
"Apa elu mengenal hantu om-om itu?" tanya Aura pada Mutia yang masih setia melayang di samping Aura yang memelankan langkahnya.
"Tidak!" jawab Mutia.
"Itu artinya hantu om-om datang ke apartemen elu, sebelum gue disewa untuk ngusir arwah elu!"
"Benar!"
"Dan setelah dari tempat elu, hantu om-om itu meninggal." Aura masih mencoba menerka-nerka.
Kecurigaan terhadap hantu om-om tengah mencangkup otak Aura, kini banyak teori konspirasi yang tengah bergelut di dalam rongga kepala Aura. Sebenarnya siapa hantu om-om yang selalu bersamanya beberapa hari ini.
"Kemungkinan besar, hantu om-om itu mengincar isi brangkas itu!" kata Mutia. "Aku tak tau apa isi berangkas itu, tapi kurasa apa pun itu pasti sangat penting bagi Mas Abraham! Karena dia sampai tega mencelakai bibiku, saat bibiku memergoki Mas Abraham meletakkan bungkusan itu di dalam berangkas tersebut!" lanjut Mutia.
"Bibimu?" Aura kaget, karena berita yang dia dapat dari para tetangganya di apartemen Mutia tak punya satu pun keluarga.
"Bibiku datang dari desa setelah melihat berita bunuh diriku di TV, mungkin seminggu setelah kematianku!" Mutia kembali menjelaskan.
"Apa kau tau dokter Abraham membunuh banyak orang lain selain kamu?" kata Aura.
"Aku sama sekali tak tau, aku hanya tau dia pria yang baik! Sampai pada hari ketika dia membunuhku!" kata Mutia, tapi ekspresi wajah ayunya yang transparan terlihat menyembunyikan sesuatu.
Aura tak mau ambil pusing, tujuanya adalah menangkap pembunuh yang telah membunuh Ratih. Dan sudah dipastikan bahwa pembunuh Ratih bukan dokter Abraham, jadi apa pun yang ada di dalam berangkas itu tak penting lagi bagi Aura.
"Apa selama ini, elu nggak mau pergi dari apartemen itu karena isi brangkas itu?" tanya Aura, dia tau Mutia masih menyembunyikan beberapa fakta darinya.
"Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu yang itu!" kata Mutia.
"Kenapa?"
"Kau akan tau jika melihat isi brangkas itu!"
"Tadi elu bilang nggak tau apa isinya," Aura benar-benar merasa bahwa Mutia berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.
Aura hanya mengantar Mutia di depan pintu gerbang, dia tak ikut masuk kedalam karena ternyata hantu kupluk telah menunggu kedatangan Mutia di pintu gerbang universitas.
Seperti sepasang kekasih yang lama tak berjumpa, mereka saling berpelukan melepas kerinduan selama 10 tahun menjadi hantu yang gentayangan.
Padahal mereka tinggal di tempat yang cukup dekat, tapi butuh waktu 10 tahun untuk bertemu kembali. Kenyataan mereka meninggal di hari yang sama juga membuat miris. Sepasang muda-mudi yang jatuh cinta karena pandangan pertama, tapi kisah cinta mereka yang berakhir tragis.
Tapi di mata Aura, kisah cinta Mutia dan hantu kupluk berakhir bahagia. Meski mereka harus melalui penantian yang cukup panjang, yang mungkin sangat melelahkan bagi kebanyakan manusia. Tapi itulah cinta sejati, cinta sejatu itu tak peduli waktu atau keadaan, cinta mereka akan terus tumbuh seperti ilalang di padang rumput yang luas. Meski kemarau panjang membuat daun-daun ilalang kering, tapi saat musim penghujan tiba maka daun-daun ilalang akan kembali menghijau dan terus tumbuh.
__ADS_1
Aku bisa melihat apa yang tak bisa manusia lain lihat...
Seperti hari ini, aku melihat bentuk lain dari sebuah hal yang disebut Cinta Sejati.
Aku melihat dunia dengan cara yang berbeda, karena mataku istimewa.
.
.
.
.
Pintu apartemen terlihat terbuka, Aura segera melangkah cepat untuk sampai di depan pintu apartemen 130. Ruang tengah yang tampak sangat berantakan, parabot yang bergeser acak dan banyak pajangan yang berhamburan di lantai.
Aura segera melihat ke arah kamar utama, pintunya masih terbuka. Aura segera masuk kedalam ruangan yang sama berantakannya dengan ruang depan, padahal kamar Mutia sangat rapi saat Aura meninggalkan kamar ini. Hanya kasurnya yang terbakar yang merusak pemandangan kamar utama Mutia.
"Raga!" teriak Aura.
Lelaki tampan itu tergeletak tengkurap di lantai, posisinya sangat dekat dengan berangkas di dalam almari baju Mutia yang telah terbuka.
"Nggak lucu, Raga!" Aura kembali berteriak saat tak mendapat respon apa pun dari Raga.
Aura berusaha membalikkan tubuh Raga, tapi telapak tangannya menyentuh cairan kental. Kepala Raga berdarah.
"Raga!" Aura berteriak dengan nada khawatir kali ini, dia panik karena keadaan Raga yang ternyata benar-benar pingsan.
Aura segera meraih wajah Raga yang kini sudah terlentang di depannya, dia mendekatkan telinganya ke arah wajah Raga. Aura bisa mendengar nafas lemah Raga, itu membuatnya sedikit lega.
Tapi Raga harus segera mendapat pertolongan, jemari lentik Aura segera meraba seluruh kantong yang melekat di tubuhnya.
Dia mencari ponsel untuk memghubungi siapa pun, Aura masih memandangi ponselnya dengan tangan yang gemetar. Dia baru sadar, dia tak punya banyak teman yang bisa dimintai tolong.
"Pak Senki!" guman Aura, gadis itu segera melakukan panggilan ke nomor telepon Pak Senki.
.
.
.
__ADS_1
.
Aura kini sudah duduk di depan ruang UGD rumah sakit, dia tampak sangat khawatir. Wajahnya dia tekuk ke dalam rengkuhan kedua telapak tangannya, dia berdoa untuk Raga yang masih bergelut dengan dokter dan perawat yang tengah melakukan pertolongan pertama pada lalaki yang dia cintai itu.
.
.
.
.
"Pintu dan brangkas dibuka tanpa paksaan, Raga dan seseorang itu pasti bertengkar dulu sebelum orang itu berhasil membuka brangkas ini!" kata Senki, dia tengah menjalankan tugas mengidentifikasi TKP di dalam kamar utama apartemen 130.
"Kacau sekali!" kata Morgan, dia adalah detektif yang memegang wilayah kota bagian timur. Wilayah yang sekarang menjadi TKP penyerangan Raga. "Mungkinkah, pelaku yang menyerang Raga adalah orang yang sama dengan orang yang menyerang petugas Leo?" tanya Morgan pada Senki.
Senki dan Morgan adalah senior dan junior yang saling mengidolakan, jadi setiap ada khasus yang tak bisa dipecahkan oleh Morgan maka Morgan akan meminta saran dari Senki.
"Ku rasa kau benar, dia sama sekali tak meninggalkan jejak apa pun! Persis sama seperti penyerangan terhadap petugas Leo!" kata Senki.
Ekspresi yakin tengah Senki perlihatkan pada Morgan, hal itu tampak membuat Morgan mengerti apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
"Periksa seluruh CCTV yang berada di area ini!!! kita harus menangkap pelakunya secepatnya!" perintah Morgan pada semua angota satuannya.
.
.
.
.
Raga sudah dipindahkan ke kamar biasa, lukanya tidak parah tapi dia masih tertidur di atas ranjang sempit rumah sakit sementara Aura duduk di dekat ranjang yang ditempati Raga.
Aura tampak terdiam saat melihat wajah tampan Raga, bukan karena merasa terpesona tapi karena merasa bersalah. Aura sadar dia terlalu kasar pada Raga, dahulu atau pun sekarang dia masih kasar pada Raga.
"Kenapa elu biarin orang itu mukul elu?!" kata Aura dengan nada sedih yang dia tahan. Tapi melihat balutan kain kasa yang mengitari kepala lelaki yang dia cintai, membuat gadis tomboy ini tak bisa menahan tetesan air mata yang sudah berada di ujung pelupuk matanya.
"Jangan nangis! elu jelek kalo lagi mewek!"
Aura segera menghapus air matanya dan mengarahkan manik mata sembabnya ke arah wajah Raga.
__ADS_1