Ghost Of Death

Ghost Of Death
Pasukan Kerasukan


__ADS_3

"Apa ini?" tanya Hantu Ibu Mawar pada angin yang berhembus di depannya.


Beberapa mobil dengan berbagai jenis dan tipe serta ukuran, sudah berjajar rapi di depan pelataran gudang itu.


Semua pasukan yang diangkut oleh mesin berderu itu segera turun dan mengepung gudang yang dimasuki oleh Aura. Detektif Senki pun maju mendekati salah satu dari orang-orang berseragam lengkap itu.


"Apa yang kalian lakukan disini?!" tanya Detektif Senki.


"Kami hanya menjalankan perintah untuk menangkap Nona Aura!" kata prajurit yang di tanyai oleh Detektif Senki.


"Dia milik kantor kepolisian, berani-beraninya kalian!" bentak Detektif Senki.


Tinjunya sudah melayang ke udara siap dia bogemkan ke arah prajurit berhelm khusus itu. Tapi kepalan tangan itu terhenti oleh cengekraman sopir Tuan Harsono.


"Apa polisi rendahan sepertimu mau melawan Kementrian Pertahanan Negara?" tanya sopir Tuan Harsono itu.


"Jadi ini perintah keparat itu?!" Detektif Senki tersenyum, dia tau dia tak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkaan Aura kali ini.


Tapiiii


"Hoyyyyyy kalian semua, menghadap kesini sebentar!" perintah Hantu Ibu Mawar, pada semua hantu yang berkumpul di tempat itu.


Semua mata pucat itu segera membidik si empunya suara.


"Kalian mau bersenang-senang atau tidak?" tanya Hantu Ibu Mawar.


"Senang-senang?" tanya salah satu gadis SMU korban Karis Paseha.


"Cobalah, rasuki para manusia-manusia itu!


"Mereka bawa senjata apa-kan.


"Lalu kita bisa main tembak-tembakan sebentar, sambil menunggu peti itu dibuka, bagaimana?!" rayu Hantu Ibu Mawar.


"Kayaknya menarik!" ujar seorang hantu pria yang kulit tubuhnya penuh tato.


"Kalau begitu ayooo!" teriak Hantu Ibu Mawar dengan semangat.


Satu persatu hantu mulai merasuki para pasukan khusus yang dikirim oleh Tuan Harsono itu.


"Bagaimana cara nembakinnya?" tanya salah satu prajurit yang udah kerasukan.


Prajurit yang belum kerasukan pun menoleh ke arah  prajurit yang bertanya tentang hal aneh itu.

__ADS_1


"Apa begini?" tanya prajurit yang sudah kerasukan.


Pelatuk senapan laras panjang itu dia tarik dan langsung mengenai prajurit di depannya. Seketika prajurit itu langsung ambruk dan darah mengalir dari dadanya yang tertembak.


Tapi belum sempat tubuh prajurit yang tertembak itu menyentuh tanah, tubuh prajurit itu kembali berdiri lagi. Semua mata yang melihat hal itu pun langsung kaget dan ketakutan.


"Senjata ini boleh juga!" kata prajurit yang tertembak.


Kedua prajurit yang sudah kerasukan itu saling tersenyum satu-sama lain.


Mereka berdua pun segera menembak secara asal ke segara arah. Tak butuh waktu lama tempat yang awalnya tegang karena kehadirian pasukan khusus,  Jadi lebih tegang karena hampir semua prajurit kerasuakan dan saling tembak-tembakan tak jelas.


Detektif Senki segera masuk ke dalam gudang sebelum sopir Tuan Harsono masuk ke dalam gudang. Sebuah genggaman erat menarik jaket jins Detektif Senki, membuat Detektif itu terjungkal ke tanah. Tapi dia tak mau kalah, Detektif itu berdiri dan segera meraih jas sopir Tuan Harsono.


Detektif Itu melakukan hal yang sama, yaitu menariknya. Tapi pria gagah perkasa itu tak jatuh karena keseimbangannya bagus. Detektif Senki segera mencengkeram pundak Sopir itu dengan telapak tangan kirinya.


Sopir itu mencoba menagkis cengkeraman Detektif Senki dengan berbalik dan beberapa tinju dan pukulan sopir itu. Membuat Detektif Senki terjatuh ketanah lagi, dengan meringis kesakitan. Dada dan perutnya terasa sesak dan sakit karena pukulan sopir itu.


Sopir itu pun masuk, dia melihat Aura yang berada di dekat peti aneh di pojok sebelah kiri dari tempat sopir itu berdiri.


"Sebaiknya anda tak melakukan perlawanan Nona Aura!" kata Sopir itu.


Aura masih diam tanpa menjawab, tanpa bergerak tapi dia masih bernafas. Perlahan tapi pasti sopir itu mendekati Aura dan sopir itu segera memasang borgol di tangan Aura.


Dipelataran gudang itu masih terjadi perang antar prajurit yang kerasukan, ada yang jambak-jambakan. Karena dirasuki oleh dua hantu perempuan.


Ada yang saling pukul, karena dirasuki oleh dua preman.


Ada yang menari-nari tak jelas, ada yang makan beling, nyembur api , bahkan ada yang main kuda-kudaan. Serta berlagak seperti wanita yang centil.


Tapi keadaan aneh itu tak membuat si sopir gusar, dia terus membawa Aura dari tempat itu. Tubuh Aura segera dia lempar ke kursi belakang mobil yang ia kendarai. Tapi anehnya Aura sama sekali tak bersuara atau mendongak.


Tapi saat sampai di jalanan kota yang ramai, kepala Aura bergerak, dan terdengar bunyi aneh saat kepala gadis itu bergerak perlahan.


Kretek, kretakkkkk karkkkk.


Si Sopir sama sekali tak menyadari gerakan Aura yang aneh itu. Sampai rambut hitam itu berubah menjadi coklat kemerahan. Sopir itu melihat ke kaca sepion di depannya yang mengarah kebelakang.


"Siapa kamu?!" tanya Si Sopir itu.


"Aku, arwah jahat Nawang Ratih!" kata wanita dengan rambut merah.


Wanita itu mendongak dan tersenyum menyeringai, wajahnya buruk rupa karena terbakar. Hal itu membuat Si Sopir berteriak keras sekali.

__ADS_1


Hantu Nawang Ratih itu mencekik leher Sopir itu dari tempat duduknya.


"Ayooo Pakkkk ikut sayaaa!" bisik Hantu Nawang Ratih dengan suara yang menyeramkan.


Mobil itu masih melaju kencang meski pedal gas tak di injak oleh Si Sopir. Akhirnya mobil itu oleng dan menabrak apa pun yang ada di depannya, dan berhenti karena menabrak tiang jembatan layang yang amat kokoh.


Sopir itu meregang nyawanya di tempat itu.


.


.


Aura masih di dalam gudang, yaaa Hantu Nawang Ratih menjelma menjadi Aura dan di bawa oleh Si Sopir tadi.


Aura pun menghela napasnya lega, dia segera melanjutkan misinya. Alasan dia jauh-jauh datang ke mari, membebaskan arwah ayahnya. Dia ingin arwah ayahnya tenang di dunia lain.


Aura membuka gembok yang di lapisi kertas mantra itu.Dia langsung mengangkat penutup peti kurungan itu, dan arwah-arwah orang-orang yang dibunuh Raga pun berterbangan keluar dari sana.


Tentu saja semua arwah yang berada di dalam peti itu tak ada yang normal.


Ada sembilan hantu manusia dengan dendam tinggi di ruangan gudang itu. Aura telah bersiap dengan rantai Kecrek Kecubung dan juga kapak Wiro Sableng di kedua tangannya.


Aura bersiap untuk melawan para hantu itu, hantu dengan dendam tinggi biasanya akan mencoba menyakiti manusia.


Tapi para hantu itu malah langsung keluar karena di usir oleh arwah Mbah Sodik. Ternyata Mbah Sodik bisa menekan amarah para hantu korban pembunuhan Raga.


"Lepaskan itu, kamu membuat bapak takut!" ujar Mbah Sodik pada Aura.


Arwah yang terkena serangan kedua senjata magis itu pasti akan hancur dan tak bisa naik ke alam baka. Jadi Mbah Sodik takut dengan benda-benda itu.


"Kau baik-baik saja?"tanya arwah Mbah Sodik pada putrinya.


Kedua senjata itu langsung lepas dari tangan Aura dan gadis itu menghampiri ayahnya. Aura memeluk arwah ayahnya itu.


"Kapan terakhir kali putri tersayang bapak ini meluk bapaknya?" tanya Mbah Sodik dengan nada yang menghibur.


Air mata Aura tak bisa dia bendung lagi, akhirnya dia bertemu ayahnya. Meski hanya arwahnya saja, bagi Aura itu sudah cukup.


"Pak maafin Aura, jika aku tak mengenalkan bapak....!"


__________BERSAMBUNG__________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2