
"Saya akan makan malam dengan Raga di rumah." ujar Aura.
"Sebaiknya kalian menikah saja sekalian, sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan sebelum pernikahan!" kata Detektif Senki.
"Saya nggak akan hamil duluan dengan Raga, kok Pak! Tenang saja." kata Aura santai.
"Kalian mengunakan pengaman?" tanya Detektif Senki.
Aura hanya mendesis kesal, bagaimana bisa pria dewasa seperti Detektif Senki menanyakan hal semacam itu pada Aura yang masih perawan.
"Pokoknya kalian harus menikah dulu, baru buat bayi!" Detektif Senki masih saja ngotot dengan pendapatnya yang absrut itu.
"Ok-ok!" jawab Aura dengan nada yang sangat kesal.
"Jaman sekarang banyak anak muda yang melakukan hal semacam itu di luar pernikahan.
"Sebaiknya kita tak ikut campur dengan hal itu. Bukankah hal semacam itu privasi seseorang!" kata Leo.
Plakkkkkkk
Sebuah pukulan keras mendarat di kepala Leo.
"Pak, saya belum sembuh benar lho Pak!" kata Leo.
"Sembuh apa sakit, otakmu itu tak pernah berfungsi dengan baik!" kata Detektif Senki dengan penuh emosi.
Aura hanya tersenyum tipis saat melihat dua pria dewasa itu berkelahi di depanya. Aura jadi merasa punya ayah dan kakak lelaki yang selalu beda pendapat.
Detektif Senki dan Leo pun mengantar Aura sampai di depan kosannya. Tepat sekali saat Aura turun dari mobil Detektif Senki yang dikemudikan oleh Leo, Raga baru saja memarkirkan sepeda motor hitamnya di teras bangunan kosan.
Lelaki muda itu segera berjalan santai ke arah Aura yang belum menyadari kemunculannya.
Karena melihat Raga, Detektif Senki keluar dari dalam mobilnya dan berjalan ke arah Raga.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Detektif Senki pada Raga.
"Baik" kata Raga, pandangannya malah tertuju pada Leo yang berada di kursi kemudi mobil Detektif Senki.
"Kalian dari mana?" tanya Raga, seperti biasa tanpa sopan santun sedikit pun.
"Jalan-jalan mutar-mutar sebentar!" Detektif Senki mencari alasan.
__ADS_1
"Kami dari penjara!" kata Aura, gadis tomboy itu langsung berjalan masuk tanpa peduli lagi dengan ke tiga pria itu.
"Untuk apa kalian ke penjara rame-rame?" tanya Raga, dia sebenarnya tau Aura ingin sekali bertemu Imanuel tapi dia harus pura-pura bego agar tak ada yang sadar bahwa dia adalah pembunuh berantai Bulan Biru.
"Mau tawuran, tapi kita kalah jumlah!" ternyata Detektif Senki bisa ngelucu juga.
Raga hanya terdiam dengan jawaban garing yang diberikan oleh Detektif Senki.
"Udah masuk sana, temenin pacar kamu. Dia kelihatannya mau nikah denganmu secepatnya!" kata Detektif Senki.
Tapi Raga sama sekali tak bergeming dengan ucapan Detektif Senki, dia tau benar Aura itu adalah gadis yang pemalu dan tertutup. Apa lagi untuk urusan asmara, Aura itu sangat membatasi diri.
Setelah mobil sedan buatan Eropa itu amblas dari pandangan Raga, pria muda itu segera melangkahkan kakinya menuju kamar Aura.
Tok...Tok....Tok
"Raaaaa, Aura!" panggil Raga.
Tanpa menunggu lama Aura sudah membuka pintu kamarnya, ternyata wanita tomboy itu tengah bersiap untuk memasak di dapur.
Celemek pink bunga-bunga sudah mengantung indah di tubuh Aura yang hanya dibalut kaus oblong putih tipis dan celana kolor pendek. Pemandangan yang membuat semua pria menelan saliva di mulutnya, tak terkecuali Raga.
"Apa ini?" tanya Raga, dia sudah tak sabar dengan reaksi yang akan diberikan oleh Aura.
"Memang bisa?" tanya Raga, dia berusaha mengendalikan semua perasaan yang kini bergemuruh di dalam dadanya.
"Makanya bantu gue" ujar Aura.
Gadis tomboy itu pergi ke dapur dan Raga tentu saja hanya mengekori.
"Kenapa hari ini elu cantik banget?!" Raga mulai merayu pujaan hatinya itu.
"Entahlah, mungkin karena hari ini gue belum ngejitak kepala elu." kata Aura.
Gadis tomboy itu sudah siap dengan tinjunya saat berbalik ke arah Raga yang berdiri di belakang tubuhnya. Tapi entah kenapa saat melihat wajah manis Raga, Aura merasa tak dapat melukai lelaki di hadapannya itu.
Alhasil serangan yang sudah direncanakan Aura itu gagal dan serangan balik dari Raga segera membuatnya terbelalak kaget.
Tanpa permisi lelaki muda tampan itu mengecup bibir Aura sekilas.
Detak jantung keduanya kini saling berpacu adu kecepatan, kamar kecil yang dingin karena udara AC seketika memanas seperti area sirkuit untuk balapan motoGP.
__ADS_1
"Eluuuu!" Aura ingin marah, tapi dia merasa hawa panas sudah menjalar di sekujur tubuh mungilnya.
"Lagi?" tanya Raga.
Lelaki muda yang sedang di puncak gairah itu pun mendekatkan tubuh atletisnya ke arah Aura. Aura berusaha mundur untuk menghindari tubuh Raga, tapi sepertinya Raga tak mau melepas Aura hari ini.
Tubuh mungil itu sudah terdesak tak dapat bergerak lagi, dan sebuah rangkulan menyentak di pingang Aura. Raga telah mengangkat tubuh Aura ke atas undakan tempat cuci piring.
Aura hanya bisa diam dan meneliti pandangan Raga yang tak dapat dia hindari.
"Apa elu mau nikah sama gue?" tanya Raga.
Aura mengalihkan pandangannya dan berfikir bingung, dia belum siap untuk menikah sekarang. Tapi dia juga tak mau kehilangan Raga yang dia rasa adalah lelaki paling sempurna untuknya.
Aura tak menjawab pertanyaan Raga, tapi kedua telapak tangan mungilnya meraih wajah Raga. Gadis tomboy itu mengecup pelan bibir Raga, dia mengingat kembali apa saja yang telah dilakukan lelaki ini untuknya selama ini.
Setelah ayahnya meninggal Raga adalah satu-satunya orang lain yang sangat peduli pada keluarganya. Perasaan kasih sayang yang didorong rasa terimakasih itu membuat Aura semakin dalam saat mengecup bibir Raga.
Lelaki yang selalu mendamba sentuhan hangat gadis tomboy ini pun tak mau diam saja, dia juga mencurahkan rasa cinta yang dia miliki untuk Aura.
Kecupan-kecupan lembut itu pun menjadi semakin panas dan liar, kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu tak lagi peduli dengan udara panas yang sudah membakar jiwa muda mereka.
Tok...Tok...Tok
Di tengah pergulatan penuh gairah itu Aura mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Aura berusaha menarik wajahnya dari cengkeraman Raga, sepertinya lelaki muda itu tak mau melepas kenikmatan yang sudah terlanjur menguasainya itu.
"Ada tamu Ga!" ujar Aura.
Raga pun segera sadar dan menarik wajahnya yang masih penuh dengan gejolak itu dari wajah imut Aura.
"Siapa?" tanya Raga.
Kedua manusia itu masih diam di posisi mereka, tapi dengan nafas yang tak beraturan.
"Aku mengundang Utari untuk makan malam dengan kita!" kata Aura.
"Apa gue usir saja dia?" tanya Raga dengan senyuman.
"Dia pasti nggak mau pergi, meski elu usir." gumam Aura
"Kau benar."
__ADS_1
Raga pun mengangkat tubuh mungil pujaan hatinya itu kembali ke atas lantai, dia tak mau Utari kembarannya itu tau perkembangan hubungannya dengan Aura sudah mulai pesat.
Raga tak mau Utari yang ceroboh itu malah menghancurkan hubungannya dengan Aura yang sudah mulai membaik.