
Hari menjelang siang, tapi suasana kelam masih menyelimuti kamar dimana Neha berbaring. Tubuhnya yang telanjang bulat kini terkulai lemas di atas lantai kamar di vila milik Karis Paseha.
Warna lebam kebiruan hampir menghiasi setiap bagian tubuh mungilnya. Rambut panjang hitamnya sangat berantakan, di wajah manisnya hanya tersisa noda air mata yang telah mengering.
Tubuh kecil yang sudah diselimuti rasa sakit itu masih mencoba untuk mempertahankan nyawanya. Neha tak mau mati dengan cara mengenaskan seperti ini.
Meski dia yatim piatu dan tak punya orang tua, meski dia tak punya siapa pun di dunia ini Neha masih ingin bertahan untuk hidup. Meski Neha tak punya tempat untuk bersandar atau pun beban untuk dia tanggung dia tak mau menyerah pada Karis yang ternyata adalah moster yang sangat mengerikan.
Dengan sisa kekuatan dan tekat yang dia punya gadis itu akhirnya bisa berdiri. Rasa sakit di sekujur tubuhnya tak bisa menghalangi keinginannya untuk kabur dari tempat mengerikan ini.
Neha mengedarkan pandangan kedua matanya ke seluruh ruangan kamar itu. Akhirnya dia menemukan baju-baju yang semalam dia kenakan, belum sempat dia mengenakan semua bajunya seseorang membuka kunci pintu kamar yang ditempati Neha.
Gadis itu memundurkan langkahnya perlahan. Wajahnya yang sudah penuh dengan warna merah kebiruan karena siksaan dari Karis, hanya bisa mengeluarkan ekspresi ketakutan yang teramat dalam.
Seorang lelaki kekar masuk kedalam kamar yang telah berantakan itu. Pria itu tampak membawa senampan makanan dan minuman untuk Neha.
Dengan tanpa sopan santun lelaki kekar itu meletakkan nampan makanan yang dibawanya ke atas meja yang dia benarkan dulu posisinya karena meja itu sudah terbalik tak beraturan.
"Makanlah!" kata pria kekar itu.
"Dimana Karis?" tanya Neha dengan sangat ketakutan.
Lelaki itu menoleh ke arah Neha yang penampakannya sudah tak mirip manusia lagi.
"Kaburlah lewat pintu sebelah dapur. Jika kau berjalan menyusuri jalan setapak kedalam hutan selama setengah jam, kau akan menemukan desa." kata lelaki itu.
Meski perawakannya terlihat menyeramkan tapi ternyata hatinya baik juga.
"Di bawah nampan ada uang untuk ongkos kamu kembali, berhati-hatilah jangan sampai ditangkap lagi.
"Karis akan sampai di sini besok, jadi cepatlah kabur sebelum hari malam!" nasehat pria kekar itu.
"Trimakasih Pak!" kata Neha.
Tanpa berkata apa pun lagi pria kekar itu segera keluar dari kamar Neha.
Sebuah cahaya terkadang datang tak tentu arah.
__ADS_1
Jadi yakinlah selalu ada cahaya dimana pun kau berada.
.
.
.
.
Raga duduk di balik kemudi setir sebuah mobil yang terparkir di parkiran sebuah bagunan. Topi dan masker hitam sudah menutupi wajah rupawannya.
Mata elangnya tampak waspada dengan suasana sekitar, telapak tangannya yang sudah di bungkus oleh sarung tangan kulit hitam terlihat meremas setirnya.
Raga sedang menunggu Karis Paseha di sebuah parkiran hotel. Ini adalah rencana Raga, dia akan menculik Karis Paseha di tempat umum dan membuat negara ini gempar.
Raga tak ingin terkenal, tapi dia ingin menunjukkan apa yang telah di lakukan Karis selama ini pada semua orang. Dia ingin membuat sebuah hukuman baru untuk penjahat rendahan yang hanya berani menyiksa manusia-manusia yang lemah.
Jika para penjahat itu bisa bertindak seenaknya, lalu kenapa dia tak bisa bersenang-senang dengan korbannya yang memang pantas dihukum itu.
Aku tak ingin sembunyi lagi seperti tikus dalam got.
Karis yang dikawal para stafnya baru saja keluar dari dalam lift parkiran.
Raga menghitung berapa orang yang dibawa Karis ke tempat ini. Dia juga membandingkan semua orang yang berjalan beriringan bersama Karis itu dengan data yang berhasil di kumpulkan oleh tim 4 yang dipimpin olehnya.
Setelah robongan berjumlah sekitar 10 orang itu mendekati mobil Karis, Raga pun keluar dari mobilnya.
Dengan langkah yang biasa saja lelaki muda itu mendekati rombongan Karis. Kali ini Karis membawa 4 bodyguard yang kekar-kekar dan pastinya terlatih. Tapi langkah kaki Raga sama sekali tak goyah, lelaki muda dengan banyak tindik di telinganya yang sudah dia tanggalkan itu terus berjalan mantab ke arah targetnya.
Saat melihat kedatangan Raga, ke empat bodyguard Karis langsung memasang badan mereka untuk melindungi Aktor tampan itu dari serangan Raga. Karis dan stafnya yang tak bisa bela diri pun segera berhambur masuk ke dalam mobil.
Satu orang bodyguard Karis maju untuk menghadang langkah Raga. Hanya dengan sebuah gerakan, tubuh kekar bodyguard pertama sudah terpelanting ke lantai beton parkiran itu.
Karena melihat kawan mereka dilumpuhkan dengan cepat mereka bertiga pun menyerang Raga dengan bersamaan.
Raga mengayunkan tendangan kaki kanannya ke depan dan langsung membuat bodyguard ke dua tersungkur ke belakang. Raga meraih telapak tangan bodyguard ketiga yang berada di sisi kanannya.
__ADS_1
Kratakkkkkkkk
Entah apa yang patah, tapi Raga yang tadinya berada di depan bodyguard ketiga kini sudah beralih posisi di belakang bodyguard ketiga.
Dengan mengunakan tubuh bodyguard ketiga sebagai tumpuan Raga melakukan tendangan terbang dengan kedua kakinya ke arah bodyguard ke empat.
Karena tak mau capek sendiri dan memberi waktu Karis yang sudah berada di mobil untuk kabur. Raga segera mengeluarkan pistol dari saku celananya.
Bam...Bam...Bam
Tiga peluru yang berupa anak panah yang tajam itu sudah bersarang di masing-masing salah satu kaki para bodyguard Karis.
Raga segera menghampiri mobil Karis yang sudah mengaum ingin pergi. Lagi-lagi niat Karis sudah dibaca oleh Raga. Tapi mobil itu tak mau bergerak meski Si Pak Supir sudah menginjak pedal gas dengan sekuat tenaganya.
Ternyata Raga sudah melepas dua roda belakang mobil Karis, Raga juga memencet sebuah alat di tangannya.
Tak memakan waktu setengah menit, semua orang di dalam mobil Karis pingsan.
.
.
.
.
Detektif Senki dan Detektif Morgan serta Leo sedang sibuk di sebuah ruangan di kepolisian tentunya. Mereka bertiga tampak sibuk dengan banyak dokumen tentang khasus Bintang Perak dan Bulan Biru.
Mereka terlihat bernafsu sekali untuk mengungkap pembunuh Bulan Biru di acara televisi, alhasil mereka mengumpulkan berbagai macam bukti yang mungkin mereka lewatkan saat mereka menangani kasus itu dulu.
"Kalian sedang apa?" seorang lelaki dengan pakaian Jendral masuk kedalam ruangan Detektif Senki tanpa permisi.
"Pak Kepala, kami sedang menyiapkan untuk acara di televisi besok!" kata Deteltif Morgan dengan sangat sopan.
Detektif Morgan dan Leo segera berdiri dan memberi hormat pada Jendral yang baru saja masuk kedalam ruangan mereka, tapi Detektif Senki sama sekali tak bergeming meski orang yang masuk kedalam ruangannya itu adalah ayahnya sendiri.
"Senki, kita harus bicara sebentar. Datanglah keruanganku!" kata pria yang sudah tua tapi masih begitu sehat itu.
__ADS_1
"Bicara apa, hari ini aku sibuk!" Detektif Senki kelihatannya sama sekali tak peduli dengan jabatan ayahnya yang berada jauh di atas dirinya.