
Semua orang pasti pernah merasa kehilangan , begitu juga denganku.
Tapi aku mulai sadar, bahwa rasa sakitku karena kehilangan kedua orang tuaku. Tidaklah seberapa.
Meski kedua orang tuaku mati dengan cara yang mengenaskan, karena dibantai oleh ayah kalian.
Tapi kalian bahkan sudah kehilangan hidup kalian sejak kalian dilahirkan.
Kalian hidup dalam tekanan yang amat sangat besar.
Kalian memang berbeda, tapi Negara malah memanfaatkan kelemahan kalian untuk tujuan gelap para petinggi.
Bagaimana aku membenci kalian???
Kalian memang dilahirkan sebagai Monster, tapi kalian masih manusia biasa yang ingin hidup bebas tanpa tekanan.
Aku ingin mewujutkan hal itu, membuat semua manusia di Negara ini setara.
Aku tak ingin ada pasukan Monster lagi.
_Leo_
Gemericik hujan perlahan membasahi bumi katulistiwa, sang mentari pun memudarkan cahayanya. Suasana yang sejuk yang dihasilkan oleh alam siang ini tampaknya tak bisa meredakan emosi di wajah Tuan Harsono.
Dia geram dan ingin sekali melampiaskan emosinya,tapi pria tua itu masih bisa menahanya. Meski lagi-lagi dia dibuat bak pecundang oleh kedua anak Dokter Abraham.
Apa yang telah dilakukan Raga, Utari dan Leo pagi tadi di gedung Aeroks adalah sebuah tantangan perang bagi Tuan Harsono. Mereka bertiga seperti melempar kotoran tepat di wajah Tuan Harsono.
Mempermalukan Jendral bintang empat itu kepada mata dunia. Apa yang dilakukan oleh ketiga trio laknat di gedung Aeroks adalah bentuk kegagalannya sebagai pemimpin Kemiliteran di Negara ini.
Dia yang dijuluki sebagai salah satu Mentri Pertahanan terbaik di dunia itu, telah tercoreng namanya. Nama yang amat harum semerbak itu, ternoda akibat keserakahannya.
Tuan Harsono masih tak bisa berfikir. Bagaimana mungkin gedung dengan keamanan super tinggi dan juga dijaga super ketat itu, berhasil dibobol oleh tiga orang anak muda. Hal yang lebih tak bisa dipercaya adalah, tiga orang itu telah berhasil membunuh banyak pasukan khusus yang terlatih.
Tak lebih dari satu jam baku hantam di tempat itu sudah menewaskan hampir sekitar 30 orang prajurit inti keamanan gedung Aeroks.
Lelaki tua dengan setelan jas lengkap itu sedang berdiri di depan kaca-kaca gedung yang rusak akibat tembakan dari Utari. Hampir semua penembak jitu yang berhasil dibidik Utari meninggal, dan ada beberapa yang selamat tapi dalam kondisi yang kritis.
"Tuan, Presiden memanggil anda!" kata bawahan Taun Harsono.
Tuan Harsono tak menjawab pertanyaan bawahannya itu, dia hanya menghela nafas panjang. Dia diundang ke gedung putih pasti untuk dimintai pernyataan.
Penyerangan di rumah putra pertamanya bisa dia sembunyikan, sebagai perampokan biasa. Tapi kini serangan yang amat sangat mencolok di masyarakat, apa yang akan Jendral itu katakan pada orang tertinggi di Negara ini.
.
.
Aura sudah pulang dari kampusnya, dengan langkah yang bersemangat dia menaiki tangga ke arah kamar. Hari ini ibunya sudah pulang dari kampung halaman mereka. Kata oleh-oleh menjadi sangat mengiurkan di benak Aura. Dia tak sabar untuk makan semua makanan yang dibawa oleh ibunya dari desa.
"Makkkkkk!" panggil Aura dengan nada yang amat nyaring.
Dia langsung menyerbu tubuh ibunya yang saat ini sedang rebahan di sofa. Kelihatannya Ibu Aura sangat kecapekan, tapi Ibu Dewi tetap membuka matanya karena putri tercintanya sudah ada di depan matanya.
__ADS_1
"Makkkkkk laper!" ujar Aura dengan nada manja.
"Kok manggil emak lagi, katanya kuno!" kata Ibu Dewi dengan nada medok jawanya.
"Enak kok manggil emak, Emakkkkkk!" jawab Aura.
Ibu Dewi tampak sangat bahagia melihat putrinya yang sudah kembali ceria.
"Apa Raga sering tidur di sini?" tanya Ibu Dewi.
"Nggak kok, dia emang sering di sini tapi dia nggak pernah tidur di sini," Aura berbohong pada ibunya.
"Kenapa Ibu merasa, kamar ini jadi bau Raga semua yaaa!" insting seorang ibu memang tak pernah salah.
"Hanya beberapa kali!" ungkap Aura akhirnya.
"Kalian....?....!" Ibu Dewi memandang wajah gugup Aura.
"Apaan sihhh Makkkk, nggak lucu!" desah Aura.
Gadis tomboy itu segera bangun dari duduknya, dia meninggalkan Ibunya dan kearah ranjangnya untuk menyimpan tas ranselnya.
Tok...Tok...Tok...
Suara pintu meredakan amarah Ibu Dewi, wanita ayu nan lembut itu bisa menebak siapa yang mengetuk pintu kamar kos Aura dari luar itu.
Ibu Dewi segera berjalan ke arah pintu dan membukanya. Wajah tampan dengan senyum yang amat sangat manis Raga membuat emosi di hati Ibu Dewi hilang seketika.
"Kamu bawa apa nak Raga?" tanya Ibu Dewi, karena Raga menyodorkan kantong kresek putih yang penuh.
"Kamu nggak masuk nak Raga? Kita makan sama-sama!" Ibu Dewi yang awalnya mau marah pada Raga, malah jadi baik dan lembut.
Mereka bertiga pun makan siang bersama, di meja tamu yang pendek. Mereka duduk di atas karpet bulu-bulu dengan gaya lesehan yang nyaman.
"Ga makasih udah jagain Aura, selama bude nggak ada!" kata Ibu Dewi.
"Sama-sama Bude, udah kewajiban saya buat jagain Aura!" ujar Raga dengan sopan dan lembut.
Padahal belum genap lima jam yang lalu, pria yang lemah lembut itu membunuh beberapa pasukan di gedung Aeroks dengan sangarnya.
"Gimana kalau kalian nikah aja!" ucap Ibu Dewi.
Uhukkkkk
Uhuuuukkkk
Uhkkkkk
Aura tersedak, gadis itu pasti kaget dengan ide nyeleneh ibunya itu.
"Makkkk gue belum lulus kuliah!" bentak Aura.
Setelah rasa terbakar di tengorokannya mereda tentunya. Karena Raga yang sangat sigap segera memberikan air putih untuk diminum Aura dan mengelus punggung gadis itu.
__ADS_1
"Lihatlah kalian, seperti tak bisa dipisahkan begitu! Udah nikah aja, sirih juga nggak papa!" usul Ibu Dewi.
"Makkkkk!!!" Aura kembali membentak ibunya.
"Aku nggak mau punya cucu di luar pernikahan,
"Kalian pasti sudah coba-coba buat-kan?!" kata Ibu Dewi.
Sekarang giliran Raga yang tersedak, dia tak menyangka jika calon mertuanya itu akan bicara sefulgar itu. Tapi lebih dari itu, apa yang dibicarakan calon mertuanya memang ada benarnya. Tak baik mempunyai anak di luar pernikahan.
"Jadi kalian udah buat berapa kali, apa udah jadi?!!!" bentak Ibu Dewi.
"Kayaknya belum Bude, kami belum memeriksa!" sahut Raga dengan gugup.
Sepanjang sejarah hidup Raga, baru kali ini dia merasa gugup hanya dengan pertanyaan sepele semacam itu.
"Cepat periksa, dan kalian harus menikah secepatnya! Ibu nggak mau tau!" kata Ibu Dewi dengan nada yang keras.
"Nggak, gue hanya akan nikah kalau udah lulus kuliah!" Aura yang memang keras kepala, tak mau merubah pendiriannya.
"Baikkk nggak papa, tapi kalian nggak boleh ketemu lagi!" ancam Ibu Dewi.
"Pokoknya sebelum kalian nikah, kalian nggak boleh dekat-dekat!" imbuh Ibu Dewi.
Aura dan Raga saling berpandangan di depan Ibu Dewi.
"Kita menikah saja, memangnya kau bisa tahan untuk tak bertemu denganku?" tanya Raga pada Aura.
"Padahal kita bisa ketemu tanpa ketahuan emak gue," ujat Aura kesal.
"Ok, malam ini kalian nikah!" kat Ibu Dewi.
Raga dan Aura hanya bisa bengong tanpa bisa membantah keinginan Ibu Aura.
Dapatkan kebahagiaanmu putriku.
Peluklah kebahagianmu dengan erat, jangan pernah kau melepaskan Raga lagi.
Ibu tau kau sangat mencintai pria ini sejak dulu.
Hidupmu tak berwarna selama tiga tahun kau menjauh darinya.
Dan saat kau bersamanya, ibu bisa melihat pelangi kembali bersinar di hidupmu.
Kau kembali bahagia.
Kau kembali ceria.
Kau kembali menjadi Aura yang selalu riang gembira.
_Ibu Dewi_
__________BERSAMBUNG_________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤