
"Jahitannya sangat rapi, hasil potongannya juga rapi!
"Ini bukan kali pertama pembunuh itu memotong angota tubuh manusia. Pembunuh itu pasti belajar di sekolah medis, ada bekas suntikan infus di tangan mayat Karis Paseha.
"Kurasa dia Dokter bedah perofesional, hasil jahitannya sangat luar biasa!" jelas Dokter yang menangani autopsi mayat Karis Paseha.
Detektif Senki tampak terdiam setelah menerima dokumen hasil autopsi resmi dari pihak rumah sakit.
Dia tak habis pikir bagaimana pembunuh itu begitu sangat sempurna, tak ada sedikit pun kelemahan yang dapat terbaca olehnya. Tepatnya pembunuh itu tak punya kelemahan apa pun.
Apa iya seorang manusia tak punya kelemahan apa pun, jika tak ada pembunuh berantai Bulan Biru pasti bukan manusia. Tapi mahluk seperti apakah yang dia hadapi kini.
"Ada kabar baru!" kata Detektif Morgan pada Detektif Senki.
"Kabar apa?" tanya Detektif Senki.
"Tim Alpa!" kata Detektif Morgan.
"Apa Leo yang memberi tahumu?" tanya Detektif Senki.
"Iya, jika semua ini ulah Tim Alpa apa yang akan senior lakukan?" tanya Detektif Senki.
"Bukankah mereka juga harus bertanggung jawab dengan perbuatan mereka. Apa karena mereka dilindungi Negara, mereka bisa seenaknya?" tanya Detektif Senki.
"Sebenarnya ayahku diserang oleh salah satu angota Tim Alpa tadi siang! Sekarang dia di rumah sakit karena kakinya tertembak!" kata Detektif Morgan dengan wajah yang kaku penuh emosi.
"Ayahmu baik-baik saja?!" tanya Detektif Morgan.
"Dia baik-baik saja karena dilindungi pengawalnya! Tapi dia memberiku ini!" kata Detektif Morgan, dia memberikan sepucuk kertas pada Detektif Senki.
"Bulan Biru adalah putra dan putri Dokter Abraham!" Detektif Senki terkejut saat membaca isi kertas itu.
"Mereka kembar dan usianya 23 tahun, ayah bilang semua data tentang mereka bedua di Kementrian Pertahanan telah dirusak.
"Jadi kita tak mendapat data lain, hanya itu yang berhasil dilacak oleh ayahku!" jelas Detektif Morgan.
"Mereka masih 23 tahun, tapi...," ucapan Detektif Senki diputus oleh Detektif Morgan tanpa ijin.
"Ayahku meminta kita menyelidiki diam-diam, dia tak mau masyarakat tau siapa sebenarnya Bulan Biru. Karena ini adalah tragedi kegagalan Negara!" kata Detektif Morgan.
"Kita harus menangkap dua bocah gila ini!" tekat Detektif Senki.
__ADS_1
"Benar!" sahut Detektif Morgan.
.
.
.
.
Musik jedak-jeduk berirama ngebit terdengar di seantero ruangan yang sudah dipesan oleh Arjuna. Pria gondrong itu kini sudah merangkul tubuh Utari yang sudah terduduk lemas di kursi.
"Udah broooo bawa ke hotel lalu sikat!" kata salah satu teman Arjuna.
"Kalian nggak papa gue tinggal?" tanya Arjuna.
"Enggak, udah sana. Bersenang-senanglah!" suruh semua teman Arjuna.
Utari baru minum dua gelas minuman keras sudah teler, ternyata dugaan Arjuna salah. Dikiranya gadis cantik itu kuat mabuk karena gosipnya Utari adalah gadis yang liar. Tapi semua itu adalah hoak semata.
"Ikut gue ya Utari sayang, kita seneng-seneng di hotel!" kata Arjuna.
Tangannya segera merengut tubuh ramping Utari, dengan sekali tarikan Utari sudah berdiri tegak bersandar di tubuh Arjuna.
"Habisin broooo, jangan sisain!" kata salah satu teman Arjuna yang masih duduk santai menikmati berbagai macam minuman berakohol di meja mereka.
Arjuna segera pergi dari tempat itu, dia tak mau lagi menunggu. Dia sudah tak bisa menahan gejolak kelelakiannya yang naik turun karena kecantikan Utari yang memang di atas rata-rata gadis-gadis sunda pada umumnya.
Dengan langkah sempoyongan kedua sejoli yang sudah dikuasai oleh jahatnya pengaruh alkohol itu segera memasuki mobil Arjuna.
Arjuna yang sudah mabuk tak menyadari jika kamera dasbornya mati dan, GPS di mobilnya telah rusak. Ulah siapa lagi jika bukan ulah Utari, sejam yang lalu Utari pamit untuk keluar sebentar untuk mengangkat panggilan di ponselnya.
Tapi dia malah mencuri kunci mobil Arjuna dan keluar ke parkiran. Untung parkiran tempat semacam itu tak ada CCTV yang mengintai, jadi Utari santai saja membobol mobil Arjuna.
Pisau dan palu kecil yang dia bawa sangat membantu Utari untuk merusak kedua benda yang amat sangat penting di dalam mobil sedan mewah Arjuna. GPS dan kamera-kamera yang ada di mobil sedan mewah produksi Jepang itu sudah tak berfungsi lagi saat ini.
Arjuna belum terlalu mabuk kelihatannya, karena saat menyetir pun tangan kirinya masih sempat mengerayahi bagian-bagian tubuh Utari yang dia inginkan.
Utari yang pura-pura mabuk itu hanya bisa mendesah keenakan saat jemari Arjuna menyentuh setiap bagian sensitifnya. Hal itu malah memancing kejantanan Arjuna, karena sudah tidak tahan lagi Arjuna memasukan mobilnya di sebuah tanah yang kosong.
Di sana dia memuaskan hasratnya, dia buka blezer yang dikenakan oleh Utari. Sehelai pakaian berwarna merah yang dikenakan oleh Utari adalah satu-satunya penghalang bagi n.a.f.s.u Arjuna.
__ADS_1
Tapi hasrat pria yang mengelora dia pasti punya 1001 cara untuk melampiaskan keinginannya itu. Dia turun dari mobilnya dan membuka pintu yang berada di sebelah tempat duduk Utari.
Wajah manis Arjuna mendekat ke arah paha Utari yang pulih mulus tanpa ditutupi apa pun. Arjuna menciumi paha indah itu sepuas hatinya sampai Utari melenguh nikmat.
Jemari Arjuna juga aktif menyisir setiap sudut kedua kaki jenjang Utari, membuat Gadis yang pura-pura mabuk itu terpaksa sadar.
"Junnnaaaa, enak!" desahnya pelan.
"Sekali ya Ut, gue nggak tahan lagi. Bentar kok, setelah ini kita baru ke hotel. Kita puas-puasin di sana!" kata Arjuna yang tersenyum gemas karena gadisnya hanya mengangguk pelan pertanda setuju.
Rok pendek Utari sudah dinaikkan oleh Arjuna, lelaki itu kini mulai bermain riang gembira di area sensitif milik Utari itu.
Lenguhan, jeritan kenikmatan serta gerakan mengeliat bergetar telah menguncang tubuh Utari berkali-kali, padahal yang dilakukan oleh Arjuna hanya mencium, menjilat dan mengoprasikan jemarinya di area sensitif Utari.
"Elu di atas ya sayang, susah kalau gue yang di atas!" kata Arjuna. Lagi-lagi Utari hanya mengangguk dengan manja.
Utari kini sudah berada di atas tubuh Arjuna. Rudal Arjuna yang sudah tegak berdiri kokoh itu segera menyambut lubang kenikamtan yang menghampirinya.
"Akkkkkkkkk!" pekik Utari, saat rudal itu lewat jalan buntu miliknya.
"Kenapa Ut?" tanya Arjuna.
"Enak!" kata Utari manja.
"Kau ini bikin gue kaget aja," gumam Arjuna yang menahan rematan jalan buntu milik Utari di tugu monasnya.
Top player Utari Kencana Dewi segera menyerang tugu monas Arjuna dengan sekuat tenaganya, wanita itu sudah berjanji untuk memuaskan hasrat lelaki Arjuna agar mendapat kedua bola mata Arjuna yang indah.
Utari terus bergerak naik turun, dia tak peduli padahal tubuhnya saat ini sedang terguncang karena dia kembali mencapai puncak.
"Pinter banget loe Ut, ampir jebol juga punya gue kalau elu nggak keluar duluan!" kata Arjuna dengan nafas memburu.
Diciumnya bibir difa pengoyang mobil sedan merah itu oleh Arjuna. Utari yang kembali ingat akan tugasnya memuaskan Arjuna segera kembali bergerak dengan semangat 45.
Utari tak berhenti meski tubuhnya bergetar karena *******, dia terus bergoyang agar pertahanan Arjuna cepat jebol. Dia tak mau membuang waktu.
Dan akhirnya, Arjuna mencengkeram tubuh Utari dengan erat. Kini Arjuna yang bergerak menyerang jalan buntu Utari dari bawah. Gerakan cepat pria itu membuat Utari menjerit tertahan karena rasa nikmat mungkin sudah penuh di otakknya.
"Akhhhhhh!" lenguh Arjuna panjang, setelah tugu monasnya menghentak beberapa kali di jalan buntu Utari.
Utari begitu sangat asik melihat wajah Arjuna yang sudah terpuaskan.
__ADS_1
"Giliran elu yaaa, yang tepati janji ke gue!" kata Utari. Dengan sigapnya gadis yang masih menindih tubuh Arjuna itu langsung menyuntikkan obat bius di urat nadi leher Arjuna. Seketika pria yang sedang mencapai surga itu pun pingsan.