Ghost Of Death

Ghost Of Death
Hadiah Pertama


__ADS_3

Di sebuah lorong di dalam gedung DPR. Beberapa orang pria dewasa yang mengenakan setelan jas rapi, mereka berbincang sejenak setelah menghadiri rapat palipurna yang cukup serius. Tapi perbincangan mereka terhenti saat seseorang yang memakai setelan jas biru navy muncul dari dalam ruangan sidang.


"Daniel bagaimana kabarmu Nak?" tanya pria yang paling tua dengan gelagat sok akrab.


"Saya baik-baik saja, Pak Cokro sendiri sehat-sehat saja kan?" basa-basi Daniel.


"Lihatlah aku masih segar bugar begini, ku dengar ayahmu kecelakaan? Apa ada yang merencanakan hal itu?" Pak Cokro, kelihatannya amat sangat ingin tau dengan apa yang terjadi.


Karena urusan Tim Alpa sangat rahasia, maka penyerangan yang dialami oleh Tuan Harsono tak bisa dipublikasikan sembarangan. Penyerangan itu hanya diketahui oleh beberapa orang inti di dalam pemerintahan.


"Hanya kecelakaan biasa, tapi karena usianya sudah tak muda lagi. Jadi ayah saya butuh perawatan yang lebih Pak.


"Anda tak perlu khawatir, keluarga kami tak punya musuh. Seperti keluarga anda!" ujar Daniel dengan penuh ke sombongan.


Daniel adalah putra dari Nyonya Harsono sebelum wanita itu mempersunting Tuan Harsono. Nyonya  Harsono pernah menikah sekali, dan suaminya meninggal dunia. Suami pertama Nyonya Harsono juga seorang Jendral, ayah Daniel meninggal dalam misi yang juga melibatkan Tuan Harsono.


"Kau benar, keluargaku dibenci oleh semua lapisan masyarakat saat ini. Jadi setelah habis masa jabatanku aku akan pensiun dan hidup damai di Kanada!" tangkis Cokro.


Tak bisa dipungkiri, lelaki kurus kering itu memang sedang menjadi trending topik di Negara ini karena dia mengesahkan UUD penghapusan hukuman mati untuk pelaku kejahatan Narkotika.


"Semoga hari anda menyenangkan Pak Cokro!" kata  Daniel, dia merasa sudah cukup ngobrol dengan rivalnya itu.


Daniel segera berjalan cepat ke arah ruangannya, karena rasa dihatinya sama sekali sedang tak baik. Pria tampan itu segera menyongsong laci di balik mejanya dan mengambil ponselnya.


Dia menghidupan ponselnya yang dia matikan saat sidang diadakan. Puluhan panggilan dari istrinya dan nomor rumahnya beruntun memenuhi kotak panggilan tak terjawab di ponselnya.


Meski mendesak istrinya itu jarang sekali menghubunginya sampai sebanyak ini. Apa lagi istrinya itu pasti faham jika dari pagi sampai siang dirinya harus menghadiri rapat palipurna. Karena rapat palipurna ini adalah agenda rutin yang tak mungkin dia tinggalkannya sebagai wakil rakyat.


Daniel mencoba menghubungi nomor istrinya tapi panggilannya tak diterima oleh istrinya.


Tanpa aba-aba Daniel segera berlari ke parkiran, semua orang yang menyapanya dia abaikan. Saat ini pikirannya ada di rumahnya, apakah terjadi sesuatu pada keluarganya. Di dalam hatinya dia terus berdoa agar keluarganya dijauhkan dari maut


.


.


Saat tiba dirumahnya, dengan mobil penuh penyokan karena Daniel sempat tabrakan dengan sebuah mobil di jalan raya.


Mobil polisi telah berdatangan ke rumahnya dan Daniel pun hanya bisa berjalan sempoyongan karena kepalanya juga terluka karena kecelakaan. Para polisi yang tau Daniel adalah pemilik rumah mewah ini segera diberikan jalan untuk masuk.

__ADS_1


Belum juga Daniel masuk ke dalam rumahnya, air matanya sudah mengalir. Saat melihat lima angota Kepolisian yang dia minta untuk berjaga di rumahnya sudah tergeletak dengan darah yang mengenang membanjiri pelataran rumahnya.


"Varooooo, dimana Varo!" gumam Daniel, dia begitu penasaran dengan kondisi putra semata wayangnya yang baru berusia dua tahun itu.


Saat masuk ke dalam rumah, kepala Daniel serasa ingin lepas dari tempatnya. Rumahnya yang indah telah berubah menjadi lautan darah dan mayat. Langkah tertatihnya segera menghampiri tangga yang tak kalah mengerikannya.


Beberapa mayat pelayannya dengan luka tusukan yang menyembulkan organ dalam tubuh mereka. Darah segar yang seperti air hujan, terus menetes dan mengalir langsung dari sumbernya.


Pria itu terus memaksakan dirinya untuk naik ke atas, dia harus melihat bagaimana kondisi anak dan istrinya.


Sesampainya di atas, Daniel tak peduli lagi pada mayat-mayat pelayannya dia segera menghampiri kamar yang telah dia lengkapi dengan keamanan yang amat sangat tinggi.


Tapi pintu itu terbuka, Daniel melihat kelantai bawah pintu yang terbuka itu. Sebuah telapak sepatu lelaki dengan darah yang mulai mengering.


"Varo, Jelita!!!" teriak Daniel.


Saat pintu terbuka, di sana ada dua Detektif yang tak lain dan tak bukan adalah Detektif Senki dan Detektif Morgan. Detektif Morgan bersimpuh di depan ranjang tidur putra Daniel.


Dan istri Daniel, Jelita sedang mendekap erat tubuh putra semata wayangnya di atas ranjang biru cerah itu.


Meski kasur itu penuh dengan noda darah, Daniel masih berharap jika anaknya masih hidup. Daniel harus menikah tiga kali hanya untuk mendapatkan keturunan. Setelah usahanya yang susah payah selama 10 tahun itu, dia tak mau kehilangan pewarisnya. Apa pun yang terjadi.


"Varo....dia baik-baik saja kan?" tanya Daniel pada Jelita istrinya.


"Pergi!" bentak Jelita. "Jangan bunuh anakku!"


Wanita bertubuh seperti model itu kembali menundukkan kepalanya ke arah balitanya yang sudah bersimbah darah.


"Varo sudah meninggal?" tanya Daniel pada Morgan, dia ikut bersimpuh di dekat adik tirinya Morgan.


Morgan tak kuat melihat ke arah kakaknya, dia hanya bisa menjawab pertanyaan itu dengan mengangguk pelan dan wajah penuh kesedihan.


Daniel segera berdiri dan menjambak rambut istrinya.


"Kenapa bukan kamu saja yang mati, kenapa harus putraku yang mati?!" bentak Daniel pada Jelita.


Wanita itu malah tersenyum dan melepaskan pelukannya pada balitanya. Alhasil tubuh mungil itu terlepas  dan jatuh ke atas kasur dengan kepala yang sudah terpisah.


"Dia bilang, ini salah mertuaku! Aku tak tau." Jelita menjawab dengan santai.

__ADS_1


Karena kaget dengan penampakan mayat putranya, Daniel melepas jambakannya dari rambut istrinya dan terduduk di lantai karena lemas.


"Saat kami tiba di sini, istri anda di ikat dengan kain-kain di lantai. Dan mayat putra anda tergeletak di atas kasur.


"Kemungkinan besar, istri anda dipaksa pembunuh itu untuk melihat bagaimana putranya di bunuh.


"Nyonya Jelita pasti sedang syok saat ini, sebaiknya anda tak memarahi dia!" ujar Detektif Senki.


"Memang kau siapa, berani sekali mengaturku!" teriak Daniel.


"Kami menemukan ini di dekat mayat putra anda," Detektif Senki memberikan sebuah kotak kecil pada Daniel.


Perlahan-lahan kotak itu dibukanya, dan isinya adalah liontin Bulan Biru dengan secarik kertas.


HADIAH PERTAMA


.


.


.


.


Raga berada di lorong kumuh yang tak jauh dari rumah Daniel Harsono. Dengan cepat dia segera membuka seluruh pakaiannya.


Dia memakai celana lagi di dalam celana hitam tentara itu. Dia membuka seluruh atasan yang ia kenakan lalu mengobrak-abrik beberapa rongsokan di depannya.


Sebelumnya dia sudah menyembunyikan tas ransel yang di bungkus plastik sampah itu di sana.


Raga mengeluarkan kaus putih panjang dan mengenakannya. Dia juga menyeka darah yang menodai wajah dan lehernya.


Wajahnya terlihat santai sekali padahal seluruh angota Kepolisian dan Tentara sedang memburunya saat ini.


Raga melihat lagi penampilannya, dan wajah rupawannya melalui kamera ponselnya. Apakah masih ada noda darah yang bisa dilihat orang lain.


Ternyata tidak.


Raga memunggut pakaian dengan banyak darah itu dan menyiramnya dengan bengsin dalam botol air kemasan kecil. Lalu membakarnya di sana.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG__________


Jangan lupa Vote, Komen dan Like ya teman-teman ❤❤❤


__ADS_2