ndasmu penyok itu!!! Kau bilang Bulan Biru itu benar?!" tanya suara serak yang khas itu. Suara siapa lagi kalau bukan suara Detektif Senki.
"Enggak gitu juga, tapi dia keren!" kilah Detektif Morgan.
Tangan kekar Detektif Senki sudah dia angkat dan siap dia ayunkan ke arah Detektif Morgan, tapi lelaki itu segera bergerak ke belakang tubuh Leo.
"Bagaimana Pak, hasil autopsinya?" tanya Leo pada Detektif Senki.
"Tanya ke Dokter sana, aku mau mencari secangkir kopi. Otakku serasa mau meledak saat ini!" ujar Detektif Senki. Pria ini segera pergi dari hadapan kedua pria muda ini.
Tapi ternyata Detektif Morgan ingin mengikuti langkah kepergian Detektif Senki.
"Jangan katakan apapun tentang Tim Alpa pada Detektif Senki!" gumam Leo lirih.
"Kenapa?" tanya Detektif Morgan, dia bingung dengan ulah Leo yang aneh.
"Kau mau dia membuat keributan di BIN atau di Kementrian Petahanan Negara?" tanya Leo.
Detektif Morgan pun menggangguk mengerti, dia juga faham perangi atasannya itu. jika Detektif Senki sampai tau kecurigaan mereka tentang Tim Alpa, pria itu pasti akan langsung berlari kencang ke Kementrian Pertahanan Negara dan berteriak lantang sambil berkecak pinggang di depan ayahnya yang saat ini menjabat sebagai Mentri Petahanan.
Membayangkannya saja sudah ngeri.
"Ok-ok, tidak akan!" Detektif Morgan menepuk bahu Leo agar pria itu tenang dan percaya padanya.
___________BERSAMBUNG__________
Jangan lupa Vote, Komen dan Like ya Teman-Teman❤❤❤
__ADS_1