
Jangan coba-coba menyentuh apa pun yang kumilik, atau kau akan menaggung akibatnya. Akibat yang pasti akan sulit untuk kau tanggung. RAGA.
Suasana duka menyelimuti kediaman Harsono, pengantaran jenasah balita Varo diadakan tanpa kehadiran ibundanya. Karena jiwa Jelita sangat terguncang dan wanita cantik itu menjalani perawatan di Rumah Sakit jiwa saat ini. Sedangkan Nyonya Hendarto hanya bisa menangis kencang dipelukan Morgan putranya.
Sementara Daniel yang wajahnya pucat pasi itu memandang tajam kearah ayah tirinya yang duduk tak jauh darinya. Pria tua itu belum pulih sepenuhnya, dia masih mengunakan kursi roda untuk beraktifitas sehari-hari.
Kilatan kebencian, perasaan penuh dendam dan jiwa yang emosi telah memuncak di diri Daniel. Bagaimana dia bisa mengabaikan apa yang dikatakan istrinya Jelita meski wanita itu sedang terguncang jiwanya. Kenapa pembunuh itu mengatakan alasannya membunuh anak Daniel karena kedua orang tua Daniel.
Apa ini masalah politik, atau kemeliliteran. Kenapa Daniel tak bisa melupakan alasan pembunuh itu. Entah itu hanya akal bulus si pembunuh Bulan Biru untuk memgadu domba keluarganya, atau apa yang dilakukan oleh pembunuh Bulan Biru memang ada kaitanya dengan kedua orang tuanya.
Meski Martin Harsono bukan ayah kandung Daniel dia akte kelahiran Daniel. Tapi pria itu yang telah membuatnya menjadi pria yang sukses seperti saat ini. Martin juga tak membeda-bedakan antara Daniel dan Morgan. Setidaknya Daniel tak pernah merasa dirinya dibedakan.
.
.
.
.
Aura terdiam di dalam kamarnya, dia memandangi layar ponselnya dengan tatapan kosong. Dia memikirkan kembali apa yang dilakukan oleh Raga setelah dari Kantor Polisi. Raga tampak berbeda dari biasanya, Aura merasa pandangan mata Raga berbeda.
Bahkan saat Raga memandangnya, Aura merasakan rasa takut yang tak tau dari mana. Kenapa dia jadi berbeda begitu. Raga yang dulu lucu dan mengemaskan itu kemana. Apa Raga sedang punya masalah, mungkin karena dia dipukuli di Kantor Polisi. Matanya sakit dan sorot sinarnya jadi berubah. Semoga hanya itu, Aura harus berfikir positif tentang pacarnya yang sangat dia cintai itu.
Aura mendengar suara motor Raga yang sudah seperti suara sound yang sangat dia kenali. Gadis manis itu segera mendekati jendelanya, senyumnya mengembang di bibir mungilnya. Rasanya dia seperti melihat harta karun sebesar Gunung Bromo saat melihat wajah pacarnya itu. Jantungnya berdebar kencang dan dadanya seperti penuh dengan bunga yang sedang bermekaran.
Aura melangkahkan kakinya ke arah pintu untuk menyambut pacarnya itu. Dia berusaha agar dirinya tak terlalu kelihatan karena sudah menanti Raga sejak tadi.
Belum juga Aura mengunakan caranya pura-pura keluar saat mendengar langkah kaki Raga.
Tok Tok Tok Tok Tok
Pintunya sudah diketuk oleh pria yang sangat dirindukan oleh Aura itu. Aura tak langsung membukanya, dia menunggu Raga mengetuk sekali lagi. Dia tak mau Raga tau jika dari tadi gadis tomboy yang manis itu sudah berdiri di depan belakang pintu.
Tok Tok Tok Tok Tok
"Aura! Sayang!" panggil Raga dengan nada mesra.
"Ya!" Aura menjawabnya dan segera membuka pintunya.
Ternyata gadis manis itu sudah tak sabar untuk melihat wajah pacarnya yang masih terdapat luka lebam, karena pukulan dari Detektif Morgan.
"Udah makan belum!" tanya Raga.
__ADS_1
"Belum," sahut Aura dengan senyuman yang mengembang.
Penciuman Aura yang tajam mengendus sesuatu dari tubuh Raga, penciuman goib Aura mengendus bau kematian di tubuh Raga.
"Ga!!!, elu?!" wajah Aura seketika langsung sedih. Aura segera memeluk tubuh Raga dengan erat.
"Kenapa Aura sayang?" Raga tak tau apa yang saat ini dipikirkan oleh kekasihnya itu. Lelaki iblis itu hanya berpikir kalau Aura sangat merindukannya.
Tapi tingkah Aura semakin aneh, gadis itu melepas pelukannya dari tubuh Raga dan menyentuh pipi Raga dan memukul tubuh Raga pelan.
"Kenapa Ra? Sakit tau!" ujar Raga bingung.
"Kenapa tubuh elu bau!" bentak Aura karena dia sadar jika Raga masih hidup.
Tubuh pacarnya itu ternyata masih hangat, dan Aura dapat mendengar bunyi detak jantung yang sangat berirama di tubuh Raga.
"Bau apa, asem? Gue pan emang belum mandi. Baru balik pan," kata Raga.
"Tubuh elu bau kematian, bau hantu. Gue pikir elu udah mati!" jelas Aura.
"Apa ada hantu yang ngikutin gue?" tanya Raga berlagak ketakutan.
"Engak, tubuh elu yang bau hantu. Gue nggak pernah nyium bau kematian di tubuh orang yang masih hidup," Aura terlihat masih sangat terguncang.
"Gue mandi dulu ya, siapa tau ilang. Nakutin aja lu!" kata Raga.
Raga segera meninggalkan Aura yang masih terguncang sendirian. Lelaki muda itu pun segera masuk ke dalam kamarnya. Didalam kamarnya Raga segera membuka kaus putihnya, dia meraih punggung bagian kanannya yang tidak terluka.
Dia bercermin dan melihat luka sayatan lama itu masih baik-baik saja.
"Apa jimat itu sudah tak berfungsi, tapi Aura tak melihat hantu di sekitarku!" gumam Raga lirih.
Dia mencoba merangkai masalah apa yang sedang mungkin bisa terjadi. Apa yang dia lupakan, Raga bahkan mengendus tubuhnya. Dia bahkan tak mencium bau darah karena wangi parfum sudah menyamarkan bau anyir itu.
"Lalu apa pemicu bau kematian yang dicium oleh Aura?"
Raga masih mencoba menebak apa yang dia lupakan. Hingga gadisnya bisa mencium bau hantu di dirinya.
"Ini bukan pertama kalinya aku menemui Aura setelah membantai orang. Aku bahkan menemui Aura setelah aku membunuh Mbah Sodik, tanpa ganti baju apa mandi dulu. Apa yang terjadi?" Raga masih bergumam dengan kebingungan.
Raga pun melanjutkan aktifitasnya untuk segera mandi. Siapa tau dengan mandi bau itu bisa hilang dari dirinya.
.
__ADS_1
.
"Bagaimana sekarang?" tanya Raga pada Aura.
Raga yang baru masuk ke dalam kamar Aura pun segera memeluk tubuh gadisnya itu.
"Masih tapi tak setajam tadi!" kata Aura di dalam pelukan Raga.
"Apa baunya begitu menjijikkan?" tanya Raga.
"Hudung gue udah biasa mencium bau aneh itu kok. Apa tadi elu dalam bahaya dan hampir mati?" tanya Aura.
"Seingat gue nggak!" kata Raga segera.
Apa itu penyebab bau kematian melekat di tubuh Raga.
"Gue pernah mencium bau kematian di ruang oprasi Rumah Sakit. Padahal yang di oprasi baik-baik saja!
"Gue rasa tadi elu dalam bahaya tapi elunya aja yang nggak sadar.
"Apa jangan-jangan pembunuh Bulan Biru kini tengah ngincet elu?!" terka Aura.
"Tapi gue nggak ngerasa aneh, elu taukan fieling gue itu tokcer!" ujar Raga.
Dia ingat lagi bagaiman dia dicekik oleh salah satu preman di rumah Daniel. Mungkin itu penyebab bau kematian di tubuhnya. Sialan.
Jika keadaan terus begini, Aura pasti akan mencurigainya. Apa Raga harus menyingkirkan Aura, tapi hati iblis di diri Raga belum sepenuhnya berkuasa.
Karena saat pikiran untuk menyingkirkan Aura terlintas di benak Raga. Raga malah merasa sakit di dadanya, dia masih punya perasaan untuk Aura.
Lelaki iblis itu masih mencintai Aura, tapi entah sampai kapan. Apakah rasa cinta yang Raga punya untuk Aura akan melindungi gadis manis itu, atau malah akan membunuh Aura.
.
.
Layar komputer menyala terang menerangi wajah Leo yang tampak gundah. Memori di otaknya kini tengah memutar momen malam kemarin. Malam di mana pria itu menginap di kosan Aura, momen yang hanya dia sendiri dan Tuhan yang tau.
Karena Aura tertidur dengan pulasnya malam itu, jadi Leo yakin Aura pasti tak sadar jika Leo diam-diam mencium bibir gadis itu saat gadis manis itu tertidur.
"Kenapa aku tak bisa menahan diriku?!
"Bagaimana jika Raga memasang kamera pengintai di kamar kosan Aura. Aura bisa dalam bahaya!"
__ADS_1
__________BERSAMBUNG_________
Jangan lupa Vote, Komen dan Like yaaa teman-teman ❤❤❤