
Silinder pipa besi mengalirkan cairan bening yang bersih dari sebuah kolam berlumut dengan penuh kecebong, dua gadis kecil sedang duduk bersila di bawah pancuran air jernih itu.
Mereka berdua diam tanpa gerakan, terlihat bibir gadis kecil berbaju merah sudah mulai pucat. Lain halnya dengan gadis kecil yang berbaju hijau, dia masih terlihat tampak segar.
"Nggak kuat aku!!!" teriak Nawang Ratih kecil.
"Cemen!!" desah Aura kecil.
"Dingin, Ra!" Nawang Ratih kecil segera berdiri dari bawah pancuran sendang itu, dia berjalan dengan agak membungkuk karena kakinya kebas dan seluruh tubuhnya hanya merasa kedinginan.
Entah berapa puluh menit aktifitas aneh itu telah dilakukan oleh kedua gadis kecil yang masih sama-sama berusia 13 tahun itu. Aktifitas absrut yang sering dilakukan oleh banyak anak seusia mereka, mungkin mereka sedang menirukan bagaimana gaya para dukun-dukun menjalankan ritual Topho Bhanyu Jhoyo Brono. Tak hanya dilakukan oleh calon-calon dukun,Topho Bhanyu Jhoyo Brono juga sering dijalankan oleh penganut ilmu-ilmu mistis, di negri tercinta kita ini.
Topho yang biasa dilakukan di bawah aliran air terjun Keramat yang tingginya di atas 50 m dan waktu Topho yang tak lazim yaitu di tengah malam sampai subuh menjelang. Pelaku Topho yang berhasil melakukan syarat dan ketentuannya pun juga bisa memninta imbalan yang dia inginkan pada mahluk gaib yang menunggu air terjun Keramat itu, atau juru kunci yang menjadi dedengkot tempat Keramat itu.
"Ya sama!" sedangkan Aura masih duduk bersila di bawah pancuran tanpa bergeming.
"Aura, cocok banget kalau kamu jadi dukun seperti bapakmu!" goda Nawang Ratih.
Mata Aura pun terbuka tapi manik hitam legam itu langsung melirik tajam ke arah Nawang Ratih. "Iya! Biar gue bisa nyantet kamu nanti." kata Aura dengan nada santai.
"Kamu mana tega nyantet aku?" tanya Nawang Ratih dengan bibir pucatnya yang tersenyum menawan.
"Kenapa enggak tega?! Kamu ngeselin! Dan kamu mirip Si Kunti yang tinggal di pohon Asem pingir desa!" ejek Aura.
"Nggak lucu, Ra!" kata Nawang Ratih, sekarang tubuh pucatnya sudah berganti pakaian.
Langkah kaki kecilnya melangkah keluar dari bilik besar sendang pancuran desa itu, tubuh mungilnya yang menggigil kedinginan membutuhkan kehangatan dari sinar matahari siang itu.
Wajah Nawang Ratih tersenyum lega takkala wajah ayunya diterpa pantulan cahaya hangat matahari yang sudah bertenger jauh di cakrawala, posisi sang surya yang kebetulan tepat di atas kepala gadis feminin berambut coklat panjang yang cenderung merah.
__ADS_1
Nawang Ratih, memiliki dua darah beda benua. Ayahnya berasal dari Inggris dan ibunya dari desa tempat dia tinggal saat ini. Mereka tinggal di bangunan megah bak kastil Princess Disney yang terletak cukup jauh dengan pemukiman warga yang lain.
"Kita makan yuk!" ajak Aura pada Ratih, ternyata Aura sudah mentas (keluar dari dalam air) dari ritual ecak-ecaknya.
"Emang kamu bawa makanan?" tanya Nawang Ratih dengan ekspresi bingung.
Dia pun hanya memberikan senyuman manis pada Ratih sebagai jawaban untuk pertanyaan sahabatnya itu. Entah apa yang sedang difikirkan Aura yang masih di balut oleh pakaian basahnya, gadis kecil itu mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam tembok bangunan sendang yang tanpa atap itu.
Langkah kaki kecil Aura semakin membuat Ratih memutar bola matanya, karena kaki kecil itu melangkah menuju tembok banguanan sendang yang paling rendah. Aura memanjat dinding setinggi kupingnya itu dengan mudahnya.
"Dasar monyet!" desah Ratih, dia tak habis fikir kalau sahabat barunya ini mempunyai tingkah laku yang selalu saja jauh dari kelakuan anak manusia lainnya.
Keluarga Ratih memang belum lama pindah ke desa itu, bangunan rumahnya yang bak kastil itu pun juga baru selesai dibangun.
Aura melanjutkan langkahnya menyusuri kolam berlumut penuh kecebong dengan hati-hati, tapi langkah kaki kecilnya melompat dengan lincahnya. Kelincahan lompatan bocah perempuan berambut hitam pendek itu menandakan bahwa Aura sering melakukan hal ini.
Ternyata gadis tomboy itu mendekat ke arah Punden (Pohon beringin yang angker atau ditempati oleh mahluk mistis), tangan mungil Aura menyentuh janjang persembahan yang sedang dikerumuni oleh dua Kunti yang belum bisa menikmati sesembahan itu.
"Siapa kamu?" tanya suara serak salah seorang Kunti itu.
"Aura!" jawab Aura, kedua Kunti itu menghilang seketika seperti asap saat tau siapa yang berdiri di dekat mereka.
Dupa di dekat sesajen itu belum selesai dibakar hal itu menandakan bahwa sesajen itu belum menjadi hak para mahluk penunggu tempat itu.
Dengan cekatan Aura membawa sesajen dengan ayam Ingkung (satu ekor ayam kampung yang biasanya dimasak dengan cara dibakar lalu dibentuk sedemikian rupa sesuai syarat masing-masing sesajen) yang nikmat ke arah Ratih.
"Apa ini?" tanya Ratih bingung.
"Ayam panggang!" gadis tomboy itu sudah duduk bersila di depan sesajen yang dia letakkan di atas batu besar di dekat bangunan sendang.
__ADS_1
"Ayo makan, sini!" ajak Aura pada Ratih.
Ratih yang tak tau apa-apa pun melangkahkan kakinya ke arah keberadaan Aura yang sudah mirip seperti hantu kecil karena kulitnya yang kuning langsat sudah memucat, tubuhnya yang masih basah kuyup dan sedang duduk bersila di atas batu besar sambil menikmati sesajaen.
"Siapa yang menaruh makanan di sana?" tanya Ratih yang sekarang sudah mengigit salah satu paha ayam panggang yang sudah digengamnya.
"Yang pasti manusia!" jawab Aura, dengan lahapnya gadis kecil itu memakan daging ayam yang kali ini dimasak dengan sempurna.
"Masakan Mbah Paiyem memang tiada tandingnya!" desah Aura.
Ternyata sesajen yang diambil Aura, adalah sesajen yang dibuat oleh Mbah Paiyem untuk meminta perlindungan akan anak pertamannya yang merantau ke tanah Sumatra.
"Lagian aneh! Minta perlindungan sama Kunti Kembar yang nggak pernah pergi dari Punden!" ujar Aura, terlihat ayam Ingkung di atas janjang sajen di depannya sudah tinggal tulang belulang saja.
"Siapa yang minta perlindungan?" tanya Ratih dengan nada bingung, gadis cantik blasteran ini sama sekali tak tau bagaimana proses sesembahan dan pitulung yang harus dilakukan oleh pelaku perdukunan.
"Bukannya bapakmu cuma bisa nyantet?!" tanya Ratih tanpa rasa cangung sama sekali.
"Mbah Sodik emang ahli santet!!! Tapi dia juga bisa melakukan banyak hal selain itu!" kata Aura, tapi wajah imutnya kini terlihat kesal.
Aura merasa seperti orang bodoh, bagaimana dia menjelaskan ilmu khas Indonesia yang hanya ada di negara ini, kepada mahluk setengah bule seperti Nawang Ratih yang dulunya tinggal dan besar di ibukota.
"Begitu ya!" Ratih tau Aura tampak tersinggung dengan pertanyaannya jadi gadis setengah bule itu hanya diam sekarang, meski ada banyak hal yang ingin dia ketahui tentang desa ini dari Aura.
"Kamu nggak sekolah?" tanya Aura, Ratih saat itu belum masuk ke sekolah formal meski sudah sebulan pindah ke desa itu.
"Ayahku janji akan memasukkan ku ke sekolah formal saat aku SMA!" jawab Ratih dengan raut wajah sedih.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Enggak tau! Ayahku nggak bilang apa-apa, saat aku tanya apa alasannya!"