Ghost Of Death

Ghost Of Death
Misi Mengantar Pesan


__ADS_3

"Ayahku melakukan kejahatan untuk menafkahi keluarga kami, tapi sudah lama ayah tak mengunakan ilmu hitamnya untuk membunuh orang.


"Dia hanya mengunakan ilmu hitamnya untuk pengusiran hantu.


"Karena itu pamornya di dunia perdukunan menurun derastis, banyak yang menebar rumor bahwa ayahku tak sakti lagi.


"Akibatnya tak ada orang lagi yang berkunjung ke kediaman kami untuk mendapat bantuannya." jelas Aura.


"Karena itu aku bilang kalau Mbah Sodik adalah kesalahan!" kata Leo.


Leo sebenarnya tau kenapa Mbah Sodik dibunuh, dan siapa yang membunuh ayah Aura.


Tapi Leo juga tau. Raga membunuh bukan untuk kesenangannya semata, jiwa monster lelaki muda itu dimanfaatkan oleh Aliansi Negara yang bernama Tim Alpa. Dan kemungkinan besar Aliansi ilegal itu dibentuk oleh kedua orang tuanya dan beberapa Jendral 20 tahun yang lalu.


Tujuan Leo saat ini bukan menangkap Raga, tapi membongkar semua kebusukan sistem Negara ini. Dan satu-satunya cara agar kebusukan itu terbongkar adalah menangkap Raga dan mencari tau apa yang terjadi.


"Ok, kita singkirkan Mbah Sodik.


"Lalu korban ke sembilan adalah Karis Paseha yang membunuh banyak wanita muda yang cantik?" kata Detektif Senki.


Semua pasang mata di ruangan besar itu melihat ke arah papan yang penuh dengan foto-foto korban yang sudah tak bernyawa, tak berbentuk dan mengerikan.


Aura yang sedari tadi terdiam pun segara berdiri ke depan. Kelihatannya otak gadis cantik itu memikirkan sesuatu.


.


.


.


.


Di sebuah pusat perbelanjaan Ibu Morgan, Nyonya Harsono itu sedang berbelanja bersama istri presiden saat ini. Kedua wanita paling berpengaruh di Negara ini itu tampak sedang memilih beberapa tas bermerek keluaran terbaru.


"Aku suka yang warna merah Nyonya Harsono." kata Ibu Negara kita yang masih terlihat muda.

__ADS_1


"Anda harus terlihat angun di setiap penampilan, tolong pilihlah warna-warna yang tak mencolok." kata Nyonya Harsono yang berdiri di dekat tempat duduk Ibu Negara.


"Padahal aku tak selamanya menjadi Ibu Negara, kenapa aku hanya boleh punya tas warna hitam dan putih, apa aku ini lelaki?!" Ibu Negara yang masih muda itu ternyata cukup emosian.


Para staf dan kariawan toko sama sekali tak ada yang berani menjawab ungkapan emosi dari Ibu Negara itu.


"Jika tau hidupku akan diatur terus begini, tak kuijinkan suamiku mencalonkan diri jadi Presiden!" kata Ibu Negara itu sekali lagi.


Hal ini lah yang menjadi alasan kenapa ruangan VIP yang mewah ini sudah disiapkan oleh pemilik toko sebelum dua wanita itu datang. Hampir semua pelayan di toko dikerahkan untuk melayani kedua tokoh masyarakat itu. Tapi tetap saja keributan masih saja terjadi jika Ibu Negara belanja.


Dari sekian banyak pelayan wanita yang berada di toko itu kita dapat melihat wajah Utari, wanita itu tampak luwes dengan seragam toko tersebut. Sebisa mungkin Utari menyembunyikan wajah ayunya dari kamera CCTV yang dipasang di rauangan-ruangan toko itu.


Dia mendapat tugas mengantar minuman dan makanan ke ruang VIP yang dipesan oleh Istri Presiden.


"Apa aku boleh minta kopi?" tanya Ibu Negara pada Utari yang sedang menyajikan minuman di meja tersebut.


"Lambung anda sangat sensitif, jadi anda belum boleh mengkonsumsi kopi Nyonya!" kata Nyonya Hendarto.


"Bawakan aku jus yang segar!" kata Ibu Negara pada Utari.


Kesempatan itu dipakai oleh Utari untuk melancarkan aksinya. Dengan secepat kilat bak seorang pencopet, dia memasukkan sebuah kertas ke dalam tas Nyonya Hendarto sekertaris Presiden saat ini.


Kertas yang berisi sebuah alamat dan jam itu akan membawa Nyonya Hendarto ke sebuah tempat yang akan disesalinya.


.


.


Di lain tempat, Raga yang mengenakan setelan jas dan berdandan seperti orang culun dengan kacamata berlensa tebal nagkring di wajahnya. Sedang berada di kantor Kementian Pertahanan.


Dengan lagak culunnya Raga sedang menunggu di ruang tunggu.


"Pak Fernandes silahkan masuk!" seorang wanita muda dengan pakaian yang rapi memanggil Raga yang menyamar untuk masuk kedalam sebuah ruangan.


Ternyata Raga datang ketempat itu untuk memeperbaiki sistem keamanan yang rusak. Jelas rusak, karena Raga sendiri-lah yang telah menyabotase sistem keamanan di tempat itu.

__ADS_1


"Pak Fernandes, saya tinggal ya! Soalnya saya masih banyak kerjaan." kata wanita itu.


"Nggak papa Mbak, silahkan!" kata Raga dengan suara yang amat lembut.


Saat wanita itu sudah meninggalkan ruangan sistem keamanan itu Raga segera beraksi. Dia datang ke sini bukan hanya sebagai peretas BIN yang ditugaskan untuk memperbaiki sistem keamanan di tempat ini. Lelaki muda ini juga punya misi lain yang lebih penting.


Karena ruangan keamanan ini tertutup dan sangat rahasia, Raga pun memutuskan untuk keluar dulu dari ruangan di lantai paling atas ini.


Karena ruangan keamanan ini sangat krusial bagi bangunan ini maka tak banyak kariawan di tempat ini yang bisa masuk kedalam ruangan rahasia tersebut. Jadi suasana di lantai paling atas bagunan ini amat sangat sepi.


Raga dengan lagak biasa saja menyusuri lorong demi lorong, dia tampak sudah hafal dengan tempat ini. Tentu saja Raga adalah bagian dari Tim Alpa yang dibentuk oleh Kementian Pertahanan.


Raga akhirnya sampai di ruangan yang dia inginkan, tanpa babibu-tatitu tubuhnya langsung dia lenyapkan di balik pintu besi itu.


Dia berkeliling di rak-rak yang ternyata berisi dokumen rahasia Negara. Mata yang jeli sepertinya di karuniai oleh Tuhan kepada Raga, lelaki itu bisa dengan cepat menemukan dokumen yang dia inginkan.


Saat keluar pun Raga juga tak mengalami kesulitan yang berarti, dia kembali ke ruang keamanan dengan gestur yang amat normal.


Dia kembali duduk di depan banyak layar komputer yang menghadap ke arahnya. Dengan kecepatan penuh jemarinya terus dia ketukkan di kayboard. Dia memperbaiki sistem itu dengan cepat serta mengirim pesan kepada pemilik gedung itu dari email tempat ini.


Saya Hendra dari Tim 1, semua angota telah gugur di operasi Atena. Hanya saya yang selamat.


Saya berada di markas 3.


Raga menulis seperti apa yang dikatakan oleh seniornya yang memberi kabar darurat. Dan kabar darurat yang disampaiakan oleh seniornya adalah tentang operasi Atena yang telah membunuh semua angota Tim Alpa kecuali mereka bertiga. Raga, Utari dan Hendra.


"Kelihatannya sistem sudah kembali normal!" suara wanita itu kembali terdengar di telinga Raga.


"Sudah beres Mbak!" kata Raga.


"Trimakasih ya Mas Fernandes, lain kali Mas aja yang datang kalau ada kerusakan di sini." kata wanita itu.


Ternyata meski dandanan culun sudah di terapkan di diri Raga, ketampanan pria muda itu tak bisa luntur begitu saja.


Kedua kakak beradik itu telah berhasil melakukan misi mereka untuk mengumpulkan kedua pasangan suami istri Hendarto di satu tempat dan membawa dokumen rahasia pemusnahan Tim Alpa.

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Komen dan Like teman-teman❤❤❤


__ADS_2