Ghost Of Death

Ghost Of Death
Pertengkaran Saudara


__ADS_3

"Dimana Arjuna!" tanya Raga.


Kedua kembaran itu kini sedang duduk berhadapan di sebuah gudang kumuh. Kedua tubuh mereka hanya dihalangi oleh meja kecil yang sudah rapuh.


Utari yang langsung ditanyai tentang keberadaan korbannya pun tampak kesal, marah dan takut dalam sekali hembusan nafas.


"Katakan," perintah Raga masih dengan nada datar.


Utari masih tetap bungkam, tapi dia sama sekali tak mau melihat ke arah mata kakaknya itu.


"Utari!" teriak Raga.


Utari masih tak bergeming, tapi dari ekspresi yang dia keluarkan. Saat ini dia tampak sangat ketakutan pada Raga, tapi dia ingin melawan kakaknya itu.


"Gudang pabrik?" tanya Raga.


Lelaki muda itu tau lokasi favorit kembarannya. Utari suka ruang yang luas untuk memyiksa korbannya.


"Apa dia masih hidup?" tanya Raga lagi.


Sepertinya Utari tak bisa membuka mulutnya dia sangat takut pada Raga. Meski kakaknya ini terlihat lembut dan punya perasaan manusia tapi Raga adalah tipe monster yang tak akan melepaskan targetnya.


Raga kejam dalam membunuh, sementara Utari kejam dalam menyiksa. Kepuasan Raga adalah saat orang yang dia targetkan menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir. Sementara Utari puas hanya dengan melihat darah segar mengucur dari tubuh targetnya.


Mereka memang berada di level yang berbeda. Raga berada di level satu dan Utari di level empat. Mereka monster yang berbeda.


"Kau tau suasana sedang genting, kita di buru oleh Tuan Harsono. Dan kamu malah....!" celoteh Raga dengan nada marah.


"Kenapa?" Utari akhirnya angkat bicara. "Arjuna hanya tikus kecil, tak akan ada yang peduli jika dia mati!" teriak Utari.


Plakkkkkkkkkk


Sebuah tamparan keras menghantam wajah Utari, dan tamparan itu berasal dari tangan kakaknya.


"Turuti saja apa yang kukatakan jika kau masih ingin hidup. Apa kau pikir aku tak bisa membunuhmu!" tanya Raga dengan senyuman menyeringai dan kemarahan yang bercampur.


"Sembunyikan Arjuna atau mayatnya, sebaik mungkin! Jika sampai mayat itu di temukan. Aku yang akan menghabisimu bukan Polisi!" ucap Raga dengan nada serius.


Lelaki itu berbalik hendak keluar dari dalam ruangan gudang yang berukuran 9×9 meter itu. Tapi sebuah pisau buah menghentak tubuh Raga ke depan. Utari membidik punggung kakaknya sendiri dengan sebilah pisau meski kecil.


Raga yang merasakan rasa sakit di punggungnya hanya tertawa seperti dia baru saja mendengar guyonan para pelawak di TV.


Dengan tangannya sendiri Raga mencabut pisau yang tertancap di bahu kirinya. Dia berbalik ke arah Utari dan segera melayangkan tinjunya ke arah gadis cantik itu.


Tapi Utari menghindar dengan cepat, tendangan kuat dari kaki ramping Utari juga dia sepakkan ke arah Raga setelah dia berhasil menghindari serangan Raga.

__ADS_1


Raga menangkis tendangan Utari dengan tangannya, tapi Utari memutar tubuhnya diudara dan kaki satunya sudah hampir mengenai kepala Raga. Secepat kilat Raga memanfaatkan posisi Utari dan mengunci pergerakan tubuh mungil adiknya itu.


Gubrakkkkkkkkk


Tubuh ramping Utari menghantam meja rapuh, hingga meja itu hancur berkeping-keping. Tubuh Utari sudah ditindih Raga dengan teknik kuncian, sehingga Utari tak bisa bergerak dengan bebas lagi.


Di genggaman Raga sudah ada pisau yang mengarah ke arah Utari. Kedua mata saudara kembar itu saling memandang dalam emosi yang tinggi.


"Aku ini ketua Tim mu! Jika kau tak menuruti semua perintahku, aku akan membunuhmu!" ujar Raga dengan nada tertahan


Pisau itu dia majukan ke arah dada atas Utari. perlahan-lahan Raga menyayat daging di bawah tulang selangka Utari. Utari hanya bisa menahan sakit, tapi dia tak mengeluarkan sepatah kata pun saat Raga melukai tubuhnya.


Sayatan sepanjang 10 cm itu mengeluarkan darah segar, dan Raga melepas tubuh Utari yang masih tergeletak di atas lantai kumuh bangunan gudang itu.


"Mulai saat ini, hati-hatilah dengan tindakanmu!" kata Raga.


Utari pun masih terbaring diam di atas remahan meja usang, dia bernafas lega. Setidaknya dia belum mati karena berani membantah Raga.


.


.


Raga keluar dari bangunan gudang kumuh itu, dia terdiam sejenak dan melihat pisau di tangannya. Darahnya dan saudara kembarnya sudah membasahi telapak tangannya.


Apa aku harus berubah menjadi monster seutuhnya. Ragata.


.


.


.


.


Aura berada di kelasnya dia sedang mempersiapkan persentasi untuk pameran semester ini. Gadis tomboy itu masih berada di depan layar Labtopnya dan berusaha fokus.


Kenapa dia selalu hanya memikirkan Raga, kenapa dia begitu khawatir pada pacarnya itu. Apakah dia sekarang sudah terobsesi pada pria tampan itu.


"Akggggggggggggg!" jerit Aura.


Tampaknya jejeritan Aura sudah biasa didengar di dalam kelas itu. Karena tak ada mahasiswa di kelasnya yang peduli dengan tingkah laku si gadis tomboy yang absrut itu. Semua orang di dalam kelas itu masih sibuk dengan karya mereka masing-masing.


Tapi Aura segera diam saat ponselnya berdering, tentu saja dia mengira itu panggilan dari Raga. Tapi mulutnya segera cemberut saat tau jika panggilan itu bukan dari kekasihnya tapi dari Detektif Senki.


Dengan malas Aura mengangkat panggilan itu. "Hallo," sapanya.

__ADS_1


"Hallo! Aura, kau tau dimana Raga? Kenapa dia tak bisa dihubungi?" tanya Detektif Senki.


"Tadi dia bilang ingin keluar, untuk mencari material untuk karyanya," kata Aura. Tapi gadis tomboy itu langsung berdiri dan berjalan keluar kelasnya.


"Jika bertemu dengannya, suruh dia segera menghubungi ku yaaa!" pinta Detektif Senki.


"Iya, Pak!" kata Aura dengan nada sopan.


Panggilan itu diputus oleh Detektif Senki, dan Aura sekarang sudah ada di tangga luar banguan kelasnya. Dari lantai empat bangunan itu Aura melihat Raga sudah sampai di bengkelnya dan saling bergurau dengan teman-temannya.


Aura pun bersandar di tembok dan mengelus dadanya karena lega, dia menghela nafasnya panjang-panjang untuk mengisi paru-parunya. Tapi tiba-tiba dia merasa perutnya sakit sekali.


"Akkkkkkk!" pekiknya lirih.


"Kenapa aku tak bisa telat makan akhir-akhir ini!" kata Aura sambil menahan sakit di perutnya.


.


.


"Ehhhhh Raga, dimana yaaa?" tanya Aura dia saat ini sudah berada di bengkel tempat biasa Raga membuat karyanya.


"Dia di ruang ganti, Kak Aura!" kata salah satu pria muda di sana.


"Ohhhhhh, apa di gedung itu ruangan gantinya?" tanya Aura sambil menunjuk gedung di samping bengkel itu.


"Iya kak! Ruangan ganti Raga di lantai satu sebelah kanan belok kiri, ruangan pertama!" kata pria muda itu.


"Trimakasih!" kata Aura sopan.


Gadis tomboy itu segera berjalan mengikuti arahan lelaki muda itu. Dia Aura tampak bingung tapi dia berusaha tak tersesat di dalam gedung yang sangat asing baginya itu.


Akhirnya Aura sampai di depan pintu ruangan yang dimaksut oleh pria muda itu. Aura tampak sedikit gelisah, dia bahkan tak tau kenapa dia merasa sangat gugup begini. Padahal Raga adalah pacarnya, harusnya dia biasa saja.


"Gue pacarnya, wajar gue marah jika dia tak dapat gue hubungi! Gue kan khawatir sekali tadi, gue harus marah padanya!" kata Aura, dia kembali menghembuskan nafasnya kasar.


Dan dengan keberanian yang dia kumpulkan, dia membuka pintu itu tanpa mengetuk dulu.


"Kenapa ponselmu mati!" kata Aura dengan nada marah.


Mata Aura seketika terbelalak saat melihat kondisi Raga, pacarnya itu sedang duduk dimeja dekat loker menghadap ke jendela. Dengan susah payah dia membersihkan luka di punggungnya sendirian.


___________BERSAMBUNG___________


Jangan lupa Vote, Komen dan Like teman-teman ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2