Ghost Of Death

Ghost Of Death
Raja dan Pengikut


__ADS_3

Dengan kemarahan yang masih menyelimuti dirinya Utari memacu motor hitamnya menuju tempat dimana dia menyembunyikan Arjuna.


Kenapa dia tak bisa berkutik karena Raga, tentu saja karena Raga terlahir lebih baik dari dia. Karena Raga terlahir dengan gen monster level satu.


Singa yang berada di puncak rantai makanan, mereka membunuh karena mereka mau dan mereka butuh. Secara naluriah mereka memang pembunuh yang sangat baik. Tanpa dilatih Singa memang adalah pembunuh, tubuh mereka di rancang untuk membunuh.


Dilengkapi dengan insting yang tajam dan sangat kuat, dan Raga lahir dengan jenis gen Psychopath itu. Raga lahir dengan gen Raja.


Utari memarkir motornya di depan sebuah bangunan tua dengan serampangan. Dia tak peduli lagi dengan apa yang mungkin bisa terjadi padanya. Yang dia butuhkan kini adalah pelampiasan.


Hewan yang seperti pemangsa tapi bukan pemangsa. Hyena, si pengais sisa makanan dari sang predator. Pemangsa tanpa insting, pemangsa yang hanya menuruti kata lapar itu. Utari yang tinggal satu rahim dengan Raga, dinilai seperti Hyena. Pemangsa tanpa insting. Utari lahir dengan gen pengikut.


Dengan langkah yang tergesa, Utari segera masuk ke dalam bangunan tua itu. Tanpa aba-aba gadis yang kini berpakaian serba hitam itu menendang sebuah tong yang tertutup rapat. Karena tendangan Utari yang sangat kuat tong yang berisi tubuh Arjuna itu pun terguling ke lantai.


Lelaki gondrong itu sudah tak sadarkan diri, tapi dada bidangnya masih kembang kempis. Arjuna masih hidup, setelah menjalani pencongkelan kedua matanya tanpa setetespun obat bius.


Wajah pas-pasannya sekarang terlihat sangat mengerikan noda darah yang mengering masih menempel di lubang matanya yang mengganga.


Tapi dengan tanpa perasaan Utari menyeret tubuh Arjuna dari dalam tong itu. Dia menempatkan tubuh Arjuna di atas plastik yang sudah dia susun sebelumnya.


"Kenapa aku selalu dianggap lebih rendah oleh semua orang?" tanya Utari, dia duduk berjongkok di samping tubuh Arjuna dan tangannya mengelus pipi Arjuna perlahan.


"Kakakku, dia hanya lahir lebih dulu satu menit dari aku. Tapi dia juga lebih unggul dari aku." Utari tersenyum ke arah wajah Arjuna yang mengerikan, lalu menghela nafasnya perlahan-lahan.


"Dia pikir aku tak pernah merasa sakit? Apa karena aku monster aku tak bisa merasa sakit?!" kata Utari dengan penuh emosi, matanya memerah dan dia masih melihat ke arah wajah Arjuna.


"Aku bisa, aku bisa merasa sakit!" mata Utari semakin memerah.


"Karena tak terlihat, jadi orang lain tak tau!" wajah cantik itu akhirnya berpaling dari Arjuna.


Utari mendongakkan kepalanya ke langit-langit kotor banguan itu untuk meredakan emosinya.


"Maaf karena aku akan membunuhmu sekarang!" kata Utari.


Utari pun berdiri dari duduk jongkoknya dia harus mengambil senjata untuk membunuh Arjuna. Sedang Arjuna kini hanya bisa menahan tangisnya, karena dia sudah tak punya mata.


Sebuah kampak pemotong kayu yang besar sudah di seret oleh Utari ke arah tempat terlentangnya Arjuna.


Suara gesekan mata bilah kapak dan lantai yang memilukan itu, membuat tubuh Arjuna bergetar takut. Tapi tali yang menikat erat tangan dan kakinya membuatnya tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Aku akan mulai dari lehermu, agar kau tak merasa sakit!" kata Utari.


Jarang sekali gadis ini begitu baik hati, memberi kematian yang mudah pada mangsanya.


.

__ADS_1


.


.


.


Aura membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, dan Raga segera bangun dari tempat duduknya. Raga kaget setengah mati karena kehadiran Aura yang tiba-tiba.


"Elu ke.....na....pa...Gaaaa?" tanya Aura terbata.


"Gue nggak papa!" Raga masih menyembunyikan segalanya.


"Punggungmu berdarah!" Aura segera maju untuk mendekati tubuh Raga.


Gadis tomboy itu segera memutar tubuh Raga dan benar saja darah masih mengalir pelan dari luka mengganga di bahu kiri Raga.


"Ayo kerumah sakit!" Aura menarik tangan Raga.


"Ini hanya luka kecil!" kilah Raga.


"Kecil?!" kata Aura dengan nada marah.


Aura mengarahkan kamera ponselnya ke arah luka Raga dan gambar yang seperti nyata itu terpampang di layar datar ponsel Aura.


"Lihat, ini nggak kecil Gaaa!" bentak Aura.


"Besar juga ya!" kata Raga, dia masih berakting.


"Pakai kausmu, gue antar elu ke rumah sakit!" kata Aura.


Raga yang tak punya pilihan segera memakai kaus oblongnya, dia harus menuruti kata Aura kali ini. Jika tidak Aura pasti akan makin curiga padanya.


Raga mendapat 17 jahitan karena kukanya cukup dalam dan lebar, dia juga harus di infus dan menjalani perawatan selama satu jam di bangsal rumah sakit.


"Kenapa sih elu nggak ati-ati?" Aura masih saja ngoceh di depan Raga. Padahal lelaki itu baru saja menadapat 17 jahitan di punggungnya.


"Namanya juga musibah, siapa yang tau!" kata Raga.


"Kenapa ponsel elu nggak aktif?" tanya Aura, akhirnya dia sampai ke tujuan awalnya.


"Masa mati?" Raga pura-pura bingung.


Raga pun dengan susah payah mengeluarkan ponselnya dari saku depan celana jins hitamnya.


"Iyaaa mati!" kata Raga, setelah melihat ponselnya. Padahal pria muda itu sengaja mematikan ponselnya agar dia tak dilacak oleh siapa pun.

__ADS_1


"Lain kali jangan sampai mati, gue khawatir banget tadi!" kata Aura dengan wajah sedih.


Raga segera mengeser posisi duduknya dan mengelus pipi Aura dengan kedua tangannya.


"Maaf ya sayang, gue nggak akan biarkan ponsel gue mati lagi!" kata Raga bohong.


Tapi dengan bodohnya Aura masih saja tersenyum manis ke arah Raga yang duduk di ranjang rawat sementara dia duduk di kursi lipat yang tersedia di sana.


Setelah puas pandang-pandangan akhirnya Aura berdiri dan melihat sekitar. Raga tampak bingung dengan gerak-gerik Aura tapi dia tak bertanya.


Karena suasana sekitar cukup ramai, Aura segera ke arah tirai dan menutup tirai itu.


"Kok ditutup?" tanya Raga.


Tapi Aura menjawab pertanyaan Raga dengan ciuman manis di bibir pria muda itu.


"Jangan terluka lagi!" kata Aura lembut.


Raga hanya tersenyum dan kembali mencium bibir Aura, dia juga rindu akan kehangatan kekasihnya itu.


Tapi kemesraan itu terganggu dengan ponsel Raga yang bergetar karena sebuah panggilan.


"Detektif Senki?" tanya Raga bingung, kenapa nama Senki Kimochi bisa berada di layar panggilan.


"Elu nyimpen nomor ponsel Detektif Senki dengan nama Senki Kimochi?" tanya Aura dengan raut mula jijik.


"Emang kenapa?" tanya Raga.


"Hallo!" sapa Raga.


"Dari mana aja kamu? Dimana kamu sekarang?" sepertinya Detektif Senki tak sabar untuk membawa Raga.


"Di Rumah Sakit!" jawab Raga.


"Kamu sakit?"


"Tadi kecelakan di tempat rosokan saat milih-milih besi! Jadi bahuku ke gores!" kata Raga.


"Di rumah sakit mana kamu sekarang?" tanya Detektif Senki.


"Di Rumah Sakit Setia!" ucap Raga tanpa ragu.


Panggilan itu sudah di matikan oleh Detektif Senki, dan kali ini Raga hanya terdiam memikirkan apa yang membuat Detektif Senki menginginkannya seperti ini.


___________BERSAMBUNG__________

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Komen dan Like ya teman-teman❤❤❤


__ADS_2