
"Apa elu sudah punya rencana untuk Karis?" tanya Utari dengan nada yang lirih.
Saat ini kedua saudara kembar berbeda rupa dan kelamin itu sedang duduk di kanting kampus. Mereka bisa mengobrol berdua karena Aura pergi ke toilet.
"Apa yang elu dapet dari acara semalem?" tanya Raga, dia berusaha berlagak senatural mungkin.
"Gue berhasil memasang kamera di kamar pribadi Karis di vila terpencil itu. Gue juga tau dimana letak vila itu.
"Sepertinya vila itu adalah TKP dari semua pembunuhan dan kejahatan yang bajingan kecil itu perbuat!" jelas Utari.
"Gue sudah punya rencana buat bajingan kecil itu." gumam Raga.
Raga tak bisa menahan senyum di bibirnya, karena bayangan penyiksaan yang akan dia lakukan pada Karis sudah berputar di kepalanya.
"Elu tau alasannya gue pake simbol Bulan Biru untuk membunuh?" tanya Raga pada Utari.
"Bulan Biru adalah simbol dari ketidak setiaan. Dia selalu muncul di waktu yang bisa kita prediksi tapi kemunculannya selalu berubah-ubah." Utari kembali menjabarkan arti dari simbol yang dipilih oleh kakaknya untuk menandai hasil buruan mereka.
"Jika ayah membunuh orang-orang yang tak berdosa dan suci seperti arti dari simbol Bintang Perak.
"Gue ingin melakukan sebaliknya.
"Jika gue harus membunuh, gue hanya akan ngebunuh orang-orang yang berdosa dan pantas mati." Raga mengatakan pernyataannya itu dengan wajah yang datar.
"Karena kakak merasa menjadi Tuhan?" tanya Utari.
Raga hanya terdiam dan tersenyum ke arah Utari.
Mereka berdua berlagak sebiasa mungkin, jika orang lain melihat mereka pasti mengira bahwa apa yang dibicarakan oleh Utari dan Raga adalah hal yang sepele dan ringan.
Saat Aura datang lagi pun dia tak merasa curiga dengan obrolan yang kembaran itu bicarakan. Karena saat Aura tiba kedua pembunuh berantai itu sedang mengobrolkan masalah karya untuk pameran.
"Jika elu ikut tampil di acara TV itu, gimana sama pameran?" tanya Raga pada Aura.
"Mungkin gue harus mengulang semester ini!" kata Aura, dia terlihat frustasi.
Aura terlihat mulai menyesal dengan keputusan yang dia buat. Jika dia ikut tampil dalam acara penelusuran Bulan Biru, tentu saja dia harus merelakan pameran.
Raga yang melihat kekasihnya sedih segera mengelus kepala Aura dengan lembut. Hal itu sukses membuat gadis tomboy yang duduk di sebelahnya pun tersipu malu.
__ADS_1
"Tenang aja elu kan punya Ragata, mahasiswa paling jenius di jurusan Seni kita!" kata Utari.
Kedua pasang mata pasangan kekasih itu kini saling memandang bingung.
"Elu nyuruh gue buat karya atas nama Aura?!" Raga cukup kaget dengan apa yang baru saja dilontarkan oleh bibir Utari.
"Mending gue ngulang, dari pada gue ngumpulin karya orang lain!" desah Aura.
"Elu mana bisa curang!" kata Utari.
.
.
.
.
Karis Paseha memandang ke arah hutan dari balkon kamarnya. Wajah tampan nan rupawannya tampak sangat segar dan kepuasan terpancar dari senyuman indahnya.
Lelaki muda yang penuh gairah itu sepertinya baru saja melewati malam yang sangat indah dengan seorang wanita. Gadis paling cengeng di antara ketiga gadis tadi malam telah dipilih olehnya untuk memuaskan n.a.f.s.u s.e.x.nya yang begitu menyimpang.
Langkah gontai Karis Paseha segera menyusuri pintu dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Matanya berbinar saat melihat wajah cantik yang pucat milik gadis berusia 16 tahun itu.
"Neha, bangun sayang!" bisik Karis di telinga gadis belia itu.
Mata sembab yang masih kantuk itu pun segera terbuka saat gendang telinganya mendengar suara Karis.
Seketika tubuh mungil itu meringsut menjauh dari tubuh Karis yang sudah berjongkok di depan wajah Neha.
"Apa kamu takut padaku?" tanya Karis dengan senyum menyeringai.
"Nggak kok, saya...." Neha tak berani melanjutkan perkataannya.
"Tenang kamu nggak akan hamil sayang." telapak tangan Karis membelai rambut Neha yang sudah berantakan.
"Mandilah!" suruh Karis.
Neha yang entah kenapa sangat ketakutan itu segera berdiri dan menutupi tubuh polosnya dengan sehelai handuk di dekatnya. Langkah kaki munggil Neha segera bergerak perlahan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi yang sudah ia kunci, Neha memperhatikan area *********** dengan seksama. Rasa sakit yang amat sangat di area itu telah dia tahan selama semalaman.
Dia tak menyangka jika Karis Paseha akan membuatnya sampai seperti ini, dia pikir menyerahkan keperawanannya pada idolanya adalah bentuk rasa sukanya. Tapi keindahan yang dibayangkan Neha karena dapat bersetubuh dengan Karis Paseha seolah sirna.
Lelaki yang di luarnya lembut itu ternyata membuatnya kesakitan sepanjang malam. Jika Neha menolak melanjutkan maka Karis tak segan untuk memukuli gadis belia itu.
Di bawah sower gadis mungil itu menitikan air mata dan menagis, dia menyesal telah bertahan di sini malam tadi. Dia ingin cepat pulang dan segera melupakan kejadian buruk yang menimpanya malam tadi.
Tapi kegalauan Neha telah tergganggu oleh dekapan tangan pria yang melingkar di perutnya. Gadis belia itu langsung tau siapa yang mendekap tubuh telanjangnya saat ini.
Karis Paseha.
"Jangan takut Neha, aku akan berusaha lebih lembut kali ini!" kata Karis.
Tubuh mungil yang masih dalam proses tumbuh kembang itu seketika membeku. Bayangan kekerasan yang dilakukan oleh Karis semalam belum hilang dari ingatannya. Dan sekarang dia harus melalui rasa sakit itu entah sampai kapan.
"Aku akan menikahimu, tenang saja. Kau sekarang adalah pacar dari Karis Paseha!" kata Karis.
Perkataan Karis sepertinya tak mampu untuk membuat Neha tenang. Gadis belia itu menyingkirkan kedua telapak tangan Karis yang sudah mulai memberikan sentuhan ke surga di tubuh Neha.
"Tolong biarkan saya pulang, saya akan melupakan kejadian malam tadi! Saya tak akan bicara pada siapa pun. Tapi tolong ijinkan saya pulang!" rengek Neha.
Dia tak mau terbuai dengan mimpi menjadi pendamping Karis Paseha yang tampan, terkenal dan kaya raya. Bukan karena kekerasan s.e.x yang Neha dapat semalaman dari Karis, tapi gadis belia itu tau dengan benar bahwa setatus sosial adalah hambatan sebuah bubungan.
Neha hanya berencana memberikan kesuciannya saja karena rasa kagumnya pada Karis. Dia tak mau bermimpi tinggi untuk mendekap erat Karis sendirian. Karena dia adalah pengemar Karis dia tau betul hal macam apa yang harus dia terima nantinya jika terlalu berani bermimpi tinggi.
Rengekan Neha sama sekali tak membuat Karis melunak, dia yang sudah berada di puncak keinginan untuk dipuaskan pun berusaha membuat tubuh Neha menginginkannya kembali.
"Jangan berfikir macam-macam Neha sayang!
"Maaf jika aku terlalu kasar semalam, aku tak bisa menahan karena kamu sangat cantik.
"Jadilah milik Karis Paseha satu-satunya selamanya, Neha sayang!.
"Maaf jika aku tak bisa berhenti kagum dengan keindahan tubuhmu ini!"
Lantunan rayuan maut itu diiringi dengan sentuhan lembut kedua telapak tangan Karis di tubuh Neha. Gadis yang belum pernah di sentuh lelaki itu pun tak bisa mengabaikan rasa indah yang saat ini dia rasakan.
Apakah aku akan terus terbuai padanya sampai mati. Neha.
__ADS_1