
"Apa yang ingin Bapak bicarakan?" tanya Raga.
Leo dan Raga memutuskan untuk mengobrol di dalam mobil Leo. Raga sebenarnya tak suka berada di dekat Leo. Karena lelaki yang bekerja sebagai salah satu agen BIN itu, membuat Raga tak bisa menyembunyikan jiwa psychopathnya.
"Aku tau kalau kau adalah salah satu dari pembunuh berantai Bulan Biru," kata Leo dengan nada santai yang datar.
Padahal saat ini dia sedang gugup. Duduk berdua bersama dalam satu mobil dengan Raga, membuatnya menginggat mayat-mayat korban Raga yang pernah dia lihat.
Akankah dia akan bernasib sama dengan para korban-korban Raga.
Tapi Raga hanya tersenyum dengan sangat tenang.
"Aku juga tau kau adalah putra dari pasangan Dokter yang di bantai ayahku tiga tahun lalu," ucap Raga.
Leo terdiam sejenak, dia tak habis pikir. Bagaimana Raga bisa tau hal itu. Hal yang bahkan tak ada di data kepolisian itu kenapa Raga bisa tau.
"Apa kau mendekati Aura karena kau berpikir, bisa memanfaatkan aku?!" ujar Raga.
"Kau tau jika musuhmu bukan aku atau kepolisian?" kata Leo.
"Aku sangat tau siapa musuhku! Tapi jika kau ikut campur dengan urusanku lagi. Aku tak akan mengampunimu!!!" ucap Raga dengan penuh penekanan.
Mobil yang mereka tumpangi terhenti di lampu merah. Raga yang merasa sudah tak punya urusan lagi dengan Leo pun hendak keluar.
Tapi Leo memeberikan sebuah tas Labtop pada Raga.
"Apa ini?" tanya Raga bingung.
"Ayahmu yang membunuh orang tuaku, bukan kamu. Kalian membunuh orang tuaku karena di suruh orang lain-kan?" Leo mengungkap apa yang menganjal di hatinya.
"Saat itu aku belum bergabung dengan Tim Alpa, jadi aku tak tau!" Leo yang masih mempunyai hati manusia biasa, tampak iba dengan Leo.
Raga masih ingat betul bagaimana ayahnya dengan kejam membatai kedua orang tua Leo.
Sebelum malam pembantaian itu terjadi Raga sempat bertemu dengan orang tua Leo beberapa kali. Mereka bahakan pernah ngobrol hangat bersama.
Meski tak bisa dibilang dekat tapi Raga punya kenangan yang tak bisa dia lupakan dengan kedua orang tua Leo.
"Jika kau butuh bantuan, hubungi aku!" kata Leo.
Raga hanya terdiam dan memandang ke arah Leo dengan tatapan penuh ejekan.
"Apa kau tau, saat ini aku adalah musuh Negara?" tanya Raga.
"Karena itu aku datang padamu, aku orang yang paling tau situasimu saat ini!" Leo mengatakan hal itu dengan sangat tulus.
"Kau tau-kan aku sangat mampu, jika hanya membunuhmu?!
"Apa lagi jika pemerintah yang mengetahui apa yang kau lalukan saat ini, kau pasti akan mati!!!" Raga malah mengancam dan menakuti Leo yang berniat tulus padanya.
"Mati bukanlah hal yang kutakutkan!
"Tapi aku takut, aku akan menjalani sisa hidupku dalam penyesalan," ujar Leo.
__ADS_1
Raga terdiam, kata-kata Leo merasuk ke dalam hatinya dan membuatnya sadar. Bahwa dia harus menerima bantuan dari Leo.
Dia sudah tak punya pilihan apa pun lagi. Raga berfikir jika dia hanya melawan Tuan Harsono bedua dengan Utari, itu akan sangat sulit. Tapi apa Leo bisa ia percaya.
"Kalau kau benar-benar tulus menolongku, carikan aku rekaman CCTV di gedung Aeroks milik Kementrian Pertahanan!" kata Raga.
"Apa benar mereka membuat tentara buatan?" Leo tampaknya kaget dan juga heran.
"Jika mereka berhasil, aku harus mencari seseorang!
"Aku sendiri tak akan sanggup melawan mereka semua!" Raga menbuka dokumen yang di berikan oleh Leo.
"Berapa banyak yang mereka buat?" Leo kembali bertanya pada Raga.
"Mungkin belasan, tapi tingkat keberhasilannya cukup rendah.
"Tapi aku tak mau mengambil resiko dengan menerka-nerka.
"Jadi carikan aku rekaman didalam gedung itu!" perintah Raga.
"Aku bisa, tapi kau harus melindungiku!
"Aku hanya bisa meretas rekaman CCTV bangunan itu dari jarak dekat.
"Karena itu kemungkinan untuk terlacak juga sangat besar!" jelas Leo.
"Kau tenang saja, hubungi aku jika kau sudah siap!" ujar Raga.
"Cara bicaranya benar-benar seperti pemimpin, aku hampir jadi budaknya. Tapi aku sudah jadi budaknya!" ujar Leo yang mencoba menghubungi seseorang melalui ponselnya.
.
.
Raga menyembunyikan dokumen yang Leo berikan di dalam lokernya. Dia tampaknya sangat frustasi, karena lama sekali Raga memandang kosong ke arah dalam loker.
"Broooooo, kesambet luuuu?" tanya Brian teman baik Raga.
Raga segera menyudahi lamunanya dan menutup lokernya. Agar Brian yang sangat cerewet kayak burung beo itu tak tanya tentang isi tas pemberian Leo.
"Siapa tadi?" tanya Brian.
Pria kelahiran Jakarta dengan kulit sawo matang itu tampak selalu ingin tau dengan apa yang Raga kerjakan.
"Siapa?" Raga malah pura-pura bego.
"Yang nemuin elu barusan?!" Brian udah mulai emosi.
"Entah, gue juga nggak kenal!" ujar Raga, dia hanya bisa pura-pura bego di depan Brian.
"Lalu kenapa dia nyari elu?" Brian masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh teman sekelasnya itu.
"Suka kali!" tanggapan Raga itu srketika membuat Brian geli.
__ADS_1
"Brengsek luuuu!!! Enggak cewek, enggak cowok elu embat semua!" terocos Brian.
Lelaki yang tingginya sejajar dengan Raga itu mendekati Raga,dan mendorong tubuh Raga ke dinding.
"Berhenti, sebelum gue patahin leher elu!" kata Raga dengan wajah dinginnya.
Raga kini balik mendorong tubuh Brian yang berada tepat di depannya. Brian adalah seorang pria tulen, tapi dalam hal cinta lelaki macho itu menyimpang dari garis kewajaran.
Raga yang sudah sangat faham dengan tabiat Brian, membuat pria iblis itu hanya diam dan pergi dari hadapan pria yang entah kenapa menyimpang itu.
"Rasanya sama nikmatnya, Gaaaa!" kata Brian.
"Bodo!" teriak Raga dari luar.
Raga menghentikan langkah kakinya karena dia melihal sosok yang sangat dia kenal. Sosok Wanita berambut pirang, dengan kulit yang sangat putih kemerahan dan kornea mata yang berwarna biru cerah.
Wanita itu juga menghentikan langkahnya karena melihat sosok Raga. Tampak dengan jelas, jika wanita bule itu tengah mencari keberadaan Ragata.
"Kau terlihat baik-baik saja!" kata wanita bule itu dengan nada bahasa Indonesia yang lancar tanpa cacat.
"Kakak juga terlihat baik," ujar Raga.
Keterkejutan Raga tak bisa dia sembunyikan, dia seperti menadapatkan angin segar di tengah musim kemarau yang panjang.
.
.
Kursi taman menjadi sebuah tempat yang mereka pilih untuk berbincang. Ditemani masing-masing satu cub kopi dengan segudang creamer.
"Aku langsung ke sini saat mendengar kabarmu tentang Hendra!" ujar gadis yang pastinya berusia lebih dari 30 tahun itu.
Karena guratan penuaan sudah mulai bisa kita lihat dari wajah cantik nan klasik milik wanita berkebangsaan Belanda itu.
"Aku akan membalas mereka!" kata Raga tanpa keraguan.
"Aku tak bisa membantumu, kau tau-kan! Aku tak bisa ikut campur dalam urusan Negara ini lagi!" jelas Emely.
Gadis berdarah Belanda-Rusia itu adalah salah satu mantan angota Tim Alpa. Dia keluar dari Tim Alpa lima tahun lalu dan menetap di Belanda sampai saat ini.
"Akan kucoba menangani ini sendiri!" ujar Raga.
Lelaki iblis itu sepertinya merasa agak kecewa dengan ungkapan yang baru saja Emely katakan.
Tapi gadis berkebangsaan Belanda itu memberi Raga sebuah kunci otomatis dengan sebuah alamat di dalam secarik kertas.
"Balaskan dendam kami! Aku percaya kau bisa. Ketua Tim Empat, Tim sapu bersih!" kata Emely dengan nada tegas.
Seolah dia sedang memberi perintah pada anak buahnya.
__________BERSAMBUNG__________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1