
"Apa ayah tau perkataan apa yang dikatakan pembunuh Bulan Biru pada Jelita sebelum membunuh anakku?" tanya Daniel.
Keluarga kecil itu tengah berkumpul di ruang keluarga rumah besar nan mewah milik Tuan Harsono.
"Pembunuh itu bilang begitu?" tanya Morgan.
Sepertinya adik semata wayang Daniel itu tak tau apa yang diketahui kakaknya.
Karena kakaknya itu mendapatkan ungkapan pembunuh itu dari Jelita, setelah menyiksa Jelita di Rumah Sakit Jiwa. Daniel tak mencintai Jelita, politikus muda itu terpaksa menikahi Jelita karena p.e.l.a.c.u.r itu hamil putranya.
"Itu pasti hanya akal-akalan pembunuh Bulan Biru untuk memecah belah keluarga kita!" ujar Tuan Harsono santai.
"Mungkin wanita gila itu yang mengarang, dia lagi gila-kan?" sahut Nyonya Harsono.
Nyonya Harsono yang yang tau akan segalanya itu malah menyalahkan Jelita yang tak tau apa-apa. Kenapa kedua suami-istri itu ingin menyembunyikan fakta Bulan Biru dari semua orang.
"Tapi bisa saja Kak Jelita jujur, Mah!" Morgan kembali bersuara.
"Apa benar ada Aliansi Kemiliteran yang dinamakan Tim Alpa?" tanya Daniel.
Matanya yang tadi kosong, saat ini sudah menyorot wajah ayah tirinya dengan tatapan yang menekan.
Morgan hanya diam meski dia tau, dia tak mau salah bicara di saat seperti ini.
"Kau benar, Tim Alpa memang ada!" jawab pria tua bernama Martin Harsono itu.
Daniel berdiri dan dia meremas kepalanya dengan frustasi.
"Apa ini ulah mereka semua?!" tanya Daniel dengan nada memberontak keras.
"Kau benar Kak, semua lapisan penegak hukum saat ini sedang mencari orang-orang itu!" jelas Morgan. Dia masih duduk di sofa sambil memeluk ibunya yang perlahan melepas pelukannya dari Morgan.
"Mereka bergerak sendiri! Apa kau pikir ayahmu tega membunuh darah dagingnya sendiri?!" tanya Nyonya Harsono dengan nada tak kalah keras dari nada bicara putra pertamannya.
"Darah daging???
"Siapa?! Varo!!!
"Varo itu darah dagingku, dia hanya ayah tiriku! Jangan mengakuiku sebagai putramu lagi!" Daniel menunjukan telunjuknya ke arah ayah tirinya.
"Karena aku sudah muak!!!
"Aku muak selalu dibanding-bandingkan dengan dirimu!
"Mana bisa aku jadi seperti dirimu, padahal aku bukan anakmu!" Daniel mengatakan itu dengan irama bicara menggebu.
"Kau putraku Daniel.
__ADS_1
"Putra kandungku," kata Tuan Harsono tanpa setitik pun keraguan.
Perkataan itu membuat semua orang yang berada di ruangan itu kaget, kecuali yang mengatakannya.
"Apa?!" Daniel masih tak percaya.
"Mari kita buka aib keluarga kita!" kata Tuan Harsonon yang memandang ke arah Daniel dengan tajam.
"Aib apa yang kau maksud Tuan Harsono?" Nyonya Harsono akhirnya berdiri.
Tampaknya dia belum mau anak-anaknya mendengar kenyataan yang mungkin memalukan itu.
"Karena sudah sejauh ini, aku akan mengatakan kenapa Bulan Biru saat ini memburu kita," kata Tuan Harsono.
"Martin, kau tak perlu mengatakan itu sekarang!" bentak Nyonya Harsono.
"Semua berawal 32 tahun lalu, saat aku baru saja masuk kedalam kemiliteran!" Tuan Harsono yang tak bisa menyembunyikan kebenaran itu pun tetap angkat bicara.
"Tugas pertama yang kulakukan adalah menjadi pengawal ibu kalian. Karena Irama Harsono adalah istri muda salah satu Jendral yang berpengaruh saat itu.
"Singkat kata aku jatuh cinta pada ibu kalian dan kami memiliki kau Daniel!
"Memang pada saat itu ibumu dan Jendral Aladin belum bercerai, tapi saat usiamu dua tahun Jendral Aladin wafat dan ibumu yang sudah menjadi janda pun menikah denganku," jelas Tuan Harsono, dia masih tampak tenang dengan pengakuan menjijikannya itu di depan putra-putranya.
Daniel yang mendengar itu hanya terdiam tak percaya, bagaiman dia bisa lahir dari hubungan perselingkuhan hina seperti itu. Dia merasa dirinya adalah manusia paling rendah saat ini. Karena rahasia kelahirannya itu.
"Tentang Tim Alpa.
"Setengah bulan yang lalu semua angota Tim itu ditugaskan ke Afghanistan untuk membantu tentara Ameraika melawan Taliban.
"Tapi pesawat mereka meledak di perjalanan ke tempat itu," kata Tuan Harsono.
Semua orang masih terdiam mendengar, hanya Nyonya Harsono yang terlihat gundah dan khawatir.
"Tapi entah apa yang terjadi, dua orang tak ikut berangkat ke lokasi perang itu.
"Mereka mengira ayah yang merencanakan meledaknya pesawat itu.
"Tapi seperti yang kalian tau, ayah bukanlah Abdi Negara tanpa rasa nasionalisme.
"Ayah sangat mencitai Negara ini, bagaimana ayah bisa memusnahkan Tim hebat itu beserta pembuatnya yaitu Jendral Husein?" kata Tuan Harrsono dengan wajah penuh penyesalan.
Penjelasan Tuan Harsono cukup meyakinkan saat ini. Morgan dan Daniel percaya dengan penjelasan kebohongan Tuan Harsono. Entah apa rencana lelaki tua yang kini cacat akibat tembakan Hendra itu.
Yang pasti Monster yang paling kejam adalah para Monster yang berpura-pura menjadi malaikat seperti Jendral Harsono.
.
__ADS_1
.
Suasana cangung sedang terjadi di kamar Aura. Raga yang tengah memotong-motong daging ayam di dapur seketika berhenti. Wajahnya mengeras dan pandangan matanya menjadi berkilat mengerikan.
Karena Raga saat ini membelakangi Aura yang duduk di depan TV, Raga bisa melampiaskan rasa kesalnya dengan senyuman khas Psychopathnya.
"Jadi semalam suntuk Pak Leo di sini?" tanya Raga dengan nada yang masih sangat bersahabat.
"Iya, nggak papa-kan lagi pula udah terlanjur. Gue juga nggak tau dia punya rencana mau nginep disini. Kalau tau yaaa udah gue tolak pas di Kantor Polisi!" jelas Aura.
Dia sama sekali belum sadar jika yang dia ajak bicara adalah mesin pembunuh berdarah beku. Karena Aura hanya mengenal Raga sebagai pria manis yang penyabar, dan punya penyakit bucin akut pada gadis tomboy itu.
"Harusnya gue malah bertrimakasih, karena dia udah mau direpotin buat ngejagain elu yang lagi sakit!" Raga menoleh ke arah Aura dan tersenyum sangat manis.
Padahal baru beberapa detik yang lalu pria itu mengeluarkan pandangan ingin membunuh sebuah nyawa,tapi dengan cepatnya ekspresinya segera berubah derastis.
"Tidak perlu, gue udah ngucapin berkali-kali saat dia ngantar gue ke kampus!" kata Aura masih dengan santainya.
Dia duduk di atas sofa dengan kakinya yang dia angkat di atas meja. Di pangkuannya sudah bertahta se mangkuk besar popcron. Gadis manis itu makan tanpa rasa cemas.
Raga menghela nafas panjang, dan Aura memandang ke arah Raga yang kini terlihat mulai mau naik darah.
Raga membalikkan tubuhnya ke arah Aura dengan pisau yang masih dia genggam di telapak tangan kanannya. Gadis tomboy itu pun terdiam, dia merasa takut lagi dengan pacarnya.
Nafasnya tertahan dan aktifitas mengunyahnya juga terhenti padahal masih ada popcron di dalam mulut mungilnya. Manik matanya menelisik setiap gerakan dari Raga.
"Pak Leo itu....!" gumam Raga dengan nada suram yang mencekam. "Ternyata baik sekali yaaaa?!" nada suram itu kemabli ceria dalam sedetik.
Aura masih terdiam membeku di posisinya, padahal Raga langsung berbalik dan kembali menjalankan aktifitas memasaknya setelah mengatakan itu.
"Bukankah petugas Polisi harus baik dan peduli pada masyarakat?" tanya Aura yang sudah sadar dari lamunannya.
"Tentu saja, dia juga tampan-kan?" pancing Raga.
"Apa orang lain enggak boleh tampan, harus elu doang yang tampan di dunia yang amat luas ini?" tanya Aura yang mencoba mencairkan suasana, Karena dia merasa kecanggung.
"Nggak gitu juga keles, Pak Leo emang tampan. Gue yang cowok aja bilang dia tampan. "Masa elu nggak? Artinya elu boong!" Raga pun ikut mencairkan suasana.
Bagaimana pun Raga harus tetap kontrol di depan pacarnya itu. Meski Raga sudah punya pemikiran bahwa Leo menyukai Aura, tapi Raga tak mau membuat Aura mencurigainya.
____________BERSAMBUNG_________
Jangan lupa Vote, Komen dan Like ❤❤❤❤
Mulai hari ini up 2 bab aja yapppp
Soalnya lagi persiapan buat novel baru😁😁😁
__ADS_1
Mohon pengertiannya❤❤❤
Trimakasih dan jangan bosan baca Novel saya 😍😍😍