Ghost Of Death

Ghost Of Death
Rahasia lain


__ADS_3

Setiap orang pasti punya rahasia, jalan hidup mereka yang tak selalu mulus membuat mereka belajar apa arti sebuah kehidupan. Menyadari kesalahan yang mereka perbuat dan belajar dari kesalahan itu, menuju hidup yang lebih baik. Itu hanya berlaku untuk manusia normal seperti kita.


Untuk pembunuh, ketidak beruntungan adalah sebuah kecerobohan. Tak ada kata tak beruntung di kamus hidup mereka, mereka harus selalu berhasil dan bersembunyi dari aparat negara yang mengejar mereka.


Adrenalin dan kepuasan menjadi alasan untuk para ras pembunuh untuk terus membunuh. Bagi mereka membunuh manusia seperti kebutuhan, sama halnya dengan makan dan tidur. Jika mereka tak melakukan pembunuhan mereka akan merasa sakit dan tertekan.


Entah itu sebagai kelebihan atau sebagai hukuman.


Yang pasti mereka akan terus membunuh selama mereka hidup bebas di bumi ini.


.


.


Satu bulan telah berlalu, tragedi yang memukul negara ini pun berhenti. Tak terjadi lagi pembunuhan Bulan Biru, karena pelaku dinyatakan telah ditangkap.


Matahari sudah bertenger apik di singasana kebesarannya pagi ini, cahayanya yang cerah itu seakan tersenyum menyambut kedamaian yang entah akan terwujut atau tidak.


Tapi wajah-wajah manusia yang lalu lalang di jalanan pagi ini tampak sangat berseri-seri. Itu adalah sebuah tanda bahwa tak ada hal yang membuat mereka khawatir lagi.


Pembunuh Bulan Biru dan Bintang Perak sudah mendekam di penjara yang sama.


Negara telah memutuskan mengeksekusi dua penjahat keji itu dalam waktu yang bersamaan.


.


.


"Aku ingin melihat bunga-bunga mekar di taman bunga setelah musim hujan tahun ini!" kata Dokter Abraham.


Di sampingnya duduk seorang pria bule yang baru saja divonis akan kehilangan nyawanya dalam eksekusi tak lama lagi.


"Kelihatannya tak akan lama lagi!" kata Imanuel, wajah melankolisnya tampak menengadah ke arah sorot matahari pagi.


"Apa anak-anakku sudah memutuskan?" tanya Dokter Abraham.


"Mereka memutuskan untuk bergabung!" kata Imanuel.


"Membunuh adalah kebutuhan bagi kami, mereka tak akan bisa menekan diri mereka untuk tak membunuh!" kata Dokter Abraham.


"Utari dan Raga, akan segera menarik diri mereka dari masyarakat dan menerima misi yang akan lebih bahaya!" kata Imanuel.

__ADS_1


"Raga, apa dia masih teropsesi dengan gadis aneh itu?" tanya Dokter Abraham.


"Dia bilang, akan menyelesaikannya." kata Imanuel.


"Entahlah apakah dia bisa. Karena jika manusia seperti kami sudah mengikat diri kita pada seseorang, ikatan itu tak akan bisa lepas!"


Kedua pembunuh berantai yang duduk saling bersanding di lapangan terbuka di penjara khusus pembunuh itu menjadi pemandangan yang langka di sini.


Tak ada tahanan lain yang berani menatap mata mereka berdua apa lagi mendekati dua sosok yang telah membunuh banyak nyawa manusia secara brutal itu. Tapi kedua pembunuh itu tampak tak merasa dikucilkan atau disisihkan. Mereka tampak tenang dan normal seperti bukan pembunuh jika tak ada yang mengusik mereka.


.


.


.


.


Dunia Aura yang amburadul kini sudah mulai tertata lagi, berkat dukungan dari sahabatnya Utari dan Raga orang yang mencintainya. Apa lagi ibunya kini akan tinggal bersamanya.


Tapi raut kesedihan itu masih dapat kita lihat dari semburat cahaya di manik mata Aura. Gadis itu masih saja merasakan rasa bersalah karena kematian ayahnya. Dia merasa kematian ayahnya di tangan Imanuel adalah karena kesalahannya.


Gadis itu hanya ingin berada di rumah dan melamun sepanjang waktu, dia merasa sangat malu untuk menunjukkan senyumannya pada dunia. Aura seperti tak punya semangat untuk hidup lagi.


Gadis itu menatap televisi tapi pandangan yang dia pancarkan ke arah itu pun juga kosong.


"Nak!!!" bentak Ibu Dewi.


"Iya Buk!" sahut Aura dengan nada setengah kaget.


"Ibu nggak usah kemana-mana dulu dech, bahaya ninggalin kamu sendiri. Ngelamun terus!" kata Bu Dewi kesal.


"Gue lagi asik nonton Buk, bukan ngelamun." kelak Aura, dia yang tak pandai berbohong pada ibunya segera ketahuan.


"Ibu akan minta tolong ke Raga buat njagain kamu. Bener-bener ibu nggak tau apa yang bisa kamu lakuin tanpa Raga?!" omel Ibu Dewi.


Sebulan ini kemana pun Aura pergi akan ada Raga yang mendampinginya, dia masih sering melamun dan tak sadar akan keadaan jika dibiarkan bepergian sendiri.


"Setelah pulang kuliah Raga akan ke sini, sebelum Raga datang kamu jangan kemana-mana!" lagi-lagi Ibu Dewi memberi nasehat pada Aura putrinya tapi tak terlalu didengar oleh gadis tomboy itu.


"Iya Buk, gue akan nungguin Raga di sini!" kata Aura.

__ADS_1


Gadis tomboy itu tampak menghela nafas panjang setelah kepergian ibunya lagi. Dia merasa menjadi manusia yang tak berguna, dia bahkan tak bisa mengungkap fakta kebenaran tentang pembunuhan ayahnya.


Dipikirannya dia masih belum yakin kalau Pak Imanuel yang membunuh ayahnya, dia merasa Dosen itu tak mungkin melakukan hal sekeji itu.


tok tok tok tok tok


Itu adalah suara pintu kontrakan Aura yang diketuk oleh seseorang. Aura terdiam sejenak, dia merasa Raga tak mungkin pulang kuliah secepat ini. Tapi siapa yang datang ke kontrakannya di jam sepagi ini.


"Aura! Kau di dalam?!" tanya seseorang yang berada di balik pintu kosan Aura.


"Siapa?" tanya Aura penasaran.


"Saya Detektif Senki!" kata suara pria itu.


Aura pun segera membuka kunci pintu kosannya, ternyata Detektif Senki tak datang sendirian dia berkunjung ke rumah Aura bersama seseorang yang Aura kenal.


"Om Hantu!" kata Aura, saat pertama kali gadis tomboy itu melihat wajah Leo.


"Hantu?" tanya Detektif Senki pada Aura, wajahnya juga tampak bingung karena perkataan Aura tadi.


"Nggak, mari masuk!" Aura mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Perkenalkan ini junior saya di Kepolisian, namanya Leo!" kata Detektif Senki pada Aura.


"Maaf, apa Om pernah meninggal?" tanya Aura sepontan.


"Nggak, kayaknya enggak pernah!" jawab Leo.


"Memang kenapa Aura?" tanya Detektif Senki dia mulai curiga.


"Kurasa aku salah lihat!" kata Aura.


"Apa kau mau bilang, kalau kamu pernah melihat hantu yang mirip dia?" tanya Detektif Senki.


Manik mata Aura melihat ke arah dua wajah kedua lelaki di depannya secara bergantian. Dia mencoba membaca ekspresi apa yang coba di keluarkan dua wajah tampan nan maskulin itu.


Tapi pandangan netra Aura segera menelisik wajah Leo yang sempurna itu, karena pandangannya yang terlalu intens itu membuatnya menginggat hari-harinya bersama Hantu Tampan Leo.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Leo.


"Kita bahkan pernah tidur satu di kasur berdua!" kata Aura di dalam hati, dia masih sadar agar tak membocorkan rahasia hantu.

__ADS_1


Akhirnya Aura mendapatkan jawaban, kenapa Hantu Tampan bisa menyentuh benda-benda padahal dia sudah menjadi hantu. Ternyata Hantu Tampan belum mati.


__ADS_2