
Darah segar mengalir tercampur air hujan dari luka menganga betis Mbah Sodik, darah encer itu mendarat di atas jalanan semen yang sempit. Jalan setapak sempit yang di apit oleh tembok tinggi yang kusam dan berlumut tengah di telusuri oleh langkah pincang Mbah Sodik.
Genangan darah itu cepat memudar karena hujan turun semakin deras, tapi lelaki bertudung itu masih bisa melihatnya sebagi jejak.
Nafas tuanya tersengal bercampur dengan kekawatiran yang memuncak. Sepasang mata hitam legam yang di bingkai kulit keriput itu terus memandang ke depan, meski kemampuan pandangan yang sudah menurun serta guyuran air hujan tentu saja pandangan itu tak jelas. Tapi raut semangat di wajah renta itu tak pernah surut, meski banyak keterbatasan yang dia derita kini.
Mbah Sodik terus berjalan sempoyongan menembus hujan karena kedua betisnya yang sudah terluka, dan luka-luka lainya yang tak bisa dilihat karena bersembunyi di balik kaus hitam dan celana jins panjangnya yang sudah di potong asal sebatas dengkul.
Tak jauh dari langkah lemah yang tertatih itu muncul sebuah suara derap sepatu bersol datar yang tebal telah mengikuti langkah Mbah Sodik. Wajah pria itu tertutup tudung mantel hujan berwarna hitam, langkah santai sepatu buts itu mulai dirasakan oleh Mbah Sodik.
Tubuh tambun itu berdiri sejenak, dia menelan salivanya yang sudah bercampur dengan air hujan dan juga darah yang terus keluar dari sela-sela giginya. Mbah Sodik tak berani menoleh sedikit pun, dia tau dia sedang dikejar sekarang dan satu-satunya hal yang harus dia lakukan adalah kabur.
Lelaki bertudung itu sama sekali tak mempercepat langkahnya meski tau mangsanya mempercepat langkahnya, dia seakan menikmati semua yang ada di depannya saat ini.
Tubuh tambun yang berjalan sempoyongan dengan kedua betis kaki yang terluka, pemandangan mengerikan itu sepertinya sangat menarik bagi lelaki bertudung itu.
Di hati dan otak Mbah Sodik, dia hanya berharap bertemu dengan seseorang. Dia tak ingin mati hari ini apa lagi di tangan pembunuh berantai Bulan Biru yang dikenal sangat kejam dan sadis.
Kedua mangsa dan pemangsa itu saat ini ada di sebuah area industri yang terbengkalai, tak akan ada satu kucing pun yang akan lewat tempat mengerikan ini. Tapi Mbah Sodik yang tak pernah berdoa pada Tuhan itu akhirnya memohon juga kepada Tuhan untuk menyelamatkan nyawanya kali ini.
Sebuah janji dia kumandangkan jika dia berhasil selamat dari pembunuh berantai Bulan Biru yang tengah mengejarnya, dia akan berhenti menjadi dukun ilmu hitam dan taat pada sebuah agama yang dianut oleh sebagian besar masyararakat Indonesia. Tapi kelihatannya nasib baik telah diberikan Tuhan pada Mbah Sodik.
Lelaki bertudung itu mengubah rutenya, Mbah Sodik yang punya firasat baik pun segera menolehkan wajahnya ke arah belakang tubuhnya.
Mbah Sodik menghembuskan nafas panjang, dia merasa lega. Ternyata dia akan selamat, meski dia sudah melihat wajah pembunuh berantai Bulan Biru itu.
Matanya yang besar berkedip berkali-kali, telapak tangannya yang besar dia usapkan ke wajahnya yang sangat basah karena air hujan. Dia kembali memandang ke depan, Mbah Sodik harus cepat pergi dari sana. Pria tua gendut itu ingin cepat sampai di pemukiman, dia ingin melaporkan apa yang dia alami pada polisi.
Tapi langkah Mbah Sodik segera berhenti saat dia melihat bayangan samar-samar pria bertudung hitam berdiri tak jauh di depannya. Mbah Sodik sadar dia akan mati hari ini, pembunuh itu tak akan melepaskannya karena dia telah melihat wajah pembunuh itu.
"Mau kemana Mbah?" suara maskulin itu dapat ditangkap oleh indra pendengaran Mbah Sodik.
__ADS_1
"Tolong! Lepaskan aku!" mohon Mbah Sodik.
"Aku tak akan bermain-main sama Mbah, ini nggak akan sakit." kata suara maskulin itu.
Pria bertudung itu berjalan cepat kearah Mbah Sodik, Mbah Sodik tak mau pasrah dia memutar tubuh tambunnya yang sudah penuh luka dengan susah payah.
Wajah rentanya kini hanya ada raut keputus asaan, dia sangat yakin pembunuh itu pasti akan membunuhnya. Tapi dia belum ingin mati hari ini, dia ingin mengatakan sesuatu pada Aura anaknya.
Tubuh tegap yang dibalut setelan mantel hitam itu dengan mudah meraih tubuh Mbah Sodik yang sudah lemah.
Sebilah pisau panjang telah digenggam pria bertudung itu, satu, dua, tiga....berkali-kali pria itu menusuk tubuh tambun Mbah Sodik.
.
.
.
.
Raga segera memacu motor hitamnya menembus hujan, ternyata dia belum jauh dari setasiun kereta. Tanpa basa-basi langkah kaki lelaki muda itu memasuki bangunan setasiun tanpa melepas mantel hitamnya.
Raga segera menuju ke peron dimana para penumpang menunggu kereta mereka, dia berlari dan mengedarkan pandangan mata sipitnya ke seluruh penjuru ruangan luas itu. Seberapa kali pun Raga mondar-mandir di semua peron dia tak melihat Mbah Sodik.
Kebingungan akhirnya mengantarkan Raga pada seorang petugas setasiun.
"Pak jurusan ke kota Y, apa sudah berangkat?" tanya Raga dengan nada tergesa dan nafas tersengal.
Pria berperut besar dan berseragam putih serta bertopi khas petugas setasiun itu menjawab pertanyaan Raga dengan sopan. "Ada penundaan keberangkatan untuk kereta jurusan kota Y, Mas! Ada yang bisa saya bantu?"
"Nggak, Pak! Bapak saya baru saja masuk kedalam setasiun tapi kok nggak ada ya?" Raga semakin khawatir, dia masih terus mengedarkan pandangannya kesekeliling.
__ADS_1
"Coba di cari lagi Mas!"
"Iya, Pak!"
Sejam sudah Raga berputar-putar di setasiun tapi dia tak menemukan Mbah Sodik di sana.
Mau tak mau Raga harus menghubungi Aura, dia tak mau disalahkan nantinya jika terjadi sesuatu yang tak baik dengan Mbah Sodik.
"Gue udah nyari, Ra!" desah Raga.
"Elu dimana sekarang?" tanya Aura, dia sekarang sangat cemas.
"Gue masih di setasiun." kata Raga.
"Gue kesana!"
.
.
Raga terduduk didepan pintu masuk patkiran motor, dia menunggu kedatangan Aura.
Gadis tomboy itu datang dengan berlari cepat, dia segera menghampiri Raga yang sudah melepas jas hujan hitamnya. Hari sudah menjelang waktu maghrib dan hujan deras sudah reda.
"Gimana sih Lu?!" desak Aura.
"Gue pan ada kelas juga, jadi gue ngantar Mbah Sodik cuma sampai depan Setasiun!" jelas Raga.
"Ponsel bapak Gue mati, dan kata ibu gue bapak nggak ngomong ke dia kalau mau pulang!" kata Aura, dia terdiam sejenak dan mulai berfikir lagi. "Apa mungkin bapak gue, mau ngasih kejutan ke ibu gue?" tanya Aura.
"Bisa jadi, tapi bapak elu baliknya naik apa? Petugas bilang semenjak bapak elu gue antar ke sini, sampai gue kesini lagi belom ada kereta ke kota Y yang berangkat!" jelas Raga lagi.
__ADS_1
Mata kedua sejoli itu saling bertatapan dengan penuh kekhawatiran.