
Visual Utari
.
.
Aura menurunkan Utari di depan bangunan kosannya, Utari tampak memandangi sekitar area kosannya sebelum turun dari motor Aura.
"Ada apa, Ut?" tanya Aura tanpa melepas helmnya dari kepalanya.
"Enggak, gue hanya merasa dari tadi ada seseorang yang mengikuti kita!" kata Utari.
"Sebaiknya elu cepet masuk ke dalam!" pinta Aura pada Utari.
"Elu nggak mampir dulu?" tanya Utari.
"Enggak, gue pan udah bilang! Bokap gue ada di sini!" Aura mengingatkan Utari tentang keberadaan ayahnya yang berkunjung ke kosannya.
"Gue lupa! Hati-hati di jalan, Ra!" pesan Utari.
"Woke!" Aura segera memelintir setang di tangan kanannya, dan suara deru lembut motor Aura pun mengaum menyusuri jalan keluar di setiap gang sempit dari area kosan Utari.
.
.
Lelaki yang memperhatikan Aura dan Utari dari bioskop ternyata masih mengintai mereka sampai di depan kosan Utari, pria yang berpakaian serba hitam dengan topi hitam itu tampak melihat Utari yang mulai masuk ke dalam kosannya.
"Jadi elu tinggal di sini sekarang!" desah lelaki aneh itu.
"Tunggu gue Utari!" desah lelaki aneh itu dengan nada yang mendesis.
"Ngapain Utari harus nungguin elu,?" tanya sebuah suara perempuan di belakang pria aneh itu.
__ADS_1
"Gue akan minta balikan lagi sama dia!" jawab pria aneh itu, dia masih belum menyadari keberadaan Aura di belakangnya.
"Belom move on, lu?!" bentak Aura.
Akhirnya pria aneh itu menolehkan wajahnya ke arah Aura yang sudah berdiri tegak dengan tangan yang disilangkan di dadanya.
"Ehhhh Aura!" sapa pria aneh itu.
"Kurang kerjaan banget lu ya, Im?! Bikin takut kita aja lu!!!" bentak Aura dengan nada kesal yang membara.
"Habisnya Utari, selalu ngehindarin gue mulu." lelaki aneh itu mencoba membela dirinya.
Tapi Aura sudah mengeluarkan tinjunya dan seketika kepalan tangan mungil itu menghantam perut datar Imron Efendi. Tubuh pria cungkring itu segera terpental ke arah belakang dengan ekspresi menahan sakit di wajah runcingnya.
"Ahkkkkkk!" desah Imron pelan.
"Sakit enggak?!" tanya Aura dengan nada songongnya.
"Lumayan, Ra!" jawab Imron, wajahnya yang mirip ikan lohan itu masih meringis kesakitan.
"Lagi?!" tanya Aura.
"Tegak lu!!!" bentak Aura, gadis tomboy itu sudah mempersiapkan kuda-kuda ancang-ancang untuk menghajar pria di depannya. "Gue tambahain! Biar kapok lu, nggak ngangguin hidup Utari lagi!"
"Cukuppppp!!! Gue dah kapok kok!" sebelum Aura sempat menendang apa pun, pria cungkring dengan dandanan anak pank itu ngacir berlari ke arah depan Aura.
Tapi entah apa yang ada di pikiran Imron Efendi itu, lelaki cungkring itu malah berjalan kembali ke arah Aura. Seketika Aura mengancam Imron dengan tinju di tangan kanannya.
"Motor gue di sebelah sana, Ra!" kata Imron, dia segera berlari menghampiri motornya yang diparkirkan di sebuah toko kelontong tak jauh dari kosan Utari.
"Dasar curut penganggu!" desah Aura, dia segera menoleh ke atas dan mengacungkan jempol kedua tangannya ke arah Utari.
Ternyata Utari melihat aksi Aura dari kamarnya yang berada di lantai dua bangunan kosannya itu, kedua sahabat itu sama-sama melempar senyum bahagia.
Di dalam kamarnya Utari sedang berdiri di depan jendela, tapi sebuah kotak kecil tergeletak di atas meja riasnya. Kotak kecil berwarna biru dengan pita merah yang sudah berhamburan itu terbuka, dan isinya adalah sebuah kalung dengan liontin bulan biru yang indah.
.
.
.
__ADS_1
.
Sesampainya di kosan barunya Aura tak melihat tanda-tanda kehidupan di dalam ruangan kosannya. Sunyi, senyap, dingin dan longar suasana yang selalu menghampirinya setiap hari. Tapi Aura merasa suasana ini jangal, dia baru saja kedatangan ayahnya. Ayah yang selalu jenaka dan ribut, tapi sosok ayah yang dicintai Aura itu pun juga sudah berubah kini.
"Bapak belum pulang apa ya?" desah Aura, dia melihat arloji di pergelangan tangannya. Jarum yang paling pendek menunjuk angka 10 dan yang sedang menunjuk angka 6.
Tersirat raut kekhawatiran di wajah imut Aura, dia segera meraih ponsel di kantung celananya. Tapi sebuah panggilan sudah berdering di layar ponsel Aura, dan itu panggilan dari ayahnya.
"Belum pulang, pak?" tanya Aura tanpa basa-basi lagi.
"Udah! Bapak lagi di tempat Raga, bapak akan tidur dengan Raga malam ini!" kata ayah Aura.
"Serah," desah Aura malas.
"Elu udah makan belum? Kalau belum ini kita lagi makan!" ajak Mbah Sodik.
"Udah! Gue udah makan!" gumam Aura. Gadis tomboy itu segera mematikan panggilan dari Mbah Sodik.
Mengobrol panjang dengan ayahnya, kegiatan yang sudah lama tak Aura lakukan. Entah kenapa dia tak suka lagi dengan hal yang dulu selalu membuatnya bersemangat. Bercanda, berargumen konyol dan bertengkar masalah sepele, adalah hal yang tak penting lagi bagi Aura. Padahal dia tau hal itu tak penting dari dulu, tapi hal itu dulu pernah membuat dia menjadi gadis periang yang ramah.
Apa semua karena kematian Ratih sahabatnya, jawabanya mungkin iya. Sejak hari itu dunia Aura seperti berputar ke arah sebaliknya, Aura yang dulu bercita-cita menjadi polisi pun sekarang banting setir menjadi seniman patung.
Alasannya sudah jelas, karena Ratih bercita-cita menjadi seniman pahat. Kedua orang tua Ratih adalah seniman yang cukup popoler di era 90an, dan meneruskan kejayaan leluhur adalah tugas keturunannya.
Gadis tomboy itu sekarang tengah melamun di depan jendela di dekat ranjangnya, ingatannya kembali melayang ke kejadian 3 tahun yang lalu. Dimana dia menangis sesegukan di bawah kaki Mbah Sodik ayahnya.
"Bapak! Tolong cari Ratih, Pak!" mohon Aura, saat itu Aura masih mengenakan seragam SMU.
Gadis tomboy itu baru pulang dari sekolahnya, dia langsung mengebrak rumah papan kecil yang biasa dibuat Mbah Sodik bersemedi.
Mbah Sodik yang baru saja bersemedi untuk mencari keberadaan Nawang Ratih pun tak bisa mengatakan apa pun pada Aura. Nawang Ratih sudah hilang selama 3 hari, dan boneka yang di kontrak dengan sukma Nawang Ratih pun keadaannya semakin mengerikan.
Boneka setinggi 30 cm di tengah-tengah tampah sesajen sudah terlihat memerah sempurna karena si empunya juga mengalami hal yang sama.
"Ratih!" desah Aura.
Mbah Sodik tak tega melihat anak semata wayangnya, keadaan Aura sangat memperihatinkan semenjak hilangnya Nawang Ratih. Dengan berat hati Mbah Sodik segera memerintahkan Waseso untuk memutus kontrak boneka itu dengan sukma Ratih.
"Bapak, jangan!!! Ratih masih hidup, Pak!" Aura menangis histeris, saat manik matanya melihat boneka di depannya kembali berwarna putih kembali. Karena itu adalah tanda bahwa kontrak sukma telah terputus.
Ratih adalah gadis yatim piatu tanpa sanak sodara, hidupnya ditopang oleh seluruh warga desa. Semua keluarganya meninggal saat kebakaran rumah dan hanya Ratih yang selamat karena waktu itu Ratih tidur di rumah Aura.
__ADS_1