Ghost Of Death

Ghost Of Death
Pertemuan terakhir


__ADS_3

Dada bidang salah satu petugas polisi itu langsung terkena hantaman pukulan Raga, tapi petugas itu tak jatuh karena Raga mencengkeram kerah seragam polisi pria itu. Sebuah pukulan di leher sebelah kiri petugas itu mendapatkan pulukan selanjutnya. Alhasil dia terjatuh dan tak dapat bergerak lagi alis pingsan.


Petugas kedua mendapat serangan kuncian di tangan kanannya, sebuah bunyi.


kratakkkkkkkk


Krakkkkkkkkk


Menggema di iringi teriakan kesakitan pria gagah perkasa yang kini sudah bersimpuh di depan Raga.


"Lepaskan dia!


"Menyerahlah!" Detektif Morgan sudah menodongkan pistolnya ke arah Raga.


"Kenapa aku harus menyerah, tugasku belum selesai!


"Kau tau-kan kakak sepupu?!


"Jika aku membunuh orang karena tugas, kau dan aku sama saja.


"Kita sama-sama alat para petinggi!" ujar Raga.


"Diam kamu, aku tak sama seperti kau!"bentak Detektif Morgan.


"Apa kau tau berapa nyawa yang pernah dihabisi oleh Tim Alpa atas perintah ayahmu???


"Putri Presiden yang meninggal di London...


"Itu ulah ayahmu!" kata Raga dengan sangat yakin.


Detektif Morgan kembali memikirkan apa yang dikatakan oleh Raga, dia tau ayahnya bukan pejabat Negara yang patuh akan hukum. Tapi fakta yang baru saja dibuka oleh Raga, sangatlah menusuk hatinya. Bagaimana bisa ayahnya bisa dengan mudah membunuh nyawa orang yang tak bersalah.


"Pikirkan lagi!" ujar Raga.


Sorot lampu yang amat terang dari kendaraan bermotor melaju cepat menuju arah Detektif Morgan dan Raga yang sedang berdebat. Motor putih Aura, dan dikendarai oleh gadis tomboy itu sendiri.


Apa dia hendak menabrak Raga yang telah membunuh ayahnya. Raga bahkan tak mau bergerak dari tempatnya, dia tau yang mengendarai kuda besi putih itu adalah Aura.


Raga tak peduli jika dia mati sekarang karena Aura. Dia tak punya lagi keyakinan untuk hidup, harapannya sudah pupus dan hancur.


Tapi motor itu berhenti tepat di depan Raga. Mata sembab Aura bisa dilihat oleh Raga, meski tak jelas karena kilatan silau lampu depan sepeda motor Aura.


Gesture gadis itu memerintah Raga untuk naik ke atas motor, Aura juga memberikan sebuah helm untuk suaminya itu.


Apa ini adalah harapan yang boleh kuharapkan??? Raga.


Tanpa menunggu lama Raga segera nagkring ke atas motor Aura, helm pemberian istrinya itu segera di pakainya. Kedua tangan Raga mendekap erat pinggang mungil Aura.


Gadis yang saat ini dalam kondisi hati yang awut-awutan itu sedikit merasa tenang karena pelukan dari Raga. Suami yang paling ia cintai dan juga ia benci.


Kedua suami-istri itu berkendara cukup lama kearah luar kota. Raga sama sekali tak komplain, dia menurut. Kemana pun Aura akan membawanya dia tak akan menolak, meski ke lubang neraka sekali pun dia rela

__ADS_1


Tapi motor itu berhenti di sebuah jembatan yang sudah sepi, karena saat ini waktu sudah lewat tengah malam.


Aura dan Raga turun di sana, mereka melepas helm mereka. Raga sama sekali tak bisa memalingkan pandangan matanya dari Aura, dia masih takut. Takut jika gadisnya itu akan melakukan sesuatu yang berbahaya untuk dirinya sendiri.


"Bagaimana kabar Utari, apa dia baik-baik saja?" tanya Aura dengan nada serak sengau karena dia habis menangis lama.


"Utari masih kritis, tapi kata Dokter yang menagani oprasinya kondisinya setabil!" jelas Raga.


Aura menyerahkan tas yang tadi dia selempangkan di depan tubuhnya.


"Semua yang elu butuhin ada di situ!" kata Aura.


Raga tampak meneliti ekspresi Aura, bagaiaman gadis itu tau apa yang ia butuhkan saat ini. Dengan tak yakin Raga membuka tas itu, dan benar saja apa yang dia butuhkan ada di sana.


"Sejak kapan elu tau?" tanya Raga.


"Sejak elu sering pulang pagi-pagi, sejak khasus Karis Paseha!" kata Aura.


"Kenapa elu???" Raga tak sanggup melanjutkan pertanyaannya lagi.


"Gue mencoba mengelak, gue nggak yakin, dan gua nggak sanggup.


"Tapi ini kenyataanya-kan?!


"Gue cuma mau tanya beberapa hal sama elu, Ga!" kata Aura.


"Tanyakan saja!" kata Raga.


Hatinya saat ini hanya bisa merasakan rasa sakit yang tak kasat mata. Dia tau dia salah dan hukuman apa pun dari Aura, akan dia terima.


Raga hanya menunduk, apa saat itu dia punya pilihan.


Jelas saja Raga punya pilihan. Dia bisa mengurung ayah Aura sampai misinya selesai. Tapi ancaman Mbah Sodik tentang tak akan memperbolehkan Raga untuk mendekati Aura lagi. Membuat jiwa Monster Predator di diri Raga muncul.


"Maaf-kan aku!" kata Raga.


"Apa dengan kata maaf, elu bisa ngehidupin bapak gue lagi?!" teriak Aura.


Air mata mulai membasahi wajah manisnya, dan itu membuat Raga yang melihatnya merasakan rasa yang lebih sakit dari pada yang Aura rasakan.


"Di siaran elu bilang, itu hanya kesalahan-kan?!


"Apa salah bapak gue?!


"Apppppaaaa!!!" jerit Aura.


Gadis itu tak bisa menahan amarahnya lagi. Sementara Raga hanya diam saja, seperti anak SD yang dimarahi gurunya. Dia tak bisa berkutik, karena kesalahannya memang sangatlah besar dan tak mungkin untuk diampuni oleh Aura.


"Elu tusuk bapak gue berapa kali???" tanya Aura pada Raga.


Wajah bulat Aura kini mendongak dan melihat ekspresi Raga. Yang malah membuat gadis toboy itu tambah menangis kencang.

__ADS_1


Aura mendekat ke arah Raga, dia melukul-mukul dada bidang suaminya itu. Dengan tangan yang sudah lemah.


"Berapa kali elu tusuk bapak gue???


"Jawab gueeee Gaaaaa!!!


"Ragaaaaa kenapa elu jahat banget sama gueeee?!


"Gue salahhhh apa saaama eluuuu!" rintih Aura.


Raga mendekap tubuh istrinya itu dengan erat. Dia tak bisa menjawab apa yang ditanya Aura. Karena dia sendiri juga tak tau apa salah Mbah Sodik atau pun Aura padanya.


Tapi yang salah adalah Raga yang membunuh ayah Aura yang tak bersalah.


Cukup lama mereka berada di posisi tak nyaman itu, angin malam yang dingin dan suasana seram di sana membuat suasana haru itu bercampur horor.


Aura memang memilih jembatan berhantu yang melegenda, karena hanya tempat itu yang sepi dan jarang dilewati oleh manusia di jam segitu.


Setelah puas menangis Aura menjauhkan tubuhnya dari Raga.


"Elu harus tetap hidup!


"Hiduplah yang panjang!!!


"Sampai elu belajar bagaimana rasa sakit seorang manusia biasa.


"Dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" kata Aura.


"Sebentar, ada yang ingin gue serahin sama elu!" kata Raga.


Dia membuka tas yang dibawa Aura tadi dan mengambil sebuah kotak cangih yang di lengkapi dengan sandi.


Raga membuka kotak itu dan memberikan dua buah kunci.


"Lepaskan arwah Mbah Sodik dan para korbanku yang lain!" kata Raga.


Aura terdiam dan kembali mewek. Dia baru tau jika arwah bapaknya hilang, bukan karena sudah pergi ke surga tapi dikurung oleh lelaki yang membunuhnya.


Aura menerima dua kunci itu.


"Alamatnya akan kukirim lewat pesan singkat!" kata Raga.


"Gue nyesel banget udah ketemu sama elu Ga. Gue bener-bener nggak nyangka elu sejahat ini!" kata Aura, dia tersenyum kecut.


Gadis itu menaiki motornya kembali dan meninggalkan Raga di sana seorang diri.


Pertama kali dalam hidup Raga, pria itu menitikan air matanya bukan untuk berakting menutupi penyamarannya. Tapi Monster Predator itu menitikan air matanya karena hatinya yang sakit.


"Maaf-kan aku Aura, aku benar-benar minta maaf.


"Aku memang pantas kau tinggalkan. Semoga hidupmu bahagia tanpa diriku!"

__ADS_1


___________BERSAMBUNG__________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2